Iklan

Moral Panic

syamsul kurniawan
Monday, July 27, 2026
Last Updated 2026-07-28T03:42:10Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates



Oleh: Syamsul Kurniawan

Ada sesuatu yang ganjil dari antrean. Ia sebenarnya hanya barisan orang yang menunggu giliran. Tetapi ketika yang ditunggu adalah bensin, ketika matahari Pontianak terasa menyengat dan jarum penunjuk bahan bakar mendekati huruf E, antrean tak lagi sekadar antrean. Ia menjadi kabar. Kemudian kecemasan. Setelah itu, kecurigaan.

Pada akhir Juli ini, Pontianak dan Kubu Raya kembali berkenalan dengan sebuah kata yang selalu membuat orang gelisah: langka. Pertalite sulit diperoleh di sejumlah SPBU. Kendaraan mengular hingga badan jalan, antara lain di kawasan Pal 5 dan Kota Baru. Kios bensin eceran dan pertamini ikut kehabisan stok. Di beberapa tempat, ketika Pertalite masih dapat ditemukan, harganya mencapai Rp15.000 per liter. Sebuah angka yang kemudian ikut memperkeras percakapan.

Orang mulai bertanya: mengapa bensin sulit didapat? Pertanyaan itu wajar. Tetapi tak lama kemudian muncul pertanyaan lain: siapa yang bermain? Pertanyaan kedua menarik karena ia menunjukkan perubahan penting dalam cara sebuah krisis dipahami. Kita tak lagi sekadar mencari sebab. Kita mulai mencari seseorang untuk dipersalahkan.

Penjelasan tentang distribusi sebenarnya telah tersedia. Kapal pengangkut BBM menghadapi kendala alur Sungai Kapuas dan harus menunggu keadaan pasang agar dapat melintas dengan aman. Sungai mempunyai kedalaman, kapal mempunyai sarat, dan distribusi mempunyai mata rantai yang tak selalu dapat dipercepat hanya dengan sebuah perintah. Sebelumnya, gangguan pasokan juga dirasakan di daerah lain, termasuk Ketapang. Tetapi penjelasan teknis seperti ini sering kalah cepat dibandingkan kecemasan.

Sebab orang yang sudah lama mengantre tidak sedang berhadapan dengan teori distribusi. Ia berhadapan dengan tangki motornya sendiri. Ia harus pergi bekerja, mengantar anak, membuka toko, mengangkut barang, atau pulang ke rumah. Dalam keadaan demikian, kabar bahwa pasokan terlambat beberapa jam dapat diterima bukan sebagai informasi, melainkan sebagai ancaman terhadap kehidupan sehari-hari.

Di titik itulah Stanley Cohen terasa dekat dengan Pontianak. Dalam Folk Devils and Moral Panics yang terbit pada 1972, Cohen menunjukkan bagaimana sebuah peristiwa dapat dipersepsikan sebagai ancaman besar terhadap keteraturan sosial. Kekhawatiran berkembang menjadi permusuhan; permusuhan membutuhkan sasaran; media dan percakapan publik memperbesar kecemasan; kemudian masyarakat merasa telah menemukan siapa yang harus bertanggung jawab.

Cohen menyebutnya moral panic. Ada concern, kekhawatiran yang meluas. Lalu hostility, ketika kemarahan mulai diarahkan kepada kelompok tertentu. Setelah itu consensus, saat banyak orang menerima bahwa ancaman tersebut nyata. Kemudian disproportionality, ketika besarnya reaksi tidak lagi selalu sebanding dengan bahaya yang sebenarnya. Dan akhirnya volatility: kepanikan dapat muncul dengan cepat dan menghilang hampir sama cepatnya.

Kelangkaan Pertalite menyediakan hampir seluruh bahan bagi proses itu. Muncul cerita tentang pelangsir, penimbun, pengecer nakal, atau pihak-pihak yang dianggap mengambil keuntungan. Penindakan polisi terhadap penyalahgunaan BBM tentu menunjukkan bahwa pelanggaran memang dapat terjadi dan harus ditindak. Tetapi adanya pelanggaran tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh antrean panjang disebabkan oleh pelanggaran tersebut.

