Iklan

Mempertanyakan Benar dan Salah?

syamsul kurniawan
Thursday, October 1, 2026
Last Updated 2026-10-01T09:08:52Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


Oleh: Syamsul Kurniawan

 

ADA luka yang pelan-pelan menebal dalam kehidupan pendidikan kita. Luka itu tidak selalu tampak, tidak pula selalu datang dalam bentuk bentakan, ancaman, atau kekerasan yang mudah dikenali. Kadang-kadang ia hanya berupa sikap diam, tatapan yang menghindar, percakapan yang dihentikan, atau seseorang yang perlahan-lahan dikeluarkan dari lingkaran pergaulan. Tetapi justru karena samar, ia sering dibiarkan tumbuh.

 

Di kampus, luka semacam itu mungkin bermula dari sesuatu yang tampaknya sederhana: perbedaan cara berbicara. Seorang dosen merasa sedang memberi ketegasan, sementara mahasiswa menerimanya sebagai kekasaran. Seorang mahasiswa menganggap dirinya sedang menyampaikan pendapat, sedangkan dosen merasa kewibawaannya sedang diuji. Di antara keduanya terdapat satu wilayah yang kerap luput diperiksa: perbedaan tafsir.

 

Kita hidup pada masa ketika tafsir dapat berubah menjadi vonis dengan sangat cepat. Sebuah potongan percakapan dapat beredar tanpa konteks, sebuah kalimat dapat dipisahkan dari keadaan yang melahirkannya, dan seseorang dapat berubah dari manusia dengan seluruh kerumitannya menjadi satu label sederhana: korban atau pelaku, baik atau buruk, benar atau salah.

 

Media sosial membuat pembagian itu semakin mudah. Ia menyukai cerita yang singkat, tegas, dan memiliki tokoh yang gampang dikenali. Kita ingin tahu siapa yang harus dibela dan siapa yang mesti dihukum. Masalahnya, kehidupan pendidikan jarang bekerja sesederhana itu.

 

Ada kecenderungan untuk menempatkan mahasiswa selalu sebagai pihak yang terkorbankan dan dosen sebagai pihak yang memiliki kuasa sehingga mudah dianggap bersalah. Pada beberapa peristiwa, anggapan semacam itu tentu mempunyai dasar. Kekuasaan memang dapat disalahgunakan. Jabatan akademik tidak membuat seseorang kebal dari kritik, dan gelar tidak pernah menjadi izin untuk merendahkan orang lain.

 

Tetapi apakah semua ketegangan antara dosen dan mahasiswa dapat dibaca dengan pola yang sama? Di sinilah pertanyaan perlu diajukan dengan lebih hati-hati. Sebab, jika setiap ketegasan segera disebut intimidasi, setiap teguran disebut perundungan, dan setiap ketidaknyamanan dianggap kekerasan, kita mungkin sedang kehilangan kemampuan membedakan pendidikan yang keras dari tindakan yang memang merendahkan.

 

Sebaliknya, dosen juga tidak dapat berlindung di balik istilah “mendidik” untuk membenarkan segala tindakan. Tidak semua yang dahulu dianggap wajar masih patut dipertahankan hari ini. Tradisi akademik pun harus belajar mengoreksi dirinya. Ada perbedaan antara membentuk disiplin dan mempermalukan; antara menguji ketahanan dan melukai harga diri.

 

Maka persoalannya sejak awal bukan tentang memilih mahasiswa atau dosen. Persoalannya adalah bagaimana kita memastikan bahwa relasi keduanya tetap berada dalam ruang pendidikan. Ruang itu semestinya memungkinkan ketegasan tanpa penghinaan, keberanian tanpa kesombongan, kritik tanpa kebencian, serta kebebasan tanpa kehilangan tanggung jawab.

 

Mahasiswa masa kini tumbuh dalam keadaan yang berbeda dari generasi dosennya. Sebagian besar terbiasa dengan komunikasi yang cepat, horizontal, dan responsif. Mereka hidup bersama layar yang memungkinkan pendapat disampaikan seketika dan persetujuan diperoleh melalui tanda-tanda kecil: suka, komentar, dukungan, atau penyebaran ulang.

 

Sebagian dosen tumbuh dalam dunia yang berbeda. Mereka mengenal pendidikan melalui hierarki yang lebih kuat, disiplin yang lebih ketat, dan hubungan guru-murid yang lebih berjarak. Bagi generasi itu, teguran merupakan bagian biasa dari proses belajar. Bagi generasi yang lebih muda, teguran yang sama dapat dibaca sebagai bentuk ketidakpekaan.

 

Pertemuan dua pengalaman historis itu sebenarnya menarik. Kampus mestinya menjadikannya kesempatan untuk saling belajar. Tetapi yang sering terjadi justru sebaliknya: masing-masing generasi membawa ukurannya sendiri, kemudian menganggap ukuran itulah yang paling masuk akal.

