Iklan

Globalisasi, Simulakra, dan Kebangsaan

syamsul kurniawan
Friday, January 23, 2026
Last Updated 2026-01-24T05:00:09Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

 



Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Kisah Raja Midas kerap dibaca sebagai dongeng moral tentang keserakahan, tetapi sesungguhnya ia adalah alegori tentang kegagalan manusia memahami batas. Midas tidak menginginkan kehancuran; ia menginginkan kepastian. Emas baginya adalah jaminan bahwa dunia bisa dikendalikan sepenuhnya.

 

Ketika Dionysus mengabulkan permintaan itu, dunia seolah patuh tanpa syarat. Segala yang disentuh Midas berubah menjadi emas, tanpa perlawanan. Namun kepatuhan absolut justru menandai awal keterasingan.

 

Makanan yang membatu menjadi logam bukan sekadar hukuman fisik. Ia adalah simbol dunia yang kaya secara material, tetapi miskin secara eksistensial. Kelimpahan hadir, tetapi kehidupan menyingkir.

 

Tragedi itu mencapai puncaknya ketika putrinya berubah menjadi patung emas. Di sana, relasi paling intim runtuh oleh logika nilai tukar. Kasih kalah oleh benda, dan hidup dikalahkan oleh kilau.

 

Globalisasi bekerja dengan pola yang tidak sepenuhnya asing dari kisah itu. Ia menjanjikan kemudahan, kecepatan, dan pertumbuhan. Dunia dibuat tunduk pada efisiensi, seolah segalanya bisa dioptimalkan tanpa residu.

 

Kita hidup dalam dunia yang dilipat. Ruang dan waktu menyempit, jarak kehilangan makna. Segala sesuatu hadir hampir bersamaan, tanpa menunggu kesiapan manusia untuk mencerna.

 

Sebagaimana dikemukakan Yasraf Amir Piliang (1997), pemampatan ruang dan waktu ini bukan sekadar fenomena teknologis. Ia mengubah struktur kebudayaan, cara berpikir, dan cara manusia menilai dirinya sendiri.

 

Ketika dunia menjadi instan, refleksi dianggap beban. Ketika segala sesuatu serentak, kedalaman dianggap kemewahan. Dunia yang dilipat cenderung alergi terhadap keraguan.

 

Dalam kondisi itu, citra naik takhta. Representasi lebih menentukan daripada pengalaman langsung. Yang tampak lebih dipercaya daripada yang dialami.

 

Jean Baudrillard (1994) membaca gejala ini sebagai lahirnya simulakra. Bukan sekadar tiruan, melainkan realitas yang tidak lagi membutuhkan rujukan. Yang palsu tidak bersembunyi, ia justru tampil sebagai yang paling sah.

 

Simulakra lahir dari sistem teknologi, informasi, dan globalisasi yang terus berulang. Ia bukan anomali, melainkan produk logis dari dunia yang dikelola oleh model, data, dan kode.

 

Pada tingkat ketiga simulakra—era pascaindustri dan pascaperang—tanda tidak lagi menunjuk makna. Ia hanya menunjuk tanda lain. Relasi penanda–petanda runtuh menjadi sirkulasi tanpa akhir.

 

Akibatnya, konsumsi tidak lagi berurusan dengan kebutuhan. Barang menjadi bahasa simbolik untuk menunjukkan posisi, gaya hidup, dan eksistensi. Yang dikonsumsi bukan fungsi, melainkan citra.

 

Media dalam konteks ini tidak sekadar menyampaikan kenyataan. Ia memproduksi realitas. Ia menentukan apa yang layak diperhatikan dan apa yang pantas dilupakan.

 

Hiperrealitas pun lahir: keadaan ketika yang disimulasikan terasa lebih nyata daripada yang riil. Fakta kalah oleh visual, dan pengalaman kalah oleh narasi yang dirancang.

 

Baudrillard menyebut kondisi ini sebagai peta yang mendahului wilayah. Model lebih dulu ada, lalu dunia dipaksa menyesuaikan. Kita hidup mengikuti skema yang tidak kita sadari.

