Iklan

Dari Teheran ke Timeline: Wajah Ganda Sebuah Konflik

syamsul kurniawan
Tuesday, March 3, 2026
Last Updated 2026-03-03T12:19:50Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 


Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Perang itu mula-mula terdengar sebagai gema jauh dari padang pasir. Ia hadir dalam bahasa diplomasi yang kaku dan laporan intelijen yang samar. Namun gema itu berubah menjadi dentum yang tak lagi bisa diabaikan ketika serangan benar-benar dilancarkan.

 

Koalisi Amerika Serikat dan Israel merapatkan barisan menghadapi Iran. Ketegangan yang lama merayap melalui sanksi dan retorika akhirnya menemukan pemicunya. Dunia menyaksikan bagaimana konflik yang membeku kini mencair dalam bentuk paling telanjang, yakni kekerasan bersenjata.

 

Langit Teheran menyala oleh ledakan yang menghantam sejumlah titik strategis. Sirene meraung dan asap membubung di atas kota. Dari puing yang berasap itu kabar paling mengguncang diumumkan: Ali Khamenei wafat.

 

Pemerintah Iran menetapkan empat puluh hari berkabung nasional. Bendera diturunkan setengah tiang dan siaran televisi berubah sendu. Negara memasuki ritus kehilangan yang bukan hanya religius, tetapi juga politis.

 

Dalam struktur Republik Islam, kematian seorang Pemimpin Tertinggi bukan sekadar akhir hayat pribadi. Ia adalah pergeseran pusat gravitasi kekuasaan yang dapat mengubah arah kebijakan. Setiap langkah selanjutnya akan dibaca sebagai sinyal tentang masa depan Iran.

 

Khamenei lahir di Mashhad pada 1939 dan tumbuh dalam tradisi ulama Syiah konservatif. Sejak muda ia terlibat dalam perlawanan terhadap rezim Shah. Revolusi 1979 menempatkannya dalam lingkar inti generasi pendiri negara.

 

Pada dekade 1980-an ia menjabat presiden di tengah perang dan konsolidasi ideologi. Politik saat itu bukan sekadar administrasi, melainkan pertaruhan identitas revolusi. Negara dibangun dalam suasana siaga yang panjang.

 

Setelah wafatnya Ruhollah Khomeini pada 1989, ia diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi. Jabatan tersebut menjadi simpul tempat militer, kebijakan luar negeri, dan tafsir ideologi bertemu. Sejak itu, ia menjadi poros keputusan Iran selama lebih dari tiga dekade.

 

Program nuklir dan jaringan sekutu regional mempertegas posisi Iran sebagai penantang dominasi Barat. Hubungan dengan Amerika Serikat dan Israel membeku dalam antagonisme yang konsisten. Ketegangan itu membentuk lanskap geopolitik Timur Tengah yang kita kenal hari ini.

 

Di dalam negeri, pemerintahannya dikritik karena represi terhadap protes dan oposisi. Stabilitas dijaga melalui kontrol yang ketat. Bagi pendukungnya itu ketegasan menjaga revolusi, bagi penentangnya itu penyempitan ruang kebebasan.

 

Maka kematiannya di tengah serangan udara bukan sekadar penutup riwayat seorang tokoh. Ia menjadi simbol eskalasi yang dapat menggeser keseimbangan kawasan. Dari Teheran, gelombang itu menjalar ke ibu kota lain dan ke pasar energi global.

 

Tetapi konflik ini memiliki wajah lain. Ia tidak hanya hadir di langit yang menyala, melainkan juga di layar ponsel yang bercahaya. Dari Teheran, perang bergerak cepat menuju timeline.

 

Dalam hitungan menit, video ledakan dan klaim pembalasan membanjiri media sosial. Emosi diproduksi dan disebarkan lebih cepat daripada klarifikasi resmi. Notifikasi menjadi semacam sirene baru yang tak kalah gaduh.

 

Di titik ini, gagasan Jean Baudrillard (1994) terasa relevan. Ia menulis tentang simulakra dan hiperrealitas, dunia ketika tanda menggantikan yang nyata. Perang menjadi citra bahkan sebelum ia dipahami sebagai pengalaman konkret.

