Oleh: Syamsul Kurniawan
Gelombang air bah itu datang tak terundang, tak peduli pada
batas-batas desa atau tangis anak-anak yang terbungkam dalam lumpur. Ia adalah metafora
paling kejam dari ketakterkendalian alam, sebuah hantaman yang menyayat hingga
ke ulu jiwa Nusantara. Bayangkan, dalam satu tarikan napas, rumah-rumah di Aceh
dan Sumatera yang semula berdiri tegak, menjadi serpihan kenangan yang terseret
arus deras, menyisakan puing dan ratapan yang kini mengambang di udara.
Kita melihatnya di layar kaca, atau mungkin kita
merasakannya langsung di tulang sumsum: sebuah kehancuran total yang
melumatkan. Ini bukan sekadar hilangnya harta benda, ini adalah tercabutnya
akar eksistensi. Setiap tetes air mata yang jatuh adalah pengakuan pahit atas
rapuhnya benteng kehidupan yang kita bangun dengan susah payah di atas bumi
yang sejatinya tak pernah kita miliki seutuhnya.
Bagaimana kita harus merespons tragedi yang kelebatnya
begitu cepat, namun dampaknya begitu permanen ini? Ketika duka menjelma menjadi
jurang yang menganga, retorika kemanusiaan seringkali terasa kering, tak
berdaya di hadapan kekuatan elementer yang tak terperikan. Inilah saatnya,
mungkin, kita berpaling sejenak, bukan ke arah doa yang memohon, melainkan ke
filsafat yang menguatkan, sebuah tradisi kuno yang pernah berdiri teguh di
bawah langit Roma yang penuh gejolak.
Kita bicarakan Stoikisme, bukan sebagai ritual penghiburan
yang hampa, melainkan sebagai seni hidup di tengah-tengah badai. Filsafat ini
tak pernah menjanjikan kehidupan tanpa rasa sakit; sebaliknya, ia mengandaikan
rasa sakit itu sebagai bagian inheren dari kosmos, sebuah keniscayaan yang
harus dipeluk, bukan ditolak.
Bencana—banjir, longsor, gempa—adalah eksternal. Ia berada
di luar kendali kita. Dan di sinilah, di celah pemahaman ini, kunci
utama Stoikisme bersembunyi. Mereka, para filsuf dari Stoa Poikile, mengajarkan
kita untuk memilah: apa yang berada dalam kekuatan kita dan apa yang tidak.
Puing yang berserakan, nyawa yang hilang, lahan yang luluh
lantak—semua itu adalah "hal-hal yang tidak di bawah kendali kita" (non-diaphora).
Mereka adalah takdir (fate), bagian dari skema alam yang lebih besar,
yang bergerak tanpa izin atau persetujuan dari kehendak manusia.
Menghabiskan energi untuk meratapi kenyataan yang tak bisa
diubah adalah, menurut pandangan Stoik, kesia-siaan yang merampas kedamaian
batin. Ini bukan tentang bersikap dingin atau tak berperasaan; ini tentang
pengakuan yang jujur bahwa kita adalah bidak dalam permainan alam yang besar.
Refleksi filosofis yang mendalam akan menuntun kita pada
satu pertanyaan krusial: Apa yang tersisa ketika semua yang bersifat eksternal
telah direnggut? Yang tersisa adalah batin kita, fakultas penilaian kita (prohairesis),
dan respons kita terhadap tragedi tersebut.
Inilah medan pertempuran sejati seorang Stoik. Bencana
merampas harta, tetapi ia tidak dapat merampas karakter kita. Ia dapat
menghancurkan tubuh, tetapi tidak dapat menghancurkan kebijaksanaan kita—sebuah
benteng internal yang tak tertembus air bah.
Marcus Aurelius, Sang Kaisar-Filosof, dalam meditasinya,
berbicara tentang bagaimana kita harus menerima segala yang terjadi. Ia
mengingatkan kita: "Pikiranmu akan mengambil bentuk dari apa yang
sering kamu pikirkan, karena jiwa diwarnai oleh pikiran-pikiran." Jika
kita terus-menerus memikirkan keputusasaan dan kepahitan, jiwa kita akan
menjadi pahit.
Maka, tantangan bagi kita yang tersisa adalah mengendalikan
pikiran di tengah kekacauan. Bencana telah terjadi. Kini, fokus harus bergeser:
dari mengapa ini terjadi, menjadi apa yang akan kita lakukan
selanjutnya dengan apa yang tersisa.
Posisi Negara?
Namun, di tengah ratapan Stoik ini, muncul satu entitas yang
tak bisa disamakan dengan individu: Negara. Negara, dengan segala aparatus dan
janjinya, bukanlah bidak yang pasrah di hadapan fatum alam. Ia adalah
entitas kolektif yang dikendalikan oleh kehendak bebas dan kebijaksanaan
manusia—dua hal yang menurut Stoik berada sepenuhnya dalam kendali kita.
Jika Stoikisme mengajarkan individu untuk menerima yang tak
terhindarkan, lantas apa yang harus diterima oleh Negara? Negara harus menerima
kewajibannya untuk melindungi dan merawat warga negaranya, sebuah tugas yang
tak bisa dilepaskan dengan dalih takdir semata.
