Iklan

Menyusun Ulang Diri dalam Kebiasaan Baru

syamsul kurniawan
Wednesday, September 16, 2026
Last Updated 2026-09-17T01:51:45Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

MATAHARI Pontianak pagi ini terasa menyengat. Cahayanya jatuh seperti lembaran panas di atas atap-atap rumah, tetapi pandangan ke kejauhan tidak benar-benar jernih. Kabut asap datang lagi. Padahal hujan sempat turun, seolah alam hendak mencuci langit dan mengembalikan napas kota seperti sediakala. Namun, seperti kebiasaan buruk yang belum benar-benar selesai, asap kembali muncul. Ia mengingatkan kita bahwa sesuatu yang tampak telah pergi belum tentu sungguh-sungguh berakhir.

 

Barangkali begitulah kebiasaan bekerja dalam kehidupan manusia. Ia tidak selalu hadir dengan suara keras. Ia menyelinap melalui pengulangan-pengulangan kecil: bangun pada jam yang sama, membuka telepon sebelum benar-benar membuka mata, membaca kabar sebelum berbicara dengan orang di sebelah kita, bekerja dengan pola yang sama, marah dengan cara yang sama, bahkan memikirkan sesuatu dengan cara yang sama. Lama-kelamaan, pengulangan itu terasa alamiah. Kita mengira itulah diri kita.

 

Saya teringat pada Phenomenology of Broken Habits: Philosophical and Psychological Perspectives on Habitual Action (2025), buku yang disunting Line Ryberg Ingerslev dan Karl Mertens. Buku itu membawa saya pada satu kesadaran sederhana tetapi mengganggu: kebiasaan bukan hanya perkara apa yang kita lakukan berulang-ulang, melainkan juga cara pengulangan itu perlahan-lahan membentuk siapa diri kita.


Kebiasaan memang memberi kita rasa aman. Dengan kebiasaan, hidup menjadi lebih ringan karena kita tidak perlu memikirkan segala sesuatu dari awal. Kita tahu kapan harus bangun, kapan bekerja, kapan beristirahat, bagaimana merespons suatu keadaan. Tetapi justru karena itulah kebiasaan bisa menjadi perangkap. Ia membuat sesuatu yang sebenarnya pilihan terasa seperti kewajiban. Kita berjalan di atas rel yang kita buat sendiri, lalu lupa bahwa rel itu masih mungkin dibongkar.

 

Ada ironi di sana. Kita sering menginginkan perubahan, tetapi pada saat yang sama takut kehilangan kenyamanan yang diberikan oleh kebiasaan lama. Kita ingin menjadi manusia baru tanpa bersedia meninggalkan cara hidup yang lama. Kita ingin hidup lebih sehat, tetapi masih memelihara pola yang melelahkan. Kita ingin lebih tenang, tetapi terus memberi makan pikiran dengan kegaduhan. Kita ingin lebih bermakna, tetapi hari-hari kita dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang bahkan tidak kita tahu mengapa harus dikejar.

 

Karena itu, perubahan diri sesungguhnya bukan sekadar menambahkan kebiasaan baru. Ia juga membutuhkan keberanian untuk memeriksa kebiasaan lama. Apa yang selama ini kita lakukan karena benar-benar kita yakini? Apa yang kita lakukan hanya karena semua orang melakukannya? Dan apa yang sebenarnya telah lama ingin kita tinggalkan, tetapi terus kita pertahankan karena takut menghadapi ruang kosong setelahnya?

 

Di sinilah patahnya kebiasaan menjadi penting. Buku yang saya baca itu melihat keretakan kebiasaan bukan semata-mata sebagai kehilangan, tetapi sebagai kemungkinan transformasi. Trauma, kehilangan, perubahan tubuh, maupun perubahan keadaan dapat memutus pola lama dan menciptakan jeda. Dalam jeda itulah seseorang memperoleh kesempatan untuk memilih kembali: hendak tetap menjadi dirinya yang lama atau menyusun ulang dirinya dengan kesadaran yang baru.

 

Mungkin karena itu kita sering baru mengenali diri sendiri setelah sesuatu dalam hidup kita berantakan. Ketika pekerjaan berubah, kita baru bertanya apa sebenarnya yang kita cari. Ketika seseorang pergi, kita baru memahami betapa besar ruang yang selama ini ditempatinya. Ketika rutinitas tiba-tiba berhenti, kita baru sadar bahwa selama ini kita terlalu sibuk bergerak hingga lupa bertanya ke mana sebenarnya kita sedang menuju.

