Iklan

Puake

syamsul kurniawan
Monday, May 18, 2026
Last Updated 2026-05-19T05:07:54Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

 


Cerpen: Syamsul Kurniawan


TAHUN 1983, Sungai Kapuas seperti kehilangan suaranya sendiri.

Biasanya sungai itu hidup. Riuh oleh bunyi dayung, suara mesin kelotok, tawa anak-anak yang mandi sore, dan percakapan ibu-ibu yang mencuci pakaian di lanting. Tetapi beberapa bulan terakhir, Kapuas terasa berbeda. Airnya lebih keruh. Arusnya lebih berat. Kadang, saat malam terlalu sunyi, terdengar suara gemuruh panjang dari tengah sungai, seperti sesuatu sedang bernapas di bawah permukaan air.

Orang-orang kampung mulai takut turun ke sungai sendirian selepas magrib.

Kapuas sedang murka,” kata orang tua-orang tua di warung kopi.

Sebagian percaya karena hutan di hulu mulai habis ditebang perusahaan kayu. Sebagian lagi percaya karena manusia terlalu sering melupakan adat dan pantangan lama. Namun ada pula yang berbisik pelan sambil menatap gelap sungai:

Puake sudah bangun.”

Di sebuah kampung kecil dekat Jungkat, tinggal seorang pemuda bernama Darma. Usianya dua puluh enam tahun. Tubuhnya tinggi kurus dengan kulit legam terbakar matahari. Sehari-hari ia bekerja membawa kayu menggunakan kelotok tua peninggalan ayahnya.

Ayah Darma meninggal dua tahun lalu.

Tenggelam di Kapuas.

Mayatnya tidak pernah ditemukan.

Tetapi ibunya selalu percaya ayah Darma bukan mati karena arus sungai.

Puake mengambil bapakmu,” kata ibunya suatu malam.

Kalimat itu masih diingat Darma sampai sekarang.

Ia sedang memperbaiki mesin kelotok ketika ibunya mengucapkannya sambil memandang sungai dari jendela kayu rumah mereka. Lampu sentir bergoyang tertiup angin. Wajah ibunya terlihat sangat lelah malam itu.

Darma menghela napas kasar.

Makhluk begituan tidak ada, Mak.

Ibunya menoleh perlahan.

Kalau tidak ada, kenapa orang-orang takut?

Karena orang kampung suka percaya cerita.

Ibunya diam cukup lama. Lalu berkata pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri,

Kadang manusia memang perlu cerita supaya mau takut.

Darma tidak pernah benar-benar memahami maksud kalimat itu.

Sampai ia bertemu Mayang.

Perempuan itu datang seperti kabut. Tiba-tiba ada, tetapi tak seorang pun tahu dari mana asalnya.

Darma pertama kali melihatnya di pasar terapung dekat dermaga Senghie. Pagi itu langit mendung. Perempuan-perempuan sibuk menjual ikan asin, sayur hutan, dan pisang kepok dari atas sampan kecil. Di tengah keramaian itulah Darma melihat seorang perempuan berdiri sendirian di ujung dermaga.

Baju kurungnya berwarna biru pucat.

Rambutnya hitam panjang menjuntai sampai pinggang.

Kulitnya terlalu putih untuk seseorang yang hidup di tepian sungai.

Namun yang membuat Darma tidak bisa berpaling adalah matanya.

Mata itu seperti air sungai saat malam: tenang, gelap, dan menyimpan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Mayang tidak banyak bicara. Tetapi setiap kali berbicara, Darma selalu merasa seperti sedang mendengar seseorang membaca doa yang sedih.

Mereka mulai sering bertemu.

Kadang di pasar.

Kadang di tepian Kapuas saat matahari tenggelam.

Kadang di dermaga kecil dekat pohon beringin tua.

Suatu sore, mereka duduk berdampingan di atas lanting kayu sambil memandang arus sungai yang bergerak lambat.

Kenapa kau suka memandangi sungai terus?” tanya Darma.

Mayang tersenyum kecil.

Karena sungai tidak pernah benar-benar diam.

Air ya tetap air.

Mayang menggeleng pelan.

Kau salah. Air menyimpan banyak hal.

Seperti apa?

Kesedihan manusia.

Darma tertawa kecil.

Kau bicara seperti orang tua.

