Oleh: Syamsul Kurniawan
ADA sesuatu
yang luput ketika kita melihat sepiring nasi yang mengepul di atas meja, atau
sejumput sagu yang dihidangkan di atas daun pisang. Bagi mata yang
tergesa-gesa, makanan hanyalah seonggok materi: kalori yang dibakar, protein
yang diserap, atau rasa lapar yang dipadamkan. Namun, antropologi tidak pernah
tumbuh dari ketergesaan yang dangkal semacam itu. Memahami masyarakat manusia
merupakan suatu upaya yang selalu menarik untuk dilakukan. Di tengah-tengah
upaya tersebutlah, etnografi hadir. Etnografi berusaha memberikan pemahaman
yang berangkat dari pemahaman budaya masyarakat yang ingin dipahami, sebuah
pintu masuk untuk melihat bahwa di balik kunyahan mulut, ada struktur dunia
yang sedang dipertahankan.
Makan,
dengan demikian, bukanlah sekadar urusan biologis yang sunyi. Ia adalah sebuah
ritus, sebuah pemanggungan identitas, dan peta kognitif yang rumit. Ketika
masyarakat Minangkabau berkumpul untuk Makan Bajamba, atau ketika orang
Sunda menggelar daun pisang untuk Cucurak, mereka tidak sedang melakukan
kegiatan pengisian energi mekanis. Etnografi merupakan salah satu model
penelitian yang lebih banyak terkait dengan antropologi, yang mempelajari
peristiwa kultural, yang menyajikan pandangan hidup subjek yang menjadi objek
penelitian. Melalui piring-piring yang diedarkan, kita melihat bagaimana
kekuasaan dinegosiasikan, keintiman dirajut, dan kosmologi sebuah suku
dilekatkan pada cita rasa.
Sejarah
mencatat bahwa kita tidak bisa mengisolasi tradisi makan dari bagaimana ilmu
manusia ini dibentuk. Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai
metode penelitian dapat dianggap sebagai dasar dan asal usul ilmu antropologi.
Dari catatan-catatan awal para penjelajah mengenai apa yang dimakan oleh
"si Liyan" di pulau-pulau yang jauh, antropologi merangkak tumbuh.
Makanan kerap kali menjadi penanda pertama yang memisahkan antara "yang
beradab" dan "yang liar", sebuah pemisahan yang kelak disadari
oleh para antropolog modern sebagai sebuah kenaifan kolonial yang problematik.
Jika
kita melacak asal-usulnya, etnografi ditinjau secara harfiah dapat berarti
tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang
antropolog atas hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian
bulan atau sekian tahun. Laporan-laporan awal ini dipenuhi oleh detail-detail
yang eksotis: bagaimana sekelompok orang di pedalaman Pasifik mengolah
umbi-umbian, atau bagaimana sebuah suku di Afrika memperlakukan hewan ternak
mereka bukan sebagai komoditas, melainkan sebagai bagian dari silsilah
kekerabatan. Makan adalah pusat dari seluruh drama sosial tersebut.
Namun,
sebuah laporan lapangan tidak pernah menjadi kamera yang netral. Etnografi
dapat dipahami sebagai gambaran sebuah kebudayaan yaitu gambaran kebudayaan
sebuah masyarakat yang merupakan hasil konstruksi peneliti dari berbagai
informasi yang diperolehnya selama melakukan penelitian di lapangan dan dengan
fokus permasalahan tertentu. Ketika seorang etnografer menulis tentang tradisi Saprahan
di Sambas atau Pontianak, ia tidak sedang menyalin menu masakan. Ia sedang
mengonstruksi sebuah narasi tentang bagaimana struktur sosial Melayu mengatur
duduknya para tetua, bagaimana lauk dibagi secara presisi, dan bagaimana rasa
hormat dialirkan melalui kuah paceri nanas.
