Cerpen: Syamsul Kurniawan
Rumah kecil itu berdiri di ujung gang sempit seperti seseorang yang
sedang belajar bertahan hidup. Dindingnya belum dicat. Semen kasarnya masih
menyimpan bekas telapak tangan tukang bangunan. Besi pagarnya bahkan belum
selesai dilas sempurna. Jika hujan turun terlalu deras, air masih merembes dari
sela talang belakang dapur.
Tetapi bagi Dimas dan Ranti, rumah itu adalah kemenangan. Kemenangan
kecil setelah bertahun-tahun hidup berpindah dari satu kontrakan sempit ke
kontrakan lain yang lebih pengap.
“Akhirnya kita punya rumah sendiri,” kata Ranti malam pertama
mereka pindah.
Dimas hanya tersenyum sambil memandangi langit-langit rumah yang masih
polos.
“Kecil,” katanya pelan. “Tapi milik sendiri.”
Kadang manusia memang tidak membutuhkan istana untuk bahagia. Cukup
sebuah tempat yang membuatnya berhenti merasa terusir.
Di luar rumah, kota terus bergerak seperti mesin raksasa yang tidak
pernah benar-benar tidur. Jalan layang tumbuh di mana-mana. Gedung-gedung kaca
berdiri angkuh memantulkan cahaya matahari sore. Reklame raksasa menawarkan
kebahagiaan dalam bentuk cicilan nol persen. Di televisi, para pejabat
berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dengan wajah penuh keyakinan, seolah
angka-angka statistik mampu mengenyangkan perut rakyat kecil.
Itulah Jakarta tahun 2018.
Kota yang selalu punya dua wajah. Satu wajah hidup nyaman di ruangan
berpendingin udara. Satu lagi tidur di bawah jembatan bersama bau got dan
solar.
Dimas bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan distributor
elektronik di Glodok. Hidupnya rutin seperti bunyi mesin fotokopi: datang pagi,
pulang malam, lembur bila diperlukan. Sedangkan Ranti mengajar di sebuah TK
swasta dengan gaji yang sering terlambat datang dibanding tagihan listrik.
Tetapi mereka bertahan. Seperti jutaan pasangan lain di ibu kota yang
hidup dari tanggal muda ke tanggal tua sambil pura-pura baik-baik saja.
Ranti gemar membaca buku-buku bekas. Rak kecil di ruang tamu dipenuhi
novel tua, buku filsafat, dan teori sosial yang ia beli murah di Kwitang.
Suatu sore, sambil duduk di lantai ruang tamu yang masih berbau semen,
ia membaca keras-keras dari sebuah buku tua milik Edmund Burke.
“Ketika para pemimpin lebih sibuk menawar popularitas, bakat mereka
tidak lagi berguna untuk membangun negara. Mereka berubah menjadi penjilat,
bukan pembuat arah.”1
Dimas tertawa kecil.
“Politisi memang begitu dari dulu.”
Ranti menutup bukunya perlahan.
“Bukan cuma politisi.”
“Maksudmu?”
“Semua orang bisa jadi begitu. Saat manusia lebih sibuk terlihat
benar dibanding menjadi benar.”
Dimas tidak terlalu memikirkan kalimat itu. Kepalanya terlalu lelah
setelah seharian berkutat dengan nota pengiriman barang dan spreadsheet
inventaris. Kadang teori memang terdengar lucu di tengah harga minyak goreng
yang naik.
Masalah dimulai tiga hari setelah mereka pindah.
Pagi itu Dimas menemukan bungkus nasi kotor di dekat pagar rumah. Kertas
minyaknya berminyak. Ada sisa sambal menghitam, tulang ayam, dan nasi keras
yang mulai basi.
“Kurang ajar,” gerutunya.
Ia membersihkan sampah itu sambil menahan kesal. Namun keesokan harinya
bungkus nasi itu muncul lagi. Lalu lagi. Dan lagi.
Seolah pagar rumah mereka diam-diam telah dipilih menjadi tempat singgah
manusia-manusia gagal yang tersesat di kota.
“Pasti anak jalanan,” gerutu Dimas.
“Atau orang lapar,” jawab Ranti tenang.
“Kenapa harus di rumah kita?” tanya Dimas kesal.
Ranti menatap lampu teras yang masih menyala redup.
“Mungkin karena di sini masih ada cahaya.”
Jawaban itu tidak memuaskan Dimas.
Baginya rumah bukan sekadar tempat tinggal. Rumah adalah simbol
keberhasilan. Simbol bahwa ia berhasil keluar dari hidup serba kekurangan. Dan
simbol itu sekarang sedang dikotori.
