Oleh: Syamsul Kurniawan
KETIKA orang berbicara tentang kampus, yang
sering muncul pertama kali adalah bangunan. Gedung rektorat. Deretan fakultas.
Perpustakaan. Laboratorium. Aula pertemuan. Kita membayangkannya sebagai
kawasan akademik yang berdiri di atas sebidang tanah dan dibatasi oleh pagar
institusi. Padahal kampus sesungguhnya tidak pernah sesederhana itu.
Sebuah kampus bukan hanya kumpulan gedung
yang dibangun untuk menyelenggarakan perkuliahan. Ia adalah ruang sosial yang
terus-menerus diproduksi. Ia dibentuk oleh pengetahuan, kekuasaan, ideologi,
kebijakan, harapan, dan berbagai kepentingan yang bertemu dalam kehidupan
akademik sehari-hari.
Karena itu kampus tidak pernah netral. Di
dalamnya berlangsung pertarungan gagasan tentang masa depan, tentang manusia,
dan tentang masyarakat yang ingin diwujudkan. Setiap generasi meninggalkan
jejak pemikirannya di sana. Setiap zaman menorehkan persoalan yang berbeda.
Kampus pada akhirnya bukan sekadar
institusi pendidikan tinggi. Ia adalah ruang tempat masyarakat memikirkan
dirinya sendiri. Sebuah ruang yang tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan,
tetapi juga menghasilkan cara pandang terhadap dunia.
Setiap pagi mahasiswa memasuki kawasan
kampus dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang mengejar ilmu, ada yang
mengejar gelar, ada yang sedang mencari arah hidupnya sendiri. Mereka berjalan
di koridor yang sama, duduk di ruang kuliah yang sama, dan berbagi ruang yang
sama meskipun membawa cerita yang berbeda.
Rutinitas itu tampak biasa. Namun justru
melalui rutinitas itulah kampus memperoleh kehidupannya. Ruang akademik lahir
dari aktivitas yang terus berlangsung di dalamnya.
Koridor menjadi ruang diskusi karena
digunakan untuk berdialog. Perpustakaan menjadi ruang intelektual karena
dihidupi oleh pencarian pengetahuan. Kantin menjadi ruang sosial karena di sana
berbagai gagasan bertemu tanpa sekat formalitas.
Tanpa manusia yang menghidupinya, kampus
hanyalah kumpulan beton dan baja. Yang membuatnya bermakna adalah interaksi
yang berlangsung setiap hari. Percakapan, perdebatan, penelitian, kegelisahan,
dan pencarian intelektual membentuk denyut kehidupan sebuah kampus.
Di dalam ruang itulah mahasiswa belajar
tentang dunia. Tidak hanya melalui buku dan jurnal, tetapi juga melalui
perjumpaan dengan berbagai latar belakang, pandangan, dan pengalaman hidup yang
berbeda. Karena itu kampus bukan sekadar tempat memperoleh pengetahuan. Kampus
adalah ruang pembentukan kesadaran.
Ruang yang Dirancang
Namun kehidupan kampus tidak muncul secara
spontan. Jauh sebelum seorang mahasiswa duduk di ruang kuliah, kampus telah
lebih dahulu hadir sebagai rancangan. Ia hadir dalam regulasi pendidikan
tinggi. Dalam kebijakan kementerian. Dalam standar akreditasi. Dalam rencana
strategis universitas. Dalam berbagai dokumen yang menentukan arah dan tujuan
pendidikan tinggi.
Di atas meja para pengambil kebijakan,
kampus tampil sebagai peta pembangunan sumber daya manusia. Ia diterjemahkan ke
dalam indikator kinerja, target publikasi, peringkat universitas, capaian
lulusan, dan berbagai ukuran administratif lainnya. Dalam bentuk ini, kampus
menjadi ruang yang dikonsepsikan. Ia adalah ruang yang dirancang oleh negara,
dirumuskan oleh birokrasi, dan diatur melalui berbagai mekanisme kelembagaan.
Tidak ada kurikulum yang lahir tanpa
kepentingan. Tidak ada kebijakan pendidikan tinggi yang bebas dari pandangan
tertentu tentang masa depan. Selalu ada gagasan tentang manusia ideal yang
ingin diwujudkan melalui sistem pendidikan. Karena itu kampus selalu berada di
persimpangan antara idealisme dan kepentingan. Ia dituntut menjadi pusat ilmu
pengetahuan, tetapi pada saat yang sama dibebani berbagai ekspektasi sosial,
ekonomi, dan politik.
Hari ini kampus diminta menghasilkan
lulusan yang adaptif terhadap perubahan teknologi. Besok ia diminta mencetak
inovator dan wirausahawan. Pada kesempatan lain ia dituntut menjadi benteng
moral, pusat kebudayaan, sekaligus motor pembangunan nasional. Beragam tuntutan
itu menunjukkan satu kenyataan. Kampus selalu menjadi ruang yang diperebutkan
oleh berbagai kepentingan zaman.