Kedalaman
dan Pergeseran Waktu
Di
sinilah letak kekuatannya. Ciri khas dari metode penelitian lapangan etnografi
ini adalah sifatnya yang menyeluruh dan terpadu (holistic-integratif),
deskripsi yang kaya (thick description) dan analisa kualitatif dalam
rangka mendapatkan cara pandang pemilik kebudayaan. Memahami tradisi makan
tidak bisa dilepaskan dari cara masyarakat tersebut bertani, sistem kepercayaan
mereka terhadap roh leluhur, hingga struktur kekerabatan mereka. Kita
memerlukan deskripsi yang karib, yang tidak hanya melihat apa yang ada di atas
piring, tetapi juga makna dari kerlingan mata antara mereka yang sedang
mengunyah bersama.
Untuk
mencapai kedalaman itu, metode yang digunakan tidak bisa instan. Teknik
pengumpulan data yang utama adalah observasi partisipasi dan juga wawancara
terbuka dan mendalam yang dilakukan dalam jangka waktu relatif panjang, bukan
kunjungan singkat dengan daftar pertanyaan terstruktur seperti pada penelitian
survey. Seorang peneliti tidak akan pernah memahami mengapa dalam tradisi Megibung
di Bali, satu talam besar harus dihabiskan bersama tanpa sisa, jika ia hanya
datang membawa kuesioner, membagikannya, lalu pulang sore harinya menumpang bus
pariwisata. Ia harus ikut duduk bersila, merasakan pegal di kaki, dan ikut
merasakan kepedasan sambal yang sama.
Pada
mulanya, dorongan untuk melakukan pengamatan ini lahir dari rasa penasaran yang
berjarak. Umumnya etnografi digunakan oleh sebagian peneliti untuk memahami
“kebudayaan lain” (other cultures). Ada hasrat Barat untuk memahami
Timur, atau hasrat masyarakat Urban untuk menengok masyarakat Pedalaman.
Tradisi makan yang eksotis menjadi magnet utama. Mengapa orang di Timur Tengah
menyantap nasi Mandi atau Kebuli langsung dengan tangan kanan
dalam talam besar yang dikerumuni lima orang? Pertanyaan-pertanyaan tentang
yang "lain" inilah yang membentuk pondasi awal ilmu ini.
Tetapi
etnografi modern melangkah lebih jauh dari sekadar koleksi keunikan. Etnografi
merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Tujuan utama aktivitas
ini adalah untuk memahami suatu pandangan hidup melalui sudut pandang si
pemilik kebudayaan tersebut dengan berupaya memahami sudut pandangnya,
hubungannya dengan kehidupan, dan mendapatkan persepsinya mengenai dunianya.
Sehingga, selain mempelajari masyarakat, etnografi juga berarti belajar dari
masyarakat. Melalui tradisi makan, kita belajar tentang bagaimana manusia
mendefinisikan batas antara yang bersih dan yang kotor, yang sakral dan yang
profan.
Clifford
Geertz, dalam esai monumentalnya yang termaktub di The Interpretation of
Cultures (1973), memberikan landasan yang kokoh bagi cara kerja ini.
Berpendapat bahwa ketika kita ingin memahami suatu ilmu pengetahuan,
pertama-tama seharusnya kita tidak hanya melihat pada teori-teori atau temuan
yang telah ada, dan bukan pula apa yang dikatakan oleh antropologis tentang
ilmu pengetahuan itu, namun kita perlu melihat pada apa yang telah dilakukan
oleh para praktisi dan dalam antropologi sosial, apa yang dilakukan oleh
praktisi adalah etnografi.
“...
if you want to understand what a science is, you should look in the first
instance not at its theories or its findings, and certainly not at what its
apologists say about it; you should look at what the practitioners of it do.”
(1973: 5)
Bagi
Geertz, menganalisis kebudayaan bukanlah sebuah ilmu eksperimental yang mencari
hukum-hukum, melainkan sebuah ilmu interpretatif yang mencari makna. Melakukan
etnografi tidak hanya membangun hubungan, memilih informan, menyalin teks,
mengambil silsilah, membuat pemetaan, menulis catatan harian, dan sebagainya.
