Cerpen: Syamsul Kurniawan
GERIMIS turun
sejak subuh. Tidak deras. Tidak pula cukup lebat untuk membuat orang berlarian
mencari tempat berteduh. Ia hanya turun perlahan. Seolah langit sedang berpikir
panjang tentang sesuatu yang tidak mampu diselesaikannya.
Jalanan kota masih basah. Lampu-lampu toko baru saja menyala. Di
bawah halte tua yang catnya mulai mengelupas, beberapa orang menunggu bus
dengan wajah yang sama. Terburu-buru. Letih. Sibuk.
Gerimis memperhatikan mereka. Sudah lama ia memperhatikan manusia. Dan
semakin lama ia memperhatikan, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
"Mengapa mereka selalu terlihat lelah?"
Suara Gerimis pelan.
Hampir tenggelam bersama bunyi tetes air yang jatuh ke aspal.
Di atas sana, Awan bergerak perlahan. Tubuhnya kelabu. Berat. Seperti
menyimpan terlalu banyak cerita.
"Lelah karena hidup," jawab Awan.
"Itu bukan jawaban."
"Memang."
Gerimis terdiam. Ia tidak menyukai jawaban yang menggantung. Tetapi
Awan memang selalu begitu. Jarang memberi penjelasan utuh. Jarang menjawab
langsung. Karena menurutnya, sebagian jawaban harus ditemukan sendiri.
Dari balik cakrawala timur, Matahari mulai muncul. Perlahan.
Cahayanya membelah sela-sela bangunan dan menari di atas genangan
air.
"Aku setuju dengan Gerimis."
Matahari tersenyum.
"Manusia memang aneh."
Awan melirik.
"Kau baru menyadarinya?"
"Tidak."
"Aku hanya belum bosan membicarakannya."
Gerimis tertawa kecil.
Kemudian ia menunjuk ke bawah.
"Lihat laki-laki itu."
Di halte tua, seorang pria duduk sendirian. Usianya sekitar empat
puluh tahun. Kemejanya rapi. Tas kerjanya mahal. Sepatunya bersih. Jam tangan
mengkilap melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dari luar, hidupnya terlihat
baik-baik saja.
Tetapi matanya kosong. Sangat kosong. Seperti jendela rumah yang
sudah lama ditinggalkan penghuninya.
"Aku melihatnya kemarin," kata Gerimis.
"Aku juga," kata Matahari.
"Dia datang tiga hari berturut-turut."
"Ya."
"Dan selalu duduk di tempat yang sama."
"Ya."
"Lalu?"
Awan menghela napas.
"Kalian terlalu cepat penasaran."
"Tentu saja penasaran."
Gerimis jatuh sedikit lebih deras.
"Dia terlihat seperti seseorang yang kehilangan sesuatu."
Matahari menatap pria itu. Lama. Sangat lama. Lalu menggeleng.
"Bukan."
"Bukan?"
"Bukan kehilangan sesuatu."
"Lalu?"
Matahari tidak menjawab.
Sebaliknya ia bertanya.
"Pernahkah kalian melihat seseorang kehilangan rumah?"
"Pernah."
"Pernahkah melihat seseorang kehilangan pekerjaan?"
"Pernah."
"Pernahkah melihat seseorang kehilangan orang yang
dicintainya?"
"Pernah."
Gerimis mengangguk.
Ia telah menyaksikan banyak tangisan selama ribuan tahun.
"Bahkan aku sering menemani mereka menangis."
Matahari tersenyum.
"Itu sebabnya mereka menyebutmu sendu."
Gerimis tidak membalas. Karena itu memang benar. Ia lebih sering
hadir saat manusia sedang sedih dibanding saat mereka bahagia.
"Tetapi laki-laki itu berbeda."
"Dari mana kau tahu?" tanya Gerimis.
"Karena yang hilang bukan sesuatu yang bisa ditunjuk."
Gerimis mengernyit.
"Aku tidak mengerti."
Awan tertawa pelan.
"Itulah masalah manusia."
"Apa?"
"Mereka sering tidak sadar apa yang hilang."