 

Simulakra adalah salinan tanpa rujukan yang kukuh. Gambar ledakan yang dipotong dan diberi musik dramatik dibagikan jutaan kali. Tanda itu sering kali dipercaya lebih kuat daripada laporan investigatif yang diverifikasi.

 

Simulasi adalah proses yang merakit realitas melalui algoritma dan preferensi pengguna. Apa yang muncul di layar bukan sekadar cermin dunia, melainkan dunia yang telah dipilihkan. Hiperrealitas lahir ketika batas antara fakta dan imajinasi menjadi kabur.

 

Narasi eskatologis tentang Dajjal beredar sebagai potongan teks yang dilepaskan dari konteks tafsirnya. Cocokologi menemukan panggung luas dan audiens yang antusias. Solidaritas emosional terbentuk dalam tempo yang sangat cepat.

 

Seperti mendayung di antara dua karang

 

Kita pun seperti mendayung di antara dua karang yang sama-sama tajam. Di satu sisi ada perang nyata dengan korban dan kehancuran fisik. Di sisi lain ada perang citra yang membentuk persepsi dan emosi kolektif.

 

Solidaritas warga net tumbuh dari keserempakan perasaan. Kita marah bersama, berduka bersama, atau bersorak bersama dalam ruang virtual yang sama. Ikatan itu terasa kuat meski dibangun di atas potongan informasi yang belum tentu utuh.

 

Pemikiran Émile Durkheim (1893) membantu menjelaskan fenomena ini. Ia membedakan solidaritas mekanik yang berbasis kesamaan dengan solidaritas organik yang bertumpu pada saling ketergantungan. Keduanya hadir dalam masyarakat modern, termasuk di ruang digital.

 

Solidaritas mekanik tumbuh dari kesadaran kolektif yang homogen. Ia emosional dan mudah menghukum yang dianggap menyimpang. Di media sosial, pola ini tampak dalam gema pendapat yang seragam dan pengucilan terhadap suara berbeda.

 

Solidaritas organik lahir dari pembagian kerja dan kompleksitas sosial. Individu berbeda namun saling membutuhkan untuk bertahan hidup. Dalam dunia global, ketergantungan energi dan ekonomi menunjukkan betapa eratnya jaringan itu.

 

Ketika Iran sempat menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan, pasar energi global terguncang. Harga minyak melonjak dan banyak negara merasakan dampaknya. Indonesia pun tidak kebal terhadap imbas tersebut.

 

Di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan menjadi mediator jika kedua pihak menghendaki. Pernyataan itu memicu perdebatan tentang kapasitas dan legitimasi Indonesia. Jusuf Kalla mengingatkan tentang posisi tawar yang tak setara dalam diplomasi global.

 

Diplomasi memerlukan daya tekan dan kepercayaan yang terbangun lama. Niat baik saja jarang cukup dalam arsitektur kekuasaan yang timpang. Tanpa legitimasi moral dan politik, seruan damai mudah terdengar sebagai retorika.

 

Sementara para pemimpin menimbang strategi, algoritma terus bekerja tanpa jeda. Ia membingkai konflik sebagai drama kosmis yang ringkas dan mudah dibagikan. Dunia diringkas menjadi potongan emosi yang cepat menyebar.

 

Perang di Teheran menghancurkan bangunan dan keluarga. Perang di timeline mengikis kejernihan nalar dan memperdalam polarisasi. Kedua wajah konflik itu saling memantulkan dan saling menguatkan.

 

Empat puluh hari berkabung di Iran pada akhirnya akan selesai. Namun timeline tidak pernah berkabung dan tidak pernah benar-benar sunyi. Ia terus bergerak, menggulung tragedi menjadi arus data dan opini.

 

Dari Teheran ke timeline, konflik ini menunjukkan wajah gandanya. Satu wajah berdarah dan berasap, satu lagi bercahaya dan berisik. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah kita mampu melihat keduanya dengan jernih, tanpa tenggelam dalam pantulan yang lebih memikat daripada kenyataan.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now