Oleh: Syamsul Kurniawan
Kisah Raja Midas kerap dibaca sebagai dongeng moral tentang
keserakahan, tetapi sesungguhnya ia adalah alegori tentang kegagalan manusia
memahami batas. Midas tidak menginginkan kehancuran; ia menginginkan kepastian.
Emas baginya adalah jaminan bahwa dunia bisa dikendalikan sepenuhnya.
Ketika Dionysus mengabulkan permintaan itu, dunia seolah
patuh tanpa syarat. Segala yang disentuh Midas berubah menjadi emas, tanpa
perlawanan. Namun kepatuhan absolut justru menandai awal keterasingan.
Makanan yang membatu menjadi logam bukan sekadar hukuman
fisik. Ia adalah simbol dunia yang kaya secara material, tetapi miskin secara
eksistensial. Kelimpahan hadir, tetapi kehidupan menyingkir.
Tragedi itu mencapai puncaknya ketika putrinya berubah
menjadi patung emas. Di sana, relasi paling intim runtuh oleh logika nilai
tukar. Kasih kalah oleh benda, dan hidup dikalahkan oleh kilau.
Globalisasi bekerja dengan pola yang tidak sepenuhnya asing
dari kisah itu. Ia menjanjikan kemudahan, kecepatan, dan pertumbuhan. Dunia
dibuat tunduk pada efisiensi, seolah segalanya bisa dioptimalkan tanpa residu.
Kita hidup dalam dunia yang dilipat. Ruang dan waktu
menyempit, jarak kehilangan makna. Segala sesuatu hadir hampir bersamaan, tanpa
menunggu kesiapan manusia untuk mencerna.
Sebagaimana dikemukakan Yasraf Amir Piliang (1997),
pemampatan ruang dan waktu ini bukan sekadar fenomena teknologis. Ia mengubah
struktur kebudayaan, cara berpikir, dan cara manusia menilai dirinya sendiri.
Ketika dunia menjadi instan, refleksi dianggap beban. Ketika
segala sesuatu serentak, kedalaman dianggap kemewahan. Dunia yang dilipat
cenderung alergi terhadap keraguan.
Dalam kondisi itu, citra naik takhta. Representasi lebih
menentukan daripada pengalaman langsung. Yang tampak lebih dipercaya daripada
yang dialami.
Jean Baudrillard (1994) membaca gejala ini sebagai lahirnya
simulakra. Bukan sekadar tiruan, melainkan realitas yang tidak lagi membutuhkan
rujukan. Yang palsu tidak bersembunyi, ia justru tampil sebagai yang paling
sah.
Simulakra lahir dari sistem teknologi, informasi, dan
globalisasi yang terus berulang. Ia bukan anomali, melainkan produk logis dari
dunia yang dikelola oleh model, data, dan kode.
Pada tingkat ketiga simulakra—era pascaindustri dan
pascaperang—tanda tidak lagi menunjuk makna. Ia hanya menunjuk tanda lain.
Relasi penanda–petanda runtuh menjadi sirkulasi tanpa akhir.
Akibatnya, konsumsi tidak lagi berurusan dengan kebutuhan.
Barang menjadi bahasa simbolik untuk menunjukkan posisi, gaya hidup, dan
eksistensi. Yang dikonsumsi bukan fungsi, melainkan citra.
Media dalam konteks ini tidak sekadar menyampaikan
kenyataan. Ia memproduksi realitas. Ia menentukan apa yang layak diperhatikan
dan apa yang pantas dilupakan.
Hiperrealitas pun lahir: keadaan ketika yang disimulasikan
terasa lebih nyata daripada yang riil. Fakta kalah oleh visual, dan pengalaman
kalah oleh narasi yang dirancang.
Baudrillard menyebut kondisi ini sebagai peta yang
mendahului wilayah. Model lebih dulu ada, lalu dunia dipaksa menyesuaikan. Kita
hidup mengikuti skema yang tidak kita sadari.
