Iklan

Judul yang Tak Punya Jantung: Sebuah Edisi Kritik atas Kegagalan Nalar dalam Merancang Judul Tesis

syamsul kurniawan
Tuesday, January 13, 2026
Last Updated 2026-01-14T02:15:27Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Sebuah judul adalah pintu yang mengetuk kesadaran, atau ia hanya sekadar nisan yang menandai sebuah kuburan ide. Seringkali, saya menjumpai mahasiswa Pascasarjana datang dengan wajah lelah, menyodorkan selembar kertas berisi barisan kata yang mereka sebut "rencana judul tesis". Ketika saya tanya, "Mengapa Anda memilih masalah ini?", jawaban yang keluar seringkali getir: "Ini judul titipan dari dosen pembimbing saya, Pak." Atau yang lebih menyedihkan, "Sepertinya ini yang sedang tren dan mudah disetujui."

 

Di sana, saya merasakan ada yang mati. Sebuah karya ilmiah yang lahir bukan dari "rasa" ingin tahu yang melonjak, melainkan dari transaksi pragmatis. Judul-judul itu seperti anak-anak yang lahir tanpa cinta; mereka ada, tapi tanpa jiwa. Bagaimana mungkin Anda akan menghabiskan waktu berbulan-bulan, terjaga di malam-malam yang sunyi, untuk sesuatu yang Anda sendiri tidak tahu-menahu asal-usul kegelisahannya? Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan sekadar deretan dalil, ia adalah denyut hidup yang harus dipahami dengan hati dan logika yang tajam.

 

Kita sering keliru menganggap tesis hanyalah skripsi yang "dibuat lebih tebal". Padahal, skripsi hanyalah perkenalan kita pada dunia empirik yang dangkal; sebuah potret yang diambil dari sudut yang sedikit berbeda di lokasi yang baru. Namun, Magister adalah jenjang di mana kemandirian menuntut haknya. Anda bukan lagi anak sekolah yang dituntun tangan pembimbing hingga 40%. Di sini, 80% beban ada di pundak Anda. Tesis menuntut kedalaman teoritis, sebuah upaya untuk melihat apa yang ada di balik permukaan.

 

Jika skripsi cukup dengan satu atau dua rumusan masalah yang deskriptif, tesis meminta Anda berani masuk ke dalam labirin yang lebih rumit. Paling tidak, ada tiga rumusan masalah yang menuntut analisis tajam—bukan sekadar menceritakan apa yang terjadi, tapi mengapa dan bagaimana itu bisa terjadi. Tesis adalah jembatan antara replikasi dan orisinalitas mutlak sebuah disertasi. Di level S2, Anda wajib mengembangkan dan mendalami teori yang sudah ada dengan metode yang lebih berbobot, seperti multivariat atau kualitatif lanjut.

 

Daftar pustaka pun bicara tentang martabat intelektual. Jika 20 referensi cukup untuk sarjana, maka seorang magister butuh minimal 40 rujukan untuk membuktikan bahwa ia telah membaca, merenung, dan membandingkan berbagai pemikiran sebelum berani mengambil simpulan. Lalu, bagaimana merancang judul yang tidak hanya "disetujui", tapi juga "menjual" dan bernafas secara intelektual? Rahasianya terletak pada sebuah rumus yang seimbang: Objek Formal (Teori) + Objek Material (Masalah) + Konteks (Setting).

 

Beberapa Contoh: Menghidupkan Gagasan

 

Mari kita lihat perbandingannya. Sebuah judul yang membosankan mungkin berbunyi: "Pendidikan Akhlak di Madrasah X". Ini datar, tanpa tegangan, dan sangat "skripsi-sentris". Namun, dengan memasukkan pisau analisis teori sosial sebagai jantungnya, ia bertransformasi menjadi: "Konstruksi Identitas Keagamaan Remaja Urban: Analisis Teori Interaksionisme Simbolik terhadap Kurikulum Tersembunyi di Madrasah X". Judul ini "menjual" karena menjanjikan sebuah analisis mendalam, bukan sekadar laporan pandangan mata.

