Iklan

Bandongan Terakhir di Musim Wabah

syamsul kurniawan
Wednesday, March 18, 2020
Last Updated 2026-05-23T10:22:51Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

 


 

Syamsul Kurniawan

 

MALAM itu hujan turun seperti seseorang sedang menumpahkan seluruh isi langit ke bumi. Atap seng Pondok Pesantren Nun berbunyi nyaring. Air mengalir dari talang-talang tua. Lampu di serambi masjid berkedip lemah karena genset mulai kehabisan solar.

Di serambi itulah bandongan terakhir dilaksanakan. Puluhan santri duduk melingkar dengan sarung basah dan kitab kuning di pangkuan. Bau kayu lapuk bercampur aroma kopi hitam dari dapur pondok. Sebagian santri menggigil karena udara pegunungan terlalu dingin untuk bulan Oktober.

Kiai Mahfud duduk bersila di depan tiang masjid. Usianya hampir tujuh puluh tahun. Suaranya berat. Tatapannya tenang seperti sawah setelah panen.

Di tangannya terbuka kitab Ihya’ Ulumuddin yang kertasnya sudah menguning.

Qāla al-imām al-ghazālī rahimahullāh…

Suara beliau mengalir perlahan. Para santri memberi makna di pinggir kitab mereka. Beberapa menulis cepat. Beberapa tertidur lalu terbangun lagi. Beberapa hanya memandang wajah kiai dengan mata berkaca-kaca.

Karena mereka tahu: ini mungkin bandongan terakhir. Besok pagi pondok akan ditutup sementara. Tiga santri positif Covid. Satu ustaz dibawa ambulans sore tadi. Dan desa di bawah bukit mulai memasang portal bambu.

Kalau pondok dipulangkan, aku tidak akan kembali.

Bisikan itu datang dari samping Hasan. Yang berbicara adalah Rafiq. Santri asal Banyuwangi. Badannya kurus. Mulutnya selalu lebih cepat daripada pikirannya.

Kenapa?” tanya Hasan pelan. Rafiq menunduk.

Bapak kehilangan pekerjaan.

Hasan diam.

Aku dengar ibu mau jual sawah.

Suara hujan semakin deras. Di depan mereka, Kiai Mahfud masih membaca kitab seolah dunia sedang baik-baik saja.

Hasan memandangi wajah tua itu lama. Ada sesuatu yang aneh sejak seminggu terakhir.

Kiai Mahfud lebih sering batuk. Lebih sering berhenti bicara.
Dan dua kali Hasan melihat beliau memegang dada seperti menahan nyeri. Tapi setiap ditanya, beliau hanya tersenyum.

Kiai tidak apa-apa.

Kalimat yang selalu dipakai orang tua untuk menyembunyikan sakitnya.

***

Pandemi mengubah segalanya terlalu cepat. Tiga bulan lalu, Nun masih penuh suara. Santri berebut mandi. Orang-orang tertawa di dapur. Bandongan subuh penuh sesak. Lapangan bola selalu ramai. Lalu berita tentang virus datang seperti cerita jauh dari televisi warung kopi. Wuhan. Jakarta. Surabaya. Lalu tiba-tiba ambulans mulai terdengar di desa-desa. Masker menjadi benda paling mahal. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Nun, pengajian akbar Maulid Nabi dibatalkan.

Ini cuma konspirasi orang kota,” kata sebagian ustaz.

Tapi rumah sakit penuh,” jawab yang lain.

Perdebatan itu pecah setiap malam. Tentang takdir. Tentang wabah. Tentang ikhtiar. Tentang iman. Dan di tengah semua itu, Hasan diam-diam membuat sesuatu.

Sebuah ruang belajar daring. Hasan bukan santri paling alim. Ia tidak hafal Alfiyah. Bacaan nahwunya sering salah. Saat sorogan, ia sering dimarahi ustaz Harun.

Tapi Hasan mengerti teknologi. Sebelum mondok, ia pernah bekerja di konter servis HP di Surabaya. Ia bisa memperbaiki laptop. Menyambung kabel.
Mencuri sinyal wifi tetangga. Dan diam-diam, sejak pandemi mulai membesar, Hasan berpikir: Bagaimana kalau pengajian dipindahkan ke internet?

Awalnya ia takut mengusulkan ide itu. Nun adalah pesantren salaf. Tidak ada wifi. Tidak ada televisi. Bahkan membawa HP harus sembunyi-sembunyi. Tetapi keadaan semakin buruk. Dua kamar santri dikarantina. Dapur pondok mulai kekurangan bahan makanan. Dan tadi sore, untuk pertama kalinya dalam hidup Hasan, ia melihat Kiai Mahfud menangis setelah menerima telepon dari wali santri.

Kalau anak saya mati di pondok bagaimana, Yai?

Pertanyaan itu menghantam semua orang.

***

Bandongan malam itu selesai lebih cepat. Kiai Mahfud menutup kitab perlahan. Para santri menunggu seperti biasanya. Biasanya beliau akan memberi nasihat panjang. Tetapi malam itu beliau hanya diam. Lama sekali. Hujan terdengar semakin jauh.

Lalu beliau berkata pelan:

Besok pagi… mungkin sebagian kalian akan pulang.

Tak ada suara.

Dan mungkin… pondok ini akan sepi untuk pertama kali sejak didirikan.

Beberapa santri mulai menangis.

Ilmu tidak akan hilang hanya karena kalian berjauhan.

Suara beliau bergetar.

Yang hilang adalah adab… jika kalian berhenti menghormati guru.

Hasan menunduk. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Lalu tiba-tiba—

Brak!

Pintu masjid terbuka keras. Ustaz Harun masuk dengan napas memburu.

Yai…

Wajahnya pucat.

Ambulans datang lagi.

Seluruh santri berdiri bersamaan.

Malam itu kacau. Dua santri demam tinggi. Satu ustaz pingsan di kamar mandi. Orang-orang mulai panik. Sebagian santri ingin kabur pulang malam itu juga. Sebagian lagi membaca Yasin berjamaah.

Hasan membantu membawa tabung oksigen dari puskesmas desa. Ketika kembali ke ndalem kiai, ia mendengar suara pertengkaran.

Pondok harus ditutup total!

Itu sama saja membubarkan pesantren!

Kalau ada yang meninggal bagaimana?

Kalau pengajian berhenti bagaimana?

Hasan mengintip dari jendela. Beberapa ustaz duduk melingkar. Dan untuk pertama kalinya, Kiai Mahfud terlihat sangat tua. Beliau diam saja mendengarkan. Sampai akhirnya Hasan memberanikan diri masuk. Semua orang menoleh.

Ada apa?” tanya ustaz Harun ketus.

Hasan menelan ludah.

Saya… punya usul.

Tak seorang pun bicara selama Hasan menjelaskan. Tentang Zoom. Tentang pengajian daring. Tentang live streaming. Tentang grup belajar santri.

Wajah ustaz-ustaz tua terlihat seperti sedang mendengar bahasa alien.

Bandongan lewat internet?” salah satu ustaz tertawa kecil.

Mana ada berkahnya.

Santri nanti sambil rebahan.

Ini pesantren, bukan universitas kota.”

Hasan hampir menyerah. Sampai suara Kiai Mahfud terdengar pelan:

Kalau kitabnya tetap sama… apakah ilmunya berubah?

Ruangan mendadak sunyi. Tak ada yang menjawab.

Kita hanya memindahkan ruang,” lanjut beliau.

Hasan membeku. Kalimat itu persis seperti yang ada di kepalanya selama ini. Lalu Kiai Mahfud memandang Hasan.

Kamu bisa buat?

Hasan mengangguk cepat.

Bisa, Yai.

Berapa lama?

Hasan ragu.

Tiga hari.

Dua hari,” jawab Kiai Mahfud.

