Oleh: Syamsul Kurniawan
Sebuah judul adalah pintu yang
mengetuk kesadaran, atau ia hanya sekadar nisan yang menandai sebuah kuburan
ide. Seringkali, saya menjumpai mahasiswa Pascasarjana datang dengan wajah
lelah, menyodorkan selembar kertas berisi barisan kata yang mereka sebut
"rencana judul tesis". Ketika saya tanya, "Mengapa Anda memilih
masalah ini?", jawaban yang keluar seringkali getir: "Ini judul
titipan dari dosen pembimbing saya, Pak." Atau yang lebih menyedihkan,
"Sepertinya ini yang sedang tren dan mudah disetujui."
Di sana, saya merasakan ada yang
mati. Sebuah karya ilmiah yang lahir bukan dari "rasa" ingin tahu
yang melonjak, melainkan dari transaksi pragmatis. Judul-judul itu seperti
anak-anak yang lahir tanpa cinta; mereka ada, tapi tanpa jiwa. Bagaimana
mungkin Anda akan menghabiskan waktu berbulan-bulan, terjaga di malam-malam
yang sunyi, untuk sesuatu yang Anda sendiri tidak tahu-menahu asal-usul
kegelisahannya? Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan sekadar deretan dalil, ia
adalah denyut hidup yang harus dipahami dengan hati dan logika yang tajam.
Kita sering keliru menganggap
tesis hanyalah skripsi yang "dibuat lebih tebal". Padahal, skripsi
hanyalah perkenalan kita pada dunia empirik yang dangkal; sebuah potret yang
diambil dari sudut yang sedikit berbeda di lokasi yang baru. Namun, Magister
adalah jenjang di mana kemandirian menuntut haknya. Anda bukan lagi anak
sekolah yang dituntun tangan pembimbing hingga 40%. Di sini, 80% beban ada di
pundak Anda. Tesis menuntut kedalaman teoritis, sebuah upaya untuk melihat apa
yang ada di balik permukaan.
Jika skripsi cukup dengan satu
atau dua rumusan masalah yang deskriptif, tesis meminta Anda berani masuk ke
dalam labirin yang lebih rumit. Paling tidak, ada tiga rumusan masalah yang
menuntut analisis tajam—bukan sekadar menceritakan apa yang terjadi, tapi
mengapa dan bagaimana itu bisa terjadi. Tesis adalah jembatan antara replikasi
dan orisinalitas mutlak sebuah disertasi. Di level S2, Anda wajib mengembangkan
dan mendalami teori yang sudah ada dengan metode yang lebih berbobot, seperti
multivariat atau kualitatif lanjut.
Daftar pustaka pun bicara tentang
martabat intelektual. Jika 20 referensi cukup untuk sarjana, maka seorang
magister butuh minimal 40 rujukan untuk membuktikan bahwa ia telah membaca,
merenung, dan membandingkan berbagai pemikiran sebelum berani mengambil
simpulan. Lalu, bagaimana merancang judul yang tidak hanya
"disetujui", tapi juga "menjual" dan bernafas secara
intelektual? Rahasianya terletak pada sebuah rumus yang seimbang: Objek
Formal (Teori) + Objek Material (Masalah) + Konteks (Setting).
Beberapa Contoh: Menghidupkan
Gagasan
Mari kita lihat perbandingannya.
Sebuah judul yang membosankan mungkin berbunyi: "Pendidikan Akhlak di
Madrasah X". Ini datar, tanpa tegangan, dan sangat
"skripsi-sentris". Namun, dengan memasukkan pisau analisis teori
sosial sebagai jantungnya, ia bertransformasi menjadi: "Konstruksi
Identitas Keagamaan Remaja Urban: Analisis Teori Interaksionisme Simbolik
terhadap Kurikulum Tersembunyi di Madrasah X". Judul ini
"menjual" karena menjanjikan sebuah analisis mendalam, bukan sekadar
laporan pandangan mata.
Berikut adalah 10 usulan judul
tesis yang dirancang dengan kedalaman analisis jenjang S2:
- Habitus dan Modal Budaya dalam Pendidikan Agama:
Studi Fenomenologi terhadap Internalisasi Nilai-Nilai Pesantren pada
Komunitas Mualaf Urban.
