Iklan

Bencana di Mata Stoikisme

syamsul kurniawan
Saturday, December 6, 2025
Last Updated 2026-01-18T04:45:47Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Gelombang air bah itu datang tak terundang, tak peduli pada batas-batas desa atau tangis anak-anak yang terbungkam dalam lumpur. Ia adalah metafora paling kejam dari ketakterkendalian alam, sebuah hantaman yang menyayat hingga ke ulu jiwa Nusantara. Bayangkan, dalam satu tarikan napas, rumah-rumah di Aceh dan Sumatera yang semula berdiri tegak, menjadi serpihan kenangan yang terseret arus deras, menyisakan puing dan ratapan yang kini mengambang di udara.

 

Kita melihatnya di layar kaca, atau mungkin kita merasakannya langsung di tulang sumsum: sebuah kehancuran total yang melumatkan. Ini bukan sekadar hilangnya harta benda, ini adalah tercabutnya akar eksistensi. Setiap tetes air mata yang jatuh adalah pengakuan pahit atas rapuhnya benteng kehidupan yang kita bangun dengan susah payah di atas bumi yang sejatinya tak pernah kita miliki seutuhnya.

 

Bagaimana kita harus merespons tragedi yang kelebatnya begitu cepat, namun dampaknya begitu permanen ini? Ketika duka menjelma menjadi jurang yang menganga, retorika kemanusiaan seringkali terasa kering, tak berdaya di hadapan kekuatan elementer yang tak terperikan. Inilah saatnya, mungkin, kita berpaling sejenak, bukan ke arah doa yang memohon, melainkan ke filsafat yang menguatkan, sebuah tradisi kuno yang pernah berdiri teguh di bawah langit Roma yang penuh gejolak.

 

Kita bicarakan Stoikisme, bukan sebagai ritual penghiburan yang hampa, melainkan sebagai seni hidup di tengah-tengah badai. Filsafat ini tak pernah menjanjikan kehidupan tanpa rasa sakit; sebaliknya, ia mengandaikan rasa sakit itu sebagai bagian inheren dari kosmos, sebuah keniscayaan yang harus dipeluk, bukan ditolak.

 

Bencana—banjir, longsor, gempa—adalah eksternal. Ia berada di luar kendali kita. Dan di sinilah, di celah pemahaman ini, kunci utama Stoikisme bersembunyi. Mereka, para filsuf dari Stoa Poikile, mengajarkan kita untuk memilah: apa yang berada dalam kekuatan kita dan apa yang tidak.

 

Puing yang berserakan, nyawa yang hilang, lahan yang luluh lantak—semua itu adalah "hal-hal yang tidak di bawah kendali kita" (non-diaphora). Mereka adalah takdir (fate), bagian dari skema alam yang lebih besar, yang bergerak tanpa izin atau persetujuan dari kehendak manusia.

 

Menghabiskan energi untuk meratapi kenyataan yang tak bisa diubah adalah, menurut pandangan Stoik, kesia-siaan yang merampas kedamaian batin. Ini bukan tentang bersikap dingin atau tak berperasaan; ini tentang pengakuan yang jujur bahwa kita adalah bidak dalam permainan alam yang besar.

 

Refleksi filosofis yang mendalam akan menuntun kita pada satu pertanyaan krusial: Apa yang tersisa ketika semua yang bersifat eksternal telah direnggut? Yang tersisa adalah batin kita, fakultas penilaian kita (prohairesis), dan respons kita terhadap tragedi tersebut.

 

Inilah medan pertempuran sejati seorang Stoik. Bencana merampas harta, tetapi ia tidak dapat merampas karakter kita. Ia dapat menghancurkan tubuh, tetapi tidak dapat menghancurkan kebijaksanaan kita—sebuah benteng internal yang tak tertembus air bah.

 

Marcus Aurelius, Sang Kaisar-Filosof, dalam meditasinya, berbicara tentang bagaimana kita harus menerima segala yang terjadi. Ia mengingatkan kita: "Pikiranmu akan mengambil bentuk dari apa yang sering kamu pikirkan, karena jiwa diwarnai oleh pikiran-pikiran." Jika kita terus-menerus memikirkan keputusasaan dan kepahitan, jiwa kita akan menjadi pahit.

 

Maka, tantangan bagi kita yang tersisa adalah mengendalikan pikiran di tengah kekacauan. Bencana telah terjadi. Kini, fokus harus bergeser: dari mengapa ini terjadi, menjadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya dengan apa yang tersisa.

 

Posisi Negara?

 

Namun, di tengah ratapan Stoik ini, muncul satu entitas yang tak bisa disamakan dengan individu: Negara. Negara, dengan segala aparatus dan janjinya, bukanlah bidak yang pasrah di hadapan fatum alam. Ia adalah entitas kolektif yang dikendalikan oleh kehendak bebas dan kebijaksanaan manusia—dua hal yang menurut Stoik berada sepenuhnya dalam kendali kita.

 

Jika Stoikisme mengajarkan individu untuk menerima yang tak terhindarkan, lantas apa yang harus diterima oleh Negara? Negara harus menerima kewajibannya untuk melindungi dan merawat warga negaranya, sebuah tugas yang tak bisa dilepaskan dengan dalih takdir semata.

