Iklan

Pendidikan Mau Ke Mana?

syamsul kurniawan
Tuesday, September 8, 2026
Last Updated 2026-09-13T03:16:37Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


Oleh: Syamsul Kurniawan

PENDIDIKAN Indonesia hari ini seperti sebuah kapal besar yang berlayar di tengah samudra perubahan, tetapi sering kali kehilangan kompas. Ia bergerak, tetapi tidak selalu tahu ke mana arah pelabuhan yang hendak dituju. Kita sibuk memperbarui istilah, mengganti kurikulum, meluncurkan berbagai program, dan membangun jargon baru, tetapi lupa bertanya pada pertanyaan paling mendasar: apakah anak-anak kita benar-benar belajar?

 

Masalah pendidikan kita bukan sekadar soal kurangnya gedung sekolah, kurangnya buku, atau kurangnya teknologi. Persoalan yang lebih dalam adalah kegagalan memahami hakikat belajar itu sendiri. Banyak anak menghabiskan bertahun-tahun di bangku sekolah, tetapi belum tentu memperoleh kemampuan membaca dengan pemahaman, berpikir kritis, memecahkan persoalan, dan mengambil keputusan secara mandiri. Kita menghadapi paradoks besar: sekolah semakin lama, tetapi pembelajaran belum tentu semakin bermakna.

 

Apa saja masalahnya?


 

Fenomena schooling, but not learning menjadi cermin bahwa kehadiran fisik anak di ruang kelas belum otomatis melahirkan pertumbuhan intelektual. Sistem kita masih terlalu sering mengejar penyelesaian materi daripada memastikan anak memahami makna pengetahuan. Hafalan menjadi ukuran keberhasilan, sementara rasa ingin tahu justru sering dianggap sebagai gangguan terhadap keteraturan kelas.

 

Akibatnya, kemampuan literasi dan numerasi banyak peserta didik masih menghadapi persoalan serius. Anak-anak dapat membaca teks, tetapi belum tentu mampu menangkap gagasan utama. Mereka mampu menghitung rumus, tetapi belum tentu mampu menggunakan logika matematika dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan kehilangan esensinya ketika pengetahuan berhenti sebagai kumpulan jawaban untuk ujian, bukan menjadi bekal menghadapi realitas.

 

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kualitas guru yang belum merata. Guru adalah jantung pendidikan, tetapi kita masih membiarkan sebagian guru bekerja dalam kondisi yang jauh dari ideal. Di kota besar, sekolah dapat menikmati akses pelatihan, teknologi, dan sumber belajar yang lebih baik, sementara di banyak daerah lain guru masih berjuang menghadapi keterbatasan dasar.

 

Kita sering berbicara tentang peningkatan kualitas pendidikan, tetapi lupa bahwa kualitas guru tidak lahir dari slogan. Guru membutuhkan penghargaan, kesejahteraan, pendampingan, dan ruang untuk berkembang. Tidak adil meminta guru menciptakan pembelajaran inovatif apabila energi mereka habis untuk menyelesaikan persoalan administratif dan bertahan secara ekonomi.

 

Di sisi lain, pelatihan guru masih sering berhenti pada pergantian dokumen dan sosialisasi kebijakan. Guru diberikan format baru, aplikasi baru, atau istilah baru, tetapi tidak selalu diberikan kemampuan praktis untuk memahami kebutuhan belajar anak. Padahal persoalan utama bukan bagaimana guru membuat lebih banyak dokumen, melainkan bagaimana guru mampu membantu setiap anak mencapai perkembangan terbaiknya.

 

Ketimpangan pendidikan juga memperlihatkan wajah Indonesia yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Sekolah yang berada di pusat kota dan sekolah di daerah terpencil seolah hidup dalam dua dunia yang berbeda. Ada sekolah yang berbicara tentang kecerdasan buatan, sementara sekolah lain masih berjuang mendapatkan jaringan internet dan fasilitas dasar.

 

Di tengah situasi itu, kita perlu kembali membaca pemikiran Ki Hadjar Dewantara (1962) yang mulai sering disebut, tetapi belum sepenuhnya dihidupkan. Pendidikan bagi Ki Hadjar bukanlah proses memasukkan sebanyak mungkin informasi ke kepala anak, melainkan usaha menuntun pertumbuhan manusia agar menemukan dirinya. Pendidikan bukan mesin pencetak manusia seragam, tetapi ruang bagi keberagaman potensi.

 

Semangat merdeka belajar sesungguhnya bukan gagasan baru. Ia memiliki akar kuat dalam pemikiran Ki Hadjar bahwa pendidikan harus membebaskan manusia. Sekolah seharusnya menjadi tempat anak menemukan kemampuan terbaiknya, bukan tempat anak terus-menerus dibandingkan berdasarkan satu ukuran keberhasilan yang sempit.

 

Jika kita melihat pendidikan melalui perspektif William Glasser dalam Choice Theory (1998), maka kita akan menemukan bahwa manusia belajar karena memiliki kebutuhan dasar yang ingin dipenuhi. Anak datang ke sekolah bukan hanya membawa kemampuan akademik, tetapi juga kebutuhan untuk merasa aman, dicintai, dihargai, memiliki kebebasan, dan mengalami kegembiraan dalam belajar.

