Masalah pendidikan kita bukan
sekadar soal kurangnya gedung sekolah, kurangnya buku, atau kurangnya
teknologi. Persoalan yang lebih dalam adalah kegagalan memahami hakikat belajar
itu sendiri. Banyak anak menghabiskan bertahun-tahun di bangku sekolah, tetapi
belum tentu memperoleh kemampuan membaca dengan pemahaman, berpikir kritis,
memecahkan persoalan, dan mengambil keputusan secara mandiri. Kita menghadapi
paradoks besar: sekolah semakin lama, tetapi pembelajaran belum tentu semakin
bermakna.
Apa saja
masalahnya?
Fenomena schooling, but not
learning menjadi cermin bahwa kehadiran fisik anak di ruang kelas belum
otomatis melahirkan pertumbuhan intelektual. Sistem kita masih terlalu sering
mengejar penyelesaian materi daripada memastikan anak memahami makna
pengetahuan. Hafalan menjadi ukuran keberhasilan, sementara rasa ingin tahu
justru sering dianggap sebagai gangguan terhadap keteraturan kelas.
Akibatnya, kemampuan literasi
dan numerasi banyak peserta didik masih menghadapi persoalan serius. Anak-anak
dapat membaca teks, tetapi belum tentu mampu menangkap gagasan utama. Mereka
mampu menghitung rumus, tetapi belum tentu mampu menggunakan logika matematika
dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan kehilangan esensinya ketika pengetahuan
berhenti sebagai kumpulan jawaban untuk ujian, bukan menjadi bekal menghadapi
realitas.
Persoalan lain yang tidak kalah
penting adalah kualitas guru yang belum merata. Guru adalah jantung pendidikan,
tetapi kita masih membiarkan sebagian guru bekerja dalam kondisi yang jauh dari
ideal. Di kota besar, sekolah dapat menikmati akses pelatihan, teknologi, dan
sumber belajar yang lebih baik, sementara di banyak daerah lain guru masih
berjuang menghadapi keterbatasan dasar.
Kita sering berbicara tentang
peningkatan kualitas pendidikan, tetapi lupa bahwa kualitas guru tidak lahir dari
slogan. Guru membutuhkan penghargaan, kesejahteraan, pendampingan, dan ruang
untuk berkembang. Tidak adil meminta guru menciptakan pembelajaran inovatif
apabila energi mereka habis untuk menyelesaikan persoalan administratif dan
bertahan secara ekonomi.
Di sisi lain, pelatihan guru
masih sering berhenti pada pergantian dokumen dan sosialisasi kebijakan. Guru
diberikan format baru, aplikasi baru, atau istilah baru, tetapi tidak selalu
diberikan kemampuan praktis untuk memahami kebutuhan belajar anak. Padahal
persoalan utama bukan bagaimana guru membuat lebih banyak dokumen, melainkan
bagaimana guru mampu membantu setiap anak mencapai perkembangan terbaiknya.
Ketimpangan pendidikan juga
memperlihatkan wajah Indonesia yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
Sekolah yang berada di pusat kota dan sekolah di daerah terpencil seolah hidup
dalam dua dunia yang berbeda. Ada sekolah yang berbicara tentang kecerdasan
buatan, sementara sekolah lain masih berjuang mendapatkan jaringan internet dan
fasilitas dasar.
Di tengah situasi itu, kita
perlu kembali membaca pemikiran Ki Hadjar Dewantara (1962) yang mulai sering
disebut, tetapi belum sepenuhnya dihidupkan. Pendidikan bagi Ki Hadjar bukanlah
proses memasukkan sebanyak mungkin informasi ke kepala anak, melainkan usaha menuntun
pertumbuhan manusia agar menemukan dirinya. Pendidikan bukan mesin pencetak
manusia seragam, tetapi ruang bagi keberagaman potensi.
Semangat merdeka belajar
sesungguhnya bukan gagasan baru. Ia memiliki akar kuat dalam pemikiran Ki
Hadjar bahwa pendidikan harus membebaskan manusia. Sekolah seharusnya menjadi
tempat anak menemukan kemampuan terbaiknya, bukan tempat anak terus-menerus
dibandingkan berdasarkan satu ukuran keberhasilan yang sempit.
Jika kita melihat pendidikan
melalui perspektif William Glasser dalam Choice Theory (1998),
maka kita akan menemukan bahwa manusia belajar karena memiliki kebutuhan dasar
yang ingin dipenuhi. Anak datang ke sekolah bukan hanya membawa kemampuan
akademik, tetapi juga kebutuhan untuk merasa aman, dicintai, dihargai, memiliki
kebebasan, dan mengalami kegembiraan dalam belajar.
Sayangnya, banyak ruang kelas
kita masih dibangun dengan paradigma kontrol eksternal. Anak belajar karena
takut hukuman, mengejar nilai, atau sekadar memenuhi tuntutan orang dewasa.