Akan tetapi merupakan upaya intelektual dalam memahami kebudayaan manusia.
“In
anthropology, or anyway social anthropology, what the practitioners do is
ethnography. And it is in understanding what ethnography is, or more exactly
what doing ethnography is that a start can be made toward grasping what
anthropological analysis amounts to as a form of knowledge.” (1973: 5-6)
Ketika
kita menganalisis tradisi Bancakan di Jawa, kita tidak sedang menghitung
jumlah kalori nasi tumpeng, melainkan menafsirkan jalinan simbol dari kerucut
nasi yang menjulang sebagai representasi hubungan vertikal manusia dengan
Gusti, dan hamparan lauk sebagai hubungan horizontal antarsaudara.
Genealogi
Metode dan Bentuk yang Berubah
Namun,
bagaimanakah metode ini mewujud dalam bentangan sejarah? Kapan terjadi
pergeseran yang mengubah cara pandang kita terhadap kebudayaan? Kita harus
menengok ke belakang, ke masa-masa di mana antropologi masih berupa sains yang
berjarak. Era awal mula etnografi hanya dilakukan melalui kajian di
perpustakaan. Proses kajian yang dilakukan dalam menemukan teori-teori
kebudayaan hanya melalui bahan-bahan tulisan tentang berbagai suku di dunia
yang dikumpulkan oleh para musafir, penyebar agama, pegawai kolonial dan
penjelajah alam.
Para
pemikir awal itu dijuluki sebagai armchair anthropologists atau para
antropolog kursi lengan yang merenung tanpa pernah menyentuh tanah lapangan.
Dengan bahasan terhadap tulisan-tulisan tersebut, para peneliti berupaya
membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari masa mula
manusia muncul di muka bumi sampai ke masa kini. Mereka bekerja di kamar kerja
sendiri dan di perpustakaan, tidak pernah terjun langsung melihat masyarakat
primitif yang menjadi objek kajian mereka. Tradisi makan masyarakat luar Eropa
seringkali direduksi dalam skema evolusi: dari masyarakat kanibal,
pemburu-peramu yang liar, hingga masyarakat agraris yang dianggap setengah
beradab. Semua kesimpulan itu diambil tanpa pernah sekalipun sang pemikir
mencicipi sagu atau memegang tempayan tradisional.
Perubahan
besar pun tiba ketika kesadaran akan validitas data mulai digugat. Menjelang
akhir abad 19, muncul pemikiran bahwa peneliti perlu melihat sendiri objek
kajiannya dengan turun langsung ke lapangan. Penelitian W.H.R. Rivers dari
Inggris dan Franz Boas dari Amerika kiranya dapat menjadi contoh dari model
penelitian ini. Mereka mulai mengepak koper, meninggalkan kenyamanan
universitas, dan mendatangi komunitas-komunitas adat. Walaupun demikian,
penelitian mereka dirasa masih berorientasi pada seorang informan, yang
tujuannya mendapatkan informasi dari subjek masyarakat yang diteliti. Mereka
membawa informan ke beranda pos kolonial, mewawancarainya berjam-jam tentang
adat makan, alih-alih ikut melebur dalam dapur komunitas tersebut.
Lompatan
epistemologis yang radikal baru benar-benar terjadi pasca-Perang Dunia Pertama.
Selanjutnya, metode Etnografi modern muncul tahun 1915-1925, dipelopori oleh
A.R. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski. Etnografi jenis baru ini
berfokus pada kehidupan masa kini yang sedang dijalani oleh anggota masyarakat,
yaitu tentang way of life masyarakat tersebut. Kebudayaan tidak lagi
dilihat sebagai fosil hidup dari masa lalu yang harus direkonstruksi
evolusinya, melainkan sebuah sistem yang fungsional dan hidup hari ini.