 

Kabut asap Pontianak memberi metafora yang menarik. Kita dapat menyiram jalan dengan hujan, tetapi jika sumber persoalannya tidak berubah, kabut akan kembali. Demikian pula manusia. Kita bisa mengambil cuti, membeli buku motivasi, pergi berlibur, melakukan healing, bahkan menyusun resolusi baru. Namun, jika pola yang melahirkan kelelahan tetap sama, kita mungkin hanya sedang membersihkan permukaan tanpa menyentuh sumber persoalannya.

 

Maka menyusun ulang diri membutuhkan lebih daripada semangat. Ia membutuhkan kesadaran. Kita perlu berani melihat kebiasaan sebagai cermin. Apa yang dipantulkannya? Kedisiplinan atau kecemasan? Ketekunan atau ketakutan? Kesederhanaan atau keterpaksaan? Kepedulian atau kebutuhan untuk diakui? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang tidak selalu nyaman, tetapi dari ketidaknyamanan itulah perubahan sering dimulai.

 

Seperti Air yang Mengalir?

 

Ada ungkapan yang sering kita dengar: jalani saja hidup seperti air yang mengalir. Nasihat itu terdengar indah. Air tidak banyak mengeluh ketika menemukan batu. Ia mencari celah, berbelok, turun, mengisi ruang, lalu terus bergerak. Tetapi menjadi seperti air tidak berarti kehilangan arah. Air memang lentur, tetapi ia tetap bergerak menuju tempat yang lebih rendah. Ia mengalir karena memiliki hukum alamnya sendiri.

 

Barangkali demikian pula seharusnya kita menghadapi perubahan. Tidak semua hal harus dilawan. Tidak semua perubahan harus dianggap sebagai bencana. Ada keadaan yang memang harus diterima, tetapi menerima bukan berarti pasrah. Mengalir bukan berarti membiarkan diri dibawa arus ke mana saja. Ada perbedaan antara kelenturan dan kehilangan prinsip.

 

Di dunia kerja, misalnya, perubahan dapat datang bahkan ketika seseorang merasa telah memberikan yang terbaik. Peristiwa pergantian Menteri Keuangan pada 14 September 2026 memperlihatkan betapa cepat posisi yang tampaknya mapan dapat berubah. Purbaya Yudhi Sadewa diberhentikan dari posisi Menteri Keuangan dan digantikan Suahasil Nazara, yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan. Pada hari pergantian itu, Purbaya masih mengikuti rapat kerja bersama DPD RI.

 

Peristiwa tersebut kemudian memunculkan berbagai pembacaan mengenai koordinasi internal, kebijakan, gaya komunikasi, dan dinamika organisasi. Purbaya sendiri kemudian menyebut perombakan pejabat di Kementerian Keuangan sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan pencopotannya. Namun, berbagai penjelasan yang beredar tetap perlu dibedakan antara fakta pergantian jabatan dan interpretasi mengenai motif atau penyebabnya.

 

Bagi saya, pelajaran yang lebih luas dari peristiwa semacam itu bukanlah siapa yang benar atau siapa yang salah. Pelajarannya adalah bahwa dunia profesional tidak hanya mengenal kerja keras. Ada performa, relevansi, kemampuan berkomunikasi, hubungan kerja, dan kesesuaian dengan arah organisasi. Seseorang bisa sangat kompeten, tetapi lingkungan kerja selalu merupakan ruang bersama, bukan panggung perseorangan.

 

Di sinilah muncul godaan quiet quitting: kalau kerja keras tidak menjamin posisi aman, mengapa harus bekerja terlalu keras? Pertanyaan itu manusiawi. Tetapi menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk menurunkan kualitas diri juga dapat menjadi jebakan baru. Ketika sistem berubah, jangan sampai yang ikut berubah justru standar diri kita menjadi lebih rendah.

 

Kerja yang baik pada akhirnya tidak hanya dilakukan untuk mendapatkan tepuk tangan organisasi. Ia juga merupakan cara membangun modal diri. Pengetahuan yang bertambah, keterampilan yang terasah, reputasi yang terjaga, kemampuan berkomunikasi, dan pengalaman menghadapi masalah tetap menjadi bagian dari diri kita bahkan ketika jabatan, tempat kerja, atau struktur organisasi berubah.

