Cerpen: Syamsul Kurniawan
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi auditorium.
"Selamat kepada Saudari Bunga, lulusan terbaik Universitas tahun ini."
Namanya menggema dari pengeras suara. Rektor menyematkan medali di lehernya, menyerahkan ijazah dan sebuah plakat penghargaan. Kilatan kamera bersahutan. Di luar gedung, langit sore tampak cerah, seolah ikut merayakan hari yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun.
Bunga tersenyum. Namun senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.
Di pelataran kampus, teman-temannya berhamburan memeluk ayah dan ibu mereka. Ada seorang ayah yang mengangkat putrinya sambil tertawa. Ada pula yang berkali-kali mengusap bahu anaknya dengan mata yang berkaca-kaca. Hari itu bukan hanya hari wisuda, melainkan hari ketika orang tua memanen hasil dari doa dan perjuangan mereka.
Bunga berdiri sendiri. Tangannya menggenggam sertifikat berpigura itu begitu erat. Dalam hati ia berbisik, "Ayah, Bunga akhirnya menjadi yang terbaik."
Sayangnya, lelaki yang paling ingin mendengar kalimat itu telah lebih dahulu pergi.
***
Semasa kecil, Bunga sering menganggap ayahnya terlalu keras. Pukul lima pagi ia sudah dibangunkan. Tempat tidur harus rapi sebelum berangkat sekolah. Buku-buku disusun berdasarkan mata pelajaran. Televisi hanya boleh menyala pada hari Minggu. Setelah Magrib, rumah berubah menjadi ruang belajar.
Teman-temannya bebas bermain petak umpet hingga senja.
Bunga hanya boleh melihat mereka dari jendela.
"Belajar dulu," kata ayah pendek.
"Sebentar lagi, Yah."
"Tidak ada kata sebentar untuk tanggung jawab."
Bunga mengembuskan napas panjang. Baginya, ayah adalah kumpulan aturan yang tak pernah selesai. Setiap pembagian rapor, ayah selalu datang. Bukan membawa bunga, bukan pula membawa hadiah.
Ia hanya bertanya satu hal.
"Sudah maksimal usahamu?"
Jika Bunga menjawab belum, ayah hanya mengangguk.
"Berarti masih ada yang harus diperbaiki."
Jika Bunga menjawab sudah, ayah tersenyum.
"Kalau begitu, Ayah bangga."
Anehnya, ayah hampir tidak pernah bertanya berapa nilainya.
Namun entah mengapa, Bunga selalu merasa harus menjadi juara kelas. Ia ingin melihat ayah tersenyum lebih lama.
Suatu hari, saat Bunga hanya menjadi juara dua, ia menangis semalaman.
"Ayah pasti kecewa."
Ayah menghampirinya tanpa suara. Duduk di samping tempat tidur sambil mengusap rambutnya.
"Kenapa menangis?"
"Bunga gagal."
"Gagal karena apa?"
"Bunga bukan juara satu."
Ayah tersenyum tipis.
"Siapa yang bilang?"
"Bukankah Ayah selalu ingin Bunga jadi yang terbaik?"
Ayah terdiam cukup lama sebelum berkata pelan,
"Ayah memang ingin kamu menjadi yang terbaik."
"Nah, kan?"
"Tetapi bukan lebih baik daripada temanmu."
Bunga mengangkat wajah.
"Jadilah lebih baik daripada dirimu yang kemarin."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sebagai anak kecil, Bunga belum mampu memahaminya. Ia tetap menganggap ayah terlalu menuntut.
Tahun-tahun berlalu. Bunga tumbuh menjadi anak yang disiplin. Ia belajar bukan karena takut dimarahi, melainkan karena terbiasa. Ia bangun pagi tanpa dibangunkan. Ia mengerjakan tugas tanpa disuruh. Ia belajar mengatur waktunya sendiri.
Saat itulah sebenarnya ayah tidak lagi mengendalikan hidupnya. Ayah hanya menanamkan kebiasaan hingga akhirnya Bunga memilih sendiri jalan hidupnya.
Kelak, ketika Bunga mempelajari teori psikologi di bangku kuliah, ia menemukan pemikiran William Glasser. Manusia digerakkan oleh pilihan-pilihannya sendiri. Tak seorang pun benar-benar dapat mengendalikan orang lain.
Yang bisa dikendalikan hanyalah diri sendiri. Bunga tiba-tiba teringat ayah. Ayah tidak pernah memaksa pikirannya. Ayah hanya menunjukkan jalan, sementara keputusan untuk berjalan selalu berada di tangan Bunga. Dan tanpa disadarinya, setiap pilihan kecil itu telah membentuk dirinya.
***
Hari itu seharusnya menjadi hari biasa. Ayah mengantar Bunga ke sekolah seperti biasa. Sebelum turun dari sepeda motor, ayah berkata, "Belajar yang sungguh-sungguh."
Bunga mengangguk sambil tersenyum. Itulah kalimat terakhir yang didengarnya. Siang harinya, telepon rumah berdering. Ibunya menangis. Ayah dilarikan ke rumah sakit.
