Oleh: Syamsul
Kurniawan
Dalam
pendidikan Islam sekalipun, Ki Hadjar hampir selalu menjadi sosok yang pada
akhirnya harus ditemui. Bukan karena ia seorang tokoh pendidikan Islam dalam
pengertian yang sempit, melainkan karena pikirannya berbicara tentang manusia,
kebudayaan, kemerdekaan, keluarga, masyarakat, dan pembentukan watak. Dengan
kata lain, ia berbicara tentang wilayah yang menjadi jantung setiap pendidikan,
termasuk pendidikan Islam. Profesor Abuddin Nata (2005) bahkan menempatkannya
sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah pembaruan pendidikan Islam di
Indonesia.
Ia bukan
sekadar nama dalam sejarah pendidikan nasional. Ia adalah seseorang yang
mengikat hidupnya pada persoalan bagaimana manusia Indonesia seharusnya
dibentuk. Pendidikan baginya bukan terutama perkara memindahkan pengetahuan
dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan adalah pekerjaan kebudayaan. Di
dalamnya ada usaha membentuk manusia agar mampu berdiri sebagai dirinya
sendiri, tetapi sekaligus tidak tercerabut dari masyarakat dan kebudayaannya.
Karena itu,
ketika Ki Hadjar mendirikan Perguruan Kebangsaan Tamansiswa pada 3 Juli 1922 di
Yogyakarta, kita seharusnya tidak membacanya sekadar sebagai peristiwa
administratif: seorang tokoh mendirikan sebuah sekolah, lalu sekolah itu
berkembang menjadi gerakan pendidikan. Di balik tindakan tersebut terdapat
suatu keberanian untuk bertanya: sekolah macam apa yang dibutuhkan oleh
masyarakat yang sedang kehilangan kemerdekaannya?
Pertanyaan itu
penting. Sebab mendirikan sekolah pada sebuah masyarakat yang dijajah bukan pekerjaan
yang netral. Sekolah dapat menjadi tempat seseorang dibebaskan, tetapi dapat
pula menjadi alat untuk membuat seseorang semakin patuh kepada tatanan yang
sudah ada. Pendidikan kolonial telah memperlihatkan kemungkinan kedua itu.
Maka, mendirikan sekolah yang berbeda berarti juga membangun cara berbeda dalam
memandang manusia.
Dari sini kita
dapat mengimajinasikan Ki Hadjar bukan hanya sebagai seorang pendidik, tetapi
juga sebagai seorang peneliti kehidupan sosial. Tentu, ini bukan klaim bahwa Ki
Hadjar pada masa itu menjalankan penelitian kualitatif dengan terminologi
metodologis yang kita kenal sekarang. Istilah dan perangkat metodologi
penelitian sosial kontemporer tentu belum dapat begitu saja ditempelkan
kepadanya. Namun, sebagai sebuah pembacaan analitis, cara kerjanya dapat
dibayangkan memiliki watak yang sangat dekat dengan penelitian kualitatif:
berangkat dari kehidupan, membaca pengalaman, memahami konteks, lalu merumuskan
tindakan.
Sebelum sebuah
sekolah didirikan, mestinya ada sesuatu yang lebih dahulu dilihat:
masyarakatnya. Sekolah tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari kebutuhan,
kegelisahan, kebudayaan, konflik, harapan, dan bahkan luka yang dialami
masyarakat. Maka, seandainya kita mengimajinasikan metodologi Ki Hadjar, tahap
pertama mungkin bukanlah menyusun kurikulum, menentukan gedung, atau menghitung
jumlah murid. Tahap pertama adalah melihat.
Melihat bukan
sekadar memandang. Melihat berarti berusaha memahami. Bagaimana keluarga
mendidik anaknya? Bagaimana masyarakat mengajarkan sopan santun? Bagaimana anak
belajar dari orang dewasa? Nilai apa yang dianggap baik? Kebiasaan apa yang
diwariskan? Siapa yang memiliki otoritas untuk mengatakan bahwa sesuatu benar
atau salah? Dan, yang paling penting, manusia macam apa yang sedang dibentuk
oleh seluruh praktik kehidupan itu?
Masyarakat
Indonesia pada masa itu, terutama di lingkungan pedesaan, masih memiliki ikatan
komunal yang kuat. Pendidikan keluarga, kehidupan masyarakat, tradisi lokal,
dan praktik keseharian belum sepenuhnya terpisah menjadi ruang yang berdiri
sendiri. Anak belajar bukan hanya ketika duduk di hadapan guru. Ia belajar
ketika membantu orang tua, ketika mendengar petuah, ketika mengikuti upacara
sosial, ketika melihat perilaku orang dewasa, dan ketika hidup bersama
masyarakat.