 

Negara harus melihat bencana bukan hanya sebagai non-diaphora—hal yang tak terkendali—tetapi sebagai ujian etika dan manajemen. Bencana adalah cermin yang memantulkan sejauh mana virtue (kebajikan) kolektif, yang dalam konteks modern adalah tata kelola yang baik, telah diterapkan.

 

Prediksi dan pencegahan bencana, serta respons yang cepat dan manusiawi, adalah sepenuhnya berada dalam ranah kekuatan Negara. Kegagalan dalam perencanaan tata ruang, kelalaian menjaga lingkungan, atau lambatnya distribusi bantuan, bukanlah takdir; itu adalah kesalahan moral yang lahir dari prohairesis (penilaian) yang buruk.

 

Dengan demikian, Stoikisme memaksa Negara untuk bersikap proaktif dan bertanggung jawab. Seneca mengingatkan kita: "Kita tidak bisa mengontrol apa yang terjadi pada kita, tetapi kita dapat mengontrol bagaimana kita meresponsnya. Dalam respons kita terletak kekuatan sejati kita." Kekuatan sejati Negara terletak pada responsnya yang bijaksana, cepat, dan adil.

 

Negara tidak boleh berlindung di balik fatalisme; ia harus memimpin dengan Kebijaksanaan (Prudence), Keadilan (Justice), Keberanian (Fortitude), dan Pengendalian Diri (Temperance), empat Kebajikan Kardinal Stoik. Keadilan menuntut pemulihan yang merata; Keberanian menuntut reformasi lingkungan yang sulit; dan Kebijaksanaan menuntut mitigasi yang terencana.

 

Membayangkan Kehidupan Pascabencana

 

Setelah air surut dan lumpur mengering, kita dihadapkan pada kanvas kosong yang dipenuhi luka. Bagaimana seorang Stoik membayangkan kehidupan pascabencana? Bukan dengan nostalgia buta terhadap yang telah hilang, melainkan dengan pandangan mata yang dingin namun hati yang hangat terhadap kenyataan baru.

 

Seneca, yang seringkali memikirkan kematian dan kehilangan, mengajarkan: "Tidak ada yang lebih mulia daripada belajar untuk mentoleransi kehilangan tanpa kehilangan semangat." Ini bukan hanya tentang menahan duka, tetapi tentang mengubah kehilangan menjadi momentum untuk hidup yang lebih otentik dan bermakna.

 

Kehidupan pascabencana adalah kesempatan untuk mempraktikkan kesederhanaan. Bencana telah merenggut apa yang bukan esensial. Apa yang tersisa adalah esensi: hubungan antarmanusia, kesehatan, dan kemampuan kita untuk menggunakan akal sehat (reason). Kita belajar bahwa kebahagiaan sejati ditemukan dalam kesederhanaan.

 

Ini adalah waktu untuk fokus hanya pada hari ini, pada pekerjaan yang harus diselesaikan di depan mata: membersihkan, membangun, dan merawat. Epictetus menekankan pentingnya hidup dalam saat ini, karena kekhawatiran akan masa depan adalah bentuk penderitaan yang kita ciptakan sendiri.

 

Korban bencana, melalui keterpurukan, secara alami menjalankan prinsip ini: mereka tidak bisa mengkhawatirkan sepuluh tahun ke depan; mereka hanya bisa fokus pada momen penyediaan makanan, perlindungan, dan dukungan.

 

Bencana telah menghapus ilusi kendali kita. Kehidupan pascabencana haruslah dibangun di atas fondasi Fleksibilitas dan Kesadaran akan Ketidakpastian. Seperti kata Seneca: "Ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian dalam hidup." Kita harus merangkul ketidakpastian sebagai bagian alami dari pengalaman manusia.

 

Membangun kembali, bagi seorang Stoik, bukanlah sekadar mendirikan tembok baru. Ini adalah membangun kembali karakter dengan bahan yang lebih kuat: ketahanan, rasa syukur atas yang tersisa, dan komitmen yang lebih dalam pada komunitas. Kita harus hidup tidak hanya banyak, tetapi hidup yang bermakna.

 

Sebagai penutup, mari kita tarik napas dalam-dalam. Biarkan kepedihan itu lewat, tetapi jangan biarkan ia menguasai penilaian kita. Lihatlah puing itu, dan katakan pada diri sendiri: "Ini telah terjadi. Saya tidak dapat mengubahnya, tetapi saya akan memperbaiki diri dan menghadapi apa yang akan datang dengan kebajikan dan ketabahan."

 

Inilah suara Stoikisme di tengah badai: sebuah retorika ketabahan yang tidak berteriak dalam ratapan, tetapi berbisik dalam tekad yang tak terpatahkan. Kita adalah manusia, rentan, tetapi dalam kerentanan itu, kita menemukan kekuatan sejati kita, yaitu kemampuan kita untuk memilih bagaimana kita akan menjalani sisa hidup kita.

Bencana akan berlalu. Namun, karakter yang kita bentuk dalam menghadapinya, itulah yang akan menjadi monumen abadi bagi Stoikisme dan martabat kemanusiaan.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now