Iklan

Lailatul Qadr di Tengah Dunia yang Riuh

syamsul kurniawan
Thursday, February 26, 2026
Last Updated 2026-02-27T03:14:35Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Malam itu datang tanpa bunyi. Tak ada genderang dan tak ada penanda di langit selain gelap yang biasa. Namun dalam kesadaran umat Islam ada satu malam di bulan Ramadan yang tak pernah biasa yaitu Lailatul Qadr.

 

Ia disebut lebih baik dari seribu bulan. Sebuah perbandingan yang membuat waktu kehilangan ukuran rutinnya. Dunia boleh riuh oleh notifikasi dan tenggat tetapi malam itu menawarkan kedalaman yang lain.

 

Seribu bulan adalah umur panjang manusia. Delapan puluh tiga tahun lebih empat bulan hampir satu rentang hidup yang utuh. Ketika Al Quran menyebut satu malam lebih baik dari itu yang sedang dipadatkan adalah makna bukan sekadar ganjaran.

 

Lailatul Qadr adalah malam turunnya wahyu. Pada malam itulah Al Quran pertama kali menyentuh sejarah manusia. Sejak saat itu ia menjadi simpul antara langit dan bumi.

 

Dalam tradisi tafsir klasik penjelasan tentang malam ini tidak pernah tunggal. Salah satu rujukan penting adalah Jami' al-Bayan karya At-Tabari. Di sana Lailatul Qadr dimaknai sebagai malam agung yang penuh kemuliaan dan amal ibadah di dalamnya lebih baik dari seribu bulan.

 

At-Tabari menjelaskan bahwa pada malam itu malaikat turun ke bumi. Bukan satu atau dua melainkan dalam jumlah besar hingga ruang terasa sempit oleh kehadiran mereka. Bersama mereka turun pula Jibril membawa ketenangan keselamatan dan keberkahan hingga terbit fajar.

 

Kata qadr memuat lapisan makna. Ia berarti kemuliaan karena agungnya malam itu. Ia juga berarti kesempitan dan berarti ketetapan sebab pada malam itulah rincian takdir setahun ke depan ditentukan.

 

Penetapan itu bukan fatalisme buta. Dalam tafsir klasik ketentuan Ilahi berjalan bersama keteraturan sebab akibat. Manusia tetap memikul tanggung jawab atas pilihannya.

 

Malam itu juga diyakini sebagai saat turunnya Al-Quran secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia. Dari sana wahyu diturunkan berangsur kepada Nabi Muhammad. Dengan demikian Lailatul Qadr menjadi titik awal sejarah kenabian.

 

Waktunya dirahasiakan secara pasti. Mayoritas ulama menempatkannya di sepuluh malam terakhir Ramadan terutama malam malam ganjil. Kerahasiaan itu mendidik manusia untuk berjaga dan tidak merasa aman oleh satu tanggal.

 

Dalam tafsir klasik malam itu disebut sebagai malam salam. Penuh kesejahteraan hingga fajar menyingsing. Ada hening yang berbeda dari malam malam lain.

 

Sebagian riwayat menyebut tanda-tandanya seperti udara yang tidak panas dan tidak dingin serta matahari pagi yang terbit lembut. Namun semua itu bukan kepastian mutlak. Ia hanya isyarat bagi yang peka.

 

Di masjid-masjid orang beritikaf. Mereka memperpanjang salat malam memperbanyak tilawah dan menahan diri dari percakapan sia sia. Ada keyakinan bahwa satu malam dapat menggeser arah hidup.

 

Namun Lailatul Qadr bukan sekadar malam pahala berlipat. Ia adalah pertemuan antara wahyu dan kesiapan batin manusia. Tanpa kesiapan itu malam tersebut hanya lewat sebagai tanggal dalam kalender.

 

Satu Malam Seribu Bulan

 

Di tengah dunia yang riuh frasa lebih baik dari seribu bulan terdengar seperti teguran. Kita hidup dalam perhitungan produktivitas dan grafik pertumbuhan. Waktu dinilai dari kuantitas bukan dari kejernihan.

 

Seribu bulan adalah simbol panjangnya usia dan akumulasi kerja. Tetapi satu malam dapat melampaui itu ketika kesadaran mencapai titik paling jernih. Di sini kualitas mengalahkan durasi.

