Iklan

LDK Muhammadiyah Kalbar Hadir di Lapas Pontianak: Undang Syamsul Kurniawan Bedah Godaan Duniawi dan Mekanisme Dopamin

syamsul kurniawan
Thursday, November 27, 2025
Last Updated 2025-11-28T05:57:52Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

PONTIANAK, 28 November 2025 — Di sebuah ruang pembinaan di Lapas Kelas IIA Pontianak, puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan duduk berjejer, menyimak seorang pembicara yang tampak akrab dengan dunia pendidikan dan dakwah komunitas. Namanya Dr. Syamsul Kurniawan, akademisi yang lama berkecimpung dalam isu moralitas publik dan pendidikan keagamaan.

Syamsul bukan sosok baru di lingkungan pembinaan keagamaan Kalimantan Barat. Selain memimpin Lembaga Hubungan Umat Beragama dan Peradaban PW Muhammadiyah Kalbar, ia juga mengemban amanah sebagai Koordinator Bidang Pendidikan Keagamaan di Dewan Pendidikan Kalimantan Barat—posisi yang membuatnya kerap bersinggungan dengan isu pembinaan karakter lintas kelompok dan komunitas. Sebab itu, kegiatan pembinaan pada warga Lapas 2 ini boleh dibilang kegiatan kemitraan antara PW Muhammadiyah Kalimantan Barat dengan Dewan Pendidikan Kalimantan Barat.

Di hadapan para warga binaan, Syamsul memulai pembinaannya dari sebuah titik sederhana: syukur. Baginya, syukur bukan sekadar kata penghibur, melainkan parameter tentang bagaimana seseorang memahami hubungan dirinya dengan Tuhan. Syukur, ujarnya, adalah pintu pertama dari kesadaran moral.

Setelah meneguhkan dasar itu, ia membawa para peserta ke wilayah yang lebih praktis: kepemimpinan diri. Ia mengutip sabda Nabi bahwa setiap manusia adalah pemimpin. Di dalam konteks lapas, pesan itu terasa menohok: tanggung jawab bukan hilang hanya karena seseorang sedang menjalani hukuman.

Menurut Syamsul, kepemimpinan tidak berbicara tentang jabatan, melainkan tentang kendali atas diri sendiri—atas nafsu, dorongan, dan keputusan yang lahir dari pergulatan internal seseorang. Kepemimpinan diri, katanya, adalah fondasi dari setiap perbaikan moral.

Dari sinilah ia masuk pada tiga godaan tua yang terus relevan: harta, tahta, dan perempuan. Baginya, ketiganya bukan sekadar isu etika pribadi, melainkan bagian dari dinamika psikologis yang sering menguji integritas seseorang pada posisi apa pun.

Ia menautkan tema itu dengan pendekatan ilmiah: dopamin. Syamsul menjelaskan dopamin sebagai neurotransmiter yang menggerakkan sistem penghargaan di otak. Ketika seseorang merasakan kesenangan, dopamin bekerja, mengirim sinyal untuk mengulang perilaku itu.

Masalah muncul, ujarnya, ketika dorongan dopamin mencari jalan pintas—ketika seseorang ingin “reward” cepat tanpa pertimbangan moral. Pada titik itulah godaan harta, kekuasaan, maupun hasrat bisa berubah menjadi perilaku yang melanggar batas hukum dan etika.

Syamsul menggambarkan dinamika itu sebagai dialog batin antara tiga unsur: keinginan yang ditekan dopamin, akal yang mencari pembenaran, dan hati yang berfungsi sebagai pengendali spiritual. Jika hati melemah, rangkaian keputusan buruk mudah terbentuk.

Bagi para warga binaan, penjelasan itu bukan sekadar teori. Syamsul menyajikannya sebagai kacamata untuk membaca kembali kesalahan masa lalu—bahwa tindakan tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan dari proses internal yang perlu dikenali dan dikelola.

LDK PW Muhammadiyah Kalbar, yang kembali mengadakan program pembinaan ini yang bermitra dengan Dewan Pendidikan Kalimantan Barat, menempatkan kegiatan semacam ini sebagai bagian dari rehabilitasi mental-spiritual. Tujuannya agar para WBP memiliki bahasa baru dalam memahami diri dan memperbaiki arah hidup.

Ketua LDK PW Muhammadiyah Kalbar, Ustaz Aswan Bahri, dalam sambutannya menyebut kontribusi Syamsul sebagai “perpaduan yang dibutuhkan”: integrasi ilmu agama dan psikologi sederhana yang dapat dipahami warga binaan tanpa kehilangan akarnya.

Program yang digelar sejak beberapa tahun terakhir itu memang dirancang untuk melampaui ceramah moral biasa. Pembahasan mengenai dopamin, motivasi, dan kendali diri menjadi pendekatan yang memberi konteks ilmiah atas perintah agama tentang pengendalian nafsu.

Bagi Dewan Pendidikan Kalimantan Barat, keterlibatan Syamsul merupakan bentuk implementasi peran pendidikan keagamaan di wilayah yang lebih luas, termasuk komunitas nonformal dan kelompok yang tengah menjalani proses pemasyarakatan.

Di akhir sesi, Syamsul menutup pemaparannya dengan mengingatkan bahwa pertobatan bukan hanya soal penyesalan, tetapi kemampuan membaca ulang keputusan-keputusan yang pernah membawa seseorang terjerembap. Pemimpin sejati, katanya, adalah orang yang akhirnya berhasil menguasai dirinya sendiri.

Dengan pendekatan yang menyentuh aspek teologis, psikologis, dan etis, pembinaan ini menjadi salah satu usaha PW Muhammadiyah Kalbar yang bermitra dengan Dewan Pendidikan Kalimantan Barat untuk menghadirkan ruang belajar bagi warga binaan, agar ketika pintu lapas terbuka, mereka melangkah keluar dengan kompas moral yang lebih jernih.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now