SIANG ini saya
kembali ke kafe yang biasa saya datangi bersama Hussein, anak saya, pada akhir
pekan. Seperti biasa, saya membawa laptop dan sebuah buku. Hussein akan sibuk
dengan Android-nya. Nindy, kakaknya, memilih pergi ke rumah nenek dan datuknya.
Rutinitas kecil keluarga kami berjalan seperti biasa, seolah-olah dunia di luar
sana juga sedang baik-baik saja.
Tetapi
Pontianak siang ini tidak sedang baik-baik saja. Udara masih kotor. Bahkan
terasa begitu pekat meskipun hujan sempat turun. Ada sesuatu yang ganjil pada
hujan kali ini. Ia datang, tetapi tidak serta-merta mengusir asap. Seperti
seseorang yang mengetuk pintu rumah kita, tetapi tidak cukup kuat untuk
membangunkan penghuni yang telah terlalu lama tertidur.
Minggu,
20 September 2026, kabut asap masih menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Mata terasa tidak nyaman. Jarak pandang terganggu. Orang-orang memakai masker.
Aktivitas di luar ruangan menjadi sesuatu yang perlu dipikirkan kembali. Dan
seperti yang sering terjadi pada bencana yang berulang, kita mulai belajar
hidup berdampingan dengannya. Barangkali inilah yang paling mengkhawatirkan:
bukan hanya asapnya, tetapi kemampuan manusia untuk terbiasa dengan sesuatu
yang semestinya terus mengusik kesadarannya.
Beberapa
waktu lalu, salat istisqa digelar di berbagai tempat. Ribuan orang berkumpul,
menengadahkan tangan, memohon hujan. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam
ritual itu. Ketika langit terasa terlalu jauh, manusia mencari Tuhan. Ketika
bumi terasa terlalu panas, manusia mengharapkan air. Ketika ikhtiar terasa
tidak cukup, doa menjadi tempat kembali.
Tetapi
setelah tangan menengadah, ada pertanyaan yang seharusnya tidak kita
tinggalkan: apa yang dilakukan tangan kita ketika ia kembali turun? Pertanyaan
ini penting karena agama tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana meminta.
Agama juga mengajarkan bagaimana bertanggung jawab. Kita berdoa memohon hujan,
tetapi pada saat yang sama kita perlu bertanya bagaimana manusia memperlakukan
tanah, hutan, air, dan seluruh kehidupan yang berada di sekitarnya.
Al-Qur'an
menyebutkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut
tampak karena perbuatan tangan manusia, agar manusia merasakan sebagian akibat
dari perbuatannya dan kembali. Saya tertarik pada kata terakhir itu: kembali.
Kembali?
Kata
ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang dalam.
Kembali berarti pernah pergi. Kembali berarti ada jarak yang harus ditempuh.
Dan dalam konteks bencana ekologis, kita mungkin perlu bertanya: dari mana kita
telah pergi?
Mungkin
kita telah pergi dari cara pandang yang melihat alam sebagai amanah. Kita telah
terlalu lama melihat hutan sebagai cadangan ekonomi, tanah sebagai komoditas,
sungai sebagai saluran pembuangan, dan udara sebagai sesuatu yang tersedia
tanpa batas. Kita berbicara tentang pembangunan, tetapi kadang lupa bertanya
pembangunan untuk siapa, dengan biaya apa, dan diwariskan kepada generasi
seperti apa. Di sinilah agama kembali diuji. Bukan hanya pada seberapa sering
ia disebut, tetapi pada seberapa jauh ia mengubah cara kita hidup.
Jika
kita hari ini diuji dengan berbagai bencana, salah satunya kabut asap, apakah
ini setidaknya menjadi kesempatan untuk bertanya apakah kita masih
sungguh-sungguh mendengar pesan-pesan Al-Qur'an dan teladan Nabi SAW dalam
membaca tanda-tanda kehidupan? Kita tentu tidak memiliki kewenangan untuk
memastikan bahwa setiap bencana adalah hukuman Tuhan. Tetapi kita juga tidak
seharusnya menutup mata terhadap kemungkinan bahwa bencana mengandung pelajaran
moral yang meminta kita bercermin.
