Oleh: Syamsul Kurniawan
Perang itu mula-mula terdengar sebagai gema jauh dari
padang pasir. Ia hadir dalam bahasa diplomasi yang kaku dan laporan intelijen
yang samar. Namun gema itu berubah menjadi dentum yang tak lagi bisa diabaikan
ketika serangan benar-benar dilancarkan.
Koalisi Amerika Serikat dan Israel merapatkan barisan
menghadapi Iran. Ketegangan yang lama merayap melalui sanksi dan retorika
akhirnya menemukan pemicunya. Dunia menyaksikan bagaimana konflik yang membeku
kini mencair dalam bentuk paling telanjang, yakni kekerasan bersenjata.
Langit Teheran menyala oleh ledakan yang menghantam
sejumlah titik strategis. Sirene meraung dan asap membubung di atas kota. Dari
puing yang berasap itu kabar paling mengguncang diumumkan: Ali Khamenei wafat.
Pemerintah Iran menetapkan empat puluh hari berkabung
nasional. Bendera diturunkan setengah tiang dan siaran televisi berubah sendu.
Negara memasuki ritus kehilangan yang bukan hanya religius, tetapi juga
politis.
Dalam struktur Republik Islam, kematian seorang
Pemimpin Tertinggi bukan sekadar akhir hayat pribadi. Ia adalah pergeseran
pusat gravitasi kekuasaan yang dapat mengubah arah kebijakan. Setiap langkah
selanjutnya akan dibaca sebagai sinyal tentang masa depan Iran.
Khamenei lahir di Mashhad pada 1939 dan tumbuh dalam
tradisi ulama Syiah konservatif. Sejak muda ia terlibat dalam perlawanan
terhadap rezim Shah. Revolusi 1979 menempatkannya dalam lingkar inti generasi
pendiri negara.
Pada dekade 1980-an ia menjabat presiden di tengah
perang dan konsolidasi ideologi. Politik saat itu bukan sekadar administrasi,
melainkan pertaruhan identitas revolusi. Negara dibangun dalam suasana siaga
yang panjang.
Setelah wafatnya Ruhollah Khomeini pada 1989, ia
diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi. Jabatan tersebut menjadi simpul tempat
militer, kebijakan luar negeri, dan tafsir ideologi bertemu. Sejak itu, ia
menjadi poros keputusan Iran selama lebih dari tiga dekade.
Program nuklir dan jaringan sekutu regional
mempertegas posisi Iran sebagai penantang dominasi Barat. Hubungan dengan
Amerika Serikat dan Israel membeku dalam antagonisme yang konsisten. Ketegangan
itu membentuk lanskap geopolitik Timur Tengah yang kita kenal hari ini.
Di dalam negeri, pemerintahannya dikritik karena
represi terhadap protes dan oposisi. Stabilitas dijaga melalui kontrol yang
ketat. Bagi pendukungnya itu ketegasan menjaga revolusi, bagi penentangnya itu
penyempitan ruang kebebasan.
Maka kematiannya di tengah serangan udara bukan
sekadar penutup riwayat seorang tokoh. Ia menjadi simbol eskalasi yang dapat
menggeser keseimbangan kawasan. Dari Teheran, gelombang itu menjalar ke ibu
kota lain dan ke pasar energi global.
Tetapi konflik ini memiliki wajah lain. Ia tidak hanya
hadir di langit yang menyala, melainkan juga di layar ponsel yang bercahaya.
Dari Teheran, perang bergerak cepat menuju timeline.
Dalam hitungan menit, video ledakan dan klaim
pembalasan membanjiri media sosial. Emosi diproduksi dan disebarkan lebih cepat
daripada klarifikasi resmi. Notifikasi menjadi semacam sirene baru yang tak
kalah gaduh.
Di titik ini, gagasan Jean Baudrillard (1994) terasa
relevan. Ia menulis tentang simulakra dan hiperrealitas, dunia ketika tanda
menggantikan yang nyata. Perang menjadi citra bahkan sebelum ia dipahami
sebagai pengalaman konkret.
Simulakra adalah salinan tanpa rujukan yang kukuh.
Gambar ledakan yang dipotong dan diberi musik dramatik dibagikan jutaan kali.
Tanda itu sering kali dipercaya lebih kuat daripada laporan investigatif yang
diverifikasi.
Simulasi adalah proses yang merakit realitas melalui
algoritma dan preferensi pengguna. Apa yang muncul di layar bukan sekadar
cermin dunia, melainkan dunia yang telah dipilihkan. Hiperrealitas lahir ketika
batas antara fakta dan imajinasi menjadi kabur.
Narasi eskatologis tentang Dajjal beredar sebagai
potongan teks yang dilepaskan dari konteks tafsirnya. Cocokologi menemukan
panggung luas dan audiens yang antusias. Solidaritas emosional terbentuk dalam
tempo yang sangat cepat.
Seperti mendayung di antara dua karang
Kita pun seperti mendayung di antara dua karang yang
sama-sama tajam. Di satu sisi ada perang nyata dengan korban dan kehancuran
fisik. Di sisi lain ada perang citra yang membentuk persepsi dan emosi
kolektif.
Solidaritas warga net tumbuh dari keserempakan
perasaan. Kita marah bersama, berduka bersama, atau bersorak bersama dalam
ruang virtual yang sama. Ikatan itu terasa kuat meski dibangun di atas potongan
informasi yang belum tentu utuh.
Pemikiran Émile Durkheim (1893) membantu menjelaskan
fenomena ini. Ia membedakan solidaritas mekanik yang berbasis kesamaan dengan
solidaritas organik yang bertumpu pada saling ketergantungan. Keduanya hadir
dalam masyarakat modern, termasuk di ruang digital.
Solidaritas mekanik tumbuh dari kesadaran kolektif
yang homogen. Ia emosional dan mudah menghukum yang dianggap menyimpang. Di
media sosial, pola ini tampak dalam gema pendapat yang seragam dan pengucilan
terhadap suara berbeda.
Solidaritas organik lahir dari pembagian kerja dan
kompleksitas sosial. Individu berbeda namun saling membutuhkan untuk bertahan
hidup. Dalam dunia global, ketergantungan energi dan ekonomi menunjukkan betapa
eratnya jaringan itu.
Ketika Iran sempat menutup Selat Hormuz sebagai
respons atas serangan, pasar energi global terguncang. Harga minyak melonjak
dan banyak negara merasakan dampaknya. Indonesia pun tidak kebal terhadap imbas
tersebut.
Di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyatakan
kesiapan menjadi mediator jika kedua pihak menghendaki. Pernyataan itu memicu
perdebatan tentang kapasitas dan legitimasi Indonesia. Jusuf Kalla mengingatkan
tentang posisi tawar yang tak setara dalam diplomasi global.
Diplomasi memerlukan daya tekan dan kepercayaan yang
terbangun lama. Niat baik saja jarang cukup dalam arsitektur kekuasaan yang
timpang. Tanpa legitimasi moral dan politik, seruan damai mudah terdengar
sebagai retorika.
Sementara para pemimpin menimbang strategi, algoritma
terus bekerja tanpa jeda. Ia membingkai konflik sebagai drama kosmis yang
ringkas dan mudah dibagikan. Dunia diringkas menjadi potongan emosi yang cepat
menyebar.
Perang di Teheran menghancurkan bangunan dan keluarga.
Perang di timeline mengikis kejernihan nalar dan memperdalam polarisasi. Kedua
wajah konflik itu saling memantulkan dan saling menguatkan.
Empat puluh hari berkabung di Iran pada akhirnya akan
selesai. Namun timeline tidak pernah berkabung dan tidak pernah benar-benar
sunyi. Ia terus bergerak, menggulung tragedi menjadi arus data dan opini.
Dari Teheran ke timeline, konflik ini menunjukkan
wajah gandanya. Satu wajah berdarah dan berasap, satu lagi bercahaya dan
berisik. Pertanyaan yang tersisa adalah apakah kita mampu melihat keduanya
dengan jernih, tanpa tenggelam dalam pantulan yang lebih memikat daripada
kenyataan.***


