Iklan

Tradisi “Makan-Makan” dalam Lensa Etnografi Kognitif

syamsul kurniawan
Saturday, July 11, 2026
Last Updated 2026-07-11T08:01:18Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

 


 

Oleh: Syamsul Kurniawan 

 

ADA sesuatu yang luput ketika kita melihat sepiring nasi yang mengepul di atas meja, atau sejumput sagu yang dihidangkan di atas daun pisang. Bagi mata yang tergesa-gesa, makanan hanyalah seonggok materi: kalori yang dibakar, protein yang diserap, atau rasa lapar yang dipadamkan. Namun, antropologi tidak pernah tumbuh dari ketergesaan yang dangkal semacam itu. Memahami masyarakat manusia merupakan suatu upaya yang selalu menarik untuk dilakukan. Di tengah-tengah upaya tersebutlah, etnografi hadir. Etnografi berusaha memberikan pemahaman yang berangkat dari pemahaman budaya masyarakat yang ingin dipahami, sebuah pintu masuk untuk melihat bahwa di balik kunyahan mulut, ada struktur dunia yang sedang dipertahankan.

 

Makan, dengan demikian, bukanlah sekadar urusan biologis yang sunyi. Ia adalah sebuah ritus, sebuah pemanggungan identitas, dan peta kognitif yang rumit. Ketika masyarakat Minangkabau berkumpul untuk Makan Bajamba, atau ketika orang Sunda menggelar daun pisang untuk Cucurak, mereka tidak sedang melakukan kegiatan pengisian energi mekanis. Etnografi merupakan salah satu model penelitian yang lebih banyak terkait dengan antropologi, yang mempelajari peristiwa kultural, yang menyajikan pandangan hidup subjek yang menjadi objek penelitian. Melalui piring-piring yang diedarkan, kita melihat bagaimana kekuasaan dinegosiasikan, keintiman dirajut, dan kosmologi sebuah suku dilekatkan pada cita rasa.

 

Sejarah mencatat bahwa kita tidak bisa mengisolasi tradisi makan dari bagaimana ilmu manusia ini dibentuk. Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian dapat dianggap sebagai dasar dan asal usul ilmu antropologi. Dari catatan-catatan awal para penjelajah mengenai apa yang dimakan oleh "si Liyan" di pulau-pulau yang jauh, antropologi merangkak tumbuh. Makanan kerap kali menjadi penanda pertama yang memisahkan antara "yang beradab" dan "yang liar", sebuah pemisahan yang kelak disadari oleh para antropolog modern sebagai sebuah kenaifan kolonial yang problematik.

 

Jika kita melacak asal-usulnya, etnografi ditinjau secara harfiah dapat berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Laporan-laporan awal ini dipenuhi oleh detail-detail yang eksotis: bagaimana sekelompok orang di pedalaman Pasifik mengolah umbi-umbian, atau bagaimana sebuah suku di Afrika memperlakukan hewan ternak mereka bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai bagian dari silsilah kekerabatan. Makan adalah pusat dari seluruh drama sosial tersebut.

 

Namun, sebuah laporan lapangan tidak pernah menjadi kamera yang netral. Etnografi dapat dipahami sebagai gambaran sebuah kebudayaan yaitu gambaran kebudayaan sebuah masyarakat yang merupakan hasil konstruksi peneliti dari berbagai informasi yang diperolehnya selama melakukan penelitian di lapangan dan dengan fokus permasalahan tertentu. Ketika seorang etnografer menulis tentang tradisi Saprahan di Sambas atau Pontianak, ia tidak sedang menyalin menu masakan. Ia sedang mengonstruksi sebuah narasi tentang bagaimana struktur sosial Melayu mengatur duduknya para tetua, bagaimana lauk dibagi secara presisi, dan bagaimana rasa hormat dialirkan melalui kuah paceri nanas.

 

Kedalaman dan Pergeseran Waktu

 

Di sinilah letak kekuatannya. Ciri khas dari metode penelitian lapangan etnografi ini adalah sifatnya yang menyeluruh dan terpadu (holistic-integratif), deskripsi yang kaya (thick description) dan analisa kualitatif dalam rangka mendapatkan cara pandang pemilik kebudayaan. Memahami tradisi makan tidak bisa dilepaskan dari cara masyarakat tersebut bertani, sistem kepercayaan mereka terhadap roh leluhur, hingga struktur kekerabatan mereka. Kita memerlukan deskripsi yang karib, yang tidak hanya melihat apa yang ada di atas piring, tetapi juga makna dari kerlingan mata antara mereka yang sedang mengunyah bersama.

