Oleh: Syamsul Kurniawan
ADA luka yang pelan-pelan menebal dalam kehidupan
pendidikan kita. Luka itu tidak selalu tampak, tidak pula selalu datang dalam
bentuk bentakan, ancaman, atau kekerasan yang mudah dikenali. Kadang-kadang ia
hanya berupa sikap diam, tatapan yang menghindar, percakapan yang dihentikan,
atau seseorang yang perlahan-lahan dikeluarkan dari lingkaran pergaulan. Tetapi
justru karena samar, ia sering dibiarkan tumbuh.
Di kampus, luka semacam itu mungkin bermula dari
sesuatu yang tampaknya sederhana: perbedaan cara berbicara. Seorang dosen
merasa sedang memberi ketegasan, sementara mahasiswa menerimanya sebagai
kekasaran. Seorang mahasiswa menganggap dirinya sedang menyampaikan pendapat,
sedangkan dosen merasa kewibawaannya sedang diuji. Di antara keduanya terdapat
satu wilayah yang kerap luput diperiksa: perbedaan tafsir.
Kita hidup pada masa ketika tafsir dapat berubah
menjadi vonis dengan sangat cepat. Sebuah potongan percakapan dapat beredar
tanpa konteks, sebuah kalimat dapat dipisahkan dari keadaan yang melahirkannya,
dan seseorang dapat berubah dari manusia dengan seluruh kerumitannya menjadi
satu label sederhana: korban atau pelaku, baik atau buruk, benar atau salah.
Media sosial membuat pembagian itu semakin mudah. Ia
menyukai cerita yang singkat, tegas, dan memiliki tokoh yang gampang dikenali.
Kita ingin tahu siapa yang harus dibela dan siapa yang mesti dihukum.
Masalahnya, kehidupan pendidikan jarang bekerja sesederhana itu.
Ada kecenderungan untuk menempatkan mahasiswa selalu
sebagai pihak yang terkorbankan dan dosen sebagai pihak yang memiliki kuasa
sehingga mudah dianggap bersalah. Pada beberapa peristiwa, anggapan semacam itu
tentu mempunyai dasar. Kekuasaan memang dapat disalahgunakan. Jabatan akademik
tidak membuat seseorang kebal dari kritik, dan gelar tidak pernah menjadi izin
untuk merendahkan orang lain.
Tetapi apakah semua ketegangan antara dosen dan
mahasiswa dapat dibaca dengan pola yang sama? Di sinilah pertanyaan perlu
diajukan dengan lebih hati-hati. Sebab, jika setiap ketegasan segera disebut intimidasi,
setiap teguran disebut perundungan, dan setiap ketidaknyamanan dianggap
kekerasan, kita mungkin sedang kehilangan kemampuan membedakan pendidikan yang
keras dari tindakan yang memang merendahkan.
Sebaliknya, dosen juga tidak dapat berlindung di balik
istilah “mendidik” untuk membenarkan segala tindakan. Tidak semua yang dahulu
dianggap wajar masih patut dipertahankan hari ini. Tradisi akademik pun harus
belajar mengoreksi dirinya. Ada perbedaan antara membentuk disiplin dan
mempermalukan; antara menguji ketahanan dan melukai harga diri.
Maka persoalannya sejak awal bukan tentang memilih
mahasiswa atau dosen. Persoalannya adalah bagaimana kita memastikan bahwa
relasi keduanya tetap berada dalam ruang pendidikan. Ruang itu semestinya
memungkinkan ketegasan tanpa penghinaan, keberanian tanpa kesombongan, kritik
tanpa kebencian, serta kebebasan tanpa kehilangan tanggung jawab.
Mahasiswa masa kini tumbuh dalam keadaan yang berbeda
dari generasi dosennya. Sebagian besar terbiasa dengan komunikasi yang cepat,
horizontal, dan responsif. Mereka hidup bersama layar yang memungkinkan
pendapat disampaikan seketika dan persetujuan diperoleh melalui tanda-tanda
kecil: suka, komentar, dukungan, atau penyebaran ulang.
Sebagian dosen tumbuh dalam dunia yang berbeda. Mereka
mengenal pendidikan melalui hierarki yang lebih kuat, disiplin yang lebih
ketat, dan hubungan guru-murid yang lebih berjarak. Bagi generasi itu, teguran
merupakan bagian biasa dari proses belajar. Bagi generasi yang lebih muda,
teguran yang sama dapat dibaca sebagai bentuk ketidakpekaan.
Pertemuan dua pengalaman historis itu sebenarnya
menarik. Kampus mestinya menjadikannya kesempatan untuk saling belajar. Tetapi
yang sering terjadi justru sebaliknya: masing-masing generasi membawa ukurannya
sendiri, kemudian menganggap ukuran itulah yang paling masuk akal.
Di situlah persoalan “benar” dan “salah” menjadi
rumit. Sebab kebenaran dalam hubungan sosial tidak selalu hadir sebagai garis
lurus. Seseorang mungkin benar dalam maksudnya tetapi keliru dalam caranya.