 

Emas tetaplah emas, meskipun suatu ketika ia tertimbun lumpur. Tempat ia ditemukan tidak mengubah nilai dasarnya. Yang berubah hanyalah apakah orang lain mampu melihatnya atau tidak. Begitu pula manusia. Ada masa ketika kemampuan kita tidak terlihat, ada masa ketika kerja kita tidak mendapatkan penghargaan yang kita harapkan, dan ada masa ketika kita ditempatkan jauh dari ruang yang kita kira layak bagi diri kita. Tetapi keadaan eksternal tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mengasah kualitas internal.

 

Persoalan serupa tampak dalam polemik mengenai Maudy Ayunda dan video Mindfulness in the Age of Bad News. Video yang diunggah pada Agustus 2026 itu memicu kritik sebagian warganet karena pembahasan mengenai menjaga kesehatan mental dan membatasi asupan berita dianggap tidak cukup sensitif terhadap orang-orang yang hidup langsung di tengah persoalan sosial dan ekologis.

 

Menariknya, respons Maudy kemudian bergerak ke arah refleksi. Ia mengakui bahwa kemampuan seseorang untuk menjauh dari pemberitaan buruk merupakan sebuah privilese yang tidak dimiliki semua orang, sekaligus menjelaskan bahwa maksud membatasi informasi bukanlah mengabaikan realitas, melainkan menjaga kapasitas mental agar seseorang tetap memiliki energi untuk peduli dan bertindak.

 

Di sini kita menemukan satu pelajaran penting tentang kebiasaan baru: kebiasaan baru tidak boleh hanya membuat kita lebih nyaman; ia harus membuat kita lebih sadar. Mindfulness yang sehat bukanlah memejamkan mata terhadap kenyataan. Ia justru kemampuan untuk hadir sepenuhnya di dalam kenyataan tanpa membiarkan kenyataan menguasai seluruh kesadaran kita.

 

Bukankah ini yang sering kita lupakan di zaman digital? Kita menggulir layar bukan karena selalu membutuhkan informasi, melainkan karena tangan kita telah menghafal gerakannya. Kita membuka media sosial sebelum menyadari bahwa kita sedang mencari sesuatu. Kita membaca komentar orang lain sebelum sempat mendengar suara hati sendiri. Dunia digital akhirnya bukan hanya menyediakan informasi, tetapi juga membentuk kebiasaan baru tentang bagaimana kita merasa, bereaksi, marah, dan mempersepsikan dunia.

 

Karena itu, mungkin kebiasaan paling penting yang perlu kita bangun hari ini adalah kebiasaan berhenti. Berhenti sebentar sebelum menjawab. Berhenti sebelum membagikan informasi. Berhenti sebelum ikut marah. Berhenti sebelum mengambil keputusan. Dalam dunia yang menganggap kecepatan sebagai keunggulan, kemampuan untuk berhenti justru dapat menjadi bentuk kecerdasan.

 

James Clear, melalui Atomic Habits (2018), menawarkan pendekatan yang lebih praktis: perubahan besar dapat dibangun dari perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten. Gagasan itu penting, tetapi kehidupan manusia kadang tidak berjalan serapi daftar kebiasaan. Ada kehilangan, kegagalan, perubahan pekerjaan, konflik, dan kejutan yang memaksa kita keluar dari rencana. Di situlah pendekatan tentang kebiasaan yang patah melengkapi pendekatan tentang kebiasaan yang dibangun.

 

Jadi, menyusun ulang diri bukan hanya tentang menjadi lebih produktif. Ia tentang menjadi lebih otentik. Kita perlu bertanya: kebiasaan mana yang sungguh-sungguh mencerminkan nilai hidup saya? Mana yang hanya warisan dari lingkungan? Mana yang tumbuh dari ketakutan? Mana yang muncul karena kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan?

 

Pertanyaan itu membawa kita pada satu kesadaran lain: diri manusia tidak pernah benar-benar selesai. Kita bukan patung yang sekali dibentuk lalu berhenti menjadi sesuatu. Kita lebih menyerupai tulisan yang terus diedit. Ada kalimat yang perlu dipertahankan, ada bagian yang harus dicoret, ada paragraf yang perlu ditulis ulang. Kesalahan masa lalu tidak selalu harus dibuang; sebagian justru perlu dibaca kembali agar kita memahami bagaimana kita sampai di titik sekarang.