Negara harus melihat bencana bukan hanya sebagai non-diaphora—hal
yang tak terkendali—tetapi sebagai ujian etika dan manajemen. Bencana adalah
cermin yang memantulkan sejauh mana virtue (kebajikan) kolektif, yang
dalam konteks modern adalah tata kelola yang baik, telah diterapkan.
Prediksi dan pencegahan bencana, serta respons yang cepat
dan manusiawi, adalah sepenuhnya berada dalam ranah kekuatan Negara.
Kegagalan dalam perencanaan tata ruang, kelalaian menjaga lingkungan, atau
lambatnya distribusi bantuan, bukanlah takdir; itu adalah kesalahan moral yang
lahir dari prohairesis (penilaian) yang buruk.
Dengan demikian, Stoikisme memaksa Negara untuk bersikap
proaktif dan bertanggung jawab. Seneca mengingatkan kita: "Kita tidak
bisa mengontrol apa yang terjadi pada kita, tetapi kita dapat mengontrol
bagaimana kita meresponsnya. Dalam respons kita terletak kekuatan sejati
kita." Kekuatan sejati Negara terletak pada responsnya yang bijaksana,
cepat, dan adil.
Negara tidak boleh berlindung di balik fatalisme; ia harus
memimpin dengan Kebijaksanaan (Prudence), Keadilan (Justice),
Keberanian (Fortitude), dan Pengendalian Diri (Temperance), empat
Kebajikan Kardinal Stoik. Keadilan menuntut pemulihan yang merata; Keberanian
menuntut reformasi lingkungan yang sulit; dan Kebijaksanaan menuntut mitigasi
yang terencana.
Membayangkan Kehidupan Pascabencana
Setelah air surut dan lumpur mengering, kita dihadapkan pada
kanvas kosong yang dipenuhi luka. Bagaimana seorang Stoik membayangkan
kehidupan pascabencana? Bukan dengan nostalgia buta terhadap yang telah hilang,
melainkan dengan pandangan mata yang dingin namun hati yang hangat terhadap
kenyataan baru.
Seneca, yang seringkali memikirkan kematian dan kehilangan,
mengajarkan: "Tidak ada yang lebih mulia daripada belajar untuk
mentoleransi kehilangan tanpa kehilangan semangat." Ini bukan hanya
tentang menahan duka, tetapi tentang mengubah kehilangan menjadi momentum untuk
hidup yang lebih otentik dan bermakna.
Kehidupan pascabencana adalah kesempatan untuk mempraktikkan
kesederhanaan. Bencana telah merenggut apa yang bukan esensial. Apa yang
tersisa adalah esensi: hubungan antarmanusia, kesehatan, dan kemampuan kita
untuk menggunakan akal sehat (reason). Kita belajar bahwa kebahagiaan
sejati ditemukan dalam kesederhanaan.
Ini adalah waktu untuk fokus hanya pada hari ini, pada
pekerjaan yang harus diselesaikan di depan mata: membersihkan, membangun, dan
merawat. Epictetus menekankan pentingnya hidup dalam saat ini, karena
kekhawatiran akan masa depan adalah bentuk penderitaan yang kita ciptakan
sendiri.
Korban bencana, melalui keterpurukan, secara alami
menjalankan prinsip ini: mereka tidak bisa mengkhawatirkan sepuluh tahun ke
depan; mereka hanya bisa fokus pada momen penyediaan makanan, perlindungan, dan
dukungan.
Bencana telah menghapus ilusi kendali kita. Kehidupan
pascabencana haruslah dibangun di atas fondasi Fleksibilitas dan Kesadaran akan
Ketidakpastian. Seperti kata Seneca: "Ketidakpastian adalah
satu-satunya kepastian dalam hidup." Kita harus merangkul
ketidakpastian sebagai bagian alami dari pengalaman manusia.
Membangun kembali, bagi seorang Stoik, bukanlah sekadar
mendirikan tembok baru. Ini adalah membangun kembali karakter dengan bahan yang
lebih kuat: ketahanan, rasa syukur atas yang tersisa, dan komitmen yang lebih
dalam pada komunitas. Kita harus hidup tidak hanya banyak, tetapi hidup yang
bermakna.
Sebagai penutup, mari kita tarik napas dalam-dalam. Biarkan
kepedihan itu lewat, tetapi jangan biarkan ia menguasai penilaian kita.
Lihatlah puing itu, dan katakan pada diri sendiri: "Ini telah terjadi.
Saya tidak dapat mengubahnya, tetapi saya akan memperbaiki diri dan menghadapi
apa yang akan datang dengan kebajikan dan ketabahan."
Inilah suara Stoikisme di tengah badai: sebuah retorika
ketabahan yang tidak berteriak dalam ratapan, tetapi berbisik dalam tekad yang
tak terpatahkan. Kita adalah manusia, rentan, tetapi dalam kerentanan itu, kita
menemukan kekuatan sejati kita, yaitu kemampuan kita untuk memilih bagaimana
kita akan menjalani sisa hidup kita.
Bencana akan berlalu. Namun, karakter yang kita bentuk dalam
menghadapinya, itulah yang akan menjadi monumen abadi bagi Stoikisme dan
martabat kemanusiaan.***