 

Di situlah persoalan “benar” dan “salah” menjadi rumit. Sebab kebenaran dalam hubungan sosial tidak selalu hadir sebagai garis lurus. Seseorang mungkin benar dalam maksudnya tetapi keliru dalam caranya. Orang lain mungkin tepat dalam perasaannya tetapi berlebihan dalam kesimpulannya. Dua hal yang tampaknya bertentangan kadang-kadang dapat sama-sama memiliki sebagian alasan.

 

Siapa yang salah? Siapa yang benar?

 

Kita tampaknya semakin tidak sabar terhadap kerumitan semacam itu. Kita ingin keputusan segera. Siapa yang salah? Siapa yang benar? Siapa yang harus meminta maaf? Siapa yang harus dihukum? Pertanyaan-pertanyaan itu penting, tetapi menjadi berbahaya ketika diajukan sebelum kita benar-benar mau mendengar.

 

Ada mahasiswa yang menyukai dosen yang longgar, yang mudah memberi toleransi, yang tidak terlalu banyak menuntut, dan yang memungkinkan banyak hal dinegosiasikan. Tidak ada yang aneh dengan itu. Manusia memang cenderung menyukai keadaan yang membuat hidup lebih mudah.

 

Tetapi pendidikan tidak selalu harus menyenangkan. Sesekali ia datang sebagai gangguan terhadap kenyamanan kita. Buku yang sulit, tugas yang berat, kritik yang tajam, dan pertanyaan yang membuat seseorang terdiam merupakan bagian dari pengalaman belajar. Universitas bukan hanya tempat seseorang memperoleh persetujuan, tetapi juga tempat ia berlatih menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya.

 

Tentu saja, ketidaknyamanan bukan tujuan pendidikan. Kita tidak perlu memuliakan penderitaan seolah-olah semakin berat tekanan yang diterima mahasiswa, semakin tinggi mutu pembelajaran. Yang perlu dibedakan adalah ketidaknyamanan yang lahir dari proses bertumbuh dan penderitaan yang lahir dari perlakuan yang merendahkan.

 

Perbedaan itu penting, dan sering kali justru di sanalah konflik bermula. Seorang dosen mungkin menganggap tugas yang ketat sebagai latihan tanggung jawab. Mahasiswa dapat menganggapnya tidak realistis. Dosen merasa sedang membentuk daya tahan; mahasiswa merasa kebutuhannya tidak dipahami. Siapa yang benar?

 

Mungkin pertanyaan itu terlalu dini. Yang lebih berguna adalah bertanya: apakah kedua pihak telah berbicara? Apakah alasan di balik aturan dijelaskan? Apakah keberatan didengar? Apakah terdapat ruang untuk meninjau ulang keputusan tanpa harus menjatuhkan kewibawaan salah satu pihak?

 

Pendidikan membutuhkan dialog, tetapi dialog bukan berarti semua keinginan harus dipenuhi. Dialog adalah kesediaan menjelaskan alasan, sekaligus keberanian mendengar alasan orang lain. Ada keputusan yang pada akhirnya tetap tidak menyenangkan. Namun keputusan yang tidak menyenangkan dapat diterima dengan berbeda ketika orang merasa diperlakukan sebagai manusia yang layak didengar.

 

Masalah muncul ketika percakapan berhenti. Mahasiswa memilih diam dan mengumpulkan kejengkelan. Dosen merasa tidak ada persoalan karena tidak ada yang mengajukan keberatan. Kemudian sebuah peristiwa kecil datang dan seluruh ketegangan yang tersimpan mendadak pecah.

 

Pada masa media sosial, ledakan itu memiliki panggung yang sangat luas. Sebuah persoalan kelas dapat dalam beberapa jam berubah menjadi perkara publik. Orang yang tidak pernah hadir di kelas ikut memberi penilaian. Mereka mengenal peristiwa dari potongan video, tangkapan layar, atau narasi satu pihak, tetapi merasa cukup yakin untuk menjatuhkan putusan.

 

Media sosial memang dapat menjadi alat koreksi. Banyak ketidakadilan terbuka justru karena seseorang berani berbicara di sana. Struktur yang tertutup terkadang membutuhkan sorotan publik agar mau berubah. Karena itu, kita tidak patut serta-merta memandang pengaduan di media sosial sebagai tindakan buruk.

 

Namun media sosial juga memiliki satu kelemahan mendasar: ia lebih pandai memperbesar daripada menjernihkan. Sebuah persoalan yang seharusnya membutuhkan percakapan panjang dipadatkan dalam beberapa kalimat. Nuansa menghilang. Masa lalu seseorang ikut digali. Dan sebelum pemeriksaan selesai, hukuman sosial telah dijatuhkan.

 

Yang mengkhawatirkan adalah ketika kampus ikut kehilangan kesabaran untuk memeriksa. Institusi pendidikan dapat tergoda mengambil keputusan bukan berdasarkan ketelitian, melainkan berdasarkan tekanan opini. Yang dicari akhirnya bukan lagi kebenaran, melainkan ketenangan sesaat dari kegaduhan.

