Iklan

Kembali Setelah Bencana

syamsul kurniawan
Sunday, September 20, 2026
Last Updated 2026-09-20T09:53:34Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

SIANG ini saya kembali ke kafe yang biasa saya datangi bersama Hussein, anak saya, pada akhir pekan. Seperti biasa, saya membawa laptop dan sebuah buku. Hussein akan sibuk dengan Android-nya. Nindy, kakaknya, memilih pergi ke rumah nenek dan datuknya. Rutinitas kecil keluarga kami berjalan seperti biasa, seolah-olah dunia di luar sana juga sedang baik-baik saja.

Tetapi Pontianak siang ini tidak sedang baik-baik saja. Udara masih kotor. Bahkan terasa begitu pekat meskipun hujan sempat turun. Ada sesuatu yang ganjil pada hujan kali ini. Ia datang, tetapi tidak serta-merta mengusir asap. Seperti seseorang yang mengetuk pintu rumah kita, tetapi tidak cukup kuat untuk membangunkan penghuni yang telah terlalu lama tertidur.

Minggu, 20 September 2026, kabut asap masih menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Mata terasa tidak nyaman. Jarak pandang terganggu. Orang-orang memakai masker. Aktivitas di luar ruangan menjadi sesuatu yang perlu dipikirkan kembali. Dan seperti yang sering terjadi pada bencana yang berulang, kita mulai belajar hidup berdampingan dengannya. Barangkali inilah yang paling mengkhawatirkan: bukan hanya asapnya, tetapi kemampuan manusia untuk terbiasa dengan sesuatu yang semestinya terus mengusik kesadarannya.

Beberapa waktu lalu, salat istisqa digelar di berbagai tempat. Ribuan orang berkumpul, menengadahkan tangan, memohon hujan. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam ritual itu. Ketika langit terasa terlalu jauh, manusia mencari Tuhan. Ketika bumi terasa terlalu panas, manusia mengharapkan air. Ketika ikhtiar terasa tidak cukup, doa menjadi tempat kembali.

Tetapi setelah tangan menengadah, ada pertanyaan yang seharusnya tidak kita tinggalkan: apa yang dilakukan tangan kita ketika ia kembali turun? Pertanyaan ini penting karena agama tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana meminta. Agama juga mengajarkan bagaimana bertanggung jawab. Kita berdoa memohon hujan, tetapi pada saat yang sama kita perlu bertanya bagaimana manusia memperlakukan tanah, hutan, air, dan seluruh kehidupan yang berada di sekitarnya.

Al-Qur'an menyebutkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut tampak karena perbuatan tangan manusia, agar manusia merasakan sebagian akibat dari perbuatannya dan kembali. Saya tertarik pada kata terakhir itu: kembali.

 

Kembali?

Kata ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang dalam. Kembali berarti pernah pergi. Kembali berarti ada jarak yang harus ditempuh. Dan dalam konteks bencana ekologis, kita mungkin perlu bertanya: dari mana kita telah pergi?

Mungkin kita telah pergi dari cara pandang yang melihat alam sebagai amanah. Kita telah terlalu lama melihat hutan sebagai cadangan ekonomi, tanah sebagai komoditas, sungai sebagai saluran pembuangan, dan udara sebagai sesuatu yang tersedia tanpa batas. Kita berbicara tentang pembangunan, tetapi kadang lupa bertanya pembangunan untuk siapa, dengan biaya apa, dan diwariskan kepada generasi seperti apa. Di sinilah agama kembali diuji. Bukan hanya pada seberapa sering ia disebut, tetapi pada seberapa jauh ia mengubah cara kita hidup.

Jika kita hari ini diuji dengan berbagai bencana, salah satunya kabut asap, apakah ini setidaknya menjadi kesempatan untuk bertanya apakah kita masih sungguh-sungguh mendengar pesan-pesan Al-Qur'an dan teladan Nabi SAW dalam membaca tanda-tanda kehidupan? Kita tentu tidak memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa setiap bencana adalah hukuman Tuhan. Tetapi kita juga tidak seharusnya menutup mata terhadap kemungkinan bahwa bencana mengandung pelajaran moral yang meminta kita bercermin.

