Iklan

Perpustakaan Nasional di Era Instan

syamsul kurniawan
Saturday, September 5, 2026
Last Updated 2026-09-06T08:55:54Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Ada masa ketika pengetahuan tidak hadir sebagai sesuatu yang segera, melainkan sebagai sesuatu yang harus dikejar dengan kesabaran. Saya mengingat masa itu saat menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga, ketika membaca bukan sekadar aktivitas, tetapi sebuah perjalanan yang menuntut ketekunan. Setiap buku yang ditemukan terasa seperti hasil dari usaha yang sungguh-sungguh, bukan sekadar hasil dari pencarian cepat yang selesai dalam hitungan detik.

 

Pada awal 2000-an, akses terhadap informasi digital masih menjadi kemewahan yang tidak semua orang miliki. Internet belum menjelma menjadi ruang yang cair dan murah seperti sekarang, sehingga setiap akses memiliki harga yang nyata. Untuk sekadar membuka halaman pencarian, saya harus pergi ke rental komputer di kawasan Sapen dan membayar per jam dengan kesadaran bahwa waktu adalah biaya yang terus berjalan.

 

Dalam keseharian akademik, saya lebih banyak bergantung pada perpustakaan kampus. Koleksi buku dan kitab di sana cukup memadai untuk menunjang kebutuhan belajar, bahkan sering kali menghadirkan kejutan intelektual yang tidak terduga. Rak-rak yang penuh itu menjadi ruang dialog yang sunyi antara pembaca dan penulis, tempat ide bertemu tanpa distraksi.

 

Kadang, ketika suasana terasa jenuh, saya memilih beralih ke Perpustakaan Kata Ketik. Tempat ini tidak besar, tetapi memiliki suasana yang berbeda, lebih santai dan lebih personal. Di sana, membaca terasa seperti aktivitas yang intim, bukan sekadar kewajiban akademik yang harus diselesaikan.

 

Dalam konteks itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia belum menjadi rujukan utama dalam kehidupan akademik saya. Bukan karena ia tidak penting, tetapi karena jarak dan keterbatasan akses membuatnya terasa jauh dari jangkauan sehari-hari. Saya hidup dalam realitas di mana sumber pengetahuan ditentukan oleh kedekatan fisik, bukan oleh koneksi digital.

 

Seiring waktu, lanskap itu berubah secara drastis. Perpustakaan Nasional kini hadir tidak hanya sebagai institusi fisik, tetapi juga sebagai platform digital yang dapat diakses dari mana saja. E-resources membuka pintu yang dulu tertutup rapat dan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi siapa saja untuk belajar tanpa batas geografis.

 

Antara Kemudahan dan Kehampaan

Transformasi di atas adalah capaian besar dalam sejarah literasi kita. Ia menghadirkan demokratisasi pengetahuan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Mahasiswa di daerah kini memiliki peluang yang sama untuk mengakses sumber yang dahulu hanya tersedia di kota besar.

 

Namun, kemudahan ini membawa pertanyaan baru yang tidak sederhana. Ketika akses menjadi begitu luas, apakah kualitas interaksi kita dengan pengetahuan juga meningkat. Atau justru kemudahan itu mengikis kedalaman pengalaman membaca yang dulu terbentuk melalui proses panjang.

 

Dulu, keterbatasan membuat kita menghargai setiap halaman yang dibaca. Buku tidak sekadar dikonsumsi, tetapi dihayati dengan kesungguhan dan kesabaran. Proses mencari referensi menjadi bagian dari proses berpikir itu sendiri, bukan sekadar tahap awal yang harus dilalui.

 

Hari ini, ketika semua tersedia dalam hitungan detik, proses itu sering kali dipangkas. Banyak orang langsung menuju hasil tanpa melewati perjalanan yang membentuk pemahaman. Pengetahuan menjadi sesuatu yang instan, bukan sesuatu yang diperjuangkan.

 

Sebagai dosen di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri di Pontianak, saya menyaksikan perubahan ini dari dekat. Mahasiswa memiliki akses yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, akses yang luas itu tidak selalu diikuti oleh kedalaman pemahaman yang seharusnya menyertainya.

 

Kemunculan artificial intelligence mempercepat kecenderungan ini. Teknologi memungkinkan seseorang menyusun makalah dalam waktu singkat dengan struktur yang tampak rapi. Akan tetapi, kecepatan ini sering kali mengorbankan proses berpikir yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan itu sendiri.

 

Mengapa Terjadi?


Untuk memahami fenomena ini secara lebih mendalam, kita tidak cukup hanya melihat gejalanya di permukaan. Kita perlu masuk ke dalam struktur yang membentuk cara berpikir dan bertindak individu. Di sinilah pemikiran Pierre Bourdieu menjadi penting sebagai kerangka analisis.