Malinowski,
yang terdampar di Kepulauan Trobriand, meletakkan standar baru yang tak
tergoyahkan. Oleh sebab itu, tidak hanya melakukan wawancara dengan informan
tetapi juga melakukan observasi sambil berpartisipasi dalam kehidupan
masyarakat tersebut. Untuk memahami pentingnya ubi jalar (yam) dalam
masyarakat Trobriand, Malinowski tidak sekadar bertanya; ia ikut ke kebun,
menyaksikan ketegangan magis saat panen, dan melihat bagaimana ubi jalar
tersebut didistribusikan dalam pesta-pesta makan yang rumit. Makan bukan lagi
teks mati, melainkan sebuah pertunjukan sosial yang dinamis.
Struktur
Pikiran dan Lidah yang Berkata
Karakteristik
khas etnografi pasca-Malinowski menjadi kian rigid sekaligus puitis. Syarat
utama dalam studi etnografi adalah peneliti itu sendiri harus hidup di antara
objek dan subjek yang ditelitinya untuk waktu yang relatif cukup bagi si
peneliti untuk dapat hidup terintegrasi dengan masyarakat yang ditelitinya.
Keberadaan peneliti dibutuhkan agar dapat mengembangkan kepekaannya dalam
berpikir, merasakan dan menginterpretasikan hasil-historis pengamatannya dengan
menggunakan konsep-konsep yang ada dalam pemikiran, perasaan-perasaan, dan
nilai-nilai dari yang diteliti. Peneliti tradisi Makan Patita di Maluku
atau Bugis, misalnya, harus bisa merasakan kehangatan yang timbul ketika
sekat-sekat ketegangan politik mencair di depan hidangan ikan bakar yang
disajikan di atas meja panjang terbuka.
Seiring
berjalannya waktu, bentang teoretis antropologi kembali merekah. Selanjutnya
etnografi berkembang menjadi etnografi baru yang bersumber dari aliran
antropologi yang disebut cognitive anthropology atau ethnoscience.
Etnografi baru ini memusatkan perhatiannya untuk menemukan bagaimana berbagai
masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian
menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan. Fokusnya bergeser: bukan lagi pada
perilaku luar yang tampak, melainkan pada sistem klasifikasi mental yang ada di
dalam kepala aktor kebudayaan.
Metode
ini mulanya bertolak pada definisi budaya menurut Ward Goodenough pada Cultural
Anthropology and Linguistics (1957) yang berpendapat bahwa budaya bukanlah
suatu fenomena material, akan tetapi sebuah pengorganisasian atas benda-benda,
manusia, perilaku, atau emosi yang dimiliki oleh manusia dalam pikiran (mind).
Kebudayaan bukanlah piring porselen atau nasi liwet itu sendiri, melainkan
cetak biru kognitif yang memberi tahu seseorang kapan nasi liwet itu pantas
disajikan, dengan siapa ia boleh disantap, dan emosi kebersamaan apa yang harus
hadir ketika daun pisang mulai digelar dalam ritus Cucurak.
Secara
sederhana, budaya dipandang berada dalam pikiran manusia dan bentuknya adalah
organisasi pikiran tentang fenomena material. Tugas etnografi adalah menemukan
dan menggambarkan organisasi pikiran tersebut. Jika kebudayaan adalah sebuah
kode kelakuan, maka tugas etnografer adalah meretas kode tersebut. Kemudian,
jalan yang tepat untuk memperoleh pengetahuan budaya yang tersimpan dalam
pikiran itu adalah melalui bahasa. Sebab, bagaimanakah kita bisa mengetahui
cara seseorang mengelompokkan dunianya tanpa mendengarkan bagaimana ia menamai
benda-benda di sekitarnya?
Inti
dari etnografi adalah upaya untuk memahami kebudayaan manusia dengan
memperhatikan makna-makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin
kita pahami. Beberapa makna tersebut terekspresikan dalam bahasa. Oleh karena
itu, studi bahasa suatu masyarakat adalah titik masuk, sekaligus aspek utama
dalam etnografi. Pendekatan apapun yang digunakan sang etnografer seperti
pengamatan terlibat, wawancara etnografis, mengumpulkan kisah-kisah kehidupan
atau strategi lainnya, bahasa akan selalu muncul pada setiap fase dalam proses
penelitian. Jika kita membagi pekerjaan etnografi menjadi dua tugas utama, yaitu
penemuan (discovery) dan deskripsi, maka kita dapat melihat dengan jelas
peran penting yang dimainkan oleh bahasa.