Jangan-jangan kita terlalu lama menganggap alam sebagai sesuatu yang dapat ditantang. Kita membakar, mengeksploitasi, mengambil, mengubah, lalu ketika akibatnya datang, kita menengadah dan bertanya mengapa Tuhan belum juga memperbaikinya. Di titik ini, agama seharusnya membuat kita berhenti sejenak.

Sebab ada ironi yang lebih dalam. Kita mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi kadang hidup seolah-olah Tuhan tidak hadir dalam konsekuensi dari setiap tindakan kita. Dalam bahasa yang lebih ekstrem, kita mungkin tergoda mengingat ungkapan Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman, Gott ist tot, “Tuhan telah mati”, yang terkenal antara lain melalui Thus Spoke Zarathustra. Ungkapan itu memiliki konteks filsafat yang jauh lebih rumit daripada sekadar pernyataan bahwa Tuhan tidak ada. Namun sebagai cermin kebudayaan, ia memberi pertanyaan yang mengusik: bagaimana jika yang “mati” dalam diri kita bukan Tuhan, melainkan daya hidup nilai-nilai yang kita yakini?

Pertanyaan ini tentu bukan untuk menyamakan keadaan kita dengan pemikiran Nietzsche. Jauh dari itu. Tetapi ia dapat menjadi cermin kecil bagi keberagamaan kita. Sebab apa artinya beragama jika agama hanya menjadi penanda administratif pada kartu identitas, sementara pesan moralnya tidak ikut menentukan cara kita memperlakukan kehidupan?

Di Indonesia kita mengenal istilah satire “Islam KTP”. Istilah itu biasanya diarahkan kepada mereka yang secara identitas tercatat sebagai Muslim, tetapi nilai-nilai Islam tidak sungguh-sungguh hadir dalam perilakunya. Barangkali istilah itu tidak perlu pertama-tama diarahkan kepada orang lain. Ia justru lebih berguna apabila menjadi pertanyaan kepada diri sendiri: jangan-jangan kita semua memiliki wilayah “Islam KTP” dalam diri masing-masing, ketika identitas keagamaan lebih cepat kita tunjukkan daripada tanggung jawab yang seharusnya menyertainya. Lalu kita kembali pada pendidikan.

Filsafat pendidikan Islam tidak memandang pendidikan sekadar sebagai proses memindahkan pengetahuan dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan menyentuh pertanyaan yang jauh lebih mendasar: manusia seperti apa yang hendak dibentuk? Untuk apa manusia dididik? Ilmu hendak diarahkan ke mana? Dan kehidupan seperti apa yang hendak dibangun melalui pendidikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada hakikat manusia. Dalam perspektif pendidikan Islam, manusia bukan hanya makhluk biologis yang membutuhkan pengetahuan untuk bertahan hidup. Manusia memiliki dimensi jasmani dan rohani, memiliki fitrah, sekaligus mengemban peran sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.

Kalau manusia adalah khalifah, maka pendidikan semestinya tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia menguasai alam. Pendidikan juga harus mengajarkan bagaimana manusia bertanggung jawab terhadap alam. Ada perbedaan yang besar antara menguasai dan merawat. Ilmu pengetahuan memungkinkan manusia mengubah dunia. Tetapi pendidikan seharusnya mengajarkan kapan perubahan itu perlu dilakukan dan kapan manusia harus menahan dirinya.

Karena itu, kabut asap dapat dibaca sebagai persoalan pendidikan. Bukan karena orang-orang yang menyebabkan kerusakan lingkungan pasti tidak berpendidikan. Kita tidak boleh membuat kesimpulan sesederhana itu. Persoalannya lebih dalam. Bisa jadi kita memiliki masyarakat yang semakin terdidik secara formal, tetapi belum tentu semakin matang dalam memahami hubungan antara ilmu, kekuasaan, kepentingan, dan tanggung jawab. Kita mungkin berhasil mencetak manusia yang pandai menghitung keuntungan, tetapi belum cukup berhasil membentuk manusia yang mampu menghitung akibat.

