Iklan

Ruang yang Mengajar

syamsul kurniawan
Sunday, April 5, 2026
Last Updated 2026-04-05T10:14:38Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 

Oleh: Syamsul Kurniawan 

 

Ada yang diam-diam berubah dalam pendidikan kita, tetapi tak pernah benar-benar kita akui. Kita masih percaya bahwa ruang kelas adalah pusat, seolah di sanalah segala makna diproduksi. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: ruang kelas sering kali hanya menjadi tempat pengulangan, bukan pembentukan.

 

Kita mengira pendidikan adalah soal isi, apa yang diajarkan, buku apa yang dipakai, kurikulum mana yang diperbarui. Kita jarang bertanya di ruang seperti apa manusia itu dibentuk. Sebab diam-diam, ruanglah yang lebih dahulu mengajar sebelum kata-kata bekerja.

 

Di titik ini, pemikiran Henri Lefebvre menjadi relevan, bahkan mendesak. Ia mengatakan dalam buku yang ia tulis The Production of Space (1991) bahwa ruang bukanlah wadah kosong. Ia adalah produk sosial yang dibentuk oleh relasi kuasa, kebiasaan, dan kepentingan yang sering kali tak terlihat.

 

Maka sekolah bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang sosial yang diproduksi. Di dalamnya ada praktik, ada konsep, dan ada pengalaman yang saling bertaut membentuk manusia.

 

Namun kita terlalu lama menganggap ruang pendidikan sebagai sesuatu yang netral. Kita lupa bahwa di sana ada ideologi, ada kontrol, ada sistem yang secara halus menentukan bagaimana seseorang berpikir dan bertindak. Pendidikan lalu menjadi sesuatu yang tampak rasional, tetapi sebenarnya sangat politis.

 

Lefebvre (1991) menyebutnya sebagai triad: ruang yang dikonsepsikan, ruang yang dipraktikkan, dan ruang yang dialami. Ketiganya tidak berdiri sendiri. Mereka saling membentuk, saling memengaruhi, dan kadang saling menutupi.

 

Dalam pendidikan kita, ruang yang dikonsepsikan oleh negara dan birokrat terlihat begitu rapi. Ada kurikulum, ada standar kompetensi, ada indikator keberhasilan. Semua tampak logis, sistematis, dan terukur.

 

Akan tetapi ruang yang dipraktikkan sering kali berbeda. Di ruang kelas, guru terburu-buru mengejar target. Siswa belajar untuk menjawab, bukan untuk memahami.

 

Lalu ada ruang yang dialami. Di sinilah semuanya menjadi nyata. Siswa mungkin lulus dengan nilai tinggi, tetapi kosong secara batin.

 

Di sinilah krisis itu muncul. Bukan karena nilai tidak diajarkan. Akan tetapi karena ruang yang membentuk nilai itu sendiri tidak pernah dirancang dengan benar.

 

Pendidikan kita terjebak dalam apa yang oleh Lefebvre (1991) disebut sebagai ruang abstrak. Ruang ini dibentuk oleh logika efisiensi, kontrol, dan komodifikasi. Sekolah menjadi pabrik, dan manusia menjadi produk.

 

Ijazah lalu menjadi mata uang. Nilai menjadi alat tukar. Sementara belajar kehilangan maknanya sebagai proses menjadi.

 

Dalam ruang seperti itu, karakter tidak mungkin tumbuh. Ia tidak punya tanah untuk berakar. Ia hanya menjadi slogan yang diulang dalam buku teks.

 

Kita kemudian heran ketika melihat krisis moral. Padahal yang gagal bukan individunya. Yang gagal adalah ruang yang membentuknya.

 

Sebab manusia, pada akhirnya, adalah produk dari ruang hidupnya. Ia dibentuk bukan oleh apa yang ia dengar, melainkan oleh apa yang ia alami.

 

Maka pendidikan tidak bisa lagi dipahami sebagai aktivitas transfer pengetahuan. Ia harus dilihat sebagai proses produksi ruang. Ruang yang hidup, yang dinamis, yang memungkinkan manusia menjadi dirinya.