 

Untuk mencapai kedalaman itu, metode yang digunakan tidak bisa instan. Teknik pengumpulan data yang utama adalah observasi partisipasi dan juga wawancara terbuka dan mendalam yang dilakukan dalam jangka waktu relatif panjang, bukan kunjungan singkat dengan daftar pertanyaan terstruktur seperti pada penelitian survey. Seorang peneliti tidak akan pernah memahami mengapa dalam tradisi Megibung di Bali, satu talam besar harus dihabiskan bersama tanpa sisa, jika ia hanya datang membawa kuesioner, membagikannya, lalu pulang sore harinya menumpang bus pariwisata. Ia harus ikut duduk bersila, merasakan pegal di kaki, dan ikut merasakan kepedasan sambal yang sama.

 

Pada mulanya, dorongan untuk melakukan pengamatan ini lahir dari rasa penasaran yang berjarak. Umumnya etnografi digunakan oleh sebagian peneliti untuk memahami “kebudayaan lain” (other cultures). Ada hasrat Barat untuk memahami Timur, atau hasrat masyarakat Urban untuk menengok masyarakat Pedalaman. Tradisi makan yang eksotis menjadi magnet utama. Mengapa orang di Timur Tengah menyantap nasi Mandi atau Kebuli langsung dengan tangan kanan dalam talam besar yang dikerumuni lima orang? Pertanyaan-pertanyaan tentang yang "lain" inilah yang membentuk pondasi awal ilmu ini.

 

Tetapi etnografi modern melangkah lebih jauh dari sekadar koleksi keunikan. Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Tujuan utama aktivitas ini adalah untuk memahami suatu pandangan hidup melalui sudut pandang si pemilik kebudayaan tersebut dengan berupaya memahami sudut pandangnya, hubungannya dengan kehidupan, dan mendapatkan persepsinya mengenai dunianya. Sehingga, selain mempelajari masyarakat, etnografi juga berarti belajar dari masyarakat. Melalui tradisi makan, kita belajar tentang bagaimana manusia mendefinisikan batas antara yang bersih dan yang kotor, yang sakral dan yang profan.

 

Clifford Geertz, dalam esai monumentalnya yang termaktub di The Interpretation of Cultures (1973), memberikan landasan yang kokoh bagi cara kerja ini. Berpendapat bahwa ketika kita ingin memahami suatu ilmu pengetahuan, pertama-tama seharusnya kita tidak hanya melihat pada teori-teori atau temuan yang telah ada, dan bukan pula apa yang dikatakan oleh antropologis tentang ilmu pengetahuan itu, namun kita perlu melihat pada apa yang telah dilakukan oleh para praktisi dan dalam antropologi sosial, apa yang dilakukan oleh praktisi adalah etnografi.

 

... if you want to understand what a science is, you should look in the first instance not at its theories or its findings, and certainly not at what its apologists say about it; you should look at what the practitioners of it do.” (1973: 5)

 

Bagi Geertz, menganalisis kebudayaan bukanlah sebuah ilmu eksperimental yang mencari hukum-hukum, melainkan sebuah ilmu interpretatif yang mencari makna. Melakukan etnografi tidak hanya membangun hubungan, memilih informan, menyalin teks, mengambil silsilah, membuat pemetaan, menulis catatan harian, dan sebagainya. Akan tetapi merupakan upaya intelektual dalam memahami kebudayaan manusia.

 

In anthropology, or anyway social anthropology, what the practitioners do is ethnography. And it is in understanding what ethnography is, or more exactly what doing ethnography is that a start can be made toward grasping what anthropological analysis amounts to as a form of knowledge.” (1973: 5-6)

 

Ketika kita menganalisis tradisi Bancakan di Jawa, kita tidak sedang menghitung jumlah kalori nasi tumpeng, melainkan menafsirkan jalinan simbol dari kerucut nasi yang menjulang sebagai representasi hubungan vertikal manusia dengan Gusti, dan hamparan lauk sebagai hubungan horizontal antarsaudara.

 

Genealogi Metode dan Bentuk yang Berubah

 

Namun, bagaimanakah metode ini mewujud dalam bentangan sejarah? Kapan terjadi pergeseran yang mengubah cara pandang kita terhadap kebudayaan? Kita harus menengok ke belakang, ke masa-masa di mana antropologi masih berupa sains yang berjarak. Era awal mula etnografi hanya dilakukan melalui kajian di perpustakaan. Proses kajian yang dilakukan dalam menemukan teori-teori kebudayaan hanya melalui bahan-bahan tulisan tentang berbagai suku di dunia yang dikumpulkan oleh para musafir, penyebar agama, pegawai kolonial dan penjelajah alam.

