Cerpen: Syamsul
Kurniawan
TAHUN 1983, Sungai Kapuas seperti
kehilangan suaranya sendiri.
Biasanya
sungai itu hidup. Riuh oleh bunyi dayung, suara mesin kelotok, tawa anak-anak
yang mandi sore, dan percakapan ibu-ibu yang mencuci pakaian di lanting. Tetapi
beberapa bulan terakhir, Kapuas terasa berbeda. Airnya lebih keruh. Arusnya
lebih berat. Kadang, saat malam terlalu sunyi, terdengar suara gemuruh panjang
dari tengah sungai, seperti sesuatu sedang bernapas di bawah permukaan air.
Orang-orang
kampung mulai takut turun ke sungai sendirian selepas magrib.
“Kapuas
sedang murka,” kata orang tua-orang tua di warung kopi.
Sebagian
percaya karena hutan di hulu mulai habis ditebang perusahaan kayu. Sebagian
lagi percaya karena manusia terlalu sering melupakan adat dan pantangan lama.
Namun ada pula yang berbisik pelan sambil menatap gelap sungai:
“Puake
sudah bangun.”
Di
sebuah kampung kecil dekat Jungkat, tinggal seorang pemuda bernama Darma.
Usianya dua puluh enam tahun. Tubuhnya tinggi kurus dengan kulit legam terbakar
matahari. Sehari-hari ia bekerja membawa kayu menggunakan kelotok tua
peninggalan ayahnya.
Ayah
Darma meninggal dua tahun lalu.
Tenggelam
di Kapuas.
Mayatnya
tidak pernah ditemukan.
Tetapi
ibunya selalu percaya ayah Darma bukan mati karena arus sungai.
“Puake
mengambil bapakmu,” kata ibunya suatu malam.
Kalimat
itu masih diingat Darma sampai sekarang.
Ia
sedang memperbaiki mesin kelotok ketika ibunya mengucapkannya sambil memandang
sungai dari jendela kayu rumah mereka. Lampu sentir bergoyang tertiup angin.
Wajah ibunya terlihat sangat lelah malam itu.
Darma
menghela napas kasar.
“Makhluk
begituan tidak ada, Mak.”
Ibunya
menoleh perlahan.
“Kalau
tidak ada, kenapa orang-orang takut?”
“Karena
orang kampung suka percaya cerita.”
Ibunya
diam cukup lama. Lalu berkata pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya
sendiri,
“Kadang
manusia memang perlu cerita supaya mau takut.”
Darma
tidak pernah benar-benar memahami maksud kalimat itu.
Sampai
ia bertemu Mayang.
Perempuan
itu datang seperti kabut. Tiba-tiba ada, tetapi tak seorang pun tahu dari mana
asalnya.
Darma
pertama kali melihatnya di pasar terapung dekat dermaga Senghie. Pagi itu
langit mendung. Perempuan-perempuan sibuk menjual ikan asin, sayur hutan, dan
pisang kepok dari atas sampan kecil. Di tengah keramaian itulah Darma melihat
seorang perempuan berdiri sendirian di ujung dermaga.
Baju
kurungnya berwarna biru pucat.
Rambutnya
hitam panjang menjuntai sampai pinggang.
Kulitnya
terlalu putih untuk seseorang yang hidup di tepian sungai.
Namun
yang membuat Darma tidak bisa berpaling adalah matanya.
Mata
itu seperti air sungai saat malam: tenang, gelap, dan menyimpan sesuatu yang
tidak bisa dijelaskan.
Mayang
tidak banyak bicara. Tetapi setiap kali berbicara, Darma selalu merasa seperti
sedang mendengar seseorang membaca doa yang sedih.
Mereka
mulai sering bertemu.
Kadang
di pasar.
Kadang
di tepian Kapuas saat matahari tenggelam.
Kadang
di dermaga kecil dekat pohon beringin tua.
Suatu
sore, mereka duduk berdampingan di atas lanting kayu sambil memandang arus
sungai yang bergerak lambat.
“Kenapa
kau suka memandangi sungai terus?” tanya Darma.
Mayang
tersenyum kecil.
“Karena
sungai tidak pernah benar-benar diam.”
“Air
ya tetap air.”
Mayang
menggeleng pelan.
“Kau
salah. Air menyimpan banyak hal.”
“Seperti
apa?”
“Kesedihan
manusia.”
Darma
tertawa kecil.
“Kau
bicara seperti orang tua.”
Mayang
memandang permukaan sungai lama sekali sebelum akhirnya berkata lirih,
“Semua
yang dibuang manusia ke sungai akan diingat oleh sungai. Darah. Tangisan.