Di sinilah folk devils lahir. Sebuah kelompok diberi wajah yang mudah dikenali, lalu kepadanya kecemasan kolektif dititipkan. Pengecer dicurigai. Jeriken mengundang prasangka. Orang yang membeli lebih banyak daripada biasanya dapat segera dianggap penimbun. Kecurigaan memang kadang benar. Tetapi sebuah masyarakat yang sedang panik sering tidak mempunyai kesabaran untuk membedakan yang benar dari yang tampak benar.

Padahal Sungai Kapuas tidak mengenal kepanikan moral. Ia hanya mengenal pasang dan surut. Kapal tidak memahami kemarahan di media sosial. Ia hanya berhadapan dengan alur, kedalaman air, muatan, keselamatan pelayaran, dan waktu. Ada saat ketika sesuatu yang kita tafsirkan sebagai persoalan moral ternyata bermula dari persoalan yang sangat material: sebuah kapal belum dapat lewat.

Amanah, Kelangkaan, dan Cara Kita Mengetahui

Di sinilah saya teringat Muhammad Abid al-Jabiri. Pemikir Maroko itu memetakan dalam Bunyah al-'Aql al-'Arabi, tiga corak epistemologi yang bekerja dalam tradisi intelektual Arab-Islam: bayani, burhani, dan irfani. Tiga istilah yang terdengar jauh dari antrean SPBU, tetapi justru dapat membantu menjelaskan bagaimana kita menerima, menguji, dan menghayati sebuah krisis.

Dalam nalar bayani, kita membutuhkan keterangan yang memiliki otoritas. Apa penjelasan Pertamina? Apa yang disampaikan pemerintah? Apa temuan kepolisian? Bagaimana kondisi distribusi? Informasi resmi penting karena masyarakat tidak mungkin memeriksa sendiri depot, kapal, stok, alur sungai, dan seluruh jaringan distribusi. Di tengah kekosongan informasi, rumor hampir selalu datang menawarkan kepastian.

Tetapi bayani saja tidak cukup. Pernyataan bahwa “pasokan tersedia” akan terdengar ganjil bagi orang yang berdiri dua jam di depan SPBU yang kehabisan Pertalite. Karena itu kita membutuhkan burhani: nalar yang meminta pembuktian. Berapa kebutuhan harian Pontianak dan Kubu Raya? Berapa stok yang tersedia? Berapa SPBU mengalami keterlambatan? Berapa lama kapal tertahan? Seberapa besar penyalahgunaan BBM memengaruhi pasokan dibandingkan kendala distribusi?

Burhani meminta angka sebelum tuduhan. Ia meminta hubungan sebab-akibat sebelum kesimpulan. Sebab dalam keadaan panik, korelasi mudah menyamar sebagai kausalitas. Ada penimbun dan pada saat yang sama terjadi kelangkaan; lalu kita menyimpulkan penimbunlah penyebab seluruh kelangkaan. Padahal kenyataan sosial hampir tak pernah sesederhana satu tersangka dan satu sebab.

Ada paradoks lain. Ketakutan terhadap kelangkaan dapat ikut menciptakan kelangkaan. Orang yang biasanya membeli tiga liter membeli sepuluh karena khawatir besok tak mendapatkan apa-apa. Orang lain melihat antrean panjang dan ikut mengisi tangki sampai penuh meskipun sebenarnya belum perlu. Permintaan melonjak bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga karena ketakutan terhadap kebutuhan di masa depan.

Ketakutan kemudian menghasilkan bukti bagi ketakutannya sendiri. Antrean membuat orang yakin bensin benar-benar akan habis; keyakinan itu mendorong semakin banyak orang mengantre; antrean pun semakin panjang. Kepanikan tidak lagi sekadar reaksi terhadap kenyataan. Ia mulai ikut memproduksi kenyataan yang ditakutinya.

