Syamsul Kurniawan
MALAM itu hujan turun seperti seseorang sedang
menumpahkan seluruh isi langit ke bumi. Atap seng Pondok Pesantren Nun
berbunyi nyaring. Air mengalir dari talang-talang tua. Lampu di serambi masjid
berkedip lemah karena genset mulai kehabisan solar.
Di serambi itulah bandongan terakhir dilaksanakan. Puluhan santri
duduk melingkar dengan sarung basah dan kitab kuning di pangkuan. Bau kayu
lapuk bercampur aroma kopi hitam dari dapur pondok. Sebagian santri menggigil
karena udara pegunungan terlalu dingin untuk bulan Oktober.
Kiai Mahfud duduk bersila di depan tiang masjid. Usianya hampir
tujuh puluh tahun. Suaranya berat. Tatapannya tenang seperti sawah setelah
panen.
Di tangannya terbuka kitab Ihya’ Ulumuddin yang kertasnya
sudah menguning.
“Qāla al-imām al-ghazālī rahimahullāh…”
Suara beliau mengalir perlahan. Para santri memberi makna di
pinggir kitab mereka. Beberapa menulis cepat. Beberapa tertidur lalu terbangun
lagi. Beberapa hanya memandang wajah kiai dengan mata berkaca-kaca.
Karena mereka tahu: ini mungkin bandongan terakhir. Besok pagi
pondok akan ditutup sementara. Tiga santri positif Covid. Satu ustaz dibawa
ambulans sore tadi. Dan desa di bawah bukit mulai memasang portal bambu.
“Kalau pondok dipulangkan, aku tidak akan kembali.”
Bisikan itu datang dari samping Hasan. Yang berbicara adalah Rafiq.
Santri asal Banyuwangi. Badannya kurus. Mulutnya selalu lebih cepat daripada
pikirannya.
“Kenapa?” tanya Hasan pelan. Rafiq menunduk.
“Bapak kehilangan pekerjaan.”
Hasan diam.
“Aku dengar ibu mau jual sawah.”
Suara hujan semakin deras. Di depan mereka, Kiai Mahfud masih
membaca kitab seolah dunia sedang baik-baik saja.
Hasan memandangi wajah tua itu lama. Ada sesuatu yang aneh sejak
seminggu terakhir.
Kiai Mahfud lebih sering batuk. Lebih sering berhenti bicara.
Dan dua kali Hasan melihat beliau memegang dada seperti menahan nyeri. Tapi
setiap ditanya, beliau hanya tersenyum.
“Kiai tidak apa-apa.”
Kalimat yang selalu dipakai orang tua untuk menyembunyikan
sakitnya.
***
Pandemi mengubah segalanya terlalu cepat. Tiga bulan lalu, Nun
masih penuh suara. Santri berebut mandi. Orang-orang tertawa di dapur. Bandongan
subuh penuh sesak. Lapangan bola selalu ramai. Lalu berita tentang virus datang
seperti cerita jauh dari televisi warung kopi. Wuhan. Jakarta. Surabaya. Lalu
tiba-tiba ambulans mulai terdengar di desa-desa. Masker menjadi benda paling
mahal. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Nun, pengajian akbar Maulid Nabi
dibatalkan.
“Ini cuma konspirasi orang kota,” kata sebagian ustaz.
“Tapi rumah sakit penuh,” jawab yang lain.
Perdebatan itu pecah setiap malam. Tentang takdir. Tentang wabah. Tentang
ikhtiar. Tentang iman. Dan di tengah semua itu, Hasan diam-diam membuat
sesuatu.
Sebuah ruang belajar daring. Hasan bukan santri paling alim. Ia
tidak hafal Alfiyah. Bacaan nahwunya sering salah. Saat sorogan, ia sering
dimarahi ustaz Harun.
Tapi Hasan mengerti teknologi. Sebelum mondok, ia pernah bekerja di
konter servis HP di Surabaya. Ia bisa memperbaiki laptop. Menyambung kabel.
