Oleh: Syamsul Kurniawan
Ada yang diam-diam berubah dalam pendidikan kita, tetapi tak pernah
benar-benar kita akui. Kita masih percaya bahwa ruang kelas adalah pusat,
seolah di sanalah segala makna diproduksi. Padahal yang terjadi justru
sebaliknya: ruang kelas sering kali hanya menjadi tempat pengulangan, bukan
pembentukan.
Kita mengira pendidikan adalah soal isi, apa yang diajarkan, buku
apa yang dipakai, kurikulum mana yang diperbarui. Kita jarang bertanya di ruang
seperti apa manusia itu dibentuk. Sebab diam-diam, ruanglah yang lebih dahulu
mengajar sebelum kata-kata bekerja.
Di titik ini, pemikiran Henri Lefebvre menjadi relevan, bahkan
mendesak. Ia mengatakan dalam buku yang ia tulis The Production of Space (1991)
bahwa ruang bukanlah wadah kosong. Ia adalah produk sosial yang dibentuk oleh
relasi kuasa, kebiasaan, dan kepentingan yang sering kali tak terlihat.
Maka sekolah bukan sekadar bangunan. Ia adalah ruang sosial yang
diproduksi. Di dalamnya ada praktik, ada konsep, dan ada pengalaman yang saling
bertaut membentuk manusia.
Namun kita terlalu lama menganggap ruang pendidikan sebagai sesuatu
yang netral. Kita lupa bahwa di sana ada ideologi, ada kontrol, ada sistem yang
secara halus menentukan bagaimana seseorang berpikir dan bertindak. Pendidikan
lalu menjadi sesuatu yang tampak rasional, tetapi sebenarnya sangat politis.
Lefebvre (1991) menyebutnya sebagai triad: ruang yang
dikonsepsikan, ruang yang dipraktikkan, dan ruang yang dialami. Ketiganya tidak
berdiri sendiri. Mereka saling membentuk, saling memengaruhi, dan kadang saling
menutupi.
Dalam pendidikan kita, ruang yang dikonsepsikan oleh negara dan
birokrat terlihat begitu rapi. Ada kurikulum, ada standar kompetensi, ada
indikator keberhasilan. Semua tampak logis, sistematis, dan terukur.
Akan tetapi ruang yang dipraktikkan sering kali berbeda. Di ruang
kelas, guru terburu-buru mengejar target. Siswa belajar untuk menjawab, bukan
untuk memahami.
Lalu ada ruang yang dialami. Di sinilah semuanya menjadi nyata.
Siswa mungkin lulus dengan nilai tinggi, tetapi kosong secara batin.
Di sinilah krisis itu muncul. Bukan karena nilai tidak diajarkan.
Akan tetapi karena ruang yang membentuk nilai itu sendiri tidak pernah
dirancang dengan benar.
Pendidikan kita terjebak dalam apa yang oleh Lefebvre (1991)
disebut sebagai ruang abstrak. Ruang ini dibentuk oleh logika efisiensi,
kontrol, dan komodifikasi. Sekolah menjadi pabrik, dan manusia menjadi produk.
Ijazah lalu menjadi mata uang. Nilai menjadi alat tukar. Sementara
belajar kehilangan maknanya sebagai proses menjadi.
Dalam ruang seperti itu, karakter tidak mungkin tumbuh. Ia tidak
punya tanah untuk berakar. Ia hanya menjadi slogan yang diulang dalam buku
teks.
Kita kemudian heran ketika melihat krisis moral. Padahal yang gagal
bukan individunya. Yang gagal adalah ruang yang membentuknya.
Sebab manusia, pada akhirnya, adalah produk dari ruang hidupnya. Ia
dibentuk bukan oleh apa yang ia dengar, melainkan oleh apa yang ia alami.
Maka pendidikan tidak bisa lagi dipahami sebagai aktivitas transfer
pengetahuan. Ia harus dilihat sebagai proses produksi ruang. Ruang yang hidup,
yang dinamis, yang memungkinkan manusia menjadi dirinya.
