Iklan

Gerimis

syamsul kurniawan
Thursday, June 11, 2026
Last Updated 2026-06-12T02:52:57Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

  


Cerpen: Syamsul Kurniawan

 

GERIMIS turun sejak subuh. Tidak deras. Tidak pula cukup lebat untuk membuat orang berlarian mencari tempat berteduh. Ia hanya turun perlahan. Seolah langit sedang berpikir panjang tentang sesuatu yang tidak mampu diselesaikannya.

Jalanan kota masih basah. Lampu-lampu toko baru saja menyala. Di bawah halte tua yang catnya mulai mengelupas, beberapa orang menunggu bus dengan wajah yang sama. Terburu-buru. Letih. Sibuk.

Gerimis memperhatikan mereka. Sudah lama ia memperhatikan manusia. Dan semakin lama ia memperhatikan, semakin banyak pertanyaan yang muncul.

"Mengapa mereka selalu terlihat lelah?"

Suara Gerimis pelan.

Hampir tenggelam bersama bunyi tetes air yang jatuh ke aspal.

Di atas sana, Awan bergerak perlahan. Tubuhnya kelabu. Berat. Seperti menyimpan terlalu banyak cerita.

"Lelah karena hidup," jawab Awan.

"Itu bukan jawaban."

"Memang."

Gerimis terdiam. Ia tidak menyukai jawaban yang menggantung. Tetapi Awan memang selalu begitu. Jarang memberi penjelasan utuh. Jarang menjawab langsung. Karena menurutnya, sebagian jawaban harus ditemukan sendiri.

Dari balik cakrawala timur, Matahari mulai muncul. Perlahan.

Cahayanya membelah sela-sela bangunan dan menari di atas genangan air.

"Aku setuju dengan Gerimis."

Matahari tersenyum.

"Manusia memang aneh."

Awan melirik.

"Kau baru menyadarinya?"

"Tidak."

"Aku hanya belum bosan membicarakannya."

Gerimis tertawa kecil.

Kemudian ia menunjuk ke bawah.

"Lihat laki-laki itu."

Di halte tua, seorang pria duduk sendirian. Usianya sekitar empat puluh tahun. Kemejanya rapi. Tas kerjanya mahal. Sepatunya bersih. Jam tangan mengkilap melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dari luar, hidupnya terlihat baik-baik saja.

Tetapi matanya kosong. Sangat kosong. Seperti jendela rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya.

"Aku melihatnya kemarin," kata Gerimis.

"Aku juga," kata Matahari.

"Dia datang tiga hari berturut-turut."

"Ya."

"Dan selalu duduk di tempat yang sama."

"Ya."

"Lalu?"

Awan menghela napas.

"Kalian terlalu cepat penasaran."

"Tentu saja penasaran."

Gerimis jatuh sedikit lebih deras.

"Dia terlihat seperti seseorang yang kehilangan sesuatu."

Matahari menatap pria itu. Lama. Sangat lama. Lalu menggeleng.

"Bukan."

"Bukan?"

"Bukan kehilangan sesuatu."

"Lalu?"

Matahari tidak menjawab.

Sebaliknya ia bertanya.

"Pernahkah kalian melihat seseorang kehilangan rumah?"

"Pernah."

"Pernahkah melihat seseorang kehilangan pekerjaan?"

"Pernah."

"Pernahkah melihat seseorang kehilangan orang yang dicintainya?"

"Pernah."

Gerimis mengangguk.

Ia telah menyaksikan banyak tangisan selama ribuan tahun.

"Bahkan aku sering menemani mereka menangis."

Matahari tersenyum.

"Itu sebabnya mereka menyebutmu sendu."

Gerimis tidak membalas. Karena itu memang benar. Ia lebih sering hadir saat manusia sedang sedih dibanding saat mereka bahagia.

"Tetapi laki-laki itu berbeda."

"Dari mana kau tahu?" tanya Gerimis.

"Karena yang hilang bukan sesuatu yang bisa ditunjuk."

Gerimis mengernyit.

"Aku tidak mengerti."