Mayang memandang permukaan sungai lama sekali sebelum akhirnya berkata lirih,

Semua yang dibuang manusia ke sungai akan diingat oleh sungai. Darah. Tangisan. Mayat. Janji yang dikhianati.”

Angin sore meniup rambut perempuan itu perlahan. Darma tiba-tiba mencium bau tanah basah bercampur anyir sungai yang aneh.

Sejak mengenal Mayang, hidup Darma berubah perlahan.

Ia mulai sering bermimpi buruk.

Dalam mimpinya, ia berdiri sendirian di tengah Kapuas yang hitam pekat. Kabut turun sangat tebal. Dari bawah air muncul seekor ular raksasa bersisik merah dengan mata emas menyala. Makhluk itu tidak menyerangnya. Hanya menatapnya dalam diam.

Tetapi justru itulah yang membuat Darma ketakutan.

Karena tatapan itu terasa seperti kesedihan yang sangat tua.

Mimpi-mimpi itu terus datang hampir setiap malam.

Dan bersamaan dengan itu, kejadian aneh mulai terjadi di kampung mereka.

Seorang nelayan hilang tanpa jejak. Kelotoknya ditemukan terbalik di tengah arus. Dua hari kemudian, seorang anak kecil lenyap saat mandi sore bersama teman-temannya. Lalu seseorang mengaku melihat buaya putih besar muncul di dekat pemukiman.

Nama Puake mulai disebut lagi.

Orang-orang berbicara dengan suara pelan seolah takut didengar sungai.

Suatu malam, warga kampung mengadakan ritual di tepian Kapuas. Sesajen diletakkan di atas rakit bambu: kopi pahit, telur ayam kampung, beras kuning, dan kepala ayam hitam.

Darma ikut datang hanya untuk menemani ibunya.

Ia berdiri sambil melipat tangan di dada ketika seorang tetua kampung mendekatinya.

Lelaki tua itu memegang lengan Darma erat sekali.

Kau dekat dengan perempuan itu, kan?

Darma mengernyit.

Perempuan mana?

Yang matanya seperti air mati.

Tubuh Darma langsung dingin.

Tetua itu mendekatkan wajahnya.

Jauhi dia.

Kenapa?

Puake selalu datang sebelum seseorang diambil.

Darma melepaskan tangannya kasar.

Jangan bicara sembarangan.

Tetua itu tertawa kecil tanpa suara.

Anak muda selalu mengira dirinya lebih pintar dari sungai.

Doa-doa mulai dibacakan.

Sesajen dihanyutkan ke tengah arus.

Lalu tiba-tiba permukaan sungai bergelombang.

Tidak ada angin.

Tidak ada kapal lewat.

Namun air bergerak seperti sesuatu yang sangat besar sedang berenang di bawahnya.

Seorang ibu menjerit.

Rakit sesajen mendadak terseret cepat ke tengah sungai.

Dan untuk sepersekian detik, Darma melihat sesuatu muncul dari permukaan air.

Merah.

Panjang.

Bertanduk.

Matanya menyala kuning keemasan.

Orang-orang langsung berhamburan sambil membaca doa.

Darma berdiri membeku.

Saat ia menoleh, Mayang berdiri di belakangnya.

Perempuan itu tampak tenang.

Kau melihatnya?” bisiknya.

Apa itu?

Mayang memandang sungai.

Penjaga yang lelah.”

Hari-hari setelah itu terasa semakin aneh.

Mayang sering menghilang menjelang malam.

Kadang ia kembali dengan pakaian basah kuyup. Kadang telapak kakinya dipenuhi lumpur hitam.

Darma mulai takut.

Tetapi rasa cintanya tumbuh lebih cepat daripada rasa curiganya.

Dan cinta memang sering membuat manusia rela mengabaikan hal-hal yang seharusnya membuatnya lari.

Suatu malam, Darma diam-diam mengikuti Mayang.

Perempuan itu berjalan menuju tepian Kapuas saat hujan tipis turun perlahan. Ia berhenti di dekat pohon tua, lalu melangkah masuk ke sungai tanpa ragu.

Air naik sampai pinggang.

Sampai dada.

Sampai leher.

Lalu tubuhnya tenggelam seluruhnya.

Namun Mayang tidak muncul lagi.

Darma panik.

