Syamsul
Kurniawan
KABUT turun
perlahan di kanal-kanal Amsterdam seperti doa-doa tua yang tidak pernah
benar-benar sampai ke langit. Lampu-lampu gas berpendar redup di atas air yang
hitam dan tenang. Malam merayap pelan di kota itu, dingin dan lembap, seperti
seseorang yang sengaja datang untuk mengingatkan manusia pada hal-hal yang
ingin mereka lupakan.
Di
sudut distrik Jordaan, tersembunyi di antara percetakan tua dan toko roti yang
hampir tutup, berdirilah sebuah kafe kecil bernama één watt. Nama yang
aneh. Tetapi orang-orang Amsterdam terbiasa hidup berdampingan dengan hal-hal
aneh. Kota itu dibangun di atas rawa, kabut, dan kenangan.
Kafe
itu hampir selalu sepi selepas tengah malam. Dan malam itu, hanya ada seorang
lelaki yang duduk dekat jendela. Namanya Willem de Vries.
Usianya
tiga puluh lima tahun, tetapi matanya seperti milik seseorang yang sudah
terlalu lama gagal tidur dengan tenang. Ia mengenakan mantel cokelat tua dan
syal wol hitam yang mulai rusak di bagian ujungnya. Di depannya, secangkir kopi
yang mulai dingin. Di sampingnya, setumpuk kertas kosong.
Kosong.
Kadang
manusia tidak takut pada kesunyian. Mereka takut pada isi kepalanya sendiri
ketika kesunyian itu datang.
“Aku
mulai kehilangan cerita,” gumam Willem pelan.
Pelayan
tua di balik meja bar tidak menjawab. Lelaki itu sejak tadi hanya membersihkan
gelas dengan kain putih kusam. Rambutnya seluruhnya memutih, tetapi gerakannya
tenang dan rapi seperti seseorang yang hidup terlalu lama bersama kesabaran.
Hujan
mulai turun tipis di luar. Willem memandang jendela yang mulai berembun. Lima
tahun. Sudah lima tahun sejak Margriet meninggal. Dan anehnya, waktu tidak
pernah benar-benar menyembuhkan kehilangan. Ia hanya mengajarkan manusia cara
menyembunyikan rasa sakit agar terlihat seperti kehidupan biasa.
Margriet.
Nama itu selalu datang pelan di kepalanya. Lalu menetap. Seperti cahaya kecil
yang tidak pernah benar-benar padam.
Margriet
adalah adiknya. Satu-satunya keluarga yang benar-benar ia miliki setelah ayah
mereka mati di pelabuhan Rotterdam dan ibu mereka perlahan kehilangan kewarasan
karena kemiskinan. Mereka tumbuh bersama di rumah sempit dekat kanal tua
Leiden.
Musim
dingin selalu terlalu dingin. Roti selalu terlalu sedikit. Tetapi Margriet
selalu tertawa. Itulah yang paling diingat Willem.
Adiknya
bisa menemukan kebahagiaan bahkan pada hal-hal kecil yang nyaris tidak berarti.
Burung-burung yang hinggap di pagar. Salju pertama. Aroma sup murah dari dapur
tetangga. Atau suara mesin cetak surat kabar di ujung jalan.
“Suatu
hari nanti,” kata Margriet dulu sambil memeluk lutut kecilnya, “kau akan
menjadi penulis besar, Willem.”
Willem
tertawa kecil waktu itu. “Lalu kau akan jadi apa?”
Margriet
berpikir sebentar sebelum menjawab, “Aku akan menjadi orang pertama yang
membaca semua ceritamu.”
Kenangan
itu menghantam Willem tiba-tiba. Dadanya terasa sesak. Ia menunduk cepat.
Kadang
rasa kehilangan bekerja seperti hujan Amsterdam. Tidak pernah benar-benar
deras, tetapi cukup lama untuk membuat manusia lupa bagaimana rasanya kering.
“Kalau
Anda terus menatap hujan seperti itu,” suara pelayan tua terdengar pelan, “Anda
tidak akan pernah selesai menulis.”
Willem
mengangkat wajah. “Apa Anda percaya,” tanyanya lirih, “bahwa
seseorang bisa tetap hidup di dalam cerita?”
Pelayan
itu tersenyum samar.
“Bukankah
semua manusia berharap begitu?”
Jawaban
itu membuat Willem diam cukup lama. Lalu ia mengambil pena. Tinta hitam
menyentuh kertas putih. Dan ia mulai menulis.