***
Pagi semakin terang. Kota mulai sibuk. Bus datang dan pergi. Orang-orang
naik dan turun. Tetapi laki-laki itu tetap duduk. Seolah sedang menunggu
sesuatu yang tidak pernah datang. Gerimis memperhatikannya.
"Lihat."
"Apa?"
"Dia tidak membuka ponselnya."
Matahari ikut memperhatikan.
Benar.
Pria itu hanya duduk. Menatap jalan. Menatap kendaraan yang
berlalu. Menatap dunia yang bergerak. Sementara dirinya sendiri seperti
tertinggal jauh di belakang.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
kali ini Gerimis bertanya lebih pelan.
Awan terdiam cukup lama. Seakan sedang memilih kenangan mana yang
akan dibukanya.
Kemudian ia berkata,
"Dulu dia suka melukis."
Gerimis terkejut.
"Maksudmu?"
"Dulu dia selalu membawa buku gambar."
"Dulu dia bisa duduk berjam-jam di tepi sungai."
"Dulu dia percaya bahwa hidup harus dijalani dengan hati yang
gembira."
Matahari mengangguk.
"Aku ingat."
"Dulu dia sering menatap langit."
"Dulu dia suka menuliskan puisi di belakang buku
sekolahnya."
"Dulu dia tertawa keras."
"Dulu dia punya mimpi yang terlalu besar untuk ukuran kota
kecil tempatnya tinggal."
Gerimis diam.
Di bawah sana laki-laki itu masih duduk. Tak bergerak. Seolah
cerita itu bukan tentang dirinya.
"Lalu apa yang terjadi?"
Awan menjawab,
"Tidak ada."
"Tidak ada?"
"Tidak ada tragedi."
"Tidak ada kecelakaan."
"Tidak ada kematian."
"Tidak ada bencana."
"Lalu?"
"Tahun demi tahun berlalu."
Gerimis menunggu.
"Lalu dia mulai menunda melukis."
"Hanya sebentar."
"Lalu menunda lagi."
"Hanya sebentar."
"Lalu menunda lagi."
"Hanya sebentar."
Matahari melanjutkan,
"Kemudian pekerjaan datang."
"Tanggung jawab datang."
"Tagihan datang."
"Kekhawatiran datang."
"Tuntutan datang."
"Harapan orang lain datang."
Gerimis mulai mengerti. Sedikit. Sangat sedikit.
"Aku masih belum paham."
Matahari tersenyum tipis.
"Karena kehilangan besar tidak selalu terjadi sekaligus."
"Lalu?"
"Kadang ia datang dalam ukuran yang sangat kecil."
"Begitu kecil sampai tidak terasa."
Gerimis terdiam.
Sementara di bawah sana, pria itu akhirnya berdiri. Lalu berjalan
perlahan. Melewati trotoar yang basah. Melewati toko bunga. Melewati kedai
kopi. Melewati seorang anak kecil yang sedang menggambar sesuatu di trotoar
menggunakan kapur warna-warni.
Pria itu berhenti.
Anak kecil itu sedang menggambar langit. Ada awan. Ada matahari. Ada
hujan. Gambarnya sederhana. Tetapi penuh warna.
Pria itu menatap gambar itu lama. Sangat lama. Lalu sesuatu
bergerak di wajahnya. Sesuatu yang sudah lama tidak terlihat. Kenangan.
***
"Aku tahu sekarang."
Suara Gerimis terdengar lirih.
"Apa?"
"Dia kehilangan dirinya."
Tidak ada yang menjawab. Karena kali ini Gerimis benar.
Pria itu memang tidak kehilangan rumah. Tidak kehilangan pekerjaan.
Tidak kehilangan apa pun yang dapat dihitung. Yang hilang adalah sesuatu yang
jauh lebih sulit ditemukan.
Dirinya sendiri.
Versi dirinya yang dahulu. Versi yang berani bermimpi. Versi yang
mudah tertawa. Versi yang merasa hidup. Bukan sekadar menjalani hidup.
Matahari menatap ke bawah.