 

Para pemikir awal itu dijuluki sebagai armchair anthropologists atau para antropolog kursi lengan yang merenung tanpa pernah menyentuh tanah lapangan. Dengan bahasan terhadap tulisan-tulisan tersebut, para peneliti berupaya membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari masa mula manusia muncul di muka bumi sampai ke masa kini. Mereka bekerja di kamar kerja sendiri dan di perpustakaan, tidak pernah terjun langsung melihat masyarakat primitif yang menjadi objek kajian mereka. Tradisi makan masyarakat luar Eropa seringkali direduksi dalam skema evolusi: dari masyarakat kanibal, pemburu-peramu yang liar, hingga masyarakat agraris yang dianggap setengah beradab. Semua kesimpulan itu diambil tanpa pernah sekalipun sang pemikir mencicipi sagu atau memegang tempayan tradisional.

 

Perubahan besar pun tiba ketika kesadaran akan validitas data mulai digugat. Menjelang akhir abad 19, muncul pemikiran bahwa peneliti perlu melihat sendiri objek kajiannya dengan turun langsung ke lapangan. Penelitian W.H.R. Rivers dari Inggris dan Franz Boas dari Amerika kiranya dapat menjadi contoh dari model penelitian ini. Mereka mulai mengepak koper, meninggalkan kenyamanan universitas, dan mendatangi komunitas-komunitas adat. Walaupun demikian, penelitian mereka dirasa masih berorientasi pada seorang informan, yang tujuannya mendapatkan informasi dari subjek masyarakat yang diteliti. Mereka membawa informan ke beranda pos kolonial, mewawancarainya berjam-jam tentang adat makan, alih-alih ikut melebur dalam dapur komunitas tersebut.

 

Lompatan epistemologis yang radikal baru benar-benar terjadi pasca-Perang Dunia Pertama. Selanjutnya, metode Etnografi modern muncul tahun 1915-1925, dipelopori oleh A.R. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski. Etnografi jenis baru ini berfokus pada kehidupan masa kini yang sedang dijalani oleh anggota masyarakat, yaitu tentang way of life masyarakat tersebut. Kebudayaan tidak lagi dilihat sebagai fosil hidup dari masa lalu yang harus direkonstruksi evolusinya, melainkan sebuah sistem yang fungsional dan hidup hari ini.

 

Malinowski, yang terdampar di Kepulauan Trobriand, meletakkan standar baru yang tak tergoyahkan. Oleh sebab itu, tidak hanya melakukan wawancara dengan informan tetapi juga melakukan observasi sambil berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat tersebut. Untuk memahami pentingnya ubi jalar (yam) dalam masyarakat Trobriand, Malinowski tidak sekadar bertanya; ia ikut ke kebun, menyaksikan ketegangan magis saat panen, dan melihat bagaimana ubi jalar tersebut didistribusikan dalam pesta-pesta makan yang rumit. Makan bukan lagi teks mati, melainkan sebuah pertunjukan sosial yang dinamis.

 

Struktur Pikiran dan Lidah yang Berkata

 

Karakteristik khas etnografi pasca-Malinowski menjadi kian rigid sekaligus puitis. Syarat utama dalam studi etnografi adalah peneliti itu sendiri harus hidup di antara objek dan subjek yang ditelitinya untuk waktu yang relatif cukup bagi si peneliti untuk dapat hidup terintegrasi dengan masyarakat yang ditelitinya. Keberadaan peneliti dibutuhkan agar dapat mengembangkan kepekaannya dalam berpikir, merasakan dan menginterpretasikan hasil-historis pengamatannya dengan menggunakan konsep-konsep yang ada dalam pemikiran, perasaan-perasaan, dan nilai-nilai dari yang diteliti. Peneliti tradisi Makan Patita di Maluku atau Bugis, misalnya, harus bisa merasakan kehangatan yang timbul ketika sekat-sekat ketegangan politik mencair di depan hidangan ikan bakar yang disajikan di atas meja panjang terbuka.