 

Dalam ruang seperti itu, kebenaran menjadi rapuh. Fakta bercampur dengan fiksi. Yang viral mengalahkan yang valid, dan yang emosional menggeser yang rasional.

 

Masyarakat akhirnya hidup dalam dua realitas sekaligus. Realitas sehari-hari dan realitas simulasi hadir bersamaan, saling tumpang tindih, dan sering tak bisa dibedakan.

 

Mengayuh di antara dua karang?

 

Di tengah arus global yang demikian kuat, kebangsaan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus bertahan dalam dunia yang semakin cair, tanpa kehilangan bentuk. Ia harus hidup di tengah simulasi, tanpa berubah menjadi simulasi itu sendiri.

 

Benedict Anderson (1983) menyebut bangsa sebagai komunitas terbayang. Bangsa hidup karena warganya membayangkan kebersamaan, meski tak pernah saling mengenal secara personal.

 

Kesadaran itu dahulu dibentuk oleh kapitalisme cetak. Koran dan buku memungkinkan simultanitas: orang-orang di tempat berbeda merasa hidup dalam waktu sejarah yang sama.

 

Namun hari ini, media digital menciptakan simultanitas yang terpecah. Algoritma memecah perhatian, membentuk ruang-ruang kesadaran yang terisolasi. Imajinasi kolektif bersaing dengan kepentingan personal.

 

Globalisasi digital juga melahirkan komunitas lintas batas yang sering lebih kuat daripada ikatan nasional. Identitas global, sektoral, bahkan virtual menawarkan rasa memiliki yang instan.

 

Di sinilah kebangsaan berada di antara dua karang. Terlalu menutup diri berarti stagnasi, tetapi terlalu larut berarti kehilangan orientasi. Keduanya sama-sama berbahaya.

 

Jika kebangsaan hanya dirawat sebagai simbol, ia akan membatu seperti putri Midas. Ia berkilau dalam seremoni, tetapi dingin dalam praktik. Hidup ditukar dengan slogan.

 

Kebangsaan yang bertahan bukan yang paling keras berteriak tentang identitas. Ia adalah yang mampu memberi makna konkret dalam kehidupan sehari-hari warganya.

 

Mengayuh di antara dua karang berarti bersikap selektif. Terbuka pada globalisasi, tetapi kritis terhadap dampaknya. Menggunakan teknologi, tanpa menyerahkan akal sehat kepadanya.

 

Kebangsaan harus kembali menjadi ruang etis. Ia tidak cukup hidup dalam upacara dan retorika, tetapi harus hadir dalam keadilan sosial dan keberpihakan nyata.

 

Jika tidak, kita hanya mengulang tragedi Midas dalam skala kolektif. Segala sesuatu diubah menjadi “emas” pembangunan, lalu kita bertanya mengapa kehidupan terasa kering.

 

Globalisasi bukan kutukan. Ia menjadi masalah ketika diperlakukan sebagai tujuan, bukan alat. Ketika pertumbuhan dianggap lebih penting daripada keberlanjutan makna.

 

Bangsa yang bertahan adalah bangsa yang mampu menjaga jarak kritis. Tidak mabuk oleh kilau, tidak alergi terhadap perubahan. Ia tahu kapan harus bergerak, dan kapan harus berhenti.

 

Dalam dunia yang dilipat, tugas kebangsaan justru membentangkan kembali ruang refleksi. Memberi waktu bagi yang lambat, dan tempat bagi yang tak viral.

 

Sebab ancaman terbesar hari ini bukan semata hilangnya batas teritorial. Ancaman itu adalah hilangnya kemampuan membedakan nilai dari citra.

 

Kita hidup di zaman ketika segalanya tampak penting, tetapi sedikit yang sungguh berarti. Dunia berkilau, tetapi sering kali hampa.

 

Maka penutupnya sederhana, sekaligus getir: kita tidak sedang kekurangan simbol kebangsaan, kita hanya terlalu sibuk mengilapkannya sampai lupa bertanya—apakah yang kita sebut emas itu masih memungkinkan kita hidup.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now