Iklan

ÉÉN WATT

syamsul kurniawan
Friday, May 22, 2026
Last Updated 2026-05-23T05:06:58Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

 


 

Syamsul Kurniawan

 

KABUT turun perlahan di kanal-kanal Amsterdam seperti doa-doa tua yang tidak pernah benar-benar sampai ke langit. Lampu-lampu gas berpendar redup di atas air yang hitam dan tenang. Malam merayap pelan di kota itu, dingin dan lembap, seperti seseorang yang sengaja datang untuk mengingatkan manusia pada hal-hal yang ingin mereka lupakan.

Di sudut distrik Jordaan, tersembunyi di antara percetakan tua dan toko roti yang hampir tutup, berdirilah sebuah kafe kecil bernama één watt. Nama yang aneh. Tetapi orang-orang Amsterdam terbiasa hidup berdampingan dengan hal-hal aneh. Kota itu dibangun di atas rawa, kabut, dan kenangan.

Kafe itu hampir selalu sepi selepas tengah malam. Dan malam itu, hanya ada seorang lelaki yang duduk dekat jendela. Namanya Willem de Vries.

Usianya tiga puluh lima tahun, tetapi matanya seperti milik seseorang yang sudah terlalu lama gagal tidur dengan tenang. Ia mengenakan mantel cokelat tua dan syal wol hitam yang mulai rusak di bagian ujungnya. Di depannya, secangkir kopi yang mulai dingin. Di sampingnya, setumpuk kertas kosong.

Kosong.

Kadang manusia tidak takut pada kesunyian. Mereka takut pada isi kepalanya sendiri ketika kesunyian itu datang.

Aku mulai kehilangan cerita,” gumam Willem pelan.

Pelayan tua di balik meja bar tidak menjawab. Lelaki itu sejak tadi hanya membersihkan gelas dengan kain putih kusam. Rambutnya seluruhnya memutih, tetapi gerakannya tenang dan rapi seperti seseorang yang hidup terlalu lama bersama kesabaran.

Hujan mulai turun tipis di luar. Willem memandang jendela yang mulai berembun. Lima tahun. Sudah lima tahun sejak Margriet meninggal. Dan anehnya, waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan kehilangan. Ia hanya mengajarkan manusia cara menyembunyikan rasa sakit agar terlihat seperti kehidupan biasa.

Margriet. Nama itu selalu datang pelan di kepalanya. Lalu menetap. Seperti cahaya kecil yang tidak pernah benar-benar padam.

Margriet adalah adiknya. Satu-satunya keluarga yang benar-benar ia miliki setelah ayah mereka mati di pelabuhan Rotterdam dan ibu mereka perlahan kehilangan kewarasan karena kemiskinan. Mereka tumbuh bersama di rumah sempit dekat kanal tua Leiden.

Musim dingin selalu terlalu dingin. Roti selalu terlalu sedikit. Tetapi Margriet selalu tertawa. Itulah yang paling diingat Willem.

Adiknya bisa menemukan kebahagiaan bahkan pada hal-hal kecil yang nyaris tidak berarti. Burung-burung yang hinggap di pagar. Salju pertama. Aroma sup murah dari dapur tetangga. Atau suara mesin cetak surat kabar di ujung jalan.

Suatu hari nanti,” kata Margriet dulu sambil memeluk lutut kecilnya, “kau akan menjadi penulis besar, Willem.

Willem tertawa kecil waktu itu. “Lalu kau akan jadi apa?

Margriet berpikir sebentar sebelum menjawab, “Aku akan menjadi orang pertama yang membaca semua ceritamu.

Kenangan itu menghantam Willem tiba-tiba. Dadanya terasa sesak. Ia menunduk cepat.

Kadang rasa kehilangan bekerja seperti hujan Amsterdam. Tidak pernah benar-benar deras, tetapi cukup lama untuk membuat manusia lupa bagaimana rasanya kering.

Kalau Anda terus menatap hujan seperti itu,” suara pelayan tua terdengar pelan, “Anda tidak akan pernah selesai menulis.

Willem mengangkat wajah. “Apa Anda percaya,” tanyanya lirih, “bahwa seseorang bisa tetap hidup di dalam cerita?

Pelayan itu tersenyum samar.

Bukankah semua manusia berharap begitu?