 

Seiring berjalannya waktu, bentang teoretis antropologi kembali merekah. Selanjutnya etnografi berkembang menjadi etnografi baru yang bersumber dari aliran antropologi yang disebut cognitive anthropology atau ethnoscience. Etnografi baru ini memusatkan perhatiannya untuk menemukan bagaimana berbagai masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan. Fokusnya bergeser: bukan lagi pada perilaku luar yang tampak, melainkan pada sistem klasifikasi mental yang ada di dalam kepala aktor kebudayaan.

 

Metode ini mulanya bertolak pada definisi budaya menurut Ward Goodenough pada Cultural Anthropology and Linguistics (1957) yang berpendapat bahwa budaya bukanlah suatu fenomena material, akan tetapi sebuah pengorganisasian atas benda-benda, manusia, perilaku, atau emosi yang dimiliki oleh manusia dalam pikiran (mind). Kebudayaan bukanlah piring porselen atau nasi liwet itu sendiri, melainkan cetak biru kognitif yang memberi tahu seseorang kapan nasi liwet itu pantas disajikan, dengan siapa ia boleh disantap, dan emosi kebersamaan apa yang harus hadir ketika daun pisang mulai digelar dalam ritus Cucurak.

 

Secara sederhana, budaya dipandang berada dalam pikiran manusia dan bentuknya adalah organisasi pikiran tentang fenomena material. Tugas etnografi adalah menemukan dan menggambarkan organisasi pikiran tersebut. Jika kebudayaan adalah sebuah kode kelakuan, maka tugas etnografer adalah meretas kode tersebut. Kemudian, jalan yang tepat untuk memperoleh pengetahuan budaya yang tersimpan dalam pikiran itu adalah melalui bahasa. Sebab, bagaimanakah kita bisa mengetahui cara seseorang mengelompokkan dunianya tanpa mendengarkan bagaimana ia menamai benda-benda di sekitarnya?

 

Inti dari etnografi adalah upaya untuk memahami kebudayaan manusia dengan memperhatikan makna-makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Beberapa makna tersebut terekspresikan dalam bahasa. Oleh karena itu, studi bahasa suatu masyarakat adalah titik masuk, sekaligus aspek utama dalam etnografi. Pendekatan apapun yang digunakan sang etnografer seperti pengamatan terlibat, wawancara etnografis, mengumpulkan kisah-kisah kehidupan atau strategi lainnya, bahasa akan selalu muncul pada setiap fase dalam proses penelitian. Jika kita membagi pekerjaan etnografi menjadi dua tugas utama, yaitu penemuan (discovery) dan deskripsi, maka kita dapat melihat dengan jelas peran penting yang dimainkan oleh bahasa.

 

Dalam konteks tradisi makan, perbedaan bahasa ini memegang kunci krusial. Ketika masyarakat Melayu Pontianak menyebut kata Saprahan, kata itu tidak merujuk pada aktivitas "makan" semata, melainkan sebuah tata ruang kosmis: satu kelompok harus terdiri dari okeh enam orang, duduk bersila membentuk formasi tertentu, dengan hidangan yang diletakkan di tengah. Bahasa menyimpan kategori-kategori tindakan ini dengan sangat rapi. Tanpa penguasaan terminologi lokal, seorang peneliti hanya akan melihat enam orang yang sedang berebut lauk.

 

Namun, di sinilah ironi metodologis seringkali terjadi. Pada tahun-tahun belakangan ini, ketika para etnografer semakin banyak melakukan penelitian di dalam masyarakatnya sendiri, maka kepentingan untuk mempelajari bahasa penduduk asli menjadi terabaikan. Pengabaikan ini terjadi dikarenakan bahasa yang digunakan etnografer dinilai identik oleh mereka dengan bahasa yang digunakan oleh subjek yang ditelitinya. Peneliti asal Jawa yang meneliti tradisi Kembul Bujana di Yogyakarta, misalnya, seringkali merasa sudah memahami segala hal hanya karena mereka berbicara bahasa yang sama secara vernakular.

 

Padahal bila dicermati, sesungguhnya perbedaan semantik tetap ada di dalamnya, dan perbedaan ini mempunyai pengaruh yang sangat dalam pada penelitian etnografi. Kata bancakan bagi seorang ibu di pedesaan Klaten mungkin memiliki resonansi spiritualitas yang mendalam tentang keselamatan anak, sementara bagi seorang peneliti muda perkotaan, kata yang sama mungkin hanya berkonsep sebagai "pesta makan gratis yang estetis untuk media sosial". Pergeseran semantik yang halus ini jika diabaikan akan melahirkan laporan yang hambar dan meleset.