Ia menunggu beberapa menit sebelum akhirnya melompat ke sungai.

Air Kapuas malam itu sangat dingin.

Gelap.

Keruh.

Sunyi.

Darma menyelam lebih dalam dan melihat sesuatu yang membuat darahnya seperti berhenti mengalir.

Sebuah rumah lanting tua berada di dasar sungai.

Rumah itu terikat rantai-rantai besar.

Dan di depannya…

berserakan tengkorak manusia.

Darma nyaris berteriak dalam air.

Lalu sesuatu bergerak di belakangnya.

Arus mendadak berubah menjadi pusaran besar.

Saat Darma menoleh, sepasang mata emas muncul dari gelap.

Puake.

Makhluk itu jauh lebih besar daripada cerita siapa pun di kampung. Tubuhnya seperti naga sungai sepanjang kapal tongkang. Sisiknya merah kehitaman. Kumis panjangnya melambai perlahan di air.

Tetapi yang membuat Darma membeku adalah mata makhluk itu.

Tatapan itu tidak terlihat marah.

Tatapan itu justru tampak terluka.

Ketika sadar, Darma sudah berada di rumahnya sendiri. Tubuhnya demam tinggi. Mayang duduk di sampingnya sambil mengganti kain basah di dahinya.

Aku hampir mati?” bisik Darma lemah.

Mayang menunduk.

Ya.”

Apa kau sebenarnya?

Perempuan itu diam lama sekali.

Lalu air matanya jatuh perlahan.

Aku dulu manusia.

Hujan turun deras di luar rumah.

Suara Kapuas terdengar seperti seseorang sedang menangis dalam gelap.

Ayahku pemilik perusahaan kayu di hulu,” lanjut Mayang lirih. “Mereka menebang hutan terlalu banyak. Mereka membuang limbah ke sungai.

Darma terdiam.

Tahun lalu kapal kami tenggelam.

Karena Puake?

Mayang mengangguk perlahan.

Makhluk itu tidak membunuh tanpa alasan.

Darma menatap perempuan itu tak percaya.

Kau membela monster?

Mayang langsung menatapnya tajam.

Monster?

Suaranya bergetar.

Kau tahu siapa monster sebenarnya, Darma?

Darma terdiam.

Mayang menangis.

Manusia mengambil hutan sedikit demi sedikit, lalu heran kenapa sungai marah. Manusia membuang racun ke air, lalu bertanya kenapa ikan mati. Manusia membunuh anak makhluk lain, lalu merasa dirinya paling suci.

Kau bicara seolah manusia paling jahat.

Kadang memang begitu.

Air mata Mayang jatuh satu per satu.

Aku melihat sendiri sungai berubah sakit.

Malam itu Darma tidak bisa tidur.

Ia mulai mengingat banyak hal yang dulu dianggap biasa.

Ikan-ikan mati mengapung.

Air Kapuas yang semakin keruh.

Tongkang kayu yang terus datang dari hulu.

Dan ayahnya…

Ayahnya pernah membawa pulang sisik merah besar bertahun-tahun lalu.

Ibunya menangis malam itu.

Tetapi ayahnya hanya tertawa sambil berkata,

Hanya ular besar.

Keesokan harinya, kampung mereka kembali geger.

Sebuah tongkang kayu besar tenggelam di tikungan sungai dekat Batu Ampar. Belasan pekerja hilang.

Orang-orang kembali menyebut nama Puake dengan ketakutan yang lebih besar.

Namun malam berikutnya, bencana paling buruk datang untuk Darma.

Ibunya hilang.

Hanya selendang tua miliknya ditemukan di tepian sungai.

Darma seperti kehilangan napas.

Ia mencari Mayang ke mana-mana.

Tetapi perempuan itu juga menghilang.

Malam itu Darma membawa kelotok ayahnya ke tengah Kapuas sendirian.

Kabut turun sangat tebal.

Mesin kelotok tiba-tiba mati.

Sunyi.

Lalu air mulai beriak.

Dari bawah sungai muncul cahaya kuning keemasan.

Puake perlahan naik ke permukaan.

Tubuhnya yang besar membuat kelotok Darma berguncang keras.

Dan di atas kepala makhluk itu…

Mayang berdiri.

Gaunnya putih pucat.

Rambutnya basah tertiup angin malam.