Apa yang mesti dibenahi?
Pertama, kita harus berhenti menganggap sekolah sebagai
satu-satunya ruang pendidikan. Rumah, komunitas, dan ruang digital merupakan
bagian dari ekosistem yang sama. Ketiganya harus diperlakukan setara.
Kedua, negara perlu menggeser fokus dari kurikulum menuju desain
ekosistem. Bukan lagi bertanya apa yang diajarkan, tetapi dalam sistem seperti
apa anak hidup. Sebab sistemlah yang menentukan arah pembentukan.
Ketiga, kita perlu merombak peran guru. Ia bukan lagi pengajar,
melainkan perancang pengalaman. Ia juga menjadi penjaga integritas ruang
belajar.
Keempat, evaluasi harus berubah. Kita tidak lagi mengukur apa yang
diketahui, melainkan bagaimana seseorang hidup. Pendidikan harus berani menilai
tindakan, bukan sekadar jawaban.
Kelima, keluarga harus masuk dalam sistem. Tidak bisa lagi
dibiarkan sebagai wilayah privat yang lepas dari tanggung jawab pendidikan.
Sebab di sanalah ruang paling awal dibentuk.
Keenam, kita harus mengembalikan ruang sosial dari dominasi ruang
abstrak. Pendidikan tidak boleh tunduk pada logika pasar. Ia harus kembali pada
tujuan dasarnya, yaitu memanusiakan manusia.
Jika tidak, kita hanya akan terus memperbaiki permukaan. Kurikulum
diganti, metode diperbarui, tetapi hasilnya tetap sama. Karena akar masalahnya
tidak pernah disentuh.
Lefebvre pernah berbicara tentang hak atas kota. Hak untuk merebut
kembali ruang dari dominasi kekuasaan. Dalam pendidikan, kita juga membutuhkan
hal yang serupa, yaitu hak atas ruang belajar.
Hak untuk mengalami pendidikan yang bermakna. Hak untuk tumbuh
dalam ruang yang manusiawi. Hak untuk tidak direduksi menjadi angka.
Mungkin di masa depan, sekolah tidak lagi berbentuk gedung. Ia
menjadi jaringan, menjadi pengalaman, menjadi kehidupan itu sendiri. Dan itu
bukan kehilangan, melainkan pembebasan.
Belajar tidak lagi terjadi di satu tempat. Ia menyebar, mengikuti
kehidupan. Ia hadir di rumah, di jalan, dan di interaksi sehari-hari.
Di situ, anak tidak belajar untuk ujian. Ia belajar untuk hidup. Ia
belajar menghadapi realitas, bukan simulasi.
Pengetahuan tidak lagi berdiri sendiri. Ia menyatu dengan tindakan.
Ia diuji bukan di kertas, melainkan di kehidupan nyata.
Karakter tidak lagi diajarkan secara verbal. Ia tumbuh melalui
pengalaman. Ia terbentuk dari kebiasaan dan lingkungan yang terus
menghidupkannya.
Maka pertanyaan kita seharusnya berubah. Bukan lagi apa yang harus
diajarkan, melainkan ruang seperti apa yang harus diciptakan. Di situlah letak
inti persoalan.
Karena pada akhirnya, ruanglah yang mengajar. Ia bekerja tanpa
suara, tetapi menentukan arah manusia. Ia membentuk cara kita melihat dunia.
Jika ruang itu keliru, maka semua yang ada di dalamnya ikut
menyimpang. Sebagus apa pun kurikulum, secerdas apa pun guru, hasilnya tetap
rapuh.
Namun jika ruang itu tepat, manusia bisa tumbuh dengan utuh. Ia
belajar bukan karena dipaksa, melainkan karena hidup menuntutnya. Di situ
pendidikan menjadi pengalaman yang otentik.
Pada akhirnya, pendidikan menemukan maknanya kembali. Ia bukan lagi
sistem yang mengatur secara kaku. Ia menjadi ruang yang menghidupkan, sebuah
ruang yang secara diam-diam terus mengajar.