 

Padahal kampus seharusnya menjadi tempat yang paling berani menghadapi kerumitan. Ilmu pengetahuan lahir justru karena manusia tidak puas pada jawaban pertama. Kita memeriksa data, menimbang argumen, menguji asumsi, dan bersedia mengubah kesimpulan ketika ditemukan alasan yang lebih kuat.

 

Aneh jika kebiasaan ilmiah itu berhenti ketika kita menghadapi konflik antarmanusia. Dalam penelitian kita menolak kesimpulan tanpa bukti, tetapi dalam kehidupan sosial kita kadang dengan cepat percaya pada satu unggahan. Dalam kelas kita mengajarkan berpikir kritis, tetapi di luar kelas kita mudah terjebak pada penilaian yang terburu-buru.

 

Pemetaan benar dan salah memang tidak lahir dalam sekejap. Ia dibentuk oleh kata-kata yang lama-lama mengeras, oleh pengalaman yang dibawa dari masa lalu, juga oleh lingkungan yang terus meneguhkan apa yang telah kita percayai. Kita kemudian melihat dunia bukan sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana kategori yang telah tersedia di kepala kita.

 

Dosen dapat memiliki prasangka terhadap mahasiswa generasi Z: dianggap rapuh, terlalu mudah tersinggung, tidak tahan tekanan, dan selalu ingin memperoleh kemudahan. Mahasiswa pun dapat membawa prasangka sebaliknya: dosen dianggap feodal, tidak memahami zaman, gemar menggunakan kekuasaan, dan enggan menerima kritik. Kedua prasangka itu terasa masuk akal bagi pemiliknya karena selalu tersedia contoh yang dapat digunakan untuk membenarkannya.

 

Tetapi manusia bukan generasi statistik. Tidak semua mahasiswa generasi Z sama, sebagaimana tidak semua dosen milenial atau generasi sebelumnya mempunyai watak yang sama. Ketika kategori generasi digunakan terlalu jauh, ia berhenti membantu kita memahami manusia dan mulai memenjarakan manusia dalam stereotip.

 

Barangkali yang kurang dalam pendidikan kita bukan kebebasan berbicara, melainkan kemampuan mendengarkan. Kita telah mempunyai banyak saluran untuk menyampaikan pendapat, tetapi belum tentu memiliki cukup kesabaran untuk menerima pendapat yang tidak menyenangkan.

 

Mendengarkan juga bukan berarti setuju. Ia hanya berarti memberikan kesempatan kepada kemungkinan bahwa kita belum mengetahui seluruh cerita. Dalam zaman yang gemar menuntut posisi, sikap semacam itu mudah dianggap lemah. Padahal kemampuan menunda penghakiman mungkin merupakan salah satu bentuk kedewasaan yang paling sulit.

 

Kita juga perlu mengembalikan konflik ke tempat yang semestinya. Konflik tidak selalu merupakan tanda kegagalan. Di ruang pendidikan, perbedaan dapat menjadi bahan belajar jika dikelola dengan terbuka. Mahasiswa boleh menggugat dosen. Dosen boleh menegur mahasiswa. Keduanya bahkan dapat tidak sepakat. Yang tidak boleh hilang adalah penghormatan terhadap martabat satu sama lain.

 

Mungkin itulah yang harus dijaga ketika kita berbicara tentang bullying di kampus. Perundungan harus ditolak dengan tegas. Tetapi istilah itu juga perlu digunakan dengan bertanggung jawab agar tidak setiap konflik otomatis diberi nama yang sama. Ketika semua disebut bullying, kita justru dapat kehilangan kepekaan terhadap perundungan yang benar-benar terjadi.

 

Kampus karenanya membutuhkan mekanisme yang tidak hanya menghukum, tetapi juga memeriksa, mempertemukan, dan memulihkan. Ada perkara yang memerlukan sanksi. Ada yang dapat diselesaikan melalui mediasi. Ada pula yang sebenarnya hanya membutuhkan penjelasan yang tidak pernah sempat diberikan.

 

Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar perpindahan pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa. Ia adalah perjumpaan berbagai manusia yang datang dengan usia, pengalaman, luka, kebiasaan, dan harapan yang berbeda. Setiap perjumpaan membawa kemungkinan salah memahami.

 

Karena itu, mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi, “Siapa yang benar dan siapa yang salah?” Melainkan, “Apa yang membuat kita begitu yakin bahwa hanya kita yang benar?” Pertanyaan kedua jauh lebih tidak nyaman. Tetapi justru dari ketidaknyamanan itu pendidikan memperoleh maknanya.

 

Sebab universitas seharusnya tidak menghasilkan orang yang hanya pandai mempertahankan kebenarannya sendiri. Ia diharapkan melahirkan manusia yang cukup berani untuk mengatakan benar ketika sesuatu memang benar, cukup tegas menyebut salah ketika sesuatu memang salah, tetapi sekaligus cukup rendah hati untuk mengakui bahwa pengetahuannya dapat keliru. Di antara benar dan salah itu ada ruang yang tidak selalu abu-abu, tetapi perlu diperiksa. Dan mungkin di sanalah kita kembali belajar menjadi manusia.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now