Mayat. Janji yang dikhianati.”
Angin
sore meniup rambut perempuan itu perlahan. Darma tiba-tiba mencium bau tanah
basah bercampur anyir sungai yang aneh.
Sejak
mengenal Mayang, hidup Darma berubah perlahan.
Ia
mulai sering bermimpi buruk.
Dalam
mimpinya, ia berdiri sendirian di tengah Kapuas yang hitam pekat. Kabut turun
sangat tebal. Dari bawah air muncul seekor ular raksasa bersisik merah dengan
mata emas menyala. Makhluk itu tidak menyerangnya. Hanya menatapnya dalam diam.
Tetapi
justru itulah yang membuat Darma ketakutan.
Karena
tatapan itu terasa seperti kesedihan yang sangat tua.
Mimpi-mimpi
itu terus datang hampir setiap malam.
Dan
bersamaan dengan itu, kejadian aneh mulai terjadi di kampung mereka.
Seorang
nelayan hilang tanpa jejak. Kelotoknya ditemukan terbalik di tengah arus. Dua
hari kemudian, seorang anak kecil lenyap saat mandi sore bersama
teman-temannya. Lalu seseorang mengaku melihat buaya putih besar muncul di
dekat pemukiman.
Nama
Puake mulai disebut lagi.
Orang-orang
berbicara dengan suara pelan seolah takut didengar sungai.
Suatu
malam, warga kampung mengadakan ritual di tepian Kapuas. Sesajen diletakkan di
atas rakit bambu: kopi pahit, telur ayam kampung, beras kuning, dan kepala ayam
hitam.
Darma
ikut datang hanya untuk menemani ibunya.
Ia
berdiri sambil melipat tangan di dada ketika seorang tetua kampung
mendekatinya.
Lelaki
tua itu memegang lengan Darma erat sekali.
“Kau
dekat dengan perempuan itu, kan?”
Darma
mengernyit.
“Perempuan
mana?”
“Yang
matanya seperti air mati.”
Tubuh
Darma langsung dingin.
Tetua
itu mendekatkan wajahnya.
“Jauhi
dia.”
“Kenapa?”
“Puake
selalu datang sebelum seseorang diambil.”
Darma
melepaskan tangannya kasar.
“Jangan
bicara sembarangan.”
Tetua
itu tertawa kecil tanpa suara.
“Anak
muda selalu mengira dirinya lebih pintar dari sungai.”
Doa-doa
mulai dibacakan.
Sesajen
dihanyutkan ke tengah arus.
Lalu
tiba-tiba permukaan sungai bergelombang.
Tidak
ada angin.
Tidak
ada kapal lewat.
Namun
air bergerak seperti sesuatu yang sangat besar sedang berenang di bawahnya.
Seorang
ibu menjerit.
Rakit
sesajen mendadak terseret cepat ke tengah sungai.
Dan
untuk sepersekian detik, Darma melihat sesuatu muncul dari permukaan air.
Merah.
Panjang.
Bertanduk.
Matanya
menyala kuning keemasan.
Orang-orang
langsung berhamburan sambil membaca doa.
Darma
berdiri membeku.
Saat
ia menoleh, Mayang berdiri di belakangnya.
Perempuan
itu tampak tenang.
“Kau
melihatnya?” bisiknya.
“Apa
itu?”
Mayang
memandang sungai.
“Penjaga
yang lelah.”
Hari-hari
setelah itu terasa semakin aneh.
Mayang
sering menghilang menjelang malam.
Kadang
ia kembali dengan pakaian basah kuyup. Kadang telapak kakinya dipenuhi lumpur
hitam.
Darma
mulai takut.
Tetapi
rasa cintanya tumbuh lebih cepat daripada rasa curiganya.
Dan
cinta memang sering membuat manusia rela mengabaikan hal-hal yang seharusnya
membuatnya lari.
Suatu
malam, Darma diam-diam mengikuti Mayang.
Perempuan
itu berjalan menuju tepian Kapuas saat hujan tipis turun perlahan. Ia berhenti
di dekat pohon tua, lalu melangkah masuk ke sungai tanpa ragu.
Air
naik sampai pinggang.
Sampai
dada.
Sampai
leher.
Lalu
tubuhnya tenggelam seluruhnya.
Namun
Mayang tidak muncul lagi.
Darma
panik.
Ia
menunggu beberapa menit sebelum akhirnya melompat ke sungai.
Air
Kapuas malam itu sangat dingin.