Awan tertawa pelan.

"Itulah masalah manusia."

"Apa?"

"Mereka sering tidak sadar apa yang hilang."

***

Pagi semakin terang. Kota mulai sibuk. Bus datang dan pergi. Orang-orang naik dan turun. Tetapi laki-laki itu tetap duduk. Seolah sedang menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Gerimis memperhatikannya.

"Lihat."

"Apa?"

"Dia tidak membuka ponselnya."

Matahari ikut memperhatikan.

Benar.

Pria itu hanya duduk. Menatap jalan. Menatap kendaraan yang berlalu. Menatap dunia yang bergerak. Sementara dirinya sendiri seperti tertinggal jauh di belakang.

"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"

kali ini Gerimis bertanya lebih pelan.

Awan terdiam cukup lama. Seakan sedang memilih kenangan mana yang akan dibukanya.

Kemudian ia berkata,

"Dulu dia suka melukis."

Gerimis terkejut.

"Maksudmu?"

"Dulu dia selalu membawa buku gambar."

"Dulu dia bisa duduk berjam-jam di tepi sungai."

"Dulu dia percaya bahwa hidup harus dijalani dengan hati yang gembira."

Matahari mengangguk.

"Aku ingat."

"Dulu dia sering menatap langit."

"Dulu dia suka menuliskan puisi di belakang buku sekolahnya."

"Dulu dia tertawa keras."

"Dulu dia punya mimpi yang terlalu besar untuk ukuran kota kecil tempatnya tinggal."

Gerimis diam.

Di bawah sana laki-laki itu masih duduk. Tak bergerak. Seolah cerita itu bukan tentang dirinya.

"Lalu apa yang terjadi?"

Awan menjawab,

"Tidak ada."

"Tidak ada?"

"Tidak ada tragedi."

"Tidak ada kecelakaan."

"Tidak ada kematian."

"Tidak ada bencana."

"Lalu?"

"Tahun demi tahun berlalu."

Gerimis menunggu.

"Lalu dia mulai menunda melukis."

"Hanya sebentar."

"Lalu menunda lagi."

"Hanya sebentar."

"Lalu menunda lagi."

"Hanya sebentar."

Matahari melanjutkan,

"Kemudian pekerjaan datang."

"Tanggung jawab datang."

"Tagihan datang."

"Kekhawatiran datang."

"Tuntutan datang."

"Harapan orang lain datang."

Gerimis mulai mengerti. Sedikit. Sangat sedikit.

"Aku masih belum paham."

Matahari tersenyum tipis.

"Karena kehilangan besar tidak selalu terjadi sekaligus."

"Lalu?"

"Kadang ia datang dalam ukuran yang sangat kecil."

"Begitu kecil sampai tidak terasa."

Gerimis terdiam.

Sementara di bawah sana, pria itu akhirnya berdiri. Lalu berjalan perlahan. Melewati trotoar yang basah. Melewati toko bunga. Melewati kedai kopi. Melewati seorang anak kecil yang sedang menggambar sesuatu di trotoar menggunakan kapur warna-warni.

Pria itu berhenti.

Anak kecil itu sedang menggambar langit. Ada awan. Ada matahari. Ada hujan. Gambarnya sederhana. Tetapi penuh warna.

Pria itu menatap gambar itu lama. Sangat lama. Lalu sesuatu bergerak di wajahnya. Sesuatu yang sudah lama tidak terlihat. Kenangan.

***

"Aku tahu sekarang."

Suara Gerimis terdengar lirih.

"Apa?"

"Dia kehilangan dirinya."

Tidak ada yang menjawab. Karena kali ini Gerimis benar.

Pria itu memang tidak kehilangan rumah. Tidak kehilangan pekerjaan. Tidak kehilangan apa pun yang dapat dihitung. Yang hilang adalah sesuatu yang jauh lebih sulit ditemukan.

Dirinya sendiri.

Versi dirinya yang dahulu. Versi yang berani bermimpi. Versi yang mudah tertawa. Versi yang merasa hidup. Bukan sekadar menjalani hidup.