Saya memikirkan perkara itu hari ini dari tempat yang berbeda. Hari ini adalah hari terakhir saya menjalankan amanah sebagai Wakil Direktur Pascasarjana. Besok, saya tidak lagi berada dalam jabatan itu. Kalimat tersebut sederhana, hampir administratif. Tetapi anehnya saya tidak mengucapkannya dengan perasaan kehilangan. Saya justru bersyukur.

Saya lebih suka menyebut jabatan sebagai amanah. Sebab ketika sebuah jabatan disebut amanah, di dalamnya segera hadir kata lain: tanggung jawab. Jabatan bukan hanya ruang kerja, kewenangan, rapat, tanda tangan, atau penghormatan. Ia juga keputusan yang harus dibuat, masalah yang harus diselesaikan, orang yang harus dilayani, dan akibat yang harus bersedia kita tanggung.

Orang dari luar mungkin lebih mudah melihat kehormatan sebuah jabatan. Yang menjalaninya mengenal sisi lain: telepon yang datang ketika persoalan belum selesai, pesan yang meminta keputusan, rapat yang menyisakan pekerjaan, keputusan yang tak mungkin menyenangkan semua orang, dan pikiran yang kadang tetap bekerja ketika tubuh telah sampai di rumah. Jabatan memberi kewenangan, tetapi ia juga mengambil sebagian ketenangan.

Karena itu, tidak lagi berada dalam jabatan ternyata dapat membahagiakan. Bukan karena amanah tersebut tidak berharga. Justru karena ia berharga, saya tahu berat pertanggungjawabannya. Ada kelegaan ketika satu masa tugas dapat diselesaikan dan apa yang sejak awal dititipkan akhirnya dapat diserahkan kembali.

Di sinilah pengalaman saya berlawanan dengan kepanikan di SPBU. Kelangkaan Pertalite membuat orang berusaha mendapatkan dan menyimpan. Berakhirnya jabatan justru mengajarkan saya untuk melepaskan. Yang satu menimbulkan kecemasan karena sesuatu tak tersedia; yang lain menghadirkan ketenangan karena sesuatu tak perlu lagi dipertahankan.

Mungkin persoalan kekuasaan bermula ketika amanah perlahan-lahan berubah menjadi milik. Orang lupa bahwa ia hanya menerima sesuatu untuk suatu masa. Ketika waktunya selesai, pergantian kemudian terasa seperti kehilangan, bahkan ancaman. Dari sini lahir kegelisahan lain: siapa pengganti saya, siapa yang menghendaki saya pergi, siapa yang mendapatkan keuntungan setelah saya tak lagi menjabat?

Kampus pun tidak sepenuhnya kebal dari semacam moral panic. Pergantian pejabat terkadang dibaca seperti pergantian rezim. Nama beredar di percakapan. Orang menafsirkan kedekatan, membaca kubu, menebak kepentingan. Yang sebenarnya merupakan peristiwa institusional dapat berubah menjadi drama personal. Kita bahkan dapat menciptakan folk devils di lingkungan yang seharusnya paling terlatih menghadapi prasangka dengan argumentasi.

Padahal universitas semestinya merupakan rumah bagi burhani. Di sana sebuah kepemimpinan dinilai bukan dari berapa lama seseorang mempertahankan kursinya, melainkan dari apa yang dapat diperiksa setelah ia meninggalkannya. Apakah sistem menjadi lebih baik? Apakah layanan akademik membaik? Apakah persoalan yang dahulu bergantung kepada seseorang kini dapat diselesaikan oleh institusi? Jika sebuah organisasi limbung hanya karena satu orang pergi, mungkin yang selama ini dibangun bukan sistem, melainkan ketergantungan.

Namun ada sesuatu yang tidak dapat dijelaskan seluruhnya oleh angka. Di sinilah irfani memperoleh tempat. Setelah rapat terakhir, setelah dokumen terakhir ditandatangani, setelah orang lain mulai menempati ruang kewenangan itu, ada pertanyaan yang tidak muncul dalam laporan kinerja: apakah saya masih mengenali diri saya ketika jabatan tidak lagi disebut setelah nama saya?