Orang lain mungkin tepat dalam perasaannya tetapi berlebihan dalam
kesimpulannya. Dua hal yang tampaknya bertentangan kadang-kadang dapat
sama-sama memiliki sebagian alasan.
Siapa yang salah? Siapa yang benar?
Kita tampaknya semakin tidak sabar terhadap kerumitan
semacam itu. Kita ingin keputusan segera. Siapa yang salah? Siapa yang benar?
Siapa yang harus meminta maaf? Siapa yang harus dihukum? Pertanyaan-pertanyaan
itu penting, tetapi menjadi berbahaya ketika diajukan sebelum kita benar-benar
mau mendengar.
Ada mahasiswa yang menyukai dosen yang longgar, yang
mudah memberi toleransi, yang tidak terlalu banyak menuntut, dan yang
memungkinkan banyak hal dinegosiasikan. Tidak ada yang aneh dengan itu. Manusia
memang cenderung menyukai keadaan yang membuat hidup lebih mudah.
Tetapi pendidikan tidak selalu harus menyenangkan.
Sesekali ia datang sebagai gangguan terhadap kenyamanan kita. Buku yang sulit,
tugas yang berat, kritik yang tajam, dan pertanyaan yang membuat seseorang
terdiam merupakan bagian dari pengalaman belajar. Universitas bukan hanya
tempat seseorang memperoleh persetujuan, tetapi juga tempat ia berlatih
menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya.
Tentu saja, ketidaknyamanan bukan tujuan pendidikan.
Kita tidak perlu memuliakan penderitaan seolah-olah semakin berat tekanan yang
diterima mahasiswa, semakin tinggi mutu pembelajaran. Yang perlu dibedakan
adalah ketidaknyamanan yang lahir dari proses bertumbuh dan penderitaan yang
lahir dari perlakuan yang merendahkan.
Perbedaan itu penting, dan sering kali justru di sanalah
konflik bermula. Seorang dosen mungkin menganggap tugas yang ketat sebagai
latihan tanggung jawab. Mahasiswa dapat menganggapnya tidak realistis. Dosen
merasa sedang membentuk daya tahan; mahasiswa merasa kebutuhannya tidak
dipahami. Siapa yang benar?
Mungkin pertanyaan itu terlalu dini. Yang lebih
berguna adalah bertanya: apakah kedua pihak telah berbicara? Apakah alasan di
balik aturan dijelaskan? Apakah keberatan didengar? Apakah terdapat ruang untuk
meninjau ulang keputusan tanpa harus menjatuhkan kewibawaan salah satu pihak?
Pendidikan membutuhkan dialog, tetapi dialog bukan
berarti semua keinginan harus dipenuhi. Dialog adalah kesediaan menjelaskan
alasan, sekaligus keberanian mendengar alasan orang lain. Ada keputusan yang
pada akhirnya tetap tidak menyenangkan. Namun keputusan yang tidak menyenangkan
dapat diterima dengan berbeda ketika orang merasa diperlakukan sebagai manusia
yang layak didengar.
Masalah muncul ketika percakapan berhenti. Mahasiswa
memilih diam dan mengumpulkan kejengkelan. Dosen merasa tidak ada persoalan
karena tidak ada yang mengajukan keberatan. Kemudian sebuah peristiwa kecil
datang dan seluruh ketegangan yang tersimpan mendadak pecah.
Pada masa media sosial, ledakan itu memiliki panggung
yang sangat luas. Sebuah persoalan kelas dapat dalam beberapa jam berubah
menjadi perkara publik. Orang yang tidak pernah hadir di kelas ikut memberi
penilaian. Mereka mengenal peristiwa dari potongan video, tangkapan layar, atau
narasi satu pihak, tetapi merasa cukup yakin untuk menjatuhkan putusan.
Media sosial memang dapat menjadi alat koreksi. Banyak
ketidakadilan terbuka justru karena seseorang berani berbicara di sana.
Struktur yang tertutup terkadang membutuhkan sorotan publik agar mau berubah.
Karena itu, kita tidak patut serta-merta memandang pengaduan di media sosial
sebagai tindakan buruk.
Namun media sosial juga memiliki satu kelemahan
mendasar: ia lebih pandai memperbesar daripada menjernihkan. Sebuah persoalan
yang seharusnya membutuhkan percakapan panjang dipadatkan dalam beberapa
kalimat. Nuansa menghilang. Masa lalu seseorang ikut digali. Dan sebelum
pemeriksaan selesai, hukuman sosial telah dijatuhkan.
Yang mengkhawatirkan adalah ketika kampus ikut
kehilangan kesabaran untuk memeriksa. Institusi pendidikan dapat tergoda mengambil
keputusan bukan berdasarkan ketelitian, melainkan berdasarkan tekanan opini.
Yang dicari akhirnya bukan lagi kebenaran, melainkan ketenangan sesaat dari
kegaduhan.
Padahal kampus seharusnya menjadi tempat yang paling
berani menghadapi kerumitan. Ilmu pengetahuan lahir justru karena manusia tidak
puas pada jawaban pertama. Kita memeriksa data, menimbang argumen, menguji
asumsi, dan bersedia mengubah kesimpulan ketika ditemukan alasan yang lebih
kuat.