Dalam konteks
semacam itu, sekolah modern dapat menjadi sesuatu yang ganjil jika ia
memisahkan anak dari kehidupan. Anak datang ke sekolah untuk belajar, lalu
pulang untuk hidup. Padahal, pendidikan justru berlangsung terutama ketika anak
sedang hidup. Di sinilah gagasan Ki Hadjar tentang Tripusat Pendidikan menjadi
penting. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bukan tiga dunia yang seharusnya
saling meniadakan, melainkan tiga ruang yang bersama-sama membentuk manusia.
Kita dapat
membayangkan, karena itu, bahwa Ki Hadjar membaca perubahan sosial yang sedang
berlangsung. Masyarakat tradisional tidak selamanya tinggal dalam bentuknya
yang lama. Kota tumbuh. Struktur sosial berubah. Relasi ekonomi bergerak.
Rasionalitas modern datang bersama kompetisi. Kebudayaan lokal berhadapan
dengan sistem kolonial. Dalam perubahan semacam itu, pendidikan harus menemukan
cara agar manusia tidak sekadar mampu menyesuaikan diri, tetapi juga memiliki
daya untuk menentukan arah kehidupannya sendiri.
Jika demikian,
sekolah bukan jawaban pertama. Sekolah adalah jawaban setelah seseorang
memahami persoalan manusia yang hendak dididik. Di sini letak pelajaran penting
yang sering hilang dalam pembangunan sekolah hari ini. Kita terlalu mudah bertanya,
“Sekolah seperti apa yang hendak kita bangun?” Padahal pertanyaan yang lebih
mendasar ialah, “Manusia seperti apa yang hidup di tengah masyarakat ini,
persoalan apa yang mereka hadapi, dan manusia seperti apa yang hendak kita
tumbuhkan?”
Bayangkan jika
pertanyaan itu benar-benar menjadi tahap awal. Kita mungkin akan melihat bahwa
mendirikan sekolah sesungguhnya menyerupai kerja penelitian lapangan. Ada
observasi awal. Ada percakapan dengan masyarakat. Ada pengenalan terhadap
kebiasaan keluarga. Ada pembacaan terhadap nilai dan praktik kebudayaan. Ada
pencatatan tentang kebutuhan anak. Ada upaya memahami hubungan antara apa yang
diajarkan secara formal dengan apa yang sesungguhnya dipelajari anak dalam
kehidupan sehari-hari.
Dalam bahasa
penelitian sekarang, kita dapat membayangkan adanya wawancara semi-terstruktur,
observasi partisipatif, dokumentasi, dan catatan lapangan. Peneliti utamanya
adalah manusia yang terlibat langsung dengan kehidupan yang ditelitinya. Ia
tidak berdiri terlalu jauh dari objek. Ia masuk ke dalam denyut masyarakat,
mendengarkan, mengamati, mengalami, lalu melakukan refleksi. Sekali lagi, ini
adalah rekonstruksi analitis, bukan klaim bahwa Ki Hadjar secara historis
menggunakan terminologi metodologi tersebut.
Dari data
kehidupan itulah sebuah sekolah semestinya dirancang. Bukan sebaliknya. Sekolah
yang baik tidak memaksa masyarakat masuk ke dalam cetakan pendidikan yang sudah
selesai dibuat. Ia membaca masyarakat, kemudian merumuskan pendidikan yang
relevan tanpa kehilangan orientasi pada cita-cita yang lebih tinggi. Di titik
ini, metodologi bukan sekadar teknik penelitian. Metodologi menjadi cara untuk
memastikan bahwa sekolah tidak kehilangan hubungan dengan kehidupan.
Barangkali
inilah yang membuat gagasan Ki Hadjar tetap menarik hingga hari ini. Ia tidak
memulai pendidikan dari gedung. Ia memulainya dari manusia. Ia tidak memulai
dari administrasi. Ia memulainya dari kehidupan. Dan ia tidak membayangkan
sekolah sebagai sebuah pulau yang terpisah dari masyarakat. Sekolah justru
harus menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan yang lebih luas.
Maka,
Tamansiswa dapat dibaca bukan hanya sebagai sebuah lembaga pendidikan, tetapi
sebagai jawaban kebudayaan terhadap keadaan zamannya. Penamaannya sebagai Nationaal
Onderwijs Instituut Tamansiswa pada awal pendiriannya memperlihatkan bahwa
sejak awal pendidikan tersebut memiliki hubungan dengan cita-cita kebangsaan.
Ia lahir ketika pendidikan bukan hanya persoalan mengajar anak membaca dan
berhitung, melainkan juga persoalan tentang siapa yang berhak menentukan masa
depan manusia Indonesia.