Jangan-jangan
kita terlalu lama menganggap alam sebagai sesuatu yang dapat ditantang. Kita
membakar, mengeksploitasi, mengambil, mengubah, lalu ketika akibatnya datang,
kita menengadah dan bertanya mengapa Tuhan belum juga memperbaikinya. Di titik
ini, agama seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Sebab
ada ironi yang lebih dalam. Kita mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi kadang
hidup seolah-olah Tuhan tidak hadir dalam konsekuensi dari setiap tindakan
kita. Dalam bahasa yang lebih ekstrem, kita mungkin tergoda mengingat ungkapan
Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman, Gott ist tot, “Tuhan telah mati”,
yang terkenal antara lain melalui Thus Spoke Zarathustra. Ungkapan itu
memiliki konteks filsafat yang jauh lebih rumit daripada sekadar pernyataan
bahwa Tuhan tidak ada. Namun sebagai cermin kebudayaan, ia memberi pertanyaan
yang mengusik: bagaimana jika yang “mati” dalam diri kita bukan Tuhan,
melainkan daya hidup nilai-nilai yang kita yakini?
Pertanyaan
ini tentu bukan untuk menyamakan keadaan kita dengan pemikiran Nietzsche. Jauh
dari itu. Tetapi ia dapat menjadi cermin kecil bagi keberagamaan kita. Sebab
apa artinya beragama jika agama hanya menjadi penanda administratif pada kartu
identitas, sementara pesan moralnya tidak ikut menentukan cara kita
memperlakukan kehidupan?
Di
Indonesia kita mengenal istilah satire “Islam KTP”. Istilah itu biasanya
diarahkan kepada mereka yang secara identitas tercatat sebagai Muslim, tetapi
nilai-nilai Islam tidak sungguh-sungguh hadir dalam perilakunya. Barangkali
istilah itu tidak perlu pertama-tama diarahkan kepada orang lain. Ia justru
lebih berguna apabila menjadi pertanyaan kepada diri sendiri: jangan-jangan
kita semua memiliki wilayah “Islam KTP” dalam diri masing-masing, ketika
identitas keagamaan lebih cepat kita tunjukkan daripada tanggung jawab yang
seharusnya menyertainya. Lalu kita kembali pada pendidikan.
Filsafat
pendidikan Islam tidak memandang pendidikan sekadar sebagai proses memindahkan
pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan menyentuh pertanyaan
yang jauh lebih mendasar: manusia seperti apa yang hendak dibentuk? Untuk apa
manusia dididik? Ilmu hendak diarahkan ke mana? Dan kehidupan seperti apa yang
hendak dibangun melalui pendidikan?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut membawa kita pada hakikat manusia. Dalam perspektif pendidikan Islam,
manusia bukan hanya makhluk biologis yang membutuhkan pengetahuan untuk bertahan
hidup. Manusia memiliki dimensi jasmani dan rohani, memiliki fitrah, sekaligus
mengemban peran sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.
Kalau
manusia adalah khalifah, maka pendidikan semestinya tidak hanya mengajarkan
bagaimana manusia menguasai alam. Pendidikan juga harus mengajarkan bagaimana
manusia bertanggung jawab terhadap alam. Ada perbedaan yang besar antara
menguasai dan merawat. Ilmu pengetahuan memungkinkan manusia mengubah dunia.
Tetapi pendidikan seharusnya mengajarkan kapan perubahan itu perlu dilakukan
dan kapan manusia harus menahan dirinya.
Karena
itu, kabut asap dapat dibaca sebagai persoalan pendidikan. Bukan karena
orang-orang yang menyebabkan kerusakan lingkungan pasti tidak berpendidikan.
Kita tidak boleh membuat kesimpulan sesederhana itu. Persoalannya lebih dalam.
Bisa jadi kita memiliki masyarakat yang semakin terdidik secara formal, tetapi
belum tentu semakin matang dalam memahami hubungan antara ilmu, kekuasaan,
kepentingan, dan tanggung jawab. Kita mungkin berhasil mencetak manusia yang
pandai menghitung keuntungan, tetapi belum cukup berhasil membentuk manusia
yang mampu menghitung akibat.
Maka
filsafat pendidikan Islam memberi pertanyaan yang menarik melalui tiga wilayah:
ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Secara ontologis, pendidikan Islam
bertanya tentang hakikat manusia dan realitas yang hendak dipahami. Jika
manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki hubungan dengan Tuhan, sesama
manusia, dan alam, maka pendidikan tidak boleh mempersempit kehidupan hanya
menjadi urusan manusia dengan dirinya sendiri. Alam pun menjadi bagian dari
ruang pendidikan moral manusia.