Dalam ruang seperti itu, kebenaran menjadi rapuh. Fakta
bercampur dengan fiksi. Yang viral mengalahkan yang valid, dan yang emosional
menggeser yang rasional.
Masyarakat akhirnya hidup dalam dua realitas sekaligus.
Realitas sehari-hari dan realitas simulasi hadir bersamaan, saling tumpang
tindih, dan sering tak bisa dibedakan.
Mengayuh di antara dua karang?
Di tengah arus global yang demikian kuat, kebangsaan
menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus bertahan dalam dunia yang
semakin cair, tanpa kehilangan bentuk. Ia harus hidup di tengah simulasi, tanpa
berubah menjadi simulasi itu sendiri.
Benedict Anderson (1983) menyebut bangsa sebagai komunitas
terbayang. Bangsa hidup karena warganya membayangkan kebersamaan, meski tak
pernah saling mengenal secara personal.
Kesadaran itu dahulu dibentuk oleh kapitalisme cetak. Koran
dan buku memungkinkan simultanitas: orang-orang di tempat berbeda merasa hidup
dalam waktu sejarah yang sama.
Namun hari ini, media digital menciptakan simultanitas yang
terpecah. Algoritma memecah perhatian, membentuk ruang-ruang kesadaran yang
terisolasi. Imajinasi kolektif bersaing dengan kepentingan personal.
Globalisasi digital juga melahirkan komunitas lintas batas
yang sering lebih kuat daripada ikatan nasional. Identitas global, sektoral,
bahkan virtual menawarkan rasa memiliki yang instan.
Di sinilah kebangsaan berada di antara dua karang. Terlalu
menutup diri berarti stagnasi, tetapi terlalu larut berarti kehilangan
orientasi. Keduanya sama-sama berbahaya.
Jika kebangsaan hanya dirawat sebagai simbol, ia akan
membatu seperti putri Midas. Ia berkilau dalam seremoni, tetapi dingin dalam
praktik. Hidup ditukar dengan slogan.
Kebangsaan yang bertahan bukan yang paling keras berteriak
tentang identitas. Ia adalah yang mampu memberi makna konkret dalam kehidupan
sehari-hari warganya.
Mengayuh di antara dua karang berarti bersikap selektif.
Terbuka pada globalisasi, tetapi kritis terhadap dampaknya. Menggunakan
teknologi, tanpa menyerahkan akal sehat kepadanya.
Kebangsaan harus kembali menjadi ruang etis. Ia tidak cukup
hidup dalam upacara dan retorika, tetapi harus hadir dalam keadilan sosial dan
keberpihakan nyata.
Jika tidak, kita hanya mengulang tragedi Midas dalam skala
kolektif. Segala sesuatu diubah menjadi “emas” pembangunan, lalu kita bertanya
mengapa kehidupan terasa kering.
Globalisasi bukan kutukan. Ia menjadi masalah ketika
diperlakukan sebagai tujuan, bukan alat. Ketika pertumbuhan dianggap lebih
penting daripada keberlanjutan makna.
Bangsa yang bertahan adalah bangsa yang mampu menjaga jarak
kritis. Tidak mabuk oleh kilau, tidak alergi terhadap perubahan. Ia tahu kapan
harus bergerak, dan kapan harus berhenti.
Dalam dunia yang dilipat, tugas kebangsaan justru
membentangkan kembali ruang refleksi. Memberi waktu bagi yang lambat, dan
tempat bagi yang tak viral.
Sebab ancaman terbesar hari ini bukan semata hilangnya batas
teritorial. Ancaman itu adalah hilangnya kemampuan membedakan nilai dari citra.
Kita hidup di zaman ketika segalanya tampak penting, tetapi
sedikit yang sungguh berarti. Dunia berkilau, tetapi sering kali hampa.
Maka penutupnya sederhana, sekaligus getir: kita tidak
sedang kekurangan simbol kebangsaan, kita hanya terlalu sibuk mengilapkannya
sampai lupa bertanya—apakah yang kita sebut emas itu masih memungkinkan kita
hidup.***