Pendidikan yang terlalu banyak menggunakan tekanan mungkin menghasilkan
kepatuhan sementara, tetapi belum tentu melahirkan manusia yang memiliki
tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Glasser menjelaskan bahwa
perilaku manusia merupakan keseluruhan yang terdiri dari tindakan, pikiran,
perasaan, dan respons fisiologis. Dalam konteks pendidikan, ketika anak
kehilangan minat belajar, persoalannya bukan semata-mata karena anak malas.
Bisa jadi sekolah belum berhasil membangun lingkungan yang membuat anak merasa
bahwa belajar memiliki makna bagi kehidupannya.
Setiap anak memiliki apa yang
disebut Glasser sebagai quality world, yaitu gambaran pribadi tentang
hal-hal yang dianggap bermakna dan membahagiakan. Pendidikan yang baik bukan
memaksa semua anak memiliki mimpi yang sama, tetapi membantu mereka menemukan
dan mengembangkan dunia bermakna mereka sendiri.
Karena itu, sekolah perlu
berhenti melihat peserta didik sebagai objek yang harus dikendalikan. Anak
bukan angka dalam tabel statistik, bukan sekadar peringkat dalam ujian, dan
bukan hanya penerima materi pelajaran. Mereka adalah manusia yang memiliki
pengalaman, harapan, ketakutan, dan potensi yang berbeda.
Guru dalam paradigma baru tidak
kehilangan perannya ketika memberikan kebebasan kepada murid. Justru di situlah
profesionalisme guru diuji. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan,
melainkan pembimbing yang membantu anak menemukan jalan belajarnya. Guru
menjadi pengarah perjalanan, bukan penguasa perjalanan.
Namun, perubahan pendidikan
tidak akan berhasil apabila kebijakan terus bergerak tanpa kesinambungan.
Indonesia terlalu sering mengalami pergantian kebijakan pendidikan yang membuat
sekolah sibuk beradaptasi, tetapi tidak selalu memiliki kesempatan memperdalam
perubahan. Pendidikan membutuhkan kesabaran karena hasil pendidikan tidak dapat
diukur hanya dalam satu periode pemerintahan.
Kita juga harus berhenti
menganggap teknologi sebagai obat dari seluruh persoalan pendidikan.
Digitalisasi memang penting, tetapi teknologi tidak akan menyelesaikan masalah
apabila fondasi pembelajaran masih rapuh. Tablet, aplikasi, dan kecerdasan
buatan hanya akan menjadi alat tambahan jika manusia yang menggunakannya belum
memiliki budaya belajar yang kuat.
Persoalan evaluasi juga perlu
direnungkan kembali. Pendidikan kita terlalu lama terjebak dalam budaya angka.
Nilai memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran
keberhasilan. Anak yang kreatif, mampu bekerja sama, memiliki empati, dan mampu
menyelesaikan masalah juga menunjukkan keberhasilan pendidikan yang
sesungguhnya.
Memperbaiki
cara pandang
Pada akhirnya, krisis pendidikan
bukan hanya persoalan sistem, tetapi juga persoalan cara pandang. Kita harus
berani melakukan otokritik bahwa selama ini mungkin kita lebih sibuk mengelola
sekolah daripada membangun pembelajaran. Kita lebih sering mengukur
keberhasilan dari apa yang mudah dihitung, bukan dari perubahan manusia yang
sulit dilihat.
Perubahan besar harus dimulai
dari keberanian untuk kembali bertanya: pendidikan ini sebenarnya untuk siapa?
Jika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, statistik,
dan kompetisi global, maka kita berisiko kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Pendidikan harus mempersiapkan anak menghadapi masa depan, tetapi juga membantu
mereka memahami siapa dirinya.
Bangsa yang besar bukan bangsa
yang hanya memiliki sekolah banyak, melainkan bangsa yang mampu menciptakan
ruang belajar yang bermakna. Pendidikan harus menjadi tempat tumbuhnya manusia
yang merdeka berpikir, kuat karakter, dan mampu hidup bersama orang lain.
Inilah cita-cita pendidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar angka
kelulusan.
Indonesia tidak kekurangan
gagasan pendidikan. Kita memiliki warisan pemikiran besar dari para pendahulu,
termasuk Ki Hadjar Dewantara. Yang sering hilang bukan konsepnya, melainkan
keberanian untuk menjalankannya secara konsisten. Kita membutuhkan pendidikan
yang tidak hanya pintar membuat program, tetapi juga mampu mendengar suara
anak.
Mungkin pertanyaan terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukan apakah kita memiliki kurikulum baru atau teknologi terbaru. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita masih percaya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk tumbuh. Sebab pendidikan yang kehilangan keyakinan terhadap manusia hanya akan menghasilkan sistem yang berjalan, tetapi kehilangan jiwa.
Maka sudah saatnya kita berhenti berlari tanpa arah. Pendidikan Indonesia membutuhkan kompas baru, bukan sekadar peta baru. Kompas itu adalah keberanian untuk kembali menjadikan manusia sebagai pusat pendidikan. Sebab pada akhirnya, sekolah bukan tentang mencetak manusia yang sama, tetapi tentang membantu setiap manusia menjadi dirinya yang terbaik.***