Di sinilah kita
sampai pada sebuah pertanyaan yang mungkin lebih mengganggu daripada sekadar
bertanya tentang metode mengajar.
Ketika Sekolah
Harus Membaca Masyarakat
Bagaimana jika
sebelum mendirikan sekolah, kita terlebih dahulu melakukan penelitian terhadap
masyarakat? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi konsekuensinya besar. Sebab
sekolah tidak lagi dipandang sebagai produk yang tinggal didirikan. Ia menjadi
hasil dari proses membaca realitas. Kurikulum, metode pembelajaran, relasi guru
dan murid, bahkan bentuk keterlibatan orang tua harus memiliki alasan yang
dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan kehidupan masyarakat.
Dalam kerangka
ini, Ki Hadjar seolah mengajarkan bahwa pendidikan harus dimulai dari konteks.
Konteks bukan hiasan dalam proposal penelitian. Konteks adalah sumber
pengetahuan. Masyarakat bukan sekadar penerima program sekolah. Masyarakat
adalah bagian dari alasan mengapa sekolah itu harus ada.
Jika kita
menggunakan kacamata Pierre Bourdieu (1977), kehidupan pendidikan selalu
berlangsung dalam hubungan antara habitus, modal, dan ranah. Anak datang
ke sekolah dengan membawa kebiasaan yang diperoleh dari keluarga. Ia membawa
bahasa, selera, cara berbicara, cara menghormati orang lain, cara memahami
dunia, bahkan cara membayangkan masa depannya. Semua itu tidak hilang ketika
anak memasuki gerbang sekolah.
Sekolah
kemudian berhadapan dengan habitus tersebut. Ia dapat menguatkannya,
mengubahnya, atau bahkan tanpa sadar menganggapnya salah. Di sinilah pendidikan
menjadi pekerjaan yang rumit. Sekolah bukan hanya mengajarkan pengetahuan,
tetapi juga berhadapan dengan modal sosial dan kultural yang telah dimiliki
anak. Karena itu, sekolah yang tidak memahami masyarakatnya mudah sekali
berubah menjadi mesin yang hanya cocok bagi sebagian anak.
Ki Hadjar
menawarkan jalan yang berbeda melalui Sistem Among. Guru tidak ditempatkan
sebagai penguasa tunggal atas kehidupan anak. Pendidikan diarahkan agar anak memperoleh
ruang untuk berkembang dengan tuntunan yang memerdekakan. Prinsip Tut Wuri
Handayani kemudian menjadi salah satu ungkapan paling dikenal dari
pandangan tersebut. Guru berada di belakang untuk memberikan dorongan, bukan
semata-mata berdiri di depan untuk memerintah.
Gagasan itu
sesungguhnya memiliki konsekuensi metodologis. Jika guru hendak menuntun, ia
harus terlebih dahulu mengenal siapa yang dituntunnya. Bagaimana mungkin
seseorang menuntun anak jika ia tidak mengetahui dunia yang sedang dialami anak
tersebut? Bagaimana mungkin pendidikan memerdekakan jika sekolah tidak pernah
berusaha memahami struktur sosial yang membuat sebagian anak merasa bebas
sementara yang lain merasa asing?
Karena itu,
observasi menjadi penting. Bukan observasi dalam pengertian melihat anak untuk
mencari kesalahan, melainkan melihat untuk memahami. Guru mengamati cara anak
belajar, cara ia berinteraksi, cara ia menyelesaikan masalah, cara ia
berkomunikasi, dan cara ia membangun hubungan dengan teman serta lingkungannya.
Dari sana, pendidikan memperoleh bahan untuk melakukan tindakan yang lebih
tepat.
Wawancara juga
tidak sekadar digunakan untuk mengumpulkan jawaban. Percakapan dengan orang
tua, tokoh masyarakat, dan warga dapat membuka pemahaman mengenai nilai yang
hidup di tengah masyarakat. Apa yang dianggap sopan? Apa yang dianggap tidak
pantas? Apa yang dianggap penting? Apa yang ditakuti? Apa yang diharapkan dari
anak? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin jauh lebih menentukan bagi
pembangunan sekolah daripada sekadar mengetahui berapa jumlah anak usia
sekolah.
Setelah itu
datanglah tahap interpretasi. Data tidak cukup hanya dikumpulkan. Ia harus
dibaca. Dalam istilah analisis kualitatif kontemporer, kita dapat membayangkan
proses kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi
kesimpulan sebagaimana dikembangkan Miles dan Huberman (2014). Tetapi inti
pekerjaannya sebenarnya sederhana: menemukan pola dari kehidupan yang diamati,
lalu menjadikannya dasar bagi keputusan pendidikan.