Jawaban itu membuat Willem diam cukup lama. Lalu ia mengambil pena. Tinta hitam menyentuh kertas putih. Dan ia mulai menulis.

“Seorang lelaki datang ke sebuah kafe di Amsterdam pada malam musim dingin. Ia ingin menulis cerita terakhir sebelum kenangannya menghancurkannya.”

Willem berhenti. Kalimat itu terasa terlalu dekat. Terlalu jujur. Tetapi ia melanjutkan.

“Lelaki itu kehilangan adik perempuan yang paling ia cintai.”

Tangan Willem membeku. Napasnya tertahan. Ia menatap tulisan itu lama sekali sebelum tertawa kecil, hambar.

Tentu saja. Semua penulis mencuri dari hidupnya sendiri. Bukankah begitu?

Ia kembali menulis.

“Adiknya bernama Margriet. Perempuan kecil yang selalu percaya bahwa kakaknya akan menjadi seseorang yang hebat.”

Willem memejamkan mata. Ia ingat Margriet kecil berlari di bawah hujan sambil membawa buku-buku bekas yang mereka beli murah dari pasar loak. Ia ingat gadis itu tidur kelaparan tetapi tetap tersenyum agar Willem tidak merasa bersalah. Ia ingat malam-malam ketika Margriet diam-diam menjahit bajunya yang robek. Dan ia ingat sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada semua itu. Malam terakhir.

Willem buru-buru membuka mata dan menulis lebih cepat, seperti seseorang yang sedang mencoba melarikan diri dari pikirannya sendiri. Lelaki itu mulai percaya bahwa kenangan dapat berubah menjadi hukuman.

Angin dingin menghantam jendela. Willem mendongak. Di seberang kanal, seorang perempuan berdiri di bawah lampu gas. Tubuh kecil. Mantel hitam. Rambut pirang panjang. Jantung Willem berhenti sesaat.

Margriet.

Perempuan itu berdiri diam di tengah kabut sambil menatap langsung ke arah kafe.

Tidak mungkin...” bisik Willem.

Tangannya gemetar. Ketika ia berdiri hendak keluar, sosok itu menghilang. Begitu saja. Seolah kabut menelannya.

Pelayan tua datang membawa kopi baru.

Anda pucat sekali.

Aku melihat seseorang.”

Amsterdam penuh orang kesepian.

Bukan.” Willem menelan ludah. “Itu Margriet.

Pelayan itu diam. Tetapi tatapannya berubah. Seperti seseorang yang mendengar nama yang seharusnya tidak disebut lagi. Willem mencoba menenangkan dirinya.

Lalu kembali menulis.

Lelaki itu mulai mendengar suara adiknya di mana-mana. Dan benar saja. Beberapa detik kemudian, Willem mendengar suara kecil itu.

Kak Willem...

Tubuhnya menegang. Suara itu. Suara yang dulu selalu memanggilnya ketika mereka masih kecil. Suara yang hilang lima tahun lalu.

Kak Willem...

Willem menoleh cepat. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Tetapi matanya menangkap sesuatu di pantulan jendela. Seorang perempuan duduk di belakangnya. Margriet. Wajahnya pucat. Matanya teduh seperti dulu. Tetapi ada kesedihan besar di sana.

Willem menoleh cepat. Kosong. Tidak ada siapa pun.

Ketika ia melihat jendela lagi, pantulan itu masih ada. Margriet menatapnya tanpa berkedip. Pena jatuh dari tangan Willem.

Aku mulai gila...” bisiknya.

Pelayan tua berhenti membersihkan gelas.

Kadang,” katanya pelan, “rasa bersalah tidak benar-benar pergi. Ia hanya mencari waktu yang tepat untuk kembali.

Willem berdiri mendadak. “Aku tidak bersalah.

Pelayan itu diam.

Aku berkata aku tidak bersalah!

Tetapi suara Willem terdengar rapuh. Karena jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang tahu bahwa ia sedang berbohong. Kepalanya mulai sakit. Ingatan-ingatan muncul seperti pecahan kaca. Musim dingin. Salju. Batuk Margriet yang semakin parah. Dokter yang berkata paru-parunya lemah.

Dan malam itu. Malam ketika semuanya berubah. Willem memegang kepalanya erat.

Aku tidak ingin mengingatnya...

Tetapi ingatan itu datang juga. Hari itu Willem akhirnya diterima bekerja sebagai penulis di surat kabar besar Amsterdam. Ia pulang dengan mabuk kebahagiaan. Margriet memasak sup murah untuk merayakannya.