 

Ungkapan itu dapat dibaca sebagai kritik atas obsesi pada banyaknya hari tanpa arah. Satu momen yang penuh makna lebih bernilai daripada rentang panjang yang kosong dari refleksi. Lailatul Qadr mengajarkan ekonomi spiritual tentang waktu.

 

Pendekatan hermeneutik modern memberi jalan pembacaan yang bergerak. Fazlur Rahman melalui teori Double Movement mengajak kita kembali ke konteks turunnya wahyu lalu membawa pesannya ke masa kini. Dengan cara itu teks tidak berhenti di masa lalu.

Gerakan pertama menuntut pemahaman atas masyarakat abad ketujuh yang sarat struktur kesukuan dan ketimpangan sosial. Turunnya Al Quran adalah intervensi etis yang radikal. Ia menggeser orientasi hidup dari loyalitas sempit menuju tanggung jawab moral.

 

Lailatul Qadr dalam konteks itu menandai lahirnya visi tauhid yang menata ulang kesetiaan manusia. Wahyu hadir bukan hanya sebagai bacaan tetapi sebagai pembentuk komunitas. Dari sanalah prinsip universal tentang keadilan dan tanggung jawab dirumuskan.

 

Gerakan kedua membawa prinsip itu ke dunia modern. Kita hidup dalam ritme algoritma dan tenggat yang nyaris tanpa jeda. Waktu menjadi komoditas bukan ruang kontemplasi.

 

Maka satu malam seribu bulan menjadi perlawanan halus terhadap cara kita memandang hidup. Ia mengingatkan bahwa makna tidak ditentukan oleh lamanya usia tetapi oleh kedalaman kesadaran. Dalam sunyi yang sadar manusia menemukan kembali pusat dirinya.

 

Tafsir klasik menekankan keutamaan malam ini sebagai kesempatan emas pengampunan dosa. Ampunan bukan sekadar penghapusan kesalahan tetapi pembukaan kemungkinan baru. Derajat ketakwaan ditinggikan melalui kesadaran yang jernih.

 

Ketika malaikat turun membawa ketenangan yang dimaksud bukan hanya suasana kosmik. Ketenangan itu menjalar ke batin manusia yang berdoa di tengah dunia yang riuh. Ia menjadi ruang teduh di antara kebisingan.

 

Penetapan takdir setahun ke depan sering dipahami secara kaku. Padahal doa dan usaha merupakan bagian dari takdir itu sendiri. Lailatul Qadr mempertemukan harap dan tanggung jawab dalam satu tarikan napas.

 

Di malam itu manusia berdiri di antara masa lalu dan masa depan. Dosa yang lampau dihadapkan pada kemungkinan ampunan dan rencana ke depan diserahkan pada kebijaksanaan Ilahi. Ada kesadaran akan keterbatasan diri yang justru melahirkan kekuatan.

 

Kerahasiaan waktunya membuat setiap malam ganjil terasa mungkin. Ketidakpastian ini melatih konsistensi ibadah. Manusia tidak bisa menunggu kepastian ia harus setia dalam pencarian.

 

Lailatul Qadr mengingatkan bahwa sejarah besar sering bermula dari keheningan. Wahyu pertama turun dalam sunyi bukan dalam sorak sorai. Dari sunyi itu lahir perubahan peradaban.

 

Setiap Ramadan pengalaman itu diulang dalam bentuk yang sederhana. Tanpa dramatisasi dan tanpa panggung. Ibadah menjadi cara merawat ingatan kolektif tentang asal mula nilai.

 

Di dunia yang mudah lupa, malam itu adalah latihan mengingat. Mengingat bahwa hidup tidak semata ekonomi dan statistik. Ada dimensi transenden yang memberi arah pada setiap langkah.

 

Lebih dari itu ia adalah undangan untuk memperbarui komitmen pada nilai nilai wahyu seperti keadilan kasih sayang dan tanggung jawab. Tanpa itu malam kemuliaan hanya menjadi mitos yang diperingati. Ia tidak menjelma menjadi sikap hidup.

 

Ketika fajar tiba dengan cahaya yang lembut manusia kembali ke hari biasa. Namun jika malam itu sungguh dihayati yang biasa tidak lagi sepenuhnya sama. Sebab satu malam yang dimaknai dengan utuh dapat mengubah cara kita memandang seluruh sisa waktu.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now