“Seorang
lelaki datang ke sebuah kafe di Amsterdam pada malam musim dingin. Ia ingin
menulis cerita terakhir sebelum kenangannya menghancurkannya.”
Willem
berhenti. Kalimat itu terasa terlalu dekat. Terlalu jujur. Tetapi ia
melanjutkan.
“Lelaki
itu kehilangan adik perempuan yang paling ia cintai.”
Tangan
Willem membeku. Napasnya tertahan. Ia menatap tulisan itu lama sekali sebelum
tertawa kecil, hambar.
Tentu
saja. Semua penulis mencuri dari hidupnya sendiri. Bukankah begitu?
Ia
kembali menulis.
“Adiknya
bernama Margriet. Perempuan kecil yang selalu percaya bahwa kakaknya akan
menjadi seseorang yang hebat.”
Willem
memejamkan mata. Ia ingat Margriet kecil berlari di bawah hujan sambil membawa
buku-buku bekas yang mereka beli murah dari pasar loak. Ia ingat gadis itu
tidur kelaparan tetapi tetap tersenyum agar Willem tidak merasa bersalah. Ia
ingat malam-malam ketika Margriet diam-diam menjahit bajunya yang robek. Dan ia
ingat sesuatu yang jauh lebih menyakitkan daripada semua itu. Malam terakhir.
Willem
buru-buru membuka mata dan menulis lebih cepat, seperti seseorang yang sedang
mencoba melarikan diri dari pikirannya sendiri. Lelaki itu mulai percaya bahwa
kenangan dapat berubah menjadi hukuman.
Angin
dingin menghantam jendela. Willem mendongak. Di seberang kanal, seorang
perempuan berdiri di bawah lampu gas. Tubuh kecil. Mantel hitam. Rambut pirang
panjang. Jantung Willem berhenti sesaat.
Margriet.
Perempuan
itu berdiri diam di tengah kabut sambil menatap langsung ke arah kafe.
“Tidak
mungkin...” bisik Willem.
Tangannya
gemetar. Ketika ia berdiri hendak keluar, sosok itu menghilang. Begitu saja. Seolah
kabut menelannya.
Pelayan
tua datang membawa kopi baru.
“Anda
pucat sekali.”
“Aku
melihat seseorang.”
“Amsterdam
penuh orang kesepian.”
“Bukan.”
Willem menelan ludah. “Itu Margriet.”
Pelayan
itu diam. Tetapi tatapannya berubah. Seperti seseorang yang mendengar nama yang
seharusnya tidak disebut lagi. Willem mencoba menenangkan dirinya.
Lalu
kembali menulis.
Lelaki
itu mulai mendengar suara adiknya di mana-mana. Dan benar saja. Beberapa detik
kemudian, Willem mendengar suara kecil itu.
“Kak
Willem...”
Tubuhnya
menegang. Suara itu. Suara yang dulu selalu memanggilnya ketika mereka masih
kecil. Suara yang hilang lima tahun lalu.
“Kak
Willem...”
Willem
menoleh cepat. Kosong. Tak ada siapa-siapa. Tetapi matanya menangkap sesuatu di
pantulan jendela. Seorang perempuan duduk di belakangnya. Margriet. Wajahnya
pucat. Matanya teduh seperti dulu. Tetapi ada kesedihan besar di sana.
Willem
menoleh cepat. Kosong. Tidak ada siapa pun.
Ketika
ia melihat jendela lagi, pantulan itu masih ada. Margriet menatapnya tanpa
berkedip. Pena jatuh dari tangan Willem.
“Aku
mulai gila...” bisiknya.
Pelayan
tua berhenti membersihkan gelas.
“Kadang,”
katanya pelan, “rasa bersalah tidak benar-benar pergi. Ia hanya mencari
waktu yang tepat untuk kembali.”
Willem
berdiri mendadak. “Aku tidak bersalah.”
Pelayan
itu diam.
“Aku
berkata aku tidak bersalah!”
Tetapi
suara Willem terdengar rapuh. Karena jauh di dalam dirinya, ada sesuatu yang
tahu bahwa ia sedang berbohong. Kepalanya mulai sakit. Ingatan-ingatan muncul
seperti pecahan kaca. Musim dingin. Salju. Batuk Margriet yang semakin parah. Dokter
yang berkata paru-parunya lemah.
Dan
malam itu. Malam ketika semuanya berubah. Willem memegang kepalanya erat.
“Aku
tidak ingin mengingatnya...”
Tetapi
ingatan itu datang juga. Hari itu Willem akhirnya diterima bekerja sebagai
penulis di surat kabar besar Amsterdam. Ia pulang dengan mabuk kebahagiaan. Margriet
memasak sup murah untuk merayakannya.