Ia mulai memperhatikan gang dengan curiga. Setiap orang asing yang lewat
terasa mencurigakan. Setiap suara plastik malam hari membuatnya jengkel.
Suatu malam ia mengeluh kepada Pak Slamet, tetangga tertua di gang itu.
Pak Slamet pensiunan PJKA. Tubuhnya kurus. Kulitnya legam dimakan usia.
Tetapi matanya menyimpan ketenangan orang yang terlalu lama hidup bersama
kesusahan.
“Pak, tahu siapa yang sering meninggalkan bungkus nasi di depan rumah
saya?” tanya Dimas.
Pak Slamet mengisap rokok kretek pelan sebelum menjawab, “Kadang ada
gelandangan lewat malam.”
“Ya jangan di rumah saya juga,” ketus Dimas.
Pak Slamet tersenyum tipis. Kerutan di wajah tuanya bergerak pelan
seperti menyimpan terlalu banyak cerita tentang hidup. “Ini Jakarta, Mas.”
Dimas tidak tertawa. Ia pulang dengan kesal.
Malam itu juga ia membuat papan kayu kecil. Dicat putih. Ditulis dengan
huruf hitam besar:
“JANGAN BUANG SAMPAH DI SINI, DASAR ANJING.”
Ranti membaca tulisan itu lama. “Kasar sekali,” gumamnya pelan.
“Biar kapok,” jawab Dimas singkat. “Kalau dia tersinggung,
berarti dia masih merasa manusia.”
Ranti terdiam.
Kadang manusia terlalu mudah menyebut sesuatu sebagai disiplin, padahal
itu hanya ego yang sedang mencari pembenaran.
Namun papan itu ternyata tidak berhasil. Bungkus nasi tetap muncul. Bahkan
sekarang lebih banyak. Ada plastik kopi sachet. Ada puntung rokok. Ada pecahan
kerupuk.
Seolah tulisan Dimas sedang diejek diam-diam oleh kota.
Amarahnya tumbuh menjadi obsesi. Baginya ini bukan lagi soal sampah. Ini
soal harga diri. Soal wilayah kekuasaan. Soal bagaimana kata-katanya diabaikan.
Dan manusia kelas menengah paling takut pada satu hal: merasa tidak
dihormati.
***
Malam berikutnya Dimas memutuskan berjaga. Lampu teras dimatikan. Gang
menjadi gelap dan lembap. Dari kejauhan terdengar suara kereta malam melintas
seperti keluhan panjang kota yang kelelahan.
Pukul dua dini hari. Akhirnya sosok itu muncul.
Seorang laki-laki kurus berjalan tertatih dari ujung gang. Rambutnya
gimbal. Bajunya lusuh. Sandalnya berbeda warna. Tubuhnya seperti kumpulan
tulang yang dibungkus debu jalanan.
Ia duduk di dekat pagar. Lalu mengeluarkan nasi bungkus dari kantong
plastik hitam. Tangannya gemetar saat membuka kertas minyak. Ia makan perlahan.
Sangat perlahan. Seolah ingin memperpanjang rasa kenyang.
Dimas mengintip dari balik tirai. Aneh sekali. Pemandangan itu tidak
membuatnya iba. Ia justru merasa jijik.
Mungkin begitulah kota bekerja. Terlalu lama hidup berdampingan dengan
kemiskinan membuat manusia lupa bahwa orang miskin juga manusia. Dimas
mengambil ember berisi air bekas cucian piring. Ia melangkah pelan. Dekat. Semakin
dekat.
Lalu,
BYURR!
Air kotor itu mengguyur tubuh laki-laki tersebut.
Orang itu terkejut luar biasa. Nasinya jatuh ke tanah. Matanya membesar
penuh ketakutan. Bukan marah. Bukan benci. Hanya takut. Takut yang sangat tua. Takut
yang mungkin terlalu sering ia temui sepanjang hidup.
Ia berdiri gemetar lalu berlari menembus gang gelap tanpa sempat
mengambil bungkus nasinya.
Dimas berdiri membeku. Untuk sesaat ia merasa menang. Tetapi kemenangan
kadang hanya nama lain dari kebrutalan yang belum disadari.
Pagi harinya, kabar itu datang. Seorang gelandangan tertabrak truk di
jalan raya utama dekat flyover. Mati di tempat. Menurut warga, laki-laki itu
berlari menyeberang seperti orang ketakutan.
Lutut Dimas mendadak lemas. Ia tidak sarapan. Tidak bicara. Tidak
berangkat kerja. Ia hanya duduk menatap papan tulisannya sendiri.
“JANGAN BUANG SAMPAH DI SINI, DASAR ANJING.”