Mencuri sinyal wifi tetangga. Dan diam-diam, sejak pandemi mulai membesar,
Hasan berpikir: Bagaimana kalau pengajian dipindahkan ke internet?
Awalnya ia takut mengusulkan ide itu. Nun adalah pesantren salaf. Tidak
ada wifi. Tidak ada televisi. Bahkan membawa HP harus sembunyi-sembunyi. Tetapi
keadaan semakin buruk. Dua kamar santri dikarantina. Dapur pondok mulai
kekurangan bahan makanan. Dan tadi sore, untuk pertama kalinya dalam hidup
Hasan, ia melihat Kiai Mahfud menangis setelah menerima telepon dari wali
santri.
“Kalau anak saya mati di pondok bagaimana, Yai?”
Pertanyaan itu menghantam semua orang.
***
Bandongan malam itu selesai lebih cepat. Kiai Mahfud menutup kitab
perlahan. Para santri menunggu seperti biasanya. Biasanya beliau akan memberi
nasihat panjang. Tetapi malam itu beliau hanya diam. Lama sekali. Hujan
terdengar semakin jauh.
Lalu beliau berkata pelan:
“Besok pagi… mungkin sebagian kalian akan pulang.”
Tak ada suara.
“Dan mungkin… pondok ini akan sepi untuk pertama kali sejak
didirikan.”
Beberapa santri mulai menangis.
“Ilmu tidak akan hilang hanya karena kalian berjauhan.”
Suara beliau bergetar.
“Yang hilang adalah adab… jika kalian berhenti menghormati guru.”
Hasan menunduk. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Lalu tiba-tiba—
Brak!
Pintu masjid terbuka keras. Ustaz Harun masuk dengan napas memburu.
“Yai…”
Wajahnya pucat.
“Ambulans datang lagi.”
Seluruh santri berdiri bersamaan.
Malam itu kacau. Dua santri demam tinggi. Satu ustaz pingsan di
kamar mandi. Orang-orang mulai panik. Sebagian santri ingin kabur pulang malam
itu juga. Sebagian lagi membaca Yasin berjamaah.
Hasan membantu membawa tabung oksigen dari puskesmas desa. Ketika
kembali ke ndalem kiai, ia mendengar suara pertengkaran.
“Pondok harus ditutup total!”
“Itu sama saja membubarkan pesantren!”
“Kalau ada yang meninggal bagaimana?”
“Kalau pengajian berhenti bagaimana?”
Hasan mengintip dari jendela. Beberapa ustaz duduk melingkar. Dan
untuk pertama kalinya, Kiai Mahfud terlihat sangat tua. Beliau diam saja
mendengarkan. Sampai akhirnya Hasan memberanikan diri masuk. Semua orang
menoleh.
“Ada apa?” tanya ustaz Harun ketus.
Hasan menelan ludah.
“Saya… punya usul.”
Tak seorang pun bicara selama Hasan menjelaskan. Tentang Zoom. Tentang
pengajian daring. Tentang live streaming. Tentang grup belajar santri.
Wajah ustaz-ustaz tua terlihat seperti sedang mendengar bahasa
alien.
“Bandongan lewat internet?” salah satu ustaz tertawa kecil.
“Mana ada berkahnya.”
“Santri nanti sambil rebahan.”
“Ini pesantren, bukan universitas kota.”
Hasan hampir menyerah. Sampai suara Kiai Mahfud terdengar pelan:
“Kalau kitabnya tetap sama… apakah ilmunya berubah?”
Ruangan mendadak sunyi. Tak ada yang menjawab.
“Kita hanya memindahkan ruang,” lanjut beliau.
Hasan membeku. Kalimat itu persis seperti yang ada di kepalanya
selama ini. Lalu Kiai Mahfud memandang Hasan.
“Kamu bisa buat?”
Hasan mengangguk cepat.
“Bisa, Yai.”
“Berapa lama?”
Hasan ragu.
“Tiga hari.”
“Dua hari,” jawab Kiai Mahfud.