 

Sayangnya, banyak ruang kelas kita masih dibangun dengan paradigma kontrol eksternal. Anak belajar karena takut hukuman, mengejar nilai, atau sekadar memenuhi tuntutan orang dewasa. Pendidikan yang terlalu banyak menggunakan tekanan mungkin menghasilkan kepatuhan sementara, tetapi belum tentu melahirkan manusia yang memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

 

Glasser menjelaskan bahwa perilaku manusia merupakan keseluruhan yang terdiri dari tindakan, pikiran, perasaan, dan respons fisiologis. Dalam konteks pendidikan, ketika anak kehilangan minat belajar, persoalannya bukan semata-mata karena anak malas. Bisa jadi sekolah belum berhasil membangun lingkungan yang membuat anak merasa bahwa belajar memiliki makna bagi kehidupannya.

 

Setiap anak memiliki apa yang disebut Glasser sebagai quality world, yaitu gambaran pribadi tentang hal-hal yang dianggap bermakna dan membahagiakan. Pendidikan yang baik bukan memaksa semua anak memiliki mimpi yang sama, tetapi membantu mereka menemukan dan mengembangkan dunia bermakna mereka sendiri.

 

Karena itu, sekolah perlu berhenti melihat peserta didik sebagai objek yang harus dikendalikan. Anak bukan angka dalam tabel statistik, bukan sekadar peringkat dalam ujian, dan bukan hanya penerima materi pelajaran. Mereka adalah manusia yang memiliki pengalaman, harapan, ketakutan, dan potensi yang berbeda.

 

Guru dalam paradigma baru tidak kehilangan perannya ketika memberikan kebebasan kepada murid. Justru di situlah profesionalisme guru diuji. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan pembimbing yang membantu anak menemukan jalan belajarnya. Guru menjadi pengarah perjalanan, bukan penguasa perjalanan.

 

Namun, perubahan pendidikan tidak akan berhasil apabila kebijakan terus bergerak tanpa kesinambungan. Indonesia terlalu sering mengalami pergantian kebijakan pendidikan yang membuat sekolah sibuk beradaptasi, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan memperdalam perubahan. Pendidikan membutuhkan kesabaran karena hasil pendidikan tidak dapat diukur hanya dalam satu periode pemerintahan.

 

Kita juga harus berhenti menganggap teknologi sebagai obat dari seluruh persoalan pendidikan. Digitalisasi memang penting, tetapi teknologi tidak akan menyelesaikan masalah apabila fondasi pembelajaran masih rapuh. Tablet, aplikasi, dan kecerdasan buatan hanya akan menjadi alat tambahan jika manusia yang menggunakannya belum memiliki budaya belajar yang kuat.

Persoalan evaluasi juga perlu direnungkan kembali. Pendidikan kita terlalu lama terjebak dalam budaya angka. Nilai memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Anak yang kreatif, mampu bekerja sama, memiliki empati, dan mampu menyelesaikan masalah juga menunjukkan keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.

 

Memperbaiki cara pandang

 

Pada akhirnya, krisis pendidikan bukan hanya persoalan sistem, tetapi juga persoalan cara pandang. Kita harus berani melakukan otokritik bahwa selama ini mungkin kita lebih sibuk mengelola sekolah daripada membangun pembelajaran. Kita lebih sering mengukur keberhasilan dari apa yang mudah dihitung, bukan dari perubahan manusia yang sulit dilihat.

 

Perubahan besar harus dimulai dari keberanian untuk kembali bertanya: pendidikan ini sebenarnya untuk siapa? Jika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, statistik, dan kompetisi global, maka kita berisiko kehilangan dimensi kemanusiaannya. Pendidikan harus mempersiapkan anak menghadapi masa depan, tetapi juga membantu mereka memahami siapa dirinya.

 

Bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya memiliki sekolah banyak, melainkan bangsa yang mampu menciptakan ruang belajar yang bermakna. Pendidikan harus menjadi tempat tumbuhnya manusia yang merdeka berpikir, kuat karakter, dan mampu hidup bersama orang lain. Inilah cita-cita pendidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar angka kelulusan.

 

Indonesia tidak kekurangan gagasan pendidikan. Kita memiliki warisan pemikiran besar dari para pendahulu, termasuk Ki Hadjar Dewantara. Yang sering hilang bukan konsepnya, melainkan keberanian untuk menjalankannya secara konsisten. Kita membutuhkan pendidikan yang tidak hanya pintar membuat program, tetapi juga mampu mendengar suara anak.

 

Mungkin pertanyaan terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukan apakah kita memiliki kurikulum baru atau teknologi terbaru. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita masih percaya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk tumbuh. Sebab pendidikan yang kehilangan keyakinan terhadap manusia hanya akan menghasilkan sistem yang berjalan, tetapi kehilangan jiwa.


Maka sudah saatnya kita berhenti berlari tanpa arah. Pendidikan Indonesia membutuhkan kompas baru, bukan sekadar peta baru. Kompas itu adalah keberanian untuk kembali menjadikan manusia sebagai pusat pendidikan. Sebab pada akhirnya, sekolah bukan tentang mencetak manusia yang sama, tetapi tentang membantu setiap manusia menjadi dirinya yang terbaik.***

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now