 

Apa yang mesti dibenahi?

 

Pertama, kita harus berhenti menganggap sekolah sebagai satu-satunya ruang pendidikan. Rumah, komunitas, dan ruang digital merupakan bagian dari ekosistem yang sama. Ketiganya harus diperlakukan setara.

 

Kedua, negara perlu menggeser fokus dari kurikulum menuju desain ekosistem. Bukan lagi bertanya apa yang diajarkan, tetapi dalam sistem seperti apa anak hidup. Sebab sistemlah yang menentukan arah pembentukan.

 

Ketiga, kita perlu merombak peran guru. Ia bukan lagi pengajar, melainkan perancang pengalaman. Ia juga menjadi penjaga integritas ruang belajar.

 

Keempat, evaluasi harus berubah. Kita tidak lagi mengukur apa yang diketahui, melainkan bagaimana seseorang hidup. Pendidikan harus berani menilai tindakan, bukan sekadar jawaban.

 

Kelima, keluarga harus masuk dalam sistem. Tidak bisa lagi dibiarkan sebagai wilayah privat yang lepas dari tanggung jawab pendidikan. Sebab di sanalah ruang paling awal dibentuk.

 

Keenam, kita harus mengembalikan ruang sosial dari dominasi ruang abstrak. Pendidikan tidak boleh tunduk pada logika pasar. Ia harus kembali pada tujuan dasarnya, yaitu memanusiakan manusia.

 

Jika tidak, kita hanya akan terus memperbaiki permukaan. Kurikulum diganti, metode diperbarui, tetapi hasilnya tetap sama. Karena akar masalahnya tidak pernah disentuh.

 

Lefebvre pernah berbicara tentang hak atas kota. Hak untuk merebut kembali ruang dari dominasi kekuasaan. Dalam pendidikan, kita juga membutuhkan hal yang serupa, yaitu hak atas ruang belajar.

 

Hak untuk mengalami pendidikan yang bermakna. Hak untuk tumbuh dalam ruang yang manusiawi. Hak untuk tidak direduksi menjadi angka.

 

Mungkin di masa depan, sekolah tidak lagi berbentuk gedung. Ia menjadi jaringan, menjadi pengalaman, menjadi kehidupan itu sendiri. Dan itu bukan kehilangan, melainkan pembebasan.

 

Belajar tidak lagi terjadi di satu tempat. Ia menyebar, mengikuti kehidupan. Ia hadir di rumah, di jalan, dan di interaksi sehari-hari.

 

Di situ, anak tidak belajar untuk ujian. Ia belajar untuk hidup. Ia belajar menghadapi realitas, bukan simulasi.

 

Pengetahuan tidak lagi berdiri sendiri. Ia menyatu dengan tindakan. Ia diuji bukan di kertas, melainkan di kehidupan nyata.

 

Karakter tidak lagi diajarkan secara verbal. Ia tumbuh melalui pengalaman. Ia terbentuk dari kebiasaan dan lingkungan yang terus menghidupkannya.

 

Maka pertanyaan kita seharusnya berubah. Bukan lagi apa yang harus diajarkan, melainkan ruang seperti apa yang harus diciptakan. Di situlah letak inti persoalan.

 

Karena pada akhirnya, ruanglah yang mengajar. Ia bekerja tanpa suara, tetapi menentukan arah manusia. Ia membentuk cara kita melihat dunia.

 

Jika ruang itu keliru, maka semua yang ada di dalamnya ikut menyimpang. Sebagus apa pun kurikulum, secerdas apa pun guru, hasilnya tetap rapuh.

 

Namun jika ruang itu tepat, manusia bisa tumbuh dengan utuh. Ia belajar bukan karena dipaksa, melainkan karena hidup menuntutnya. Di situ pendidikan menjadi pengalaman yang otentik.

 

Pada akhirnya, pendidikan menemukan maknanya kembali. Ia bukan lagi sistem yang mengatur secara kaku. Ia menjadi ruang yang menghidupkan, sebuah ruang yang secara diam-diam terus mengajar.

 

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now