***
Selama dua hari berikutnya, Nun berubah seperti sarang lebah yang
diguncang. Hasan memanjat menara mencari sinyal. Rafiq menyambung kabel dari
rumah warga. Santri-santri memperbaiki aula menjadi studio sederhana. Beberapa
ustaz masih mencibir.
“Ini tidak akan berhasil.”
Tetapi mereka tetap membantu. Karena keadaan sudah terlalu genting.
Dan di tengah semua kekacauan itu, Hasan semakin curiga pada Kiai Mahfud. Beliau
makin sering batuk darah. Makin sering menghilang sendirian ke gudang belakang.
Suatu malam Hasan diam-diam mengikuti beliau. Hujan baru selesai. Tanah
masih basah. Kiai Mahfud masuk ke gudang tua dekat kebun bambu. Hasan mengintip
dari celah pintu.
Lalu jantungnya berhenti sesaat. Di dalam gudang itu ada: Laptop. Router
wifi. Kardus modem. Bahkan antena internet kecil. Semuanya baru. Semuanya
mahal.
Hasan mundur perlahan dengan kepala penuh pertanyaan. Darimana kiai
mendapatkan semua itu? Dan sejak kapan?
***
Hari ketiga. Bandongan daring pertama dimulai. Kamera dipasang
seadanya. Mikrofon dipinjam dari balai desa. Sinyal naik turun seperti layangan
putus. Tetapi malam itu, ratusan santri yang sudah pulang berhasil masuk ke
ruang virtual. Wajah-wajah kecil muncul di layar. Ada yang dari Madura. Ada
yang dari Lamongan. Ada yang dari Jember.
Dan ketika Kiai Mahfud membuka kitabnya, semua menangis. Karena
suara itu masih sama. Hangat. Tenang. Seperti rumah.
“Qāla al-imām al-ghazālī rahimahullāh…”
Hasan memandang layar dengan mata berkaca-kaca. Mereka berhasil. Mungkin
pesantren memang bisa berubah tanpa kehilangan dirinya. Lalu tiba-tiba, Kiai
Mahfud berhenti membaca. Batuk keras. Kitab beliau jatuh. Seluruh layar panik.
“Yai!”
“Yai!”
Hasan berlari ke depan. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat darah
di sajadah. Banyak sekali.
Ambulans datang tengah malam. Lampunya memantul di dinding
pesantren seperti kilat biru. Santri-santri berdiri berjajar sambil membaca
shalawat. Tak ada yang berani mendekat.
Kiai Mahfud dibawa dengan kursi roda. Tubuhnya terlihat sangat
kecil. Sebelum masuk ambulans, beliau memanggil Hasan.
“Gudang belakang…”
Suara beliau hampir hilang.
“Kuncinya… di bawah sajadah saya.”
Hasan menggenggam tangan tua itu. Dingin.
“Semua itu… memang untukmu.”
Hasan belum sempat bertanya apa-apa. Pintu ambulans tertutup. Dan
mobil itu pergi menembus hujan.
Malam semakin sepi. Hasan masuk ke kamar kiai dengan tangan
gemetar. Ia mengangkat sajadah tua di dekat tempat tidur. Ada sebuah kunci
kecil. Dan sebuah amplop cokelat. Di atasnya tertulis:
Untuk Hasan. Jika pondok benar-benar harus ditinggalkan. Napas
Hasan tercekat. Ia membuka amplop itu perlahan. Lalu wajahnya pucat. Karena isi
surat itu bukan tulisan tangan Kiai Mahfud. Melainkan hasil cetakan komputer. Dan
di bagian bawah surat terdapat logo sebuah perusahaan teknologi terbesar di
Surabaya.
Serta satu kalimat yang membuat Hasan merasa seluruh hidup pondok ini ternyata menyimpan rahasia besar: “Proyek Digitalisasi Pesantren Nun akhirnya siap dijalankan. Seperti perjanjian kita dua puluh tahun lalu.”***
Desa
Kapur, 18 Maret 2020
Setelah
menonton berita pemulangan santri dari berbagai pesantren pada awal pandemi
Covid-19.


