Oleh: Syamsul Kurniawan
Ada
masa ketika pengetahuan tidak hadir sebagai sesuatu yang segera, melainkan
sebagai sesuatu yang harus dikejar dengan kesabaran. Saya mengingat masa itu
saat menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga, ketika membaca bukan sekadar
aktivitas, tetapi sebuah perjalanan yang menuntut ketekunan. Setiap buku yang
ditemukan terasa seperti hasil dari usaha yang sungguh-sungguh, bukan sekadar
hasil dari pencarian cepat yang selesai dalam hitungan detik.
Pada
awal 2000-an, akses terhadap informasi digital masih menjadi kemewahan yang
tidak semua orang miliki. Internet belum menjelma menjadi ruang yang cair dan
murah seperti sekarang, sehingga setiap akses memiliki harga yang nyata. Untuk
sekadar membuka halaman pencarian, saya harus pergi ke rental komputer di
kawasan Sapen dan membayar per jam dengan kesadaran bahwa waktu adalah biaya
yang terus berjalan.
Dalam
keseharian akademik, saya lebih banyak bergantung pada perpustakaan kampus.
Koleksi buku dan kitab di sana cukup memadai untuk menunjang kebutuhan belajar,
bahkan sering kali menghadirkan kejutan intelektual yang tidak terduga. Rak-rak
yang penuh itu menjadi ruang dialog yang sunyi antara pembaca dan penulis,
tempat ide bertemu tanpa distraksi.
Kadang,
ketika suasana terasa jenuh, saya memilih beralih ke Perpustakaan Kata Ketik.
Tempat ini tidak besar, tetapi memiliki suasana yang berbeda, lebih santai dan
lebih personal. Di sana, membaca terasa seperti aktivitas yang intim, bukan
sekadar kewajiban akademik yang harus diselesaikan.
Dalam
konteks itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia belum menjadi rujukan
utama dalam kehidupan akademik saya. Bukan karena ia tidak penting, tetapi
karena jarak dan keterbatasan akses membuatnya terasa jauh dari jangkauan
sehari-hari. Saya hidup dalam realitas di mana sumber pengetahuan ditentukan
oleh kedekatan fisik, bukan oleh koneksi digital.
Seiring
waktu, lanskap itu berubah secara drastis. Perpustakaan Nasional kini hadir
tidak hanya sebagai institusi fisik, tetapi juga sebagai platform digital yang
dapat diakses dari mana saja. E-resources membuka pintu yang dulu tertutup
rapat dan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi siapa saja untuk belajar
tanpa batas geografis.
Antara
Kemudahan dan Kehampaan
Transformasi
di atas adalah capaian besar dalam sejarah literasi kita. Ia menghadirkan
demokratisasi pengetahuan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Mahasiswa di
daerah kini memiliki peluang yang sama untuk mengakses sumber yang dahulu hanya
tersedia di kota besar.
Namun,
kemudahan ini membawa pertanyaan baru yang tidak sederhana. Ketika akses
menjadi begitu luas, apakah kualitas interaksi kita dengan pengetahuan juga
meningkat. Atau justru kemudahan itu mengikis kedalaman pengalaman membaca yang
dulu terbentuk melalui proses panjang.
Dulu,
keterbatasan membuat kita menghargai setiap halaman yang dibaca. Buku tidak
sekadar dikonsumsi, tetapi dihayati dengan kesungguhan dan kesabaran. Proses
mencari referensi menjadi bagian dari proses berpikir itu sendiri, bukan
sekadar tahap awal yang harus dilalui.
Hari
ini, ketika semua tersedia dalam hitungan detik, proses itu sering kali
dipangkas. Banyak orang langsung menuju hasil tanpa melewati perjalanan yang
membentuk pemahaman. Pengetahuan menjadi sesuatu yang instan, bukan sesuatu
yang diperjuangkan.
Sebagai
dosen di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri di Pontianak, saya menyaksikan
perubahan ini dari dekat. Mahasiswa memiliki akses yang jauh lebih luas
dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, akses yang luas itu tidak selalu
diikuti oleh kedalaman pemahaman yang seharusnya menyertainya.
Kemunculan
artificial intelligence mempercepat kecenderungan ini. Teknologi memungkinkan
seseorang menyusun makalah dalam waktu singkat dengan struktur yang tampak
rapi. Akan tetapi, kecepatan ini sering kali mengorbankan proses berpikir yang
seharusnya menjadi inti dari pendidikan itu sendiri.
Mengapa
Terjadi?
Untuk
memahami fenomena ini secara lebih mendalam, kita tidak cukup hanya melihat
gejalanya di permukaan. Kita perlu masuk ke dalam struktur yang membentuk cara
berpikir dan bertindak individu. Di sinilah pemikiran Pierre Bourdieu menjadi
penting sebagai kerangka analisis.