Di mana ibuku?!” teriak Darma.

Mayang menatapnya lama sekali.

Tatapan itu membuat dada Darma terasa sesak.

Kadang sungai hanya mengambil kembali apa yang pernah diambil manusia darinya,” bisiknya.

Apa maksudmu?!

Mayang menutup mata sejenak.

Lalu berkata pelan,

Ayahmu pernah membunuh anak Puake.

Dunia Darma seperti runtuh.

Apa?

Mereka mengira itu ular biasa.

Tubuh Darma gemetar.

Tidak…

Sejak malam itu, sungai tidak pernah lupa.

Air mata Mayang jatuh perlahan.

Ayahmu tidak tenggelam karena kecelakaan.

Darma mundur beberapa langkah di atas kelotok.

Jangan bohong!

Mayang menangis semakin keras.

Aku berharap itu bohong!

Suara itu pecah seperti seseorang yang terlalu lama menyimpan luka.

Darma… aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa melawan sungai.”

Puake perlahan membuka mulutnya.

Di dalam gelap rongga makhluk itu, Darma melihat selendang ibunya.

Lututnya melemas.

Air matanya jatuh.

Ibu…” suaranya pecah.

Mayang mengulurkan tangan.

Ayo ikut denganku.

Kemana?

Ke tempat sungai menyimpan semua rahasia.

Kabut semakin tebal.

Air Kapuas mulai berputar membentuk pusaran besar.

Darma menatap perempuan yang dicintainya.

Perempuan yang mungkin bukan manusia lagi.

Apa ibuku masih hidup?” tanyanya dengan suara gemetar.

Mayang tidak langsung menjawab.

Lalu sangat pelan ia berkata,

Di sungai, hidup dan mati kadang hanya dipisahkan oleh ingatan.

Darma menangis.

Untuk pertama kalinya sejak ayahnya hilang.

Aku capek…” bisiknya lirih. “Aku capek kehilangan semuanya.”

Mayang ikut menangis.

Kau pikir aku tidak?

Aku cuma ingin hidup biasa…

Tak ada yang benar-benar biasa di tepian Kapuas.

Tiba-tiba permukaan sungai pecah.

Sesuatu bergerak dari bawah air.

Lalu satu per satu mata emas bermunculan di tengah gelap.

Bukan satu.

Bukan dua.

Puluhan.

Tubuh Darma membeku.

Makhluk-makhluk besar bergerak perlahan di bawah Kapuas seperti bayangan gunung yang hidup.

Mayang memandangnya dengan wajah pucat.

Dan dengan suara yang nyaris hilang ditelan kabut, ia berbisik,

Siapa bilang penjaga Sungai Kapuas hanya satu?

 

Pontianak, 19 Mei 2026

Catatan:

1.     1. Puake adalah makhluk mitologi yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat tepian Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Dalam kepercayaan lokal, Puake digambarkan sebagai siluman air raksasa yang mendiami kedalaman sungai dan berfungsi sebagai penjaga alam perairan. Wujudnya kerap diasosiasikan dengan naga besar, ular merah bertanduk, atau makhluk melata berukuran sangat besar yang mampu mengendalikan arus sungai serta memunculkan gelombang secara tiba-tiba. Dalam beberapa kisah rakyat, Puake juga dipercaya dapat menjelma menjadi buaya putih. Bagi masyarakat tertentu, Puake bukan sekadar makhluk gaib, melainkan simbol kultural yang merepresentasikan hubungan sakral antara manusia dan alam. Mitos tentang Puake sering dikaitkan dengan peristiwa tenggelam, hilangnya seseorang secara misterius di sungai, atau bencana air yang dianggap sebagai bentuk murka penjaga sungai terhadap perilaku manusia yang merusak alam. Karena itu, dalam tradisi masyarakat pesisir Kapuas, dikenal berbagai pantangan dan ritual penghormatan terhadap sungai, termasuk pemberian sesajen atau doa-doa tertentu sebelum menggelar hajatan besar maupun aktivitas di perairan. Dalam konteks budaya lokal, legenda Puake dapat dipahami sebagai mekanisme simbolik masyarakat tradisional untuk menanamkan kesadaran ekologis, rasa hormat terhadap sungai, serta kewaspadaan terhadap bahaya alam yang tidak selalu dapat dijelaskan secara rasional.

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now