 

Berikut adalah 10 usulan judul tesis yang dirancang dengan kedalaman analisis jenjang S2:

  • Habitus dan Modal Budaya dalam Pendidikan Agama: Studi Fenomenologi terhadap Internalisasi Nilai-Nilai Pesantren pada Komunitas Mualaf Urban.
  • Konstruksi Identitas Keagamaan di Ruang Digital: Analisis Teori Interaksionisme Simbolik terhadap Pola Pembelajaran Agama Remaja di Media Sosial.
  • Hegemoni Budaya dan Pendidikan Islam: Negosiasi Otoritas Keagamaan dalam Kurikulum PAI di Sekolah Internasional.
  • Kepemimpinan Transformasional dan Resistensi Perubahan: Studi Kasus Birokrasi Pendidikan dalam Implementasi Moderasi Beragama di Madrasah Aliyah.
  • Komersialisasi Pendidikan Agama: Analisis Kritis Berbasis Teori Komodifikasi terhadap Strategi Marketing Sekolah Islam Terpadu (SIT) Unggulan.
  • Rekonstruksi Konsep Adab dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim: Analisis Relevansi terhadap Problematika Etika Akademik di Perguruan Tinggi Islam.
  • Epistemologi Pendidikan Islam Integratif: Studi Komparatif Pemikiran Imam Al-Ghazali dan Ismail Raji Al-Faruqi dalam Konteks Islamisasi Ilmu Pengetahuan.
  • Resiliensi Akademik Berbasis Spiritualitas: Studi Efektivitas Pembelajaran PAI dalam Mengurangi Tingkat Kecemasan Mahasiswa Pascasarjana.
  • Disonansi Kognitif dalam Pendidikan Agama: Studi tentang Pergulatan Pemikiran Siswa Madrasah terhadap Paham Radikalisme di Akar Rumput.
  • Pengembangan Kurikulum PAI Berbasis Pendidikan Ekofeminisme: Upaya Internalisasi Nilai Etika Lingkungan pada Siswa Perempuan di Pesantren.

 

 

Bagi Anda yang mencintai teks, kajian pustaka atau turats juga bisa menjadi ladang subur. Namun, ingatlah bahwa kajian pustaka bukan sekadar merangkum isi kitab; ia adalah proses mengulas referensi dan mengkaji ulang literatur untuk mencari di mana posisi suara Anda dalam percakapan besar sejarah yang sudah dimulai berabad-abad lalu. Menggali kitab klasik bukan berarti menjadi kuno, justru tantangannya adalah bagaimana membawa suara masa lalu untuk bicara dengan masalah-masalah kontemporer. Di situlah letak detak jantung sebuah tesis PAI yang kuat.

 

Gunakanlah teori sosial seperti sosiologi, antropologi, atau psikologi sebagai alat bedah. Jangan takut dianggap "mensekulerkan" agama, sebab tanpa alat bedah yang tajam, analisis Anda hanya akan menjadi khotbah yang diulang-ulang, bukan sebuah karya ilmiah. Jangan biarkan tesis Anda hanya menjadi tumpukan kertas berdebu. Jadikan ia sebuah argumen yang kokoh. Carilah kegelisahan itu di pasar, di kelas yang riuh, atau di kesunyian bilik pesantren, lalu ikat ia dengan teori yang mumpuni.

 

Kemandirian dalam penulisan tesis adalah ujian karakter. Anda adalah nakhoda dari penelitian ini; pembimbing hanyalah kompas yang sesekali Anda lirik saat arah mulai membingungkan. Jangan lagi menerima "titipan" tanpa perlawanan intelektual. Jika judul itu tidak lahir dari kegelisahan Anda, ia akan menjadi beban yang sangat berat untuk diselesaikan. Mulailah menulis dengan "rasa". Biarkan setiap kalimat adalah manifestasi dari pencarian kebenaran yang jujur, bukan sekadar syarat formalitas untuk meraih gelar di belakang nama.

 

Sebab, karya yang ditulis dengan hati akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembacanya. Judul adalah jabatan tangan pertama yang menentukan apakah pembaca akan lanjut berjalan bersama Anda atau berbalik arah. Sebagaimana pesan yang sering kita dengar dalam pencarian makna:

 

"Sesuatu yang tidak lahir dari rasa, tidak akan pernah sampai ke dalam jiwa; dan sesuatu yang hanya mengejar rupa, akan hilang ditelan masa."

 

Sudahkah Anda menemukan "rasa" itu di balik judul tesis Anda hari ini?

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now