Gelap.
Keruh.
Sunyi.
Darma
menyelam lebih dalam dan melihat sesuatu yang membuat darahnya seperti berhenti
mengalir.
Sebuah
rumah lanting tua berada di dasar sungai.
Rumah
itu terikat rantai-rantai besar.
Dan
di depannya…
berserakan
tengkorak manusia.
Darma
nyaris berteriak dalam air.
Lalu
sesuatu bergerak di belakangnya.
Arus
mendadak berubah menjadi pusaran besar.
Saat
Darma menoleh, sepasang mata emas muncul dari gelap.
Puake.
Makhluk
itu jauh lebih besar daripada cerita siapa pun di kampung. Tubuhnya seperti
naga sungai sepanjang kapal tongkang. Sisiknya merah kehitaman. Kumis
panjangnya melambai perlahan di air.
Tetapi
yang membuat Darma membeku adalah mata makhluk itu.
Tatapan
itu tidak terlihat marah.
Tatapan
itu justru tampak terluka.
Ketika
sadar, Darma sudah berada di rumahnya sendiri. Tubuhnya demam tinggi. Mayang
duduk di sampingnya sambil mengganti kain basah di dahinya.
“Aku
hampir mati?” bisik Darma lemah.
Mayang
menunduk.
“Ya.”
“Apa
kau sebenarnya?”
Perempuan
itu diam lama sekali.
Lalu
air matanya jatuh perlahan.
“Aku
dulu manusia.”
Hujan
turun deras di luar rumah.
Suara
Kapuas terdengar seperti seseorang sedang menangis dalam gelap.
“Ayahku
pemilik perusahaan kayu di hulu,” lanjut Mayang lirih. “Mereka menebang
hutan terlalu banyak. Mereka membuang limbah ke sungai.”
Darma
terdiam.
“Tahun
lalu kapal kami tenggelam.”
“Karena
Puake?”
Mayang
mengangguk perlahan.
“Makhluk
itu tidak membunuh tanpa alasan.”
Darma
menatap perempuan itu tak percaya.
“Kau
membela monster?”
Mayang
langsung menatapnya tajam.
“Monster?”
Suaranya
bergetar.
“Kau
tahu siapa monster sebenarnya, Darma?”
Darma
terdiam.
Mayang
menangis.
“Manusia
mengambil hutan sedikit demi sedikit, lalu heran kenapa sungai marah. Manusia
membuang racun ke air, lalu bertanya kenapa ikan mati. Manusia membunuh anak
makhluk lain, lalu merasa dirinya paling suci.”
“Kau
bicara seolah manusia paling jahat.”
“Kadang
memang begitu.”
Air
mata Mayang jatuh satu per satu.
“Aku
melihat sendiri sungai berubah sakit.”
Malam
itu Darma tidak bisa tidur.
Ia
mulai mengingat banyak hal yang dulu dianggap biasa.
Ikan-ikan
mati mengapung.
Air
Kapuas yang semakin keruh.
Tongkang
kayu yang terus datang dari hulu.
Dan
ayahnya…
Ayahnya
pernah membawa pulang sisik merah besar bertahun-tahun lalu.
Ibunya
menangis malam itu.
Tetapi
ayahnya hanya tertawa sambil berkata,
“Hanya
ular besar.”
Keesokan
harinya, kampung mereka kembali geger.
Sebuah
tongkang kayu besar tenggelam di tikungan sungai dekat Batu Ampar. Belasan
pekerja hilang.
Orang-orang
kembali menyebut nama Puake dengan ketakutan yang lebih besar.
Namun
malam berikutnya, bencana paling buruk datang untuk Darma.
Ibunya
hilang.
Hanya
selendang tua miliknya ditemukan di tepian sungai.
Darma
seperti kehilangan napas.
Ia
mencari Mayang ke mana-mana.
Tetapi
perempuan itu juga menghilang.
Malam
itu Darma membawa kelotok ayahnya ke tengah Kapuas sendirian.
Kabut
turun sangat tebal.
Mesin
kelotok tiba-tiba mati.
Sunyi.
Lalu
air mulai beriak.
Dari
bawah sungai muncul cahaya kuning keemasan.
Puake
perlahan naik ke permukaan.
Tubuhnya
yang besar membuat kelotok Darma berguncang keras.
Dan
di atas kepala makhluk itu…
Mayang
berdiri.
Gaunnya
putih pucat.
Rambutnya
basah tertiup angin malam.
“Di
mana ibuku?!” teriak Darma.
Mayang
menatapnya lama sekali.