Tetapi malam semakin larut. Dan Margriet mulai batuk darah. Willem panik. Ia ingin memanggil dokter. Tetapi Margriet justru menangis.

Aku tidak mau merepotkanmu lagi,” katanya lirih.

Kau tidak pernah merepotkanku.

Aku selalu menjadi alasan kau gagal pergi lebih jauh.

Kalimat itu menusuk Willem. Karena sebagian kecil dirinya memang pernah berpikir begitu. Bahwa hidup akan lebih mudah tanpa beban merawat adiknya yang sakit. Dan manusia sering paling takut pada pikiran buruk yang pernah singgah di hatinya sendiri.

Aku tidak pernah berpikir begitu,” kata Willem malam itu.

Tetapi suaranya terlalu lambat. Margriet tersenyum kecil. Sedih sekali. Lalu gadis itu jatuh pingsan.

Willem terlambat membawa dokter. Terlambat beberapa jam. Dan kadang, beberapa jam cukup untuk menghancurkan seluruh hidup seseorang.

Tubuh Willem gemetar hebat.

Aku tidak ingin dia mati...” bisiknya.

Suara batuk kecil terdengar dari sudut ruangan. Willem menoleh perlahan. Margriet duduk di sana. Nyata. Atau tampak nyata. Wajahnya pucat seperti cahaya bulan musim dingin.

Kak Willem,” katanya pelan.

Air mata Willem jatuh begitu saja. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.

Aku minta maaf...

Kau terus menulis cerita tentang kehilangan,” suara Margriet lembut sekali, “karena itu satu-satunya cara agar kau tidak perlu memaafkan dirimu sendiri.

Aku harusnya lebih cepat memanggil dokter...

Kau manusia.

Aku kakakmu.”

Dan justru itulah yang paling menghancurkannya. Karena Willem tahu satu hal: Tidak ada rasa bersalah yang lebih kejam daripada gagal menjaga seseorang yang paling kita cintai.

Lampu-lampu kafe mulai meredup. Kabut masuk perlahan memenuhi ruangan. Pelayan tua entah sejak kapan sudah menghilang. Kini hanya ada Willem, suara hujan, dan detak jam tua di dinding.

Tik.

Tik.

Tik.

Lalu terdengar suara pena.

Crat.

Crat.

Crat.

Willem menoleh. Di meja dekat jendela, seseorang sedang menulis. Seorang lelaki tua. Punggungnya membungkuk. Tangannya bergerak cepat di atas kertas.

Willem melangkah mendekat perlahan. Dan ketika lelaki itu mengangkat wajahnya, Willem melihat dirinya sendiri. Versi yang lebih tua. Lebih lelah. Lebih hancur.

Lelaki tua itu tersenyum tipis.

Akhirnya kau ingat.

Tubuh Willem terasa dingin seluruhnya.

Apa ini?

Lelaki tua itu tidak menjawab. Ia hanya mendorong setumpuk halaman ke arah Willem. Dengan tangan gemetar, Willem membacanya. Itu cerita tentang seorang penulis bernama Willem de Vries yang terus datang ke kafe één watt untuk menulis ulang hidupnya sendiri.

Menulis ulang kematian adiknya. Menulis ulang rasa bersalahnya. Berulang-ulang. Seolah jika ceritanya berubah, maka kenyataannya juga akan berubah.

Halaman terakhir masih kosong. Hanya ada satu kalimat pendek di bagian bawah:

Dan malam itu, Willem akhirnya memahami mengapa ia tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan kafe één watt.

Apa maksudnya ini?” suara Willem pecah.

Lelaki tua itu menatapnya lama sekali. Lalu berkata pelan,

Karena seseorang harus terus mengingat Margriet.”

Pintu kafe perlahan terbuka. Lonceng kecil berbunyi sekali. Kabut masuk bersama udara dingin. Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu. Matanya tajam. Mantel hitam panjang.

Maaf,” katanya pelan. “Apakah di sini masih buka?

Lelaki tua itu menatap Willem. Kemudian berbisik hampir tak terdengar,

Ah... akhirnya Reina datang juga.”

Dan pada saat itu, seluruh lampu di kafe padam.***

 

Di sebuah kafe yang temaram. Pontianak, 23 Mei 2026.

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now