Matahari menatap ke bawah.

"Ada banyak manusia seperti itu."

Gerimis terkejut.

"Sebanyak itu?"

"Lebih banyak daripada yang kau kira."

Awan menambahkan,

"Mereka bangun pagi."

"Pergi bekerja."

"Pulang malam."

"Tertidur."

"Lalu mengulanginya lagi."

"Besok."

"Minggu depan."

"Tahun depan."

"Sampai suatu hari mereka berdiri di depan cermin."

"Lalu bertanya."

'Siapa aku sebenarnya?'

Gerimis tidak berkata apa-apa.

Karena pertanyaan itu terlalu berat.

Bahkan untuk langit.

***

Hari mulai siang. Gerimis semakin tipis. Hampir selesai.

Pria itu masih berdiri di dekat anak kecil tadi.

Anak kecil itu mendongak.

"Lihat, Om."

Pria itu tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya hari itu.

"Apa?"

"Aku menggambar hujan."

"Bagus."

"Dan matahari."

"Bagus."

"Dan awan."

"Bagus."

Anak kecil itu tertawa.

Kemudian bertanya,

"Kalau Om suka menggambar juga?"

Pertanyaan sederhana. Tetapi seperti batu yang dilemparkan ke danau yang tenang. Gelombangnya menjalar ke mana-mana.

Pria itu tidak langsung menjawab. Matanya tiba-tiba basah. Bukan karena sedih. Melainkan karena ia baru sadar.

Sudah dua puluh tahun tidak ada yang menanyakan apa yang ia sukai. Dua puluh tahun. Dan lebih menyakitkan lagi. Ia sendiri sudah lupa jawabannya.

Di atas sana, Gerimis mulai menghilang.

"Apa yang akan terjadi padanya?"

Matahari tersenyum.

"Kau tahu?"

"Tidak."

"Tidak ada yang tahu."

"Lalu kenapa kau tersenyum?"

Karena untuk pertama kalinya hari itu, laki-laki itu tidak sedang memikirkan pekerjaannya. Tidak sedang memikirkan target. Tidak sedang memikirkan tuntutan. Ia sedang mengingat dirinya sendiri. Dan kadang-kadang, perjalanan pulang tidak dimulai dengan langkah besar.

Kadang hanya dengan satu pertanyaan sederhana:

"Apa yang sebenarnya aku sukai?"

Pria itu berjongkok.

Mengambil sebatang kapur yang tergeletak di tanah.

Lalu mulai menggambar.

Garis pertama tampak canggung. Garis kedua masih ragu-ragu. Tetapi garis ketiga mulai menemukan arahnya. Seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu rumah lama yang pernah ditinggalkannya.

Gerimis berhenti. Matahari muncul utuh. Awan bergerak perlahan ke utara.

Sebelum pergi, Gerimis bertanya pelan,

"Jadi manusia yang patah masih bisa utuh kembali?"

Matahari memandang bumi.

Kemudian tersenyum.

"Bukan utuh kembali."

"Lalu?"

"Mereka menjadi manusia baru."

"Setelah menemukan dirinya lagi."

Di bawah sana, pria itu masih menggambar. Sementara dunia terus bergerak. Bus datang. Bus pergi. Orang-orang berlalu. Waktu berjalan.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada sesuatu yang kembali hidup di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak bisa dibeli. Tidak bisa diwariskan. Tidak bisa dipinjam. Tidak bisa dicari di mana pun.

Karena selama ini ia tidak pernah hilang ke luar. Ia hanya terkubur jauh di dalam. Menunggu ditemukan kembali. Dan mungkin itulah sebabnya gerimis turun pagi itu.

Bukan untuk membuat manusia bersedih. Melainkan untuk mengingatkan bahwa ada kalanya seseorang harus berhenti sejenak dari dunia.

Lalu pulang.

Bukan ke rumahnya. Bukan ke kotanya. Bukan ke masa lalunya. Tetapi pulang kepada dirinya sendiri.[]

 

Upz Café, Pontianak,

12 Juni 2026

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now