Iklan

Remaja Usia Sekolah dan Perilaku Menyimpangnya

syamsul kurniawan
Thursday, May 14, 2026
Last Updated 2026-05-15T01:37:07Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

 



Oleh: Syamsul Kurniawan

 

ADA masa dalam hidup manusia ketika dunia tidak lagi sesederhana yang pernah diajarkan, tetapi juga belum cukup jelas untuk dipahami sepenuhnya. Masa itu adalah remaja. Ia bukan sekadar kategori umur, melainkan ruang transisi yang rapuh, tempat seseorang belum menjadi anak sepenuhnya, tetapi juga belum sah disebut dewasa. Di titik ini, manusia belajar hidup dalam ketidakpastian.

Remaja usia sekolah berada dalam tarik menarik dua dorongan yang tidak selalu sejalan: keinginan untuk bebas menentukan pilihan hidup, dan ketakutan menghadapi konsekuensi dari pilihan tersebut. Kebebasan terasa menarik, tetapi tanggung jawab sering terasa terlalu berat. Dari ketegangan ini, lahir kegelisahan yang menjadi bagian dari proses tumbuh.

Secara umum, remaja berada dalam rentang usia sekitar 10 hingga 24 tahun, dengan variasi definisi dari WHO, Permenkes RI, hingga BKKBN. Perbedaan batas usia ini menunjukkan satu hal yang konsisten: remaja adalah fase yang tidak kaku, melainkan cair dan terus bergerak mengikuti perubahan biologis, psikologis, dan sosial.

Pada fase ini, hampir semua aspek kehidupan berubah sekaligus. Tubuh berkembang, emosi lebih intens, cara berpikir mulai kompleks, dan hubungan sosial semakin luas. Dalam kondisi ini, stabilitas menjadi sesuatu yang langka. Tidak mengherankan jika remaja sering tampak kehilangan arah. Dari situ kerentanan mulai terbentuk.

Perilaku menyimpang remaja tidak muncul secara tiba tiba. Ia merupakan hasil interaksi banyak faktor yang saling terkait. Identitas diri yang belum stabil, kontrol diri yang lemah, dinamika keluarga, pengaruh teman sebaya, lingkungan sekolah, kondisi sosial ekonomi, hingga budaya digital, semuanya berkontribusi dalam membentuk perilaku.

Tidak ada satu sebab tunggal yang bisa menjelaskan semuanya. Yang ada adalah proses akumulatif yang berjalan perlahan.

Dalam proses pencarian jati diri, remaja sering melakukan eksperimen sosial. Mereka mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Dalam banyak kasus, kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Namun ketika kesalahan tidak diarahkan, ia dapat berkembang menjadi pola perilaku yang menyimpang. Di sinilah masalah mulai bergeser dari ranah perkembangan individu menjadi persoalan sosial.

Perilaku menyimpang dapat muncul dalam bentuk pelanggaran aturan sekolah, perundungan, konflik antarsiswa, hingga kekerasan yang tersebar melalui media sosial. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter sering kali justru menjadi arena pertama munculnya konflik sosial remaja.

Ketika pelanggaran kecil tidak ditangani dengan tepat, ia tidak berhenti sebagai peristiwa tunggal. Ia berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang dibiarkan akan berkembang menjadi pola perilaku.

Bentuk kenakalan remaja pun beragam. Pada tingkat ringan, ia tampak sebagai kebiasaan keluar malam tanpa tujuan jelas, nongkrong hingga larut, atau menghabiskan waktu secara tidak produktif. Pada tingkat yang lebih serius, ia dapat berkembang menjadi konsumsi alkohol, penyalahgunaan narkoba, tawuran, perjudian online, hingga perilaku seksual pranikah.

Sebagian perilaku ini muncul dari rasa ingin tahu, sebagian dari tekanan lingkungan, dan sebagian dari lemahnya kemampuan mengendalikan diri. Dampaknya tidak pernah berhenti pada individu saja. Ia merambat ke keluarga dan masyarakat.

 

Krisis Identitas dan Pilihan Remaja

Dalam kenyataan sehari hari, banyak remaja terdorong mencoba hal hal yang berisiko. Jika tidak diarahkan, hal ini dapat berkembang menjadi perilaku yang merugikan diri sendiri maupun lingkungan sosial. Karena itu, pendidikan agama di sekolah seharusnya berfungsi sebagai benteng moral yang nyata.

Benteng ini bukan dalam arti membatasi secara kaku, tetapi memberi arah dan kesadaran. Ia membantu remaja memilah tindakan, memahami konsekuensi, dan menata pilihan hidupnya. Tanpa ini, nilai moral mudah menjadi abstrak, tidak terhubung dengan kehidupan nyata.