Katanya hanya maag akut.
"Tidak apa-apa," pikir Bunga.
Ayah memang sering menahan sakit demi bekerja. Sore nanti pasti pulang. Namun yang pulang justru ambulans.
Dengan lampu yang berputar perlahan. Dengan kesunyian yang mematahkan seluruh harapan. Ayah telah pergi. Begitu cepat. Tanpa sempat berpamitan. Tanpa sempat melihat putrinya tumbuh dewasa.
Bunga tidak langsung menangis. Tubuhnya terasa ringan, tetapi langkahnya berat. Dadanya sesak, pikirannya kosong. Baru malam harinya air mata itu runtuh tanpa mampu dihentikan.
Ia merasa kehilangan arah. Orang yang selama ini dianggap terlalu keras ternyata adalah tempat paling aman untuk pulang.
Hari-hari setelah kepergian ayah dipenuhi kesunyian. Tidak ada lagi yang membangunkannya sebelum subuh. Tidak ada lagi yang memeriksa tas sekolah. Tidak ada lagi yang bertanya apakah ia sudah belajar.
Namun anehnya, semua itu tetap ia lakukan. Ia bangun sebelum alarm berbunyi. Ia merapikan tempat tidur.
Ia membuka buku setiap malam.
Saat itulah ia sadar. Didikan ayah telah berubah menjadi bagian dari dirinya. Disiplin tidak lagi lahir dari rasa takut.
Melainkan dari kesadaran. Dan kesadaran adalah pilihan.
Sejak hari itu, Bunga memilih untuk terus melangkah.
Bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada dunia.
Tetapi karena tidak ingin menyia-nyiakan semua pengorbanan ayah.
Empat tahun berlalu.
Di bangku kuliah, Bunga dikenal sebagai mahasiswa yang tekun. Ia tidak selalu paling pintar, tetapi hampir selalu menjadi yang paling siap. Ketika teman-temannya menyerah pada tugas yang sulit, Bunga mengingat satu kalimat ayah.
"Kalau bisa menjadi yang terbaik, mengapa memilih menjadi biasa?"
Kini ia memahami makna sesungguhnya. Yang dimaksud ayah bukan mengejar pujian. Melainkan memilih memberikan usaha terbaik dalam setiap kesempatan.
Pilihan itu membawanya menyelesaikan kuliah dengan predikat lulusan terbaik. Suara tepuk tangan kembali membawanya ke kenyataan.
Seorang fotografer menghampiri.
"Silakan foto bersama keluarga."
Bunga tersenyum pelan.
"Hanya dengan Ibu."
Ibunya berdiri di sampingnya sambil menggenggam tangan Bunga. Mata perempuan itu basah ketika melihat plakat penghargaan yang dipegang putrinya.
"Ayahmu pasti bangga."
Kalimat sederhana itu meruntuhkan seluruh benteng yang selama ini Bunga bangun. Air matanya jatuh tanpa mampu ditahan. Ia menatap langit yang mulai memerah. Di sanalah, dalam setiap kenangan yang tak pernah benar-benar pergi, ia kembali melihat sosok ayah dengan kemeja sederhana, wajah lelah sepulang bekerja, dan senyum yang selalu disembunyikan di balik ketegasan.
Bunga akhirnya mengerti. Ayah tidak pernah mendidiknya agar menjadi anak yang selalu juara. Ayah mendidiknya agar mampu bertahan ketika hidup tidak lagi memberinya tempat bersandar. Ayah ingin ia dicintai karena akhlaknya, dihormati karena integritasnya, bebas menentukan masa depannya, menikmati hasil dari kerja kerasnya, dan memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi badai kehidupan.
Lima kebutuhan manusia itu ternyata telah ayah ajarkan tanpa pernah menyebut teorinya. Melalui teladan. Melalui kebiasaan. Melalui cinta yang memilih tampil sebagai ketegasan.
Bunga mengecup plakat penghargaan di tangannya. Lalu berbisik lirih, seolah ayah berdiri tepat di hadapannya.
"Yah… hari ini Bunga menjadi lulusan terbaik, seperti yang Ayah impikan. Maaf, dulu Bunga mengira Ayah terlalu keras. Baru sekarang Bunga tahu, setiap larangan adalah pelukan yang menyamar, setiap nasihat adalah doa yang diucapkan dengan cara berbeda, dan setiap tuntutan adalah bentuk cinta yang ingin melihat Bunga mampu berdiri ketika Ayah tak lagi ada."
Angin sore berembus pelan. Bunga menatap langit untuk terakhir kalinya sebelum melangkah meninggalkan kampus.
Plakat penghargaan itu berkilau diterpa cahaya matahari.
Tetapi yang sesungguhnya bersinar bukanlah logam kuningan plakat di tangannya. Melainkan warisan seorang ayah yang telah menanamkan keberanian untuk selalu memilih menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirinya yang kemarin. Dan warisan seperti itu, tidak akan pernah lulus oleh waktu.***