Dengan cara
demikian, mendirikan sekolah menjadi sebuah tindakan reflektif. Ada realitas
yang diamati. Ada masalah yang dirumuskan. Ada nilai yang dipertimbangkan. Ada
tujuan yang ditetapkan. Ada strategi yang disusun. Lalu ada praktik yang
dijalankan dan dievaluasi. Sekolah tidak selesai ketika bangunannya berdiri.
Sekolah baru benar-benar mulai ketika ia terus belajar dari kehidupan yang
dihadapinya.
Barangkali
inilah bagian paling radikal dari imajinasi tersebut. Sekolah harus menjadi
lembaga yang juga mampu meneliti dirinya sendiri. Ia harus bertanya apakah
pendidikan yang dijalankannya benar-benar membentuk manusia yang merdeka, atau
hanya menghasilkan anak yang patuh terhadap instruksi. Ia harus bertanya apakah
nilai yang diajarkan benar-benar hidup dalam keseharian, atau berhenti sebagai
tulisan di dinding kelas.
Di sinilah
pendidikan di Indonesia dapat belajar sesuatu yang penting. Pendidikan di
Indonesia sering kali memiliki kekayaan nilai yang sangat besar, tetapi nilai
itu kadang diperlakukan sebagai materi yang harus disampaikan, bukan sebagai
kehidupan yang harus dibentuk. Akhlak menjadi mata pelajaran. Kejujuran menjadi
slogan. Kepedulian menjadi tema. Padahal, bagi anak, nilai yang paling kuat
justru sering kali bukan yang dikatakan guru, melainkan yang dilihatnya setiap
hari.
Anak melihat
apakah guru menepati janji. Anak melihat bagaimana sekolah memperlakukan orang
yang berbeda. Anak melihat apakah orang dewasa meminta maaf ketika melakukan
kesalahan. Anak melihat apakah sekolah menghargai orang tua yang sederhana.
Anak melihat apakah aturan berlaku sama kepada semua orang. Di situlah habitus
dibentuk. Pendidikan berlangsung melalui pengulangan tindakan, bukan hanya
melalui pengulangan kata.
Maka,
metodologi Ki Hadjar yang kita imajinasikan hari ini sebenarnya mengandung
kritik terhadap cara kita membangun sekolah. Kita terlalu sering memulai dengan
bangunan, kemudian kurikulum, lalu program, dan setelah semuanya selesai baru
mencari tahu apakah masyarakat membutuhkannya. Urutannya mungkin harus dibalik.
Mulailah dengan masyarakat. Pahami anak. Dengarkan keluarga. Baca kebudayaan.
Baru kemudian bangun sekolah.
Ki Hadjar
sendiri tidak berhenti pada gagasan. Ia berhadapan dengan kekuasaan kolonial
dan kebijakan yang membatasi kebebasan pendidikan. Hubungan Tamansiswa dengan
perjuangan melawan Ordonansi Sekolah Liar menunjukkan bahwa sekolah baginya
bukan institusi yang steril dari politik kebudayaan. Pendidikan selalu
berhubungan dengan pertanyaan yang lebih besar: siapa yang boleh belajar, siapa
yang boleh mengajar, pengetahuan siapa yang dianggap sah, dan manusia seperti
apa yang hendak dilahirkan.
Karena itu,
mungkin warisan Ki Hadjar yang paling penting bukanlah menghafal Tut Wuri
Handayani, Tripusat Pendidikan, Sistem Among, atau Pancadharma. Semua itu
penting, tetapi ia akan kehilangan daya jika hanya menjadi terminologi yang
diulang dalam seminar. Warisan yang lebih dalam adalah keberanian untuk melihat
pendidikan sebagai kerja memahami manusia. Sekolah harus lahir dari pembacaan
terhadap kehidupan, kemudian kembali kepada kehidupan untuk mengubahnya.
Pada akhirnya,
barangkali kita perlu mengimajinasikan kembali Ki Hadjar bukan sebagai patung
yang berdiri diam di halaman sekolah, melainkan sebagai pertanyaan yang terus
bergerak. Jika hendak mendirikan sekolah, apakah kita telah sungguh-sungguh
mengenal masyarakatnya? Jika hendak mendidik anak, apakah kita memahami dunia
tempat ia tumbuh? Dan jika pendidikan kita mengaku ingin memerdekakan manusia,
apakah sekolah kita sendiri sudah cukup merdeka untuk belajar dari kenyataan?
Mungkin di situlah Ki Hadjar masih hidup. Bukan dalam upacara, bukan dalam
slogan, melainkan dalam keberanian untuk memulai pendidikan dari kehidupan.***