 

Etnografer yang bekerja di lingkungan masyarakat yang kompleks harus mengetahui keberadaan perbedaan bahasa yang tidak kentara namun penting itu. Misalnya saja bagaimana anak-anak berbicara dengan bahasa yang sedikit berbeda ketika bersama dengan kawan-kawannya di sekolah dibandingkan ketika mereka berbicara dengan orang tuanya di rumah. Para mahasiswa memberikan kata-kata yang artinya berbeda dengan kata-kata yang dimiliki dosen mereka. Kelompok-kelompok pekerja mempunyai bahasa-bahasa khusus sendiri. Karena sebetulnya dalam kelompok-kelompok budaya yang sama dari masyarakat yang kompleks, terdapat suasana budaya (cultural scenes) yang diketahui oleh beberapa orang tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Kehidupan kita setiap hari diliputi oleh berbagai situasi sosial yang berbeda dan berhadapan dengan berbagai permasalahan yang berbeda.

 

Menelusuri Alur Berpikir Spradley

 

Di sinilah kontribusi James Spradley menemukan momentumnya yang paling berharga. Metode etnografi merupakan salah satu tipe penelitian yang khas dan mulai berkembang sejak tahun 1960-an. Dalam perkembangannya etnografi kemudian memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana berbagai masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan. Dalam etnografi baru, bentuk sosial dan budaya masyarakat dianggap merupakan susunan yang ada dalam pikiran (mind) anggota masyarakat tersebut, dan tugas sang peneliti adalah membawanya keluar dari pikiran mereka.

 

Secara spesifik Spradley dalam buku yang sudah ada terjemahannya, Metode Etnografi (2006: 25), mendefinisikan budaya sebagai sistem pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses belajar, yang mereka gunakan untuk menginterpretasikan dunia sekeliling mereka, dan sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekeliling mereka. Melalui lensa Spradley, tradisi Tuan Yuan Fan atau Makan Malam Imlek dalam kebudayaan Tionghoa dapat dibedah sebagai sebuah strategi kognitif. Mengapa ikan utuh harus disajikan dan tidak boleh dibalik saat disantap? Karena dalam sistem pengetahuan mereka, kata untuk ikan (yu) berbunyi sama dengan kata yang berarti "kelimpahan". Tradisi makan adalah operasionalisasi dari sistem pengetahuan tersebut demi menyusun strategi menghadapi tahun yang baru.

 

Metode etnografi model Spradley berasal dari tradisi antropologi kognitif dengan definisi budaya yang dirumuskan oleh Goodenough. Definisi budaya Goodenough ini berbeda dengan definisi Geertz, atau Levi-Strauss, atau Marvin Harris. Sebagai konsekuensinya, model etnografi mereka juga berbeda. Geertz dengan model aliran semiotiknya yang melihat kebudayaan sebagai teks publik yang harus ditafsirkan; Levi-Strauss dengan aliran struktural ala Prancisnya yang mencari struktur universal dari pikiran manusia di balik mitos dan aturan perkawinan; dan Marvin Harris dengan aliran ekologi dan kultural materialismenya yang mungkin akan melihat tradisi makan semata-mata sebagai adaptasi teknologi untuk efisiensi protein dalam lingkungan tertentu.

 

Etnografi model Spradley, meskipun tergolong ke dalam generasi kedua dalam antropologi kognitif, namun beliau mempunyai banyak hal yang khas pada dirinya sendiri, khususnya dalam hal prosedur dan fungsi etnografi yang umumnya berisi tentang pengalaman pribadi sang etnografer. Spradley tidak membiarkan peneliti tersesat dalam rimba abstraksi teoretis yang mengawang-awang. Ia memberikan kompas yang jelas, sebuah panduan langkah demi langkah yang membumi bagi siapa saja yang ingin membongkar rahasia kebudayaan dari dalam.

 

Bila dalam kebanyakan buku panduan mengarang bagi penulis pemula selalu dikatakan bahwa cara terbaik dalam belajar menulis adalah menulis, tulis, dan terus tulis, maka sebagaimana saran tersebut, Spradley menyarankan bahwa cara terbaik untuk mempelajari etnografi adalah melakukannya, kerjakan, kerjakan, dan terus kerjakan. Antropologi bukanlah sains kontemplatif yang dipelajari dari balik menara gading. Ia adalah keahlian praktis yang diasah melalui debu lapangan, aroma masakan di dapur-dapur informan, dan kesabaran mendengarkan percakapan yang berulang-ulang.