 

Bourdieu (1977) menjelaskan bahwa habitus adalah sistem disposisi yang terbentuk melalui pengalaman sosial sejak dini. Ia mencakup kebiasaan, pola pikir, dan cara seseorang memandang dunia secara keseluruhan. Habitus bekerja secara tidak sadar, tetapi sangat menentukan tindakan sehari-hari, termasuk dalam hal membaca.

 

Habitus bersifat terinternalisasi karena ia dibentuk oleh lingkungan keluarga, pendidikan, dan budaya tempat seseorang tumbuh. Ia juga berulang dan stabil karena terus muncul dalam praktik sehari-hari tanpa disadari. Dalam konteks ini, kebiasaan membaca tidak lahir secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari proses panjang yang berlangsung secara terus-menerus.

 

Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan buku akan lebih mudah mengembangkan kebiasaan membaca yang kuat. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki pengalaman tersebut akan kesulitan membangun relasi yang mendalam dengan teks. Perbedaan ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya soal kemampuan, tetapi juga soal pembiasaan yang terstruktur.

 

Selain habitus, Bourdieu juga memperkenalkan konsep modal sosial sebagai sumber daya yang berasal dari jaringan dan relasi. Modal sosial memungkinkan individu mengakses peluang, informasi, dan sumber daya yang lebih luas. Dalam konteks Perpustakaan Nasional, e-resources dapat dipahami sebagai bentuk perluasan modal sosial yang menghubungkan individu dengan institusi besar.

 

Namun, akses terhadap modal sosial tidak otomatis menghasilkan pemanfaatan yang optimal. Habitus menentukan bagaimana seseorang menggunakan sumber daya tersebut. Tanpa habitus membaca yang kuat, akses yang luas hanya akan menjadi potensi yang tidak dimanfaatkan secara maksimal.

 

Di sisi lain, perubahan budaya digital juga memperkuat kecenderungan ini. Kita hidup dalam lingkungan yang menekankan kecepatan, efisiensi, dan hasil instan. Nilai-nilai ini secara perlahan membentuk habitus baru yang berbeda dari generasi sebelumnya.

 

Untuk memahami dimensi kultural ini, pemikiran Jean Baudrillard memberikan perspektif yang tajam. Baudrillard menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern, realitas sering kali digantikan oleh simbol dan citra yang diproduksi secara terus-menerus.

 

Dalam konteks membaca, aktivitas ini tidak lagi selalu berkaitan dengan pemahaman, tetapi dengan representasi. Buku difoto, dibagikan di media sosial, dan dijadikan penanda identitas sosial. Yang ditampilkan bukan proses membaca, tetapi citra sebagai pembaca.

 

Baudrillard (1981) menyebut kondisi ini sebagai hiperrealitas, yaitu situasi di mana batas antara realitas dan simulasi menjadi kabur. Dalam hiperrealitas, citra membaca dapat terasa lebih nyata daripada membaca itu sendiri. Seseorang dapat terlihat sebagai pembaca tanpa benar-benar terlibat dalam proses membaca.

 

Dalam masyarakat konsumsi, buku tidak lagi hanya dilihat dari fungsinya sebagai sumber pengetahuan. Ia juga memiliki nilai simbolik yang berkaitan dengan status sosial. Membaca menjadi bagian dari gaya hidup yang ditampilkan, bukan selalu sebagai kebutuhan intelektual yang mendalam.

 

Di tengah kondisi ini, menumbuhkan selera baca menjadi tantangan yang tidak mudah. Selera baca bukan sekadar preferensi individu, tetapi hasil dari proses sosial yang panjang. Ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, pengalaman yang berulang, dan kesadaran yang terus diasah.

 

Perpustakaan Nasional memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan ini. Ia tidak hanya menyediakan akses, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan budaya literasi yang lebih kuat. Program literasi, kurasi konten, dan penguatan komunitas pembaca menjadi langkah penting yang perlu terus dikembangkan.

 

Pada akhirnya, persoalan yang kita hadapi bukan sekadar soal teknologi atau akses. Ia berkaitan dengan cara kita memaknai pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudahan yang ditawarkan oleh era digital harus diimbangi dengan kedalaman dalam berpikir dan membaca.

 

Perpustakaan Nasional di era instan adalah simbol dari kemajuan sekaligus pengingat akan tantangan yang kita hadapi. Ia menunjukkan bahwa akses dapat diperluas, tetapi makna tidak selalu mengikuti. Di antara kemudahan dan kehampaan, kita dihadapkan pada pilihan tentang bagaimana kita ingin berelasi dengan pengetahuan secara lebih sadar dan bertanggung jawab.***
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now