"Ada banyak manusia seperti itu."
Gerimis terkejut.
"Sebanyak itu?"
"Lebih banyak daripada yang kau kira."
Awan menambahkan,
"Mereka bangun pagi."
"Pergi bekerja."
"Pulang malam."
"Tertidur."
"Lalu mengulanginya lagi."
"Besok."
"Minggu depan."
"Tahun depan."
"Sampai suatu hari mereka berdiri di depan cermin."
"Lalu bertanya."
'Siapa aku sebenarnya?'
Gerimis tidak berkata apa-apa.
Karena pertanyaan itu terlalu berat.
Bahkan untuk langit.
***
Hari mulai siang. Gerimis semakin tipis. Hampir selesai.
Pria itu masih berdiri di dekat anak kecil tadi.
Anak kecil itu mendongak.
"Lihat, Om."
Pria itu tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya hari itu.
"Apa?"
"Aku menggambar hujan."
"Bagus."
"Dan matahari."
"Bagus."
"Dan awan."
"Bagus."
Anak kecil itu tertawa.
Kemudian bertanya,
"Kalau Om suka menggambar juga?"
Pertanyaan sederhana. Tetapi seperti batu yang dilemparkan ke danau
yang tenang. Gelombangnya menjalar ke mana-mana.
Pria itu tidak langsung menjawab. Matanya tiba-tiba basah. Bukan
karena sedih. Melainkan karena ia baru sadar.
Sudah dua puluh tahun tidak ada yang menanyakan apa yang ia sukai. Dua
puluh tahun. Dan lebih menyakitkan lagi. Ia sendiri sudah lupa jawabannya.
Di atas sana, Gerimis mulai menghilang.
"Apa yang akan terjadi padanya?"
Matahari tersenyum.
"Kau tahu?"
"Tidak."
"Tidak ada yang tahu."
"Lalu kenapa kau tersenyum?"
Karena untuk pertama kalinya hari itu, laki-laki itu tidak sedang
memikirkan pekerjaannya. Tidak sedang memikirkan target. Tidak sedang
memikirkan tuntutan. Ia sedang mengingat dirinya sendiri. Dan kadang-kadang,
perjalanan pulang tidak dimulai dengan langkah besar.
Kadang hanya dengan satu pertanyaan sederhana:
"Apa yang sebenarnya aku sukai?"
Pria itu berjongkok.
Mengambil sebatang kapur yang tergeletak di tanah.
Lalu mulai menggambar.
Garis pertama tampak canggung. Garis kedua masih ragu-ragu. Tetapi
garis ketiga mulai menemukan arahnya. Seperti seseorang yang sedang mengetuk
pintu rumah lama yang pernah ditinggalkannya.
Gerimis berhenti. Matahari muncul utuh. Awan bergerak perlahan ke
utara.
Sebelum pergi, Gerimis bertanya pelan,
"Jadi manusia yang patah masih bisa utuh kembali?"
Matahari memandang bumi.
Kemudian tersenyum.
"Bukan utuh kembali."
"Lalu?"
"Mereka menjadi manusia baru."
"Setelah menemukan dirinya lagi."
Di bawah sana, pria itu masih menggambar. Sementara dunia terus
bergerak. Bus datang. Bus pergi. Orang-orang berlalu. Waktu berjalan.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada sesuatu
yang kembali hidup di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak bisa dibeli. Tidak bisa
diwariskan. Tidak bisa dipinjam. Tidak bisa dicari di mana pun.
Karena selama ini ia tidak pernah hilang ke luar. Ia hanya terkubur
jauh di dalam. Menunggu ditemukan kembali. Dan mungkin itulah sebabnya gerimis
turun pagi itu.
Bukan untuk membuat manusia bersedih. Melainkan untuk mengingatkan
bahwa ada kalanya seseorang harus berhenti sejenak dari dunia.
Lalu pulang.
Bukan ke rumahnya. Bukan ke kotanya. Bukan ke masa lalunya. Tetapi
pulang kepada dirinya sendiri.[]
Upz Café, Pontianak,
12 Juni 2026