 

Walaupun demikian, agar pekerjaan etnografi ini dapat dilakukan secara sistematis, terarah, dan efektif diperlukan suatu metode yang oleh Spradley disebut dengan The Developmental Research Sequence (Alur Penelitian Maju Bertahap). Metode ini didasarkan pada lima prinsip yaitu: teknik tunggal, identifikasi tugas, maju bertahap, penelitian orisinal, dan problem-solving. Pertama, teknik tunggal. Dalam suatu penelitian etnografi, peneliti sebetulnya dapat menerapkan berbagai teknik penelitian secara bersamaan dalam satu fase penelitian, seperti melakukan wawancara etnografik, observasi partisipasi, membuat peta genealogis, dan sebagainya. Akan tetapi dalam metode alur penelitian maju bertahap ini, Spradley menganjurkan agar peneliti khususnya peneliti pemula agar berkonsentrasi menggunakan satu teknik tertentu saja dalam sebuah tahap penelitian.

 

Kedua, identifikasi tugas. Dalam metode alur penelitian maju bertahap, peneliti diharapkan mengenali langkah-langkah pokok yang harus dilaluinya. Terdapat 12 langkah pokok dalam teknik wawancara etnografis yang dirumuskan Spradley untuk membongkar sistem pengetahuan informan. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut: (1) menetapkan informan, (2) mewawancarai informan, (3) membuat catatan etnografis, (4) mengajukan pertanyaan deskriptif, (5) menganalisis wawancara etnografis, (6) membuat analisis domain, (7) mengajukan pertanyaan struktural, (8) membuat analisis taksonomik, (9) mengajukan pertanyaan kontras, (10) membuat analisis komponen, (11) menemukan tema-tema budaya, dan (12) menulis suatu etnografi.

 

Ketiga, maju bertahap. Setiap langkah pokok dalam metode alur penelitian maju bertahap sebaiknya dilakukan secara berurutan atau bertahap. Ketika meneliti tradisi Makan Beradab pada pernikahan Melayu, peneliti tidak bisa melompat langsung mencari tema budaya sebelum ia melakukan analisis domain terhadap jenis-jenis hidangan dan analisis taksonomik terhadap urutan siapa yang berhak menyuapi mempelai. Hal ini akan memudahkan peneliti dalam menghasilkan tulisan etnografi pada akhir penelitian karena dengan melakukannya secara bertahap akan diperoleh suatu deskripsi etnografis yang orisinal.

 

Keempat, penelitian orisinal. Mempelajari tentang melakukan penelitian etnografis ini tentunya harus dipraktikkan langsung oleh peneliti dan dalam projek penelitian sungguhan, bukan sekedar untuk kepentingan latihan saja. Menurut Spradley bahwa cara yang terbaik untuk belajar etnografi adalah dengan melakukannya. Peneliti harus benar-benar terjun ke perayaan Imlek di Pecinan, duduk di barisan penonton perjamuan adat Saprahan, atau ikut mengaduk nasi liwet di dapur warga Sunda saat Cucurak. Pengalaman empiris yang otentik ini tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan maupun tumpukan buku teks di perpustakaan.

 

Kelima, penyelesaian masalah (problem-solving). Metode alur penelitian maju bertahap ini didasarkan atas pemikiran Spradley bahwa cara pandang “ilmu untuk ilmu” sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan masa kini. Menurutnya ilmu harus memiliki kegunaan praktis dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan. Begitupula halnya dengan penelitian etnografi, seorang peneliti yang berhasil adalah juga seorang penyelesai masalah (problem solver). Ketika tradisi makan bersama mulai terkikis oleh individualisme modernisme perkotaan, di mana manusia makan sendirian menatap layar gawai, etnografi hadir bukan hanya untuk meratapinya. Etnografi menyajikan kembali nilai kesetaraan dari Makan Bajamba, gotong royong dari Megibung, dan persaudaraan dari Makan Patita sebagai sebuah refleksi kritis: bahwa di dalam sepiring makanan yang kita santap bersama orang lain, di situlah kemanusiaan kita sesungguhnya dirawat dan diselamatkan.

Pada akhirnya, sebuah kesimpulan perlahan-lahan mengendap:

"Objektivitas seorang etnografer tidak lahir dari jarak yang dingin atau penolakan atas rasa, melainkan dari keberanian untuk duduk di sebuah meja perjamuan, ikut mengunyah hidangan yang sama, namun tetap terjaga untuk membaca bahwa di balik keriuhan tradisi makan-makan itu ada sebuah tertib sosial dan struktur pikiran yang sedang bekerja tanpa suara."***

 

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now