Aneh jika kebiasaan ilmiah itu berhenti ketika kita
menghadapi konflik antarmanusia. Dalam penelitian kita menolak kesimpulan tanpa
bukti, tetapi dalam kehidupan sosial kita kadang dengan cepat percaya pada satu
unggahan. Dalam kelas kita mengajarkan berpikir kritis, tetapi di luar kelas
kita mudah terjebak pada penilaian yang terburu-buru.
Pemetaan benar dan salah memang tidak lahir dalam
sekejap. Ia dibentuk oleh kata-kata yang lama-lama mengeras, oleh pengalaman
yang dibawa dari masa lalu, juga oleh lingkungan yang terus meneguhkan apa yang
telah kita percayai. Kita kemudian melihat dunia bukan sebagaimana adanya,
melainkan sebagaimana kategori yang telah tersedia di kepala kita.
Dosen dapat memiliki prasangka terhadap mahasiswa
generasi Z: dianggap rapuh, terlalu mudah tersinggung, tidak tahan tekanan, dan
selalu ingin memperoleh kemudahan. Mahasiswa pun dapat membawa prasangka
sebaliknya: dosen dianggap feodal, tidak memahami zaman, gemar menggunakan
kekuasaan, dan enggan menerima kritik. Kedua prasangka itu terasa masuk akal
bagi pemiliknya karena selalu tersedia contoh yang dapat digunakan untuk
membenarkannya.
Tetapi manusia bukan generasi statistik. Tidak semua
mahasiswa generasi Z sama, sebagaimana tidak semua dosen milenial atau generasi
sebelumnya mempunyai watak yang sama. Ketika kategori generasi digunakan
terlalu jauh, ia berhenti membantu kita memahami manusia dan mulai memenjarakan
manusia dalam stereotip.
Barangkali yang kurang dalam pendidikan kita bukan
kebebasan berbicara, melainkan kemampuan mendengarkan. Kita telah mempunyai
banyak saluran untuk menyampaikan pendapat, tetapi belum tentu memiliki cukup
kesabaran untuk menerima pendapat yang tidak menyenangkan.
Mendengarkan juga bukan berarti setuju. Ia hanya
berarti memberikan kesempatan kepada kemungkinan bahwa kita belum mengetahui
seluruh cerita. Dalam zaman yang gemar menuntut posisi, sikap semacam itu mudah
dianggap lemah. Padahal kemampuan menunda penghakiman mungkin merupakan salah
satu bentuk kedewasaan yang paling sulit.
Kita juga perlu mengembalikan konflik ke tempat yang
semestinya. Konflik tidak selalu merupakan tanda kegagalan. Di ruang pendidikan,
perbedaan dapat menjadi bahan belajar jika dikelola dengan terbuka. Mahasiswa
boleh menggugat dosen. Dosen boleh menegur mahasiswa. Keduanya bahkan dapat
tidak sepakat. Yang tidak boleh hilang adalah penghormatan terhadap martabat
satu sama lain.
Mungkin itulah yang harus dijaga ketika kita berbicara
tentang bullying di kampus. Perundungan harus ditolak dengan tegas. Tetapi
istilah itu juga perlu digunakan dengan bertanggung jawab agar tidak setiap
konflik otomatis diberi nama yang sama. Ketika semua disebut bullying, kita
justru dapat kehilangan kepekaan terhadap perundungan yang benar-benar terjadi.
Kampus karenanya membutuhkan mekanisme yang tidak
hanya menghukum, tetapi juga memeriksa, mempertemukan, dan memulihkan. Ada
perkara yang memerlukan sanksi. Ada yang dapat diselesaikan melalui mediasi.
Ada pula yang sebenarnya hanya membutuhkan penjelasan yang tidak pernah sempat
diberikan.
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar perpindahan
pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa. Ia adalah perjumpaan berbagai manusia
yang datang dengan usia, pengalaman, luka, kebiasaan, dan harapan yang berbeda.
Setiap perjumpaan membawa kemungkinan salah memahami.
Karena itu, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi,
“Siapa yang benar dan siapa yang salah?” Melainkan, “Apa yang membuat kita
begitu yakin bahwa hanya kita yang benar?” Pertanyaan kedua jauh lebih tidak
nyaman. Tetapi justru dari ketidaknyamanan itu pendidikan memperoleh maknanya.
Sebab universitas seharusnya tidak menghasilkan orang
yang hanya pandai mempertahankan kebenarannya sendiri. Ia diharapkan melahirkan
manusia yang cukup berani untuk mengatakan benar ketika sesuatu memang benar,
cukup tegas menyebut salah ketika sesuatu memang salah, tetapi sekaligus cukup
rendah hati untuk mengakui bahwa pengetahuannya dapat keliru. Di antara benar
dan salah itu ada ruang yang tidak selalu abu-abu, tetapi perlu diperiksa. Dan
mungkin di sanalah kita kembali belajar menjadi manusia.***

