Oleh: Syamsul Kurniawan
MATAHARI Pontianak
pagi ini terasa menyengat. Cahayanya jatuh seperti lembaran panas di atas
atap-atap rumah, tetapi pandangan ke kejauhan tidak benar-benar jernih. Kabut
asap datang lagi. Padahal hujan sempat turun, seolah alam hendak mencuci langit
dan mengembalikan napas kota seperti sediakala. Namun, seperti kebiasaan buruk
yang belum benar-benar selesai, asap kembali muncul. Ia mengingatkan kita bahwa
sesuatu yang tampak telah pergi belum tentu sungguh-sungguh berakhir.
Barangkali
begitulah kebiasaan bekerja dalam kehidupan manusia. Ia tidak selalu hadir
dengan suara keras. Ia menyelinap melalui pengulangan-pengulangan kecil: bangun
pada jam yang sama, membuka telepon sebelum benar-benar membuka mata, membaca
kabar sebelum berbicara dengan orang di sebelah kita, bekerja dengan pola yang
sama, marah dengan cara yang sama, bahkan memikirkan sesuatu dengan cara yang
sama. Lama-kelamaan, pengulangan itu terasa alamiah. Kita mengira itulah diri
kita.
Saya
teringat pada Phenomenology of Broken Habits: Philosophical and
Psychological Perspectives on Habitual Action (2025), buku yang disunting
Line Ryberg Ingerslev dan Karl Mertens. Buku itu membawa saya pada satu
kesadaran sederhana tetapi mengganggu: kebiasaan bukan hanya perkara apa yang
kita lakukan berulang-ulang, melainkan juga cara pengulangan itu perlahan-lahan
membentuk siapa diri kita.
Kebiasaan
memang memberi kita rasa aman. Dengan kebiasaan, hidup menjadi lebih ringan
karena kita tidak perlu memikirkan segala sesuatu dari awal. Kita tahu kapan
harus bangun, kapan bekerja, kapan beristirahat, bagaimana merespons suatu
keadaan. Tetapi justru karena itulah kebiasaan bisa menjadi perangkap. Ia
membuat sesuatu yang sebenarnya pilihan terasa seperti kewajiban. Kita berjalan
di atas rel yang kita buat sendiri, lalu lupa bahwa rel itu masih mungkin
dibongkar.
Ada ironi di
sana. Kita sering menginginkan perubahan, tetapi pada saat yang sama takut
kehilangan kenyamanan yang diberikan oleh kebiasaan lama. Kita ingin menjadi
manusia baru tanpa bersedia meninggalkan cara hidup yang lama. Kita ingin hidup
lebih sehat, tetapi masih memelihara pola yang melelahkan. Kita ingin lebih
tenang, tetapi terus memberi makan pikiran dengan kegaduhan. Kita ingin lebih
bermakna, tetapi hari-hari kita dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang bahkan
tidak kita tahu mengapa harus dikejar.
Karena itu,
perubahan diri sesungguhnya bukan sekadar menambahkan kebiasaan baru. Ia juga
membutuhkan keberanian untuk memeriksa kebiasaan lama. Apa yang selama ini kita
lakukan karena benar-benar kita yakini? Apa yang kita lakukan hanya karena
semua orang melakukannya? Dan apa yang sebenarnya telah lama ingin kita
tinggalkan, tetapi terus kita pertahankan karena takut menghadapi ruang kosong
setelahnya?
Di sinilah
patahnya kebiasaan menjadi penting. Buku yang saya baca itu melihat keretakan
kebiasaan bukan semata-mata sebagai kehilangan, tetapi sebagai kemungkinan
transformasi. Trauma, kehilangan, perubahan tubuh, maupun perubahan keadaan
dapat memutus pola lama dan menciptakan jeda. Dalam jeda itulah seseorang
memperoleh kesempatan untuk memilih kembali: hendak tetap menjadi dirinya yang
lama atau menyusun ulang dirinya dengan kesadaran yang baru.
Mungkin
karena itu kita sering baru mengenali diri sendiri setelah sesuatu dalam hidup
kita berantakan. Ketika pekerjaan berubah, kita baru bertanya apa sebenarnya
yang kita cari. Ketika seseorang pergi, kita baru memahami betapa besar ruang
yang selama ini ditempatinya. Ketika rutinitas tiba-tiba berhenti, kita baru sadar
bahwa selama ini kita terlalu sibuk bergerak hingga lupa bertanya ke mana
sebenarnya kita sedang menuju.
Kabut asap
Pontianak memberi metafora yang menarik. Kita dapat menyiram jalan dengan
hujan, tetapi jika sumber persoalannya tidak berubah, kabut akan kembali.
Demikian pula manusia. Kita bisa mengambil cuti, membeli buku motivasi, pergi
berlibur, melakukan healing, bahkan menyusun resolusi baru. Namun, jika
pola yang melahirkan kelelahan tetap sama, kita mungkin hanya sedang
membersihkan permukaan tanpa menyentuh sumber persoalannya.
Maka
menyusun ulang diri membutuhkan lebih daripada semangat. Ia membutuhkan
kesadaran. Kita perlu berani melihat kebiasaan sebagai cermin. Apa yang
dipantulkannya? Kedisiplinan atau kecemasan? Ketekunan atau ketakutan? Kesederhanaan
atau keterpaksaan? Kepedulian atau kebutuhan untuk diakui?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang tidak selalu nyaman, tetapi dari
ketidaknyamanan itulah perubahan sering dimulai.
Seperti Air yang Mengalir?
Ada ungkapan
yang sering kita dengar: jalani saja hidup seperti air yang mengalir. Nasihat
itu terdengar indah. Air tidak banyak mengeluh ketika menemukan batu. Ia
mencari celah, berbelok, turun, mengisi ruang, lalu terus bergerak. Tetapi
menjadi seperti air tidak berarti kehilangan arah. Air memang lentur, tetapi ia
tetap bergerak menuju tempat yang lebih rendah. Ia mengalir karena memiliki
hukum alamnya sendiri.
Barangkali
demikian pula seharusnya kita menghadapi perubahan. Tidak semua hal harus
dilawan. Tidak semua perubahan harus dianggap sebagai bencana. Ada keadaan yang
memang harus diterima, tetapi menerima bukan berarti pasrah. Mengalir bukan
berarti membiarkan diri dibawa arus ke mana saja. Ada perbedaan antara
kelenturan dan kehilangan prinsip.
Di dunia
kerja, misalnya, perubahan dapat datang bahkan ketika seseorang merasa telah
memberikan yang terbaik. Peristiwa pergantian Menteri Keuangan pada 14
September 2026 memperlihatkan betapa cepat posisi yang tampaknya mapan dapat
berubah. Purbaya Yudhi Sadewa diberhentikan dari posisi Menteri Keuangan dan
digantikan Suahasil Nazara, yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan.
Pada hari pergantian itu, Purbaya masih mengikuti rapat kerