Oleh: Syamsul Kurniawan
Pertanyaan itu menjadi penting justru karena Ramadhan terlalu akrab dalam keseharian kita. Ia datang setiap tahun, diterima dengan sukacita, dijalani dengan disiplin, lalu berlalu. Namun kedekatan itu sering membuatnya luput dari pembacaan yang lebih dalam.
Ramadhan bukan hanya peristiwa ibadah. Ia adalah fenomena sosial yang menggerakkan banyak lapisan kehidupan. Dari ruang domestik hingga ruang publik, dari masjid hingga pasar, semuanya ikut berubah ritmenya.
Untuk memahami dinamika itu, kita dapat memanfaatkan kerangka yang ditawarkan oleh Pierre Bourdieu (1977). Konsep habitus menjelaskan bagaimana kebiasaan, pola pikir, dan tindakan dibentuk oleh pengalaman sosial sejak dini. Cara kita menjalani Ramadhan bukan sekadar pilihan individual, melainkan hasil internalisasi nilai dan praktik yang berulang.
Habitus bersifat terinternalisasi dan cenderung stabil. Ia bekerja dalam tindakan sehari-hari tanpa selalu kita sadari. Pola berbuka puasa, pilihan makanan, hingga preferensi mengikuti kajian tertentu sering kali merupakan warisan sosial.
Namun habitus tidak berdiri sendiri. Ia berinteraksi dengan modal sosial, yakni jaringan hubungan dan kepercayaan yang memberi akses pada berbagai sumber daya. Dalam bulan Ramadhan, interaksi ini tampak jelas.
Ikatan keluarga yang menguat saat berbuka bersama adalah bentuk modal sosial berhubungan. Solidaritas komunitas dalam membagikan takjil atau mengadakan buka puasa bersama memperlihatkan jaringan yang erat. Di sisi lain, kegiatan lintas komunitas atau kolaborasi lembaga sosial mencerminkan modal sosial yang menjembatani dan menghubungkan.
Relasi itu bukan hanya simbolik. Ia berpengaruh pada distribusi peluang dan sumber daya. Siapa yang memiliki jaringan luas cenderung lebih mudah mengakses informasi, dukungan, dan bahkan keuntungan ekonomi selama Ramadhan.
Di titik inilah kita perlu memperluas pembacaan. Ramadhan juga menggerakkan perputaran ekonomi yang signifikan. Pasar takjil bermunculan, jajanan rakyat memenuhi trotoar, pedagang kecil memperoleh momentum peningkatan pendapatan.
Fenomena ini bukan sekadar keramaian musiman. Ia adalah ekspresi ekonomi rakyat yang berbasis habitus konsumsi kolektif. Setiap sore menjelang berbuka, masyarakat bergerak menuju ruang-ruang jual beli dengan pola yang hampir ritualistik.
Kebiasaan membeli kolak, gorengan, kurma, atau minuman manis adalah bagian dari habitus Ramadhan. Pola itu berulang setiap tahun dan cenderung stabil. Ia menjadi tindakan sosial yang berlangsung hampir otomatis.
Bagi pedagang kecil, Ramadhan adalah peluang ekonomi yang nyata. Modal sosial memainkan peran penting di sini. Jaringan kepercayaan dengan pelanggan, relasi dengan pemasok bahan baku, hingga dukungan komunitas menentukan keberhasilan usaha musiman tersebut.
Modal sosial membantu memperkuat komunitas sekaligus membuka peluang ekonomi. Namun ia juga dapat mereproduksi ketimpangan ketika hanya kelompok tertentu yang memiliki akses luas pada jaringan dan sumber daya. Ramadhan, dalam hal ini, memperlihatkan dinamika itu secara terbuka.
Perputaran ekonomi selama Ramadhan juga menunjukkan bagaimana agama dan pasar saling bersentuhan. Konsumsi meningkat, promosi produk bernuansa religi marak, dan ruang publik dipenuhi simbol spiritual sekaligus komersial. Nilai dan logika ekonomi bernegosiasi dalam satu momentum.
Fenomena ini tidak perlu dibaca secara hitam putih. Aktivitas ekonomi rakyat selama Ramadhan sering kali menjadi strategi bertahan hidup dan memperbaiki kesejahteraan keluarga. Di sisi lain, ia tetap memerlukan refleksi agar tidak bertentangan dengan etika kesederhanaan yang diajarkan puasa.
Berjarak?
Membaca Ramadhan sebagai lahan pengkajian menuntut sikap berjarak. Kita perlu melihat praktik yang sudah biasa dengan kacamata analitis. Tanpa jarak, kita mudah terjebak dalam romantisme atau kritik yang dangkal.
Berjarak berarti memeriksa bagaimana habitus bekerja tanpa kita sadari. Mengapa pola konsumsi tertentu terasa wajar. Mengapa sebagian tradisi dipertahankan, sementara yang lain ditinggalkan.
Namun jarak tidak berarti kehilangan penghormatan. Ia justru membuka ruang untuk memahami makna spiritual dalam konteks sosial yang nyata. Analisis yang jernih dapat memperdalam, bukan mengurangi, nilai ibadah.
Dari jarak itu, kita dapat membaca Ramadhan sebagai laboratorium sosial. Di sana habitus dibentuk, modal sosial dipertukarkan, dan ekonomi rakyat berputar. Ia memperlihatkan wajah masyarakat secara utuh, dengan segala peluang dan ketegangannya.
Pada akhirnya, memulai pembacaan Ramadhan berarti memulai pembacaan terhadap diri dan lingkungan kita sendiri. Ia adalah ruang perjumpaan antara spiritualitas dan struktur sosial. Di sanalah nilai diuji dalam praktik sehari-hari.
Karena itu, Ramadhan tahun ini jangan hanya dijalani sebagai rutinitas. Mari kita kaji dengan serius, kita catat gejalanya, kita refleksikan perubahan dan ketegangannya, lalu kita tuliskan dengan jujur dan bertanggung jawab. Dengan begitu, Ramadhan tidak sekadar lewat sebagai peristiwa tahunan, tetapi benar-benar mengena, memberi makna, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi diri dan masyarakat.*