Bourdieu
(1977) menjelaskan bahwa habitus adalah sistem disposisi yang terbentuk melalui
pengalaman sosial sejak dini. Ia mencakup kebiasaan, pola pikir, dan cara
seseorang memandang dunia secara keseluruhan. Habitus bekerja secara tidak
sadar, tetapi sangat menentukan tindakan sehari-hari, termasuk dalam hal
membaca.
Habitus
bersifat terinternalisasi karena ia dibentuk oleh lingkungan keluarga,
pendidikan, dan budaya tempat seseorang tumbuh. Ia juga berulang dan stabil
karena terus muncul dalam praktik sehari-hari tanpa disadari. Dalam konteks
ini, kebiasaan membaca tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil
dari proses panjang yang berlangsung secara terus-menerus.
Seseorang
yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan buku akan lebih mudah
mengembangkan kebiasaan membaca yang kuat. Sebaliknya, mereka yang tidak
memiliki pengalaman tersebut akan kesulitan membangun relasi yang mendalam
dengan teks. Perbedaan ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya soal
kemampuan, tetapi juga soal pembiasaan yang terstruktur.
Selain
habitus, Bourdieu juga memperkenalkan konsep modal sosial sebagai sumber daya
yang berasal dari jaringan dan relasi. Modal sosial memungkinkan individu
mengakses peluang, informasi, dan sumber daya yang lebih luas. Dalam konteks
Perpustakaan Nasional, e-resources dapat dipahami sebagai bentuk perluasan
modal sosial yang menghubungkan individu dengan institusi besar.
Namun,
akses terhadap modal sosial tidak otomatis menghasilkan pemanfaatan yang
optimal. Habitus menentukan bagaimana seseorang menggunakan sumber daya
tersebut. Tanpa habitus membaca yang kuat, akses yang luas hanya akan menjadi
potensi yang tidak dimanfaatkan secara maksimal.
Di sisi
lain, perubahan budaya digital juga memperkuat kecenderungan ini. Kita hidup
dalam lingkungan yang menekankan kecepatan, efisiensi, dan hasil instan.
Nilai-nilai ini secara perlahan membentuk habitus baru yang berbeda dari
generasi sebelumnya.
Untuk
memahami dimensi kultural ini, pemikiran Jean Baudrillard memberikan perspektif
yang tajam. Baudrillard menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern, realitas
sering kali digantikan oleh simbol dan citra yang diproduksi secara
terus-menerus.
Dalam
konteks membaca, aktivitas ini tidak lagi selalu berkaitan dengan pemahaman,
tetapi dengan representasi. Buku difoto, dibagikan di media sosial, dan
dijadikan penanda identitas sosial. Yang ditampilkan bukan proses membaca,
tetapi citra sebagai pembaca.
Baudrillard
(1981) menyebut kondisi ini sebagai hiperrealitas, yaitu situasi di mana batas
antara realitas dan simulasi menjadi kabur. Dalam hiperrealitas, citra membaca
dapat terasa lebih nyata daripada membaca itu sendiri. Seseorang dapat terlihat
sebagai pembaca tanpa benar-benar terlibat dalam proses membaca.
Dalam
masyarakat konsumsi, buku tidak lagi hanya dilihat dari fungsinya sebagai
sumber pengetahuan. Ia juga memiliki nilai simbolik yang berkaitan dengan
status sosial. Membaca menjadi bagian dari gaya hidup yang ditampilkan, bukan
selalu sebagai kebutuhan intelektual yang mendalam.
Di
tengah kondisi ini, menumbuhkan selera baca menjadi tantangan yang tidak mudah.
Selera baca bukan sekadar preferensi individu, tetapi hasil dari proses sosial
yang panjang. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, pengalaman yang
berulang, dan kesadaran yang terus diasah.
Perpustakaan
Nasional memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan ini. Ia tidak hanya
menyediakan akses, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan budaya literasi
yang lebih kuat. Program literasi, kurasi konten, dan penguatan komunitas
pembaca menjadi langkah penting yang perlu terus dikembangkan.
Pada
akhirnya, persoalan yang kita hadapi bukan sekadar soal teknologi atau akses.
Ia berkaitan dengan cara kita memaknai pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemudahan yang ditawarkan oleh era digital harus diimbangi dengan kedalaman
dalam berpikir dan membaca.
Perpustakaan Nasional di era instan adalah simbol dari kemajuan sekaligus pengingat akan tantangan yang kita hadapi. Ia menunjukkan bahwa akses dapat diperluas, tetapi makna tidak selalu mengikuti. Di antara kemudahan dan kehampaan, kita dihadapkan pada pilihan tentang bagaimana kita ingin berelasi dengan pengetahuan secara lebih sadar dan bertanggung jawab.***