Maka filsafat pendidikan Islam memberi pertanyaan yang menarik melalui tiga wilayah: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Secara ontologis, pendidikan Islam bertanya tentang hakikat manusia dan realitas yang hendak dipahami. Jika manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, maka pendidikan tidak boleh mempersempit kehidupan hanya menjadi urusan manusia dengan dirinya sendiri. Alam pun menjadi bagian dari ruang pendidikan moral manusia.

Secara epistemologis, kita bertanya dari mana pengetahuan diperoleh dan bagaimana pengetahuan itu dibenarkan. Dalam tradisi Islam, indra dan akal memiliki tempat penting, tetapi pengetahuan juga tidak dilepaskan dari wahyu. Maka membaca kabut asap seharusnya tidak berhenti pada angka kualitas udara, citra satelit, titik panas, atau laporan ilmiah. Semua itu penting. Tetapi manusia juga perlu membaca makna moral dari kerusakan tersebut. Dengan kata lain, kita membutuhkan ilmu yang mampu menjelaskan bagaimana asap terjadi, sekaligus kebijaksanaan untuk bertanya mengapa manusia terus mengulangi kondisi yang sama.

Kemudian ada aksiologi, wilayah yang bertanya untuk apa ilmu digunakan. Di sinilah pendidikan Islam menghadapi ujian yang sebenarnya. Ilmu tidak cukup hanya benar secara metodologis. Ia juga perlu dipertanyakan manfaat dan orientasinya. Pengetahuan tentang hutan, tanah, teknologi, ekonomi, dan pembangunan seharusnya diarahkan pada kemaslahatan, bukan semata-mata kemampuan mengambil sebanyak mungkin dari alam.

Karena itu, pendidikan Islam seharusnya tidak berhenti pada ta'lim, pada proses membuat manusia tahu. Ia juga harus menyentuh pembentukan karakter, akhlak, pembiasaan, keteladanan, dan penyucian jiwa. Manusia perlu dididik bukan hanya agar mampu menjawab pertanyaan “apa yang benar?”, tetapi juga “apa yang baik?” dan “apa yang seharusnya saya lakukan?”

Mungkin di sinilah persoalan kita menjadi semakin jelas. Kita terlalu sering mengukur keberhasilan pendidikan melalui apa yang diketahui seseorang, bukan melalui bagaimana pengetahuan itu mengubah cara hidupnya. Seseorang dapat mengetahui bahwa kerusakan lingkungan berbahaya, tetapi pengetahuan itu belum tentu membuatnya berhenti merusak. Seseorang dapat menghafal ayat tentang amanah, tetapi hafalan belum tentu membuatnya amanah. Seseorang dapat berbicara panjang tentang akhlak, tetapi pembicaraan belum tentu menjadikannya berakhlak.

Pendidikan baru menemukan maknanya ketika pengetahuan menjelma kesadaran, kesadaran menjelma kebiasaan, dan kebiasaan menjelma tindakan. Dalam konteks itu, Al-Qur'an bukan sekadar buku yang selesai dibaca. Ia seharusnya menjadi cara membaca kehidupan. Sunah Nabi bukan sekadar kumpulan hadis yang dikutip untuk memenangkan perdebatan. Ia merupakan teladan bagaimana nilai diterjemahkan menjadi tindakan.

 

Bukan hanya dengan mata, tetapi dengan luka

Barangkali kita perlu belajar membaca Al-Qur’an dengan cara yang sedikit berbeda, bukan hanya dengan mata yang mengeja huruf demi huruf, tetapi juga dengan pengalaman hidup yang membuat kita memahami kedalaman pesan di dalamnya. Ayat tentang kesabaran akan terasa lain ketika kita sedang kecewa, ayat tentang pengampunan akan menemukan maknanya ketika kita terluka, ayat tentang amanah akan terasa lebih berat ketika kita memegang kekuasaan, dan ayat tentang kerusakan di bumi akan terasa lebih dekat ketika kita sendiri menghirup udara yang dipenuhi asap.