- Konstruksi Identitas Keagamaan di Ruang Digital:
Analisis Teori Interaksionisme Simbolik terhadap Pola Pembelajaran Agama
Remaja di Media Sosial.
- Hegemoni Budaya dan Pendidikan Islam:
Negosiasi Otoritas Keagamaan dalam Kurikulum PAI di Sekolah Internasional.
- Kepemimpinan Transformasional dan Resistensi
Perubahan: Studi Kasus Birokrasi Pendidikan dalam Implementasi
Moderasi Beragama di Madrasah Aliyah.
- Komersialisasi Pendidikan Agama: Analisis
Kritis Berbasis Teori Komodifikasi terhadap Strategi Marketing Sekolah
Islam Terpadu (SIT) Unggulan.
- Rekonstruksi Konsep Adab dalam Kitab Adabul
‘Alim wal Muta’allim: Analisis Relevansi terhadap Problematika Etika
Akademik di Perguruan Tinggi Islam.
- Epistemologi Pendidikan Islam Integratif:
Studi Komparatif Pemikiran Imam Al-Ghazali dan Ismail Raji Al-Faruqi dalam
Konteks Islamisasi Ilmu Pengetahuan.
- Resiliensi Akademik Berbasis Spiritualitas:
Studi Efektivitas Pembelajaran PAI dalam Mengurangi Tingkat Kecemasan
Mahasiswa Pascasarjana.
- Disonansi Kognitif dalam Pendidikan Agama:
Studi tentang Pergulatan Pemikiran Siswa Madrasah terhadap Paham
Radikalisme di Akar Rumput.
- Pengembangan Kurikulum PAI Berbasis Pendidikan
Ekofeminisme: Upaya Internalisasi Nilai Etika Lingkungan pada Siswa
Perempuan di Pesantren.
Bagi Anda yang mencintai teks,
kajian pustaka atau turats juga bisa menjadi ladang subur. Namun,
ingatlah bahwa kajian pustaka bukan sekadar merangkum isi kitab; ia adalah
proses mengulas referensi dan mengkaji ulang literatur untuk mencari di mana
posisi suara Anda dalam percakapan besar sejarah yang sudah dimulai
berabad-abad lalu. Menggali kitab klasik bukan berarti menjadi kuno, justru
tantangannya adalah bagaimana membawa suara masa lalu untuk bicara dengan
masalah-masalah kontemporer. Di situlah letak detak jantung sebuah tesis PAI
yang kuat.
Gunakanlah teori sosial seperti
sosiologi, antropologi, atau psikologi sebagai alat bedah. Jangan takut
dianggap "mensekulerkan" agama, sebab tanpa alat bedah yang tajam,
analisis Anda hanya akan menjadi khotbah yang diulang-ulang, bukan sebuah karya
ilmiah. Jangan biarkan tesis Anda hanya menjadi tumpukan kertas berdebu.
Jadikan ia sebuah argumen yang kokoh. Carilah kegelisahan itu di pasar, di
kelas yang riuh, atau di kesunyian bilik pesantren, lalu ikat ia dengan teori
yang mumpuni.
Kemandirian dalam penulisan tesis
adalah ujian karakter. Anda adalah nakhoda dari penelitian ini; pembimbing
hanyalah kompas yang sesekali Anda lirik saat arah mulai membingungkan. Jangan
lagi menerima "titipan" tanpa perlawanan intelektual. Jika judul itu
tidak lahir dari kegelisahan Anda, ia akan menjadi beban yang sangat berat
untuk diselesaikan. Mulailah menulis dengan "rasa". Biarkan setiap
kalimat adalah manifestasi dari pencarian kebenaran yang jujur, bukan sekadar
syarat formalitas untuk meraih gelar di belakang nama.
Sebab, karya yang ditulis dengan
hati akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembacanya. Judul adalah
jabatan tangan pertama yang menentukan apakah pembaca akan lanjut berjalan
bersama Anda atau berbalik arah. Sebagaimana pesan yang sering kita dengar
dalam pencarian makna:
"Sesuatu yang tidak lahir
dari rasa, tidak akan pernah sampai ke dalam jiwa; dan sesuatu yang hanya
mengejar rupa, akan hilang ditelan masa."
Sudahkah Anda menemukan
"rasa" itu di balik judul tesis Anda hari ini?