Tatapan
itu membuat dada Darma terasa sesak.
“Kadang
sungai hanya mengambil kembali apa yang pernah diambil manusia darinya,”
bisiknya.
“Apa
maksudmu?!”
Mayang
menutup mata sejenak.
Lalu
berkata pelan,
“Ayahmu
pernah membunuh anak Puake.”
Dunia
Darma seperti runtuh.
“Apa?”
“Mereka
mengira itu ular biasa.”
Tubuh
Darma gemetar.
“Tidak…”
“Sejak
malam itu, sungai tidak pernah lupa.”
Air
mata Mayang jatuh perlahan.
“Ayahmu
tidak tenggelam karena kecelakaan.”
Darma
mundur beberapa langkah di atas kelotok.
“Jangan
bohong!”
Mayang
menangis semakin keras.
“Aku
berharap itu bohong!”
Suara
itu pecah seperti seseorang yang terlalu lama menyimpan luka.
“Darma…
aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa melawan sungai.”
Puake
perlahan membuka mulutnya.
Di
dalam gelap rongga makhluk itu, Darma melihat selendang ibunya.
Lututnya
melemas.
Air
matanya jatuh.
“Ibu…”
suaranya pecah.
Mayang
mengulurkan tangan.
“Ayo
ikut denganku.”
“Kemana?”
“Ke
tempat sungai menyimpan semua rahasia.”
Kabut
semakin tebal.
Air
Kapuas mulai berputar membentuk pusaran besar.
Darma
menatap perempuan yang dicintainya.
Perempuan
yang mungkin bukan manusia lagi.
“Apa
ibuku masih hidup?” tanyanya dengan suara gemetar.
Mayang
tidak langsung menjawab.
Lalu
sangat pelan ia berkata,
“Di
sungai, hidup dan mati kadang hanya dipisahkan oleh ingatan.”
Darma
menangis.
Untuk
pertama kalinya sejak ayahnya hilang.
“Aku
capek…” bisiknya lirih. “Aku capek kehilangan semuanya.”
Mayang
ikut menangis.
“Kau
pikir aku tidak?”
“Aku
cuma ingin hidup biasa…”
“Tak
ada yang benar-benar biasa di tepian Kapuas.”
Tiba-tiba
permukaan sungai pecah.
Sesuatu
bergerak dari bawah air.
Lalu
satu per satu mata emas bermunculan di tengah gelap.
Bukan
satu.
Bukan
dua.
Puluhan.
Tubuh
Darma membeku.
Makhluk-makhluk
besar bergerak perlahan di bawah Kapuas seperti bayangan gunung yang hidup.
Mayang
memandangnya dengan wajah pucat.
Dan
dengan suara yang nyaris hilang ditelan kabut, ia berbisik,
“Siapa
bilang penjaga Sungai Kapuas hanya satu?”
Pontianak,
19 Mei 2026
Catatan:
1. 1. Puake
adalah makhluk mitologi yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat tepian Sungai
Kapuas, Kalimantan Barat. Dalam kepercayaan lokal, Puake digambarkan sebagai
siluman air raksasa yang mendiami kedalaman sungai dan berfungsi sebagai
penjaga alam perairan. Wujudnya kerap diasosiasikan dengan naga besar, ular
merah bertanduk, atau makhluk melata berukuran sangat besar yang mampu
mengendalikan arus sungai serta memunculkan gelombang secara tiba-tiba. Dalam
beberapa kisah rakyat, Puake juga dipercaya dapat menjelma menjadi buaya putih.
Bagi masyarakat tertentu, Puake bukan sekadar makhluk gaib, melainkan simbol
kultural yang merepresentasikan hubungan sakral antara manusia dan alam. Mitos
tentang Puake sering dikaitkan dengan peristiwa tenggelam, hilangnya seseorang
secara misterius di sungai, atau bencana air yang dianggap sebagai bentuk murka
penjaga sungai terhadap perilaku manusia yang merusak alam. Karena itu, dalam
tradisi masyarakat pesisir Kapuas, dikenal berbagai pantangan dan ritual
penghormatan terhadap sungai, termasuk pemberian sesajen atau doa-doa tertentu
sebelum menggelar hajatan besar maupun aktivitas di perairan. Dalam konteks
budaya lokal, legenda Puake dapat dipahami sebagai mekanisme simbolik
masyarakat tradisional untuk menanamkan kesadaran ekologis, rasa hormat
terhadap sungai, serta kewaspadaan terhadap bahaya alam yang tidak selalu dapat
dijelaskan secara rasional.