Pada titik itulah Al-Qur’an tidak lagi sekadar menjadi bacaan, tetapi menjadi percakapan antara wahyu dan kehidupan, antara teks dan kenyataan, antara apa yang kita yakini dan bagaimana kita menjalani kehidupan. Maka, barangkali persoalan kita bukan karena terlalu sedikit membaca agama, melainkan karena kita terlalu cepat membacanya, menyelesaikan ayat demi ayat tanpa memberi cukup ruang bagi pesan itu untuk tinggal, menggugat, dan mengubah diri kita. Sebab ada ayat yang tidak cukup hanya dibaca, tetapi perlu direnungkan, dialami, bahkan kadang membuat kita merasa tidak nyaman, karena wahyu tidak selalu datang untuk membenarkan apa yang sudah kita pikirkan, melainkan juga untuk menegur, menyadarkan, dan mengajak kita kembali melihat diri sendiri.

Akuilah, kita terlalu sering membaca ayat, lalu berpindah halaman, itu pun kalau kita masih membacanya. Kita mendengar ceramah, lalu kembali menggulir layar. Kita menghafal hadis, lalu mengutipnya ketika diperlukan untuk menguatkan argumen. Pengetahuan agama akhirnya banyak berhenti di kepala, menjadi sesuatu yang kita tahu, kita bicarakan, bahkan kita perdebatkan, tetapi belum selalu turun menjadi sikap, kebiasaan, dan tindakan. Agama terdengar fasih di lisan, tetapi kadang belum cukup terasa dalam cara kita memperlakukan sesama, menjaga amanah, dan merawat kehidupan. Padahal, keberagamaan semestinya tidak hanya membuat kita semakin pandai menjelaskan kebenaran, tetapi juga semakin mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal pendidikan Islam menghendaki manusia yang utuh. Manusia yang cerdas secara intelektual, baik secara moral, matang secara spiritual, dan mampu menjalani kehidupan dengan tanggung jawab. Manusia seperti inilah yang semestinya lahir dari pendidikan, bukan hanya manusia yang memiliki banyak pengetahuan.

Karena itu, kabut asap memberi kita sebuah pertanyaan pendidikan yang sangat sederhana sekaligus sulit: apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan kepada generasi berikutnya? Apakah kita sedang mengajarkan bahwa alam adalah sesuatu yang boleh dieksploitasi selama menghasilkan keuntungan? Apakah kita sedang mengajarkan bahwa bencana cukup dihadapi dengan doa setelah kerusakan terjadi? Ataukah kita sedang mengajarkan bahwa doa, ilmu, akhlak, kebijakan, dan tanggung jawab ekologis harus berjalan bersama?

Hussein masih sibuk dengan Android-nya ketika saya menulis ini. Mungkin kelak ia akan membaca kembali tulisan-tulisan semacam ini ketika kabut asap hanya menjadi cerita masa lalu. Saya berharap begitu. Tetapi saya juga berharap sesuatu yang lebih penting: semoga ketika ia dewasa nanti, ia tidak hanya tahu bahwa Pontianak pernah mengalami kabut asap, melainkan memahami mengapa manusia harus belajar dari setiap bencana.

Sebab pada akhirnya, bencana tidak hanya meminta kita untuk bertahan. Ia meminta kita untuk belajar. Dan belajar bukan hanya berarti mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi. Belajar berarti mengubah cara kita memandang sesuatu setelah ia terjadi.

Mungkin inilah arti kembali setelah bencana. Kembali kepada kesadaran bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi. Kembali kepada tanggung jawab sebagai khalifah. Kembali kepada pendidikan yang tidak memisahkan ilmu dari akhlak. Kembali kepada agama yang tidak berhenti sebagai identitas. Kembali kepada Al-Qur'an bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai petunjuk untuk menjalani kehidupan.

Kita boleh berharap hujan turun. Kita boleh menengadahkan tangan. Kita boleh melaksanakan salat istisqa. Tetapi setelah tangan itu turun, ada pekerjaan panjang yang menunggu. Membenahi cara kita memandang alam. Membenahi cara kita menggunakan ilmu. Membenahi cara kita mendidik anak-anak. Membenahi cara kita memahami kemajuan. Sebab mungkin Tuhan tidak hanya meminta kita kembali kepada-Nya setelah bencana. Mungkin Dia juga sedang mengajarkan kita untuk kembali menjadi manusia. Menurut Anda?.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now