Tiba-tiba tulisan itu terasa menjijikkan. Ia teringat wajah laki-laki
tadi malam. Tatapan takut itu. Tangan gemetar itu. Nasi yang jatuh ke tanah
itu. Dan mendadak ia sadar sesuatu yang menghancurkan dirinya sendiri: Selama
ini ia tidak benar-benar membenci sampah. Ia membenci kenyataan bahwa ada
manusia-manusia gagal yang mengingatkannya pada masa lalunya sendiri.
Karena sebelum menjadi pegawai tetap, Dimas pernah tidur di emperan kios
Glodok selama dua minggu. Pernah makan mi instan mentah karena tidak punya uang
membeli gas. Pernah diusir satpam minimarket hanya karena terlalu lama duduk.
Tetapi manusia sering membunuh masa lalunya sendiri agar bisa merasa
pantas hidup di masa kini.
Malam itu rumah mereka terasa dingin. Pukul dua lewat tiga puluh menit,
Dimas terbangun. Ada suara plastik berdesir di luar pagar.
Kresak… Kresak.
Ia membuka tirai perlahan. Dan tubuhnya langsung membeku. Laki-laki itu
berdiri di depan pagar. Basah. Diam. Tatapannya kosong.
Tetapi justru karena terlalu kosong, tatapan itu terasa mengerikan. Tidak
seperti hantu film horor. Lebih buruk. Karena ia terlihat sangat manusia.
Ia tidak bergerak. Hanya berdiri mematung di bawah lampu jalan yang
berkedip redup. Air menetes perlahan dari ujung rambut gimbalnya. Wajahnya
kurus seperti dinding kota yang digerus waktu. Lalu perlahan, laki-laki itu
mengangkat tangannya. Menunjuk papan kayu di pagar.
“JANGAN BUANG SAMPAH DI SINI, DASAR ANJING.”
Tatapannya tajam. Bukan tatapan marah. Bukan pula memohon. Tatapan
seseorang yang terlalu lama diinjak hidup sampai kehilangan kemampuan membenci.
Dimas mundur perlahan. Napasnya kacau. Air matanya jatuh tanpa ia
sadari. Dan laki-laki itu masih berdiri di sana. Diam. Mematung.
Menunjuk tulisan itu seolah sedang memperlihatkan sesuatu yang selama
ini gagal dibaca Dimas: bahwa kadang manusia paling kejam bukan mereka yang
hidup di jalanan, melainkan mereka yang merasa dirinya sudah berhasil keluar
darinya.
Lampu jalan berkedip sekali. Dua kali.
Ketika cahaya itu menyala kembali, sosok laki-laki tersebut sudah
hilang.
Hanya tersisa bungkus nasi kosong di bawah pagar beton rumahnya.
Pagi harinya Dimas mencabut papan itu. Ia membakarnya di halaman
belakang rumah. Abunya beterbangan bersama rasa malu yang terlambat datang.
“Aku mimpi buruk,” katanya pelan kepada Ranti.
“Mungkin bukan mimpi,” jawab Ranti.
Dimas menatap istrinya lama. “Aku jahat ya?”
Ranti menghela napas pelan. “Kadang manusia tidak menjadi jahat
karena membenci orang lain.” “Lalu?” tanya Dimas lirih. Ranti menatap
suaminya lama sebelum menjawab pelan, “Karena terlalu sibuk menyelamatkan
dirinya sendiri, sampai lupa orang lain juga manusia.”
Hari itu mereka membeli meja kayu kecil. Diletakkan di dekat pagar. Di
atasnya ada nasi bungkus hangat dan botol air mineral. Tidak ada lagi tulisan
ancaman. Tidak ada slogan moral. Hanya ruang kecil bagi siapa pun yang lapar
untuk berhenti sejenak dari kerasnya dunia.
Dan sejak malam itu, anehnya, tidak pernah ada lagi bungkus nasi kotor
di bawah pagar beton rumah mereka.
Tetapi setiap pukul dua lewat tiga puluh menit dini hari, selalu
terdengar suara plastik berdesir pelan di ujung gang.
Kresak. Kresak. Kresak.
Desa Kapur, 16 Mei 2025.
Sedang belajar menikmati tubuh yang mulai
menagih akibat kolesterol tinggi.
Catatan:
1 “But when the leaders choose to make
themselves bidders at an auction of popularity, their talents, in the
construction of the state, will be of no service. They will become flatterers
instead of legislators, the instruments, not the guides of the people”. (Tetapi ketika para pemimpin memilih untuk menjadikan diri mereka
penawar pada lelang popularitas, bakat mereka, dalam pembangunan negara, tidak
akan ada layanan. Mereka akan menjadi penjilat, bukan legislator, instrumen,
bukan pemandu rakyat). Edmund Burke, Politikus dan filsuf dari
Inggris (1729 - 1797)