Tetapi
malam semakin larut. Dan Margriet mulai batuk darah. Willem panik. Ia ingin
memanggil dokter. Tetapi Margriet justru menangis.
“Aku
tidak mau merepotkanmu lagi,” katanya lirih.
“Kau
tidak pernah merepotkanku.”
“Aku
selalu menjadi alasan kau gagal pergi lebih jauh.”
Kalimat
itu menusuk Willem. Karena sebagian kecil dirinya memang pernah berpikir
begitu. Bahwa hidup akan lebih mudah tanpa beban merawat adiknya yang sakit. Dan
manusia sering paling takut pada pikiran buruk yang pernah singgah di hatinya
sendiri.
“Aku
tidak pernah berpikir begitu,” kata Willem malam itu.
Tetapi
suaranya terlalu lambat. Margriet tersenyum kecil. Sedih sekali. Lalu gadis itu
jatuh pingsan.
Willem
terlambat membawa dokter. Terlambat beberapa jam. Dan kadang, beberapa jam
cukup untuk menghancurkan seluruh hidup seseorang.
Tubuh
Willem gemetar hebat.
“Aku
tidak ingin dia mati...” bisiknya.
Suara
batuk kecil terdengar dari sudut ruangan. Willem menoleh perlahan. Margriet
duduk di sana. Nyata. Atau tampak nyata. Wajahnya pucat seperti cahaya bulan
musim dingin.
“Kak
Willem,” katanya pelan.
Air
mata Willem jatuh begitu saja. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
“Aku
minta maaf...”
“Kau
terus menulis cerita tentang kehilangan,” suara Margriet lembut sekali, “karena
itu satu-satunya cara agar kau tidak perlu memaafkan dirimu sendiri.”
“Aku
harusnya lebih cepat memanggil dokter...”
“Kau
manusia.”
“Aku
kakakmu.”
Dan
justru itulah yang paling menghancurkannya. Karena Willem tahu satu hal: Tidak
ada rasa bersalah yang lebih kejam daripada gagal menjaga seseorang yang paling
kita cintai.
Lampu-lampu
kafe mulai meredup. Kabut masuk perlahan memenuhi ruangan. Pelayan tua entah
sejak kapan sudah menghilang. Kini hanya ada Willem, suara hujan, dan detak jam
tua di dinding.
Tik.
Tik.
Tik.
Lalu
terdengar suara pena.
Crat.
Crat.
Crat.
Willem
menoleh. Di meja dekat jendela, seseorang sedang menulis. Seorang lelaki tua. Punggungnya
membungkuk. Tangannya bergerak cepat di atas kertas.
Willem
melangkah mendekat perlahan. Dan ketika lelaki itu mengangkat wajahnya, Willem
melihat dirinya sendiri. Versi yang lebih tua. Lebih lelah. Lebih hancur.
Lelaki
tua itu tersenyum tipis.
“Akhirnya
kau ingat.”
Tubuh
Willem terasa dingin seluruhnya.
“Apa
ini?”
Lelaki
tua itu tidak menjawab. Ia hanya mendorong setumpuk halaman ke arah Willem. Dengan
tangan gemetar, Willem membacanya. Itu cerita tentang seorang penulis bernama
Willem de Vries yang terus datang ke kafe één watt untuk menulis ulang hidupnya
sendiri.
Menulis
ulang kematian adiknya. Menulis ulang rasa bersalahnya. Berulang-ulang. Seolah
jika ceritanya berubah, maka kenyataannya juga akan berubah.
Halaman
terakhir masih kosong. Hanya ada satu kalimat pendek di bagian bawah:
Dan
malam itu, Willem akhirnya memahami mengapa ia tidak pernah benar-benar bisa
meninggalkan kafe één watt.
“Apa
maksudnya ini?” suara Willem pecah.
Lelaki
tua itu menatapnya lama sekali. Lalu berkata pelan,
“Karena
seseorang harus terus mengingat Margriet.”
Pintu
kafe perlahan terbuka. Lonceng kecil berbunyi sekali. Kabut masuk bersama udara
dingin. Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu. Matanya tajam. Mantel
hitam panjang.
“Maaf,”
katanya pelan. “Apakah di sini masih buka?”
Lelaki
tua itu menatap Willem. Kemudian berbisik hampir tak terdengar,
“Ah...
akhirnya Reina datang juga.”
Dan
pada saat itu, seluruh lampu di kafe padam.***
Di
sebuah kafe yang temaram. Pontianak, 23 Mei 2026.