Dalam
konteks tradisi makan, perbedaan bahasa ini memegang kunci krusial. Ketika
masyarakat Melayu Pontianak menyebut kata Saprahan, kata itu tidak
merujuk pada aktivitas "makan" semata, melainkan sebuah tata ruang
kosmis: satu kelompok harus terdiri dari okeh enam orang, duduk bersila
membentuk formasi tertentu, dengan hidangan yang diletakkan di tengah. Bahasa
menyimpan kategori-kategori tindakan ini dengan sangat rapi. Tanpa penguasaan
terminologi lokal, seorang peneliti hanya akan melihat enam orang yang sedang
berebut lauk.
Namun,
di sinilah ironi metodologis seringkali terjadi. Pada tahun-tahun belakangan
ini, ketika para etnografer semakin banyak melakukan penelitian di dalam
masyarakatnya sendiri, maka kepentingan untuk mempelajari bahasa penduduk asli
menjadi terabaikan. Pengabaikan ini terjadi dikarenakan bahasa yang digunakan
etnografer dinilai identik oleh mereka dengan bahasa yang digunakan oleh subjek
yang ditelitinya. Peneliti asal Jawa yang meneliti tradisi Kembul Bujana
di Yogyakarta, misalnya, seringkali merasa sudah memahami segala hal hanya
karena mereka berbicara bahasa yang sama secara vernakular.
Padahal
bila dicermati, sesungguhnya perbedaan semantik tetap ada di dalamnya, dan
perbedaan ini mempunyai pengaruh yang sangat dalam pada penelitian etnografi.
Kata bancakan bagi seorang ibu di pedesaan Klaten mungkin memiliki
resonansi spiritualitas yang mendalam tentang keselamatan anak, sementara bagi
seorang peneliti muda perkotaan, kata yang sama mungkin hanya berkonsep sebagai
"pesta makan gratis yang estetis untuk media sosial". Pergeseran
semantik yang halus ini jika diabaikan akan melahirkan laporan yang hambar dan
meleset.
Etnografer
yang bekerja di lingkungan masyarakat yang kompleks harus mengetahui keberadaan
perbedaan bahasa yang tidak kentara namun penting itu. Misalnya saja bagaimana
anak-anak berbicara dengan bahasa yang sedikit berbeda ketika bersama dengan
kawan-kawannya di sekolah dibandingkan ketika mereka berbicara dengan orang
tuanya di rumah. Para mahasiswa memberikan kata-kata yang artinya berbeda
dengan kata-kata yang dimiliki dosen mereka. Kelompok-kelompok pekerja
mempunyai bahasa-bahasa khusus sendiri. Karena sebetulnya dalam
kelompok-kelompok budaya yang sama dari masyarakat yang kompleks, terdapat
suasana budaya (cultural scenes) yang diketahui oleh beberapa orang
tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Kehidupan kita setiap hari diliputi
oleh berbagai situasi sosial yang berbeda dan berhadapan dengan berbagai
permasalahan yang berbeda.
Menelusuri
Alur Berpikir Spradley
Di
sinilah kontribusi James Spradley menemukan momentumnya yang paling berharga.
Metode etnografi merupakan salah satu tipe penelitian yang khas dan mulai
berkembang sejak tahun 1960-an. Dalam perkembangannya etnografi kemudian
memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana berbagai masyarakat
mengorganisasikan budaya mereka dalam pikiran mereka dan kemudian menggunakan
budaya tersebut dalam kehidupan. Dalam etnografi baru, bentuk sosial dan budaya
masyarakat dianggap merupakan susunan yang ada dalam pikiran (mind)
anggota masyarakat tersebut, dan tugas sang peneliti adalah membawanya keluar
dari pikiran mereka.