***

Selama dua hari berikutnya, Nun berubah seperti sarang lebah yang diguncang. Hasan memanjat menara mencari sinyal. Rafiq menyambung kabel dari rumah warga. Santri-santri memperbaiki aula menjadi studio sederhana. Beberapa ustaz masih mencibir.

Ini tidak akan berhasil.

Tetapi mereka tetap membantu. Karena keadaan sudah terlalu genting. Dan di tengah semua kekacauan itu, Hasan semakin curiga pada Kiai Mahfud. Beliau makin sering batuk darah. Makin sering menghilang sendirian ke gudang belakang.

Suatu malam Hasan diam-diam mengikuti beliau. Hujan baru selesai. Tanah masih basah. Kiai Mahfud masuk ke gudang tua dekat kebun bambu. Hasan mengintip dari celah pintu.

Lalu jantungnya berhenti sesaat. Di dalam gudang itu ada: Laptop. Router wifi. Kardus modem. Bahkan antena internet kecil. Semuanya baru. Semuanya mahal.

Hasan mundur perlahan dengan kepala penuh pertanyaan. Darimana kiai mendapatkan semua itu? Dan sejak kapan?

***

Hari ketiga. Bandongan daring pertama dimulai. Kamera dipasang seadanya. Mikrofon dipinjam dari balai desa. Sinyal naik turun seperti layangan putus. Tetapi malam itu, ratusan santri yang sudah pulang berhasil masuk ke ruang virtual. Wajah-wajah kecil muncul di layar. Ada yang dari Madura. Ada yang dari Lamongan. Ada yang dari Jember.

Dan ketika Kiai Mahfud membuka kitabnya, semua menangis. Karena suara itu masih sama. Hangat. Tenang. Seperti rumah.

Qāla al-imām al-ghazālī rahimahullāh…

Hasan memandang layar dengan mata berkaca-kaca. Mereka berhasil. Mungkin pesantren memang bisa berubah tanpa kehilangan dirinya. Lalu tiba-tiba, Kiai Mahfud berhenti membaca. Batuk keras. Kitab beliau jatuh. Seluruh layar panik.

Yai!

Yai!

Hasan berlari ke depan. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat darah di sajadah. Banyak sekali.

Ambulans datang tengah malam. Lampunya memantul di dinding pesantren seperti kilat biru. Santri-santri berdiri berjajar sambil membaca shalawat. Tak ada yang berani mendekat.

Kiai Mahfud dibawa dengan kursi roda. Tubuhnya terlihat sangat kecil. Sebelum masuk ambulans, beliau memanggil Hasan.

Gudang belakang…

Suara beliau hampir hilang.

Kuncinya… di bawah sajadah saya.

Hasan menggenggam tangan tua itu. Dingin.

Semua itu… memang untukmu.

Hasan belum sempat bertanya apa-apa. Pintu ambulans tertutup. Dan mobil itu pergi menembus hujan.

Malam semakin sepi. Hasan masuk ke kamar kiai dengan tangan gemetar. Ia mengangkat sajadah tua di dekat tempat tidur. Ada sebuah kunci kecil. Dan sebuah amplop cokelat. Di atasnya tertulis:

Untuk Hasan. Jika pondok benar-benar harus ditinggalkan. Napas Hasan tercekat. Ia membuka amplop itu perlahan. Lalu wajahnya pucat. Karena isi surat itu bukan tulisan tangan Kiai Mahfud. Melainkan hasil cetakan komputer. Dan di bagian bawah surat terdapat logo sebuah perusahaan teknologi terbesar di Surabaya.

Serta satu kalimat yang membuat Hasan merasa seluruh hidup pondok ini ternyata menyimpan rahasia besar: “Proyek Digitalisasi Pesantren Nun akhirnya siap dijalankan. Seperti perjanjian kita dua puluh tahun lalu.”***

 

Desa Kapur, 18 Maret 2020

Setelah menonton berita pemulangan santri dari berbagai pesantren pada awal pandemi Covid-19.

 

 

 

 

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now