Secara
epistemologis, kita bertanya dari mana pengetahuan diperoleh dan bagaimana
pengetahuan itu dibenarkan. Dalam tradisi Islam, indra dan akal memiliki tempat
penting, tetapi pengetahuan juga tidak dilepaskan dari wahyu. Maka membaca
kabut asap seharusnya tidak berhenti pada angka kualitas udara, citra satelit,
titik panas, atau laporan ilmiah. Semua itu penting. Tetapi manusia juga perlu
membaca makna moral dari kerusakan tersebut. Dengan kata lain, kita membutuhkan
ilmu yang mampu menjelaskan bagaimana asap terjadi, sekaligus kebijaksanaan
untuk bertanya mengapa manusia terus mengulangi kondisi yang sama.
Kemudian
ada aksiologi, wilayah yang bertanya untuk apa ilmu digunakan. Di sinilah
pendidikan Islam menghadapi ujian yang sebenarnya. Ilmu tidak cukup hanya benar
secara metodologis. Ia juga perlu dipertanyakan manfaat dan orientasinya.
Pengetahuan tentang hutan, tanah, teknologi, ekonomi, dan pembangunan
seharusnya diarahkan pada kemaslahatan, bukan semata-mata kemampuan mengambil
sebanyak mungkin dari alam.
Karena
itu, pendidikan Islam seharusnya tidak berhenti pada ta'lim, pada
proses membuat manusia tahu. Ia juga harus menyentuh pembentukan karakter,
akhlak, pembiasaan, keteladanan, dan penyucian jiwa. Manusia perlu dididik
bukan hanya agar mampu menjawab pertanyaan “apa yang benar?”, tetapi juga “apa
yang baik?” dan “apa yang seharusnya saya lakukan?”
Mungkin
di sinilah persoalan kita menjadi semakin jelas. Kita terlalu sering mengukur
keberhasilan pendidikan melalui apa yang diketahui seseorang, bukan melalui
bagaimana pengetahuan itu mengubah cara hidupnya. Seseorang dapat mengetahui
bahwa kerusakan lingkungan berbahaya, tetapi pengetahuan itu belum tentu
membuatnya berhenti merusak. Seseorang dapat menghafal ayat tentang amanah,
tetapi hafalan belum tentu membuatnya amanah. Seseorang dapat berbicara panjang
tentang akhlak, tetapi pembicaraan belum tentu menjadikannya berakhlak.
Pendidikan
baru menemukan maknanya ketika pengetahuan menjelma kesadaran, kesadaran
menjelma kebiasaan, dan kebiasaan menjelma tindakan. Dalam konteks itu,
Al-Qur'an bukan sekadar buku yang selesai dibaca. Ia seharusnya menjadi cara
membaca kehidupan. Sunah Nabi bukan sekadar kumpulan hadis yang dikutip untuk
memenangkan perdebatan. Ia merupakan teladan bagaimana nilai diterjemahkan
menjadi tindakan.
Bukan hanya
dengan mata, tetapi dengan luka
Barangkali
kita perlu belajar membaca Al-Qur’an dengan cara yang sedikit berbeda, bukan
hanya dengan mata yang mengeja huruf demi huruf, tetapi juga dengan pengalaman
hidup yang membuat kita memahami kedalaman pesan di dalamnya. Ayat tentang
kesabaran akan terasa lain ketika kita sedang kecewa, ayat tentang pengampunan
akan menemukan maknanya ketika kita terluka, ayat tentang amanah akan terasa
lebih berat ketika kita memegang kekuasaan, dan ayat tentang kerusakan di bumi
akan terasa lebih dekat ketika kita sendiri menghirup udara yang dipenuhi asap.