Secara
spesifik Spradley dalam buku yang sudah ada terjemahannya, Metode Etnografi
(2006: 25), mendefinisikan budaya sebagai sistem pengetahuan yang diperoleh
manusia melalui proses belajar, yang mereka gunakan untuk menginterpretasikan
dunia sekeliling mereka, dan sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam
menghadapi dunia sekeliling mereka. Melalui lensa Spradley, tradisi Tuan
Yuan Fan atau Makan Malam Imlek dalam kebudayaan Tionghoa dapat dibedah
sebagai sebuah strategi kognitif. Mengapa ikan utuh harus disajikan dan tidak
boleh dibalik saat disantap? Karena dalam sistem pengetahuan mereka, kata untuk
ikan (yu) berbunyi sama dengan kata yang berarti "kelimpahan".
Tradisi makan adalah operasionalisasi dari sistem pengetahuan tersebut demi
menyusun strategi menghadapi tahun yang baru.
Metode
etnografi model Spradley berasal dari tradisi antropologi kognitif dengan
definisi budaya yang dirumuskan oleh Goodenough. Definisi budaya Goodenough ini
berbeda dengan definisi Geertz, atau Levi-Strauss, atau Marvin Harris. Sebagai
konsekuensinya, model etnografi mereka juga berbeda. Geertz dengan model aliran
semiotiknya yang melihat kebudayaan sebagai teks publik yang harus ditafsirkan;
Levi-Strauss dengan aliran struktural ala Prancisnya yang mencari struktur
universal dari pikiran manusia di balik mitos dan aturan perkawinan; dan Marvin
Harris dengan aliran ekologi dan kultural materialismenya yang mungkin akan
melihat tradisi makan semata-mata sebagai adaptasi teknologi untuk efisiensi
protein dalam lingkungan tertentu.
Etnografi
model Spradley, meskipun tergolong ke dalam generasi kedua dalam antropologi
kognitif, namun beliau mempunyai banyak hal yang khas pada dirinya sendiri,
khususnya dalam hal prosedur dan fungsi etnografi yang umumnya berisi tentang
pengalaman pribadi sang etnografer. Spradley tidak membiarkan peneliti tersesat
dalam rimba abstraksi teoretis yang mengawang-awang. Ia memberikan kompas yang
jelas, sebuah panduan langkah demi langkah yang membumi bagi siapa saja yang
ingin membongkar rahasia kebudayaan dari dalam.
Bila
dalam kebanyakan buku panduan mengarang bagi penulis pemula selalu dikatakan
bahwa cara terbaik dalam belajar menulis adalah menulis, tulis, dan terus
tulis, maka sebagaimana saran tersebut, Spradley menyarankan bahwa cara terbaik
untuk mempelajari etnografi adalah melakukannya, kerjakan, kerjakan, dan terus
kerjakan. Antropologi bukanlah sains kontemplatif yang dipelajari dari balik
menara gading. Ia adalah keahlian praktis yang diasah melalui debu lapangan,
aroma masakan di dapur-dapur informan, dan kesabaran mendengarkan percakapan
yang berulang-ulang.
Walaupun
demikian, agar pekerjaan etnografi ini dapat dilakukan secara sistematis,
terarah, dan efektif diperlukan suatu metode yang oleh Spradley disebut dengan The
Developmental Research Sequence (Alur Penelitian Maju Bertahap). Metode ini
didasarkan pada lima prinsip yaitu: teknik tunggal, identifikasi tugas, maju
bertahap, penelitian orisinal, dan problem-solving. Pertama, teknik
tunggal. Dalam suatu penelitian etnografi, peneliti sebetulnya dapat menerapkan
berbagai teknik penelitian secara bersamaan dalam satu fase penelitian, seperti
melakukan wawancara etnografik, observasi partisipasi, membuat peta genealogis,
dan sebagainya. Akan tetapi dalam metode alur penelitian maju bertahap ini,
Spradley menganjurkan agar peneliti khususnya peneliti pemula agar
berkonsentrasi menggunakan satu teknik tertentu saja dalam sebuah tahap
penelitian.