Sebab siapa yang mengendalikan arah
pendidikan tinggi pada akhirnya ikut menentukan arah masyarakat di masa depan.
Ruang yang Dihidupi
Namun ada satu dimensi kampus yang tidak
pernah dapat sepenuhnya dijelaskan melalui dokumen kebijakan maupun laporan
akademik. Dimensi itu hidup dalam pengalaman.
Seorang alumni mungkin tidak lagi mengingat
seluruh teori yang pernah dipelajarinya. Ia mungkin lupa isi sebagian besar
materi kuliah yang pernah diikutinya. Tetapi ia masih mengingat dosen yang
mengubah cara berpikirnya. Ia mengingat ruang seminar tempat pertama kali
menyampaikan gagasan di depan publik. Ia mengingat perpustakaan yang menjadi
tempat bersembunyi dari kebisingan dunia. Ia mengingat bangku-bangku di sudut
kampus yang menjadi saksi diskusi panjang tentang masa depan.
Ya, kampus pada akhirnya hidup melalui
kenangan yang ditinggalkannya dalam diri mereka yang pernah menghuninya. Bagi
sebagian orang, kampus adalah ruang pembebasan intelektual. Tempat mereka
menemukan keberanian untuk berpikir secara mandiri. Tempat mereka belajar
mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap pasti. Bagi yang lain, kampus
adalah ruang pencarian identitas. Tempat seseorang menemukan siapa dirinya dan
apa yang ingin diperjuangkannya dalam hidup.
Tidak sedikit pula yang mengenang kampus
sebagai ruang pertemanan, aktivisme, dan berbagai pengalaman yang membentuk
arah hidup mereka jauh setelah masa studi berakhir. Karena itu kampus tidak
pernah berhenti ketika perkuliahan selesai. Ia terus hidup dalam ingatan mereka
yang pernah menjadi bagian darinya.
Ruang yang Sedang Dipertaruhkan
Hari ini kampus sedang menghadapi perubahan
besar. Revolusi digital mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Informasi
tersedia di mana-mana. Kecerdasan buatan mampu menjawab pertanyaan dalam
hitungan detik. Batas-batas ruang akademik menjadi semakin kabur. Pengetahuan
tidak lagi dimonopoli oleh ruang kuliah. Mahasiswa dapat belajar dari berbagai
sumber yang melampaui batas geografis kampus itu sendiri.
Dalam situasi seperti ini, muncul
pertanyaan yang semakin relevan. Jika pengetahuan dapat diperoleh dari mana
saja, lalu untuk apa kampus masih diperlukan? Jawabannya mungkin tidak terletak
pada informasi yang dimilikinya. Jawabannya terletak pada ruang yang
dihasilkannya.
Kampus adalah ruang tempat gagasan diuji
melalui dialog. Tempat perbedaan dipertemukan dalam argumentasi. Tempat
pengetahuan tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga diproduksi. Di dalam kampus,
seseorang belajar bahwa ilmu bukan sekadar kumpulan jawaban. Ilmu adalah
keberanian untuk mempertanyakan. Ilmu adalah kesediaan untuk meragukan. Ilmu
adalah upaya terus-menerus memahami kenyataan secara lebih jernih. Karena itu
fungsi kampus jauh melampaui penyelenggaraan perkuliahan. Kampus adalah ruang
publik intelektual.
Di ruang itulah karakter akademik dibentuk.
Integritas ilmiah diuji. Kejujuran intelektual dipraktikkan. Tanggung jawab
sosial dikembangkan. Di ruang itulah masyarakat masa depan sedang dipersiapkan.
Pertanyaan yang sesungguhnya penting bukan
lagi berapa banyak gedung baru yang dibangun atau seberapa megah fasilitas yang
dimiliki. Pertanyaannya adalah ruang seperti apa yang sedang diproduksi oleh
kampus hari ini.
Apakah ia menjadi ruang yang mendorong
kebebasan berpikir atau justru menumbuhkan kepatuhan intelektual. Apakah ia
menjadi ruang dialog atau ruang yang dipenuhi gema suara yang seragam. Apakah
ia membuka kemungkinan-kemungkinan baru atau sekadar mereproduksi kebiasaan
lama.
Sebab pada akhirnya kampus tidak pernah
hanya berbicara tentang pendidikan tinggi. Kampus berbicara tentang bagaimana
sebuah masyarakat membayangkan masa depannya. Mungkin karena itulah pertanyaan
pada judul tulisan ini tetap layak diajukan. Apakah kampus hanya sebuah
bangunan?
Jawabannya tentu tidak. Ia adalah ruang
tempat pengetahuan, kekuasaan, harapan, dan imajinasi sosial saling bertemu.
Sebuah ruang yang tampak biasa setiap hari, tetapi diam-diam sedang memproduksi
masa depan masyarakat yang akan lahir darinya.***