Pada
titik itulah Al-Qur’an tidak lagi sekadar menjadi bacaan, tetapi menjadi
percakapan antara wahyu dan kehidupan, antara teks dan kenyataan, antara apa
yang kita yakini dan bagaimana kita menjalani kehidupan. Maka, barangkali
persoalan kita bukan karena terlalu sedikit membaca agama, melainkan karena
kita terlalu cepat membacanya, menyelesaikan ayat demi ayat tanpa memberi cukup
ruang bagi pesan itu untuk tinggal, menggugat, dan mengubah diri kita. Sebab
ada ayat yang tidak cukup hanya dibaca, tetapi perlu direnungkan, dialami,
bahkan kadang membuat kita merasa tidak nyaman, karena wahyu tidak selalu
datang untuk membenarkan apa yang sudah kita pikirkan, melainkan juga untuk
menegur, menyadarkan, dan mengajak kita kembali melihat diri sendiri.
Akuilah,
kita terlalu sering membaca ayat, lalu berpindah halaman, itu pun kalau kita
masih membacanya. Kita mendengar ceramah, lalu kembali menggulir layar. Kita
menghafal hadis, lalu mengutipnya ketika diperlukan untuk menguatkan argumen.
Pengetahuan agama akhirnya banyak berhenti di kepala, menjadi sesuatu yang kita
tahu, kita bicarakan, bahkan kita perdebatkan, tetapi belum selalu turun
menjadi sikap, kebiasaan, dan tindakan. Agama terdengar fasih di lisan, tetapi
kadang belum cukup terasa dalam cara kita memperlakukan sesama, menjaga amanah,
dan merawat kehidupan. Padahal, keberagamaan semestinya tidak hanya membuat
kita semakin pandai menjelaskan kebenaran, tetapi juga semakin mampu
mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal
pendidikan Islam menghendaki manusia yang utuh. Manusia yang cerdas secara
intelektual, baik secara moral, matang secara spiritual, dan mampu menjalani
kehidupan dengan tanggung jawab. Manusia seperti inilah yang semestinya lahir
dari pendidikan, bukan hanya manusia yang memiliki banyak pengetahuan.
Karena
itu, kabut asap memberi kita sebuah pertanyaan pendidikan yang sangat sederhana
sekaligus sulit: apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan kepada generasi
berikutnya? Apakah kita sedang mengajarkan bahwa alam adalah sesuatu yang boleh
dieksploitasi selama menghasilkan keuntungan? Apakah kita sedang mengajarkan
bahwa bencana cukup dihadapi dengan doa setelah kerusakan terjadi? Ataukah kita
sedang mengajarkan bahwa doa, ilmu, akhlak, kebijakan, dan tanggung jawab
ekologis harus berjalan bersama?
Hussein
masih sibuk dengan Android-nya ketika saya menulis ini. Mungkin kelak ia akan
membaca kembali tulisan-tulisan semacam ini ketika kabut asap hanya menjadi
cerita masa lalu. Saya berharap begitu. Tetapi saya juga berharap sesuatu yang
lebih penting: semoga ketika ia dewasa nanti, ia tidak hanya tahu bahwa
Pontianak pernah mengalami kabut asap, melainkan memahami mengapa manusia harus
belajar dari setiap bencana.
Sebab
pada akhirnya, bencana tidak hanya meminta kita untuk bertahan. Ia meminta kita
untuk belajar. Dan belajar bukan hanya berarti mengetahui bahwa sesuatu telah
terjadi. Belajar berarti mengubah cara kita memandang sesuatu setelah ia
terjadi.
Mungkin
inilah arti kembali setelah
bencana. Kembali kepada kesadaran bahwa manusia bukan
pemilik mutlak bumi. Kembali kepada tanggung jawab sebagai khalifah. Kembali
kepada pendidikan yang tidak memisahkan ilmu dari akhlak. Kembali kepada agama
yang tidak berhenti sebagai identitas. Kembali kepada Al-Qur'an bukan hanya
sebagai bacaan, tetapi sebagai petunjuk untuk menjalani kehidupan.
Kita boleh berharap hujan turun. Kita boleh menengadahkan tangan. Kita boleh melaksanakan salat istisqa. Tetapi setelah tangan itu turun, ada pekerjaan panjang yang menunggu. Membenahi cara kita memandang alam. Membenahi cara kita menggunakan ilmu. Membenahi cara kita mendidik anak-anak. Membenahi cara kita memahami kemajuan. Sebab mungkin Tuhan tidak hanya meminta kita kembali kepada-Nya setelah bencana. Mungkin Dia juga sedang mengajarkan kita untuk kembali menjadi manusia. Menurut Anda?.***