Pertanyaan itu penting karena kekuasaan mempunyai cara yang halus untuk menyusup ke dalam identitas. Mula-mula seseorang mempunyai jabatan. Perlahan-lahan jabatan dapat mempunyai dirinya. Ia mulai merasa penghormatan kepada institusi adalah penghormatan kepada pribadinya; kewenangan dianggap sebagai kualitas diri; fasilitas diperlakukan sebagai hak. Pada titik itu, melepaskan jabatan memang akan terasa seperti kehilangan sebagian diri.
Saya tidak ingin sampai ke sana. Karena itu hari ini saya bersyukur. Besok saya dapat membaca tanpa harus segera memikirkan disposisi, berbicara tanpa setiap kalimat dianggap sebagai sikap struktural, dan mungkin pulang tanpa terlalu banyak membawa persoalan kantor ke meja makan. Ada kebebasan kecil yang baru diketahui nilainya setelah beberapa lama hidup bersama tekanan tanggung jawab.

Bayani mengingatkan saya bahwa amanah mempunyai aturan dan batas waktu. Burhani mengingatkan bahwa masa jabatan harus dapat dipertanggungjawabkan melalui kerja yang dapat diuji. Irfani mengajarkan sesuatu yang lebih sunyi: sesudah semua itu selesai, seseorang harus cukup lapang untuk berkata bahwa kursi tersebut memang tidak pernah menjadi miliknya.

Barangkali tiga nalar yang sama diperlukan dalam menghadapi kelangkaan Pertalite. Bayani meminta informasi resmi yang jernih agar ruang publik tidak dipenuhi rumor. Burhani meminta data dan pembuktian agar kita tidak mengubah prasangka menjadi vonis. Irfani meminta pengendalian diri: kemampuan untuk tidak mengambil berlebihan hanya karena takut orang lain akan mengambil lebih dahulu.

Sebab kelangkaan yang lebih berbahaya bukan selalu kelangkaan bensin. Ada kelangkaan kepercayaan. Ketika kepercayaan menipis, sebuah antrean mudah berubah menjadi bukti konspirasi; setiap jeriken menjadi simbol kejahatan; setiap keterlambatan dianggap permainan; setiap penjelasan dicurigai sebagai kebohongan. Masyarakat kemudian tidak hanya kekurangan Pertalite. Ia kekurangan kemampuan untuk mempercayai satu sama lain.

Cohen mengingatkan bahwa kepanikan mudah datang dan mudah pula berpindah. Hari ini orang memotret antrean Pertalite. Besok kapal datang, distribusi kembali normal, dan antrean perlahan menghilang. Kita mungkin segera melupakan kemarahan hari ini dan berpindah kepada kecemasan berikutnya. Volatility membuat kepanikan tampak sangat besar ketika berlangsung dan terasa sangat jauh ketika telah berlalu.

Hari ini sebuah amanah juga selesai. Besok orang lain dapat menjalankannya. Kampus tidak berhenti karena saya tidak lagi menjadi Wakil Direktur Pascasarjana, sebagaimana Pontianak tidak berhenti hanya karena sebuah kapal harus menunggu pasang Sungai Kapuas. Ada kesombongan tertentu jika kita mengira dunia harus kehilangan iramanya ketika kita meninggalkan sebuah kursi.

Mungkin itulah pelajaran yang mempertemukan antrean Pertalite, Stanley Cohen, Al-Jabiri, dan sebuah jabatan yang berakhir: manusia perlu belajar membedakan apa yang harus dicari ketika hilang dan apa yang harus dilepaskan ketika waktunya selesai. Tangki yang kosong memang perlu diisi. Tetapi kursi yang kosong tidak selalu harus kita duduki kembali. Biarkan orang lain datang membawa pikiran, tenaga, kekeliruan, dan kebijaksanaannya sendiri. Sementara saya pulang dengan sesuatu yang hari ini terasa lebih berharga daripada sebuah jabatan: rasa syukur karena satu amanah telah selesai, dan kebahagiaan sederhana karena esok saya tak perlu lagi mempertahankan apa yang sejak awal memang hanya dititipkan.***
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now