Oleh: Syamsul Kurniawan
Malam itu datang tanpa bunyi. Tak ada genderang dan tak ada
penanda di langit selain gelap yang biasa. Namun dalam kesadaran umat Islam ada
satu malam di bulan Ramadan yang tak pernah biasa yaitu Lailatul Qadr.
Ia disebut lebih baik dari seribu bulan. Sebuah perbandingan
yang membuat waktu kehilangan ukuran rutinnya. Dunia boleh riuh oleh notifikasi
dan tenggat tetapi malam itu menawarkan kedalaman yang lain.
Seribu bulan adalah umur panjang manusia. Delapan puluh tiga
tahun lebih empat bulan hampir satu rentang hidup yang utuh. Ketika Al Quran
menyebut satu malam lebih baik dari itu yang sedang dipadatkan adalah makna
bukan sekadar ganjaran.
Lailatul Qadr adalah malam turunnya wahyu. Pada malam itulah
Al Quran pertama kali menyentuh sejarah manusia. Sejak saat itu ia menjadi
simpul antara langit dan bumi.
Dalam tradisi tafsir klasik penjelasan tentang malam ini
tidak pernah tunggal. Salah satu rujukan penting adalah Jami' al-Bayan
karya At-Tabari. Di sana Lailatul Qadr dimaknai sebagai malam agung yang penuh
kemuliaan dan amal ibadah di dalamnya lebih baik dari seribu bulan.
At-Tabari menjelaskan bahwa pada malam itu malaikat turun ke
bumi. Bukan satu atau dua melainkan dalam jumlah besar hingga ruang terasa
sempit oleh kehadiran mereka. Bersama mereka turun pula Jibril membawa
ketenangan keselamatan dan keberkahan hingga terbit fajar.
Kata qadr memuat lapisan makna. Ia berarti kemuliaan karena
agungnya malam itu. Ia juga berarti kesempitan dan berarti ketetapan sebab pada
malam itulah rincian takdir setahun ke depan ditentukan.
Penetapan itu bukan fatalisme buta. Dalam tafsir klasik
ketentuan Ilahi berjalan bersama keteraturan sebab akibat. Manusia tetap
memikul tanggung jawab atas pilihannya.
Malam itu juga diyakini sebagai saat turunnya Al-Quran
secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia. Dari sana
wahyu diturunkan berangsur kepada Nabi Muhammad. Dengan demikian Lailatul Qadr
menjadi titik awal sejarah kenabian.
Waktunya dirahasiakan secara pasti. Mayoritas ulama
menempatkannya di sepuluh malam terakhir Ramadan terutama malam malam ganjil.
Kerahasiaan itu mendidik manusia untuk berjaga dan tidak merasa aman oleh satu
tanggal.
Dalam tafsir klasik malam itu disebut sebagai malam salam.
Penuh kesejahteraan hingga fajar menyingsing. Ada hening yang berbeda dari
malam malam lain.
Sebagian riwayat menyebut tanda-tandanya seperti udara yang
tidak panas dan tidak dingin serta matahari pagi yang terbit lembut. Namun
semua itu bukan kepastian mutlak. Ia hanya isyarat bagi yang peka.
Di masjid-masjid orang beritikaf. Mereka memperpanjang salat
malam memperbanyak tilawah dan menahan diri dari percakapan sia sia. Ada
keyakinan bahwa satu malam dapat menggeser arah hidup.
Namun Lailatul Qadr bukan sekadar malam pahala berlipat. Ia
adalah pertemuan antara wahyu dan kesiapan batin manusia. Tanpa kesiapan itu
malam tersebut hanya lewat sebagai tanggal dalam kalender.
Satu Malam Seribu Bulan
Di tengah dunia yang riuh frasa lebih baik dari seribu bulan
terdengar seperti teguran. Kita hidup dalam perhitungan produktivitas dan
grafik pertumbuhan. Waktu dinilai dari kuantitas bukan dari kejernihan.
Seribu bulan adalah simbol panjangnya usia dan akumulasi
kerja. Tetapi satu malam dapat melampaui itu ketika kesadaran mencapai titik
paling jernih. Di sini kualitas mengalahkan durasi.