Secara konseptual, kenakalan remaja atau juvenile delinquency berasal dari kata juvenilis yang berarti muda dan delinquere yang berarti menyimpang atau mengabaikan. Istilah ini merujuk pada perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma sosial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2023), kenakalan dipahami sebagai tindakan yang mengganggu ketertiban dan melanggar norma yang berlaku. Dengan demikian, kenakalan remaja mencakup spektrum perilaku, dari pelanggaran ringan hingga tindakan yang masuk ranah hukum.

Dalam praktiknya, hal ini dapat terlihat di lingkungan sekolah melalui pelanggaran aturan, konflik antar siswa, hingga tindakan yang lebih serius. Dari perspektif hukum, ada dua kategori utama: pelanggaran sosial moral yang tidak diatur secara pidana, dan pelanggaran yang sudah masuk ranah hukum.

Untuk memahami perilaku ini lebih dalam, Teori Pilihan William Glasser (1998) memberikan perspektif yang relevan. Teori ini menjelaskan bahwa semua perilaku manusia merupakan pilihan untuk memenuhi lima kebutuhan dasar, yaitu bertahan hidup, cinta dan rasa memiliki, kekuasaan, kebebasan, dan kesenangan.

Dalam kerangka ini, perilaku menyimpang remaja dapat dipahami sebagai upaya memenuhi kebutuhan yang tidak terpenuhi secara sehat. Kebutuhan untuk diterima dapat mendorong seseorang bergabung dengan kelompok yang salah arah. Kebutuhan akan pengakuan dapat memicu perilaku agresif. Kebutuhan akan kebebasan dapat muncul sebagai bentuk pemberontakan.

Perilaku, menurut Glasser, terdiri dari tindakan, pikiran, perasaan, dan kondisi fisiologis yang saling terhubung. Artinya, perilaku tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan sistem yang kompleks.

Dari sini terlihat bahwa pendekatan yang hanya menekankan hukuman tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pemahaman terhadap kebutuhan yang melatarbelakangi perilaku tersebut.

Keluarga menjadi faktor awal yang sangat menentukan. Kurangnya perhatian, konflik rumah tangga, atau tekanan ekonomi dapat memengaruhi stabilitas emosional remaja. Lingkungan sosial dan media digital kemudian memperkuat atau memperburuk kondisi tersebut.

Di atas semua itu, agama sering diharapkan menjadi penyangga terakhir. Namun peran ini hanya efektif jika nilai agama benar benar terinternalisasi, bukan sekadar diajarkan. Pendidikan agama harus menjadi proses pembentukan kesadaran yang hidup dalam tindakan sehari hari.

 

Mengapa Pendidikan Agama Penting?

Dalam konteks ini, pendidikan agama tidak dapat dipahami hanya sebagai mata pelajaran formal. Ia memiliki peran yang lebih dalam, yaitu membentuk kesadaran moral yang menjadi dasar perilaku manusia.

Pertama, pendidikan agama memberikan kerangka nilai yang stabil di tengah perubahan remaja yang cepat. Ketika identitas diri masih rapuh, nilai agama menjadi rujukan untuk menilai tindakan. Ia membantu remaja membedakan mana yang membangun dan mana yang merusak. Kedua, pendidikan agama membangun kontrol diri yang berbasis kesadaran. Remaja tidak hanya mengetahui aturan, tetapi juga memahami alasan di balik aturan tersebut. Ini penting karena banyak perilaku menyimpang terjadi bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena lemahnya pengendalian diri dalam situasi sosial yang menekan. Ketiga, pendidikan agama memperkuat tanggung jawab atas pilihan. Dalam masa remaja, keputusan sering diambil secara impulsif. Pendidikan agama membantu menanamkan kesadaran bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi moral yang tidak bisa diabaikan. Keempat, pendidikan agama menjadi jembatan antara nilai personal dan kehidupan sosial. Ia tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama. Namun semua fungsi ini hanya akan berjalan jika pendidikan agama tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi benar benar menjadi pengalaman yang dihayati.

Pada akhirnya, perilaku menyimpang remaja bukan hanya persoalan individu, tetapi cerminan dari sistem sosial yang lebih luas. Keluarga, sekolah, dan masyarakat semuanya memiliki peran dalam membentuk arah perkembangan remaja. Ketika salah satu unsur gagal bekerja, dampaknya meluas ke seluruh sistem. Maka yang dibutuhkan bukan hanya pengawasan, tetapi pemahaman. Bukan hanya aturan, tetapi pembentukan kesadaran. Bukan hanya koreksi, tetapi arah.

Remaja usia sekolah akan selalu berada di persimpangan. Yang menjadi persoalan bukan keberadaan persimpangan itu, tetapi apakah kita cukup hadir untuk memastikan mereka tidak berjalan sendirian tanpa arah yang jelas.***

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now