 

Mungkin inilah makna sebenarnya dari kebiasaan baru. Ia bukan sekadar bangun lebih pagi, membaca lebih banyak buku, berolahraga, mengurangi media sosial, atau bekerja lebih teratur. Semua itu baik, tetapi belum cukup. Kebiasaan baru harus membawa kita pada cara pandang baru. Kalau tidak, kita hanya mengganti rutinitas tanpa mengganti manusia yang menjalankannya.

 

Maka ketika hidup memaksa kita berubah, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kehilangan. Bisa jadi ia sedang membuka ruang yang selama ini terlalu penuh oleh kebiasaan lama. Ketika satu pintu tertutup, kita memang kehilangan jalan yang biasa kita tempuh. Tetapi di saat yang sama, kita mungkin dipaksa menemukan jalan yang selama ini tidak pernah kita lihat.

 

Kita boleh mengalir seperti air, tetapi jangan kehilangan dasar sungai yang menjadi arah. Kita boleh lentur menghadapi perubahan, tetapi jangan kehilangan nilai yang membuat kita tetap mengenali diri sendiri. Kita boleh menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi jangan sampai penyesuaian itu membuat kita menjadi orang lain hanya demi diterima.

 

Pada akhirnya, kehidupan bukan tentang mempertahankan segala sesuatu agar tetap sama. Kehidupan justru menuntut kemampuan untuk menyusun ulang. Hari ini mungkin kita berada di tempat yang tidak pernah kita rencanakan. Besok mungkin pekerjaan berubah. Orang-orang datang dan pergi. Kebiasaan patah. Rencana berantakan. Bahkan keyakinan tertentu yang dulu kita anggap kokoh bisa membutuhkan pemeriksaan ulang.

 

Tetapi di antara semua perubahan itu, masih ada satu hal yang dapat kita kerjakan: memilih bagaimana kita membentuk diri setelah perubahan tersebut terjadi. Kita tidak selalu dapat menentukan apa yang datang kepada kita, tetapi kita masih memiliki ruang untuk menentukan apa yang akan kita lakukan terhadap pengalaman itu. Di situlah kebebasan manusia menemukan bentuknya.

 

Matahari Pontianak mungkin kembali menyengat. Kabut mungkin datang lagi ketika kita mengira langit telah bersih. Tetapi mungkin persoalannya bukan sekadar bagaimana membuat kabut pergi untuk selamanya. Kita juga perlu belajar mengapa ia selalu kembali. Begitu pula dengan diri kita: jangan hanya bertanya mengapa kita kembali lelah, marah, takut, kecewa, atau kehilangan arah. Tanyakan pula kebiasaan apa yang terus membawa kita ke tempat yang sama.

 

Sebab perubahan yang paling penting kadang tidak terdengar seperti ledakan besar. Ia hanya berupa keputusan kecil yang dibuat dengan kesadaran: hari ini saya akan merespons dengan cara yang berbeda; hari ini saya akan bekerja bukan hanya untuk dipuji; hari ini saya akan membaca tanpa tergesa-gesa; hari ini saya akan mendengarkan sebelum menghakimi; hari ini saya akan memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh.

 

Dan mungkin, pada akhirnya, menyusun ulang diri bukanlah usaha untuk menjadi seseorang yang sama sekali baru. Ia adalah usaha untuk kembali menemukan diri yang paling jujur di antara begitu banyak kebiasaan, tuntutan, ekspektasi, dan kebisingan. Seperti emas yang tetap emas meskipun lama tersembunyi di tempat yang kotor, nilai manusia tidak selalu hilang hanya karena sedang berada di tempat yang salah. Kadang ia hanya membutuhkan keberanian untuk ditemukan kembali.

 

Barangkali itulah pekerjaan seumur hidup manusia: bukan menjadi sempurna, melainkan terus bersedia diperbarui. Kebiasaan lama boleh patah. Jalan boleh berubah. Air boleh berbelok. Tetapi selama kita masih memiliki kesadaran untuk memilih arah, selalu ada kemungkinan untuk menyusun ulang diri. Dan dari sana, mungkin kita tidak sekadar menemukan kebiasaan baru, tetapi menemukan kembali alasan mengapa kita ingin hidup dengan cara yang baru.***

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now