Ungkapan itu dapat dibaca sebagai kritik atas obsesi pada
banyaknya hari tanpa arah. Satu momen yang penuh makna lebih bernilai daripada
rentang panjang yang kosong dari refleksi. Lailatul Qadr mengajarkan ekonomi
spiritual tentang waktu.
Pendekatan hermeneutik modern memberi jalan pembacaan yang
bergerak. Fazlur Rahman melalui teori Double Movement mengajak kita
kembali ke konteks turunnya wahyu lalu membawa pesannya ke masa kini. Dengan
cara itu teks tidak berhenti di masa lalu.
Gerakan pertama menuntut pemahaman atas masyarakat abad
ketujuh yang sarat struktur kesukuan dan ketimpangan sosial. Turunnya Al Quran
adalah intervensi etis yang radikal. Ia menggeser orientasi hidup dari
loyalitas sempit menuju tanggung jawab moral.
Lailatul Qadr dalam konteks itu menandai lahirnya visi
tauhid yang menata ulang kesetiaan manusia. Wahyu hadir bukan hanya sebagai
bacaan tetapi sebagai pembentuk komunitas. Dari sanalah prinsip universal
tentang keadilan dan tanggung jawab dirumuskan.
Gerakan kedua membawa prinsip itu ke dunia modern. Kita
hidup dalam ritme algoritma dan tenggat yang nyaris tanpa jeda. Waktu menjadi
komoditas bukan ruang kontemplasi.
Maka satu malam seribu bulan menjadi perlawanan halus
terhadap cara kita memandang hidup. Ia mengingatkan bahwa makna tidak
ditentukan oleh lamanya usia tetapi oleh kedalaman kesadaran. Dalam sunyi yang
sadar manusia menemukan kembali pusat dirinya.
Tafsir klasik menekankan keutamaan malam ini sebagai
kesempatan emas pengampunan dosa. Ampunan bukan sekadar penghapusan kesalahan
tetapi pembukaan kemungkinan baru. Derajat ketakwaan ditinggikan melalui
kesadaran yang jernih.
Ketika malaikat turun membawa ketenangan yang dimaksud bukan
hanya suasana kosmik. Ketenangan itu menjalar ke batin manusia yang berdoa di
tengah dunia yang riuh. Ia menjadi ruang teduh di antara kebisingan.
Penetapan takdir setahun ke depan sering dipahami secara
kaku. Padahal doa dan usaha merupakan bagian dari takdir itu sendiri. Lailatul
Qadr mempertemukan harap dan tanggung jawab dalam satu tarikan napas.
Di malam itu manusia berdiri di antara masa lalu dan masa
depan. Dosa yang lampau dihadapkan pada kemungkinan ampunan dan rencana ke
depan diserahkan pada kebijaksanaan Ilahi. Ada kesadaran akan keterbatasan diri
yang justru melahirkan kekuatan.
Kerahasiaan waktunya membuat setiap malam ganjil terasa
mungkin. Ketidakpastian ini melatih konsistensi ibadah. Manusia tidak bisa
menunggu kepastian ia harus setia dalam pencarian.
Lailatul Qadr mengingatkan bahwa sejarah besar sering
bermula dari keheningan. Wahyu pertama turun dalam sunyi bukan dalam sorak
sorai. Dari sunyi itu lahir perubahan peradaban.
Setiap Ramadan pengalaman itu diulang dalam bentuk yang
sederhana. Tanpa dramatisasi dan tanpa panggung. Ibadah menjadi cara merawat
ingatan kolektif tentang asal mula nilai.
Di dunia yang mudah lupa, malam itu adalah latihan
mengingat. Mengingat bahwa hidup tidak semata ekonomi dan statistik. Ada
dimensi transenden yang memberi arah pada setiap langkah.
Lebih dari itu ia adalah undangan untuk memperbarui komitmen
pada nilai nilai wahyu seperti keadilan kasih sayang dan tanggung jawab. Tanpa
itu malam kemuliaan hanya menjadi mitos yang diperingati. Ia tidak menjelma
menjadi sikap hidup.
Ketika fajar tiba dengan cahaya yang lembut manusia kembali
ke hari biasa. Namun jika malam itu sungguh dihayati yang biasa tidak lagi
sepenuhnya sama. Sebab satu malam yang dimaknai dengan utuh dapat mengubah cara
kita memandang seluruh sisa waktu.***