Kedua,
identifikasi tugas. Dalam metode alur penelitian maju bertahap, peneliti
diharapkan mengenali langkah-langkah pokok yang harus dilaluinya. Terdapat 12
langkah pokok dalam teknik wawancara etnografis yang dirumuskan Spradley untuk
membongkar sistem pengetahuan informan. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai
berikut: (1) menetapkan informan, (2) mewawancarai informan, (3) membuat
catatan etnografis, (4) mengajukan pertanyaan deskriptif, (5) menganalisis
wawancara etnografis, (6) membuat analisis domain, (7) mengajukan pertanyaan
struktural, (8) membuat analisis taksonomik, (9) mengajukan pertanyaan kontras,
(10) membuat analisis komponen, (11) menemukan tema-tema budaya, dan (12)
menulis suatu etnografi.
Ketiga,
maju bertahap. Setiap langkah pokok dalam metode alur penelitian maju bertahap
sebaiknya dilakukan secara berurutan atau bertahap. Ketika meneliti tradisi Makan
Beradab pada pernikahan Melayu, peneliti tidak bisa melompat langsung
mencari tema budaya sebelum ia melakukan analisis domain terhadap jenis-jenis
hidangan dan analisis taksonomik terhadap urutan siapa yang berhak menyuapi
mempelai. Hal ini akan memudahkan peneliti dalam menghasilkan tulisan etnografi
pada akhir penelitian karena dengan melakukannya secara bertahap akan diperoleh
suatu deskripsi etnografis yang orisinal.
Keempat,
penelitian orisinal. Mempelajari tentang melakukan penelitian etnografis ini
tentunya harus dipraktikkan langsung oleh peneliti dan dalam projek penelitian
sungguhan, bukan sekedar untuk kepentingan latihan saja. Menurut Spradley bahwa
cara yang terbaik untuk belajar etnografi adalah dengan melakukannya. Peneliti
harus benar-benar terjun ke perayaan Imlek di Pecinan, duduk di barisan
penonton perjamuan adat Saprahan, atau ikut mengaduk nasi liwet di dapur
warga Sunda saat Cucurak. Pengalaman empiris yang otentik ini tidak akan
pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan maupun tumpukan buku teks di
perpustakaan.
Kelima,
penyelesaian masalah (problem-solving). Metode alur penelitian maju
bertahap ini didasarkan atas pemikiran Spradley bahwa cara pandang “ilmu untuk
ilmu” sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan masa kini. Menurutnya ilmu
harus memiliki kegunaan praktis dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan.
Begitupula halnya dengan penelitian etnografi, seorang peneliti yang berhasil
adalah juga seorang penyelesai masalah (problem solver). Ketika tradisi
makan bersama mulai terkikis oleh individualisme modernisme perkotaan, di mana
manusia makan sendirian menatap layar gawai, etnografi hadir bukan hanya untuk
meratapinya. Etnografi menyajikan kembali nilai kesetaraan dari Makan
Bajamba, gotong royong dari Megibung, dan persaudaraan dari Makan
Patita sebagai sebuah refleksi kritis: bahwa di dalam sepiring makanan yang
kita santap bersama orang lain, di situlah kemanusiaan kita sesungguhnya
dirawat dan diselamatkan.
Pada
akhirnya, sebuah kesimpulan perlahan-lahan mengendap:
"Objektivitas
seorang etnografer tidak lahir dari jarak yang dingin atau penolakan atas rasa,
melainkan dari keberanian untuk duduk di sebuah meja perjamuan, ikut mengunyah
hidangan yang sama, namun tetap terjaga untuk membaca bahwa di balik keriuhan
tradisi makan-makan itu ada sebuah tertib sosial dan struktur pikiran yang
sedang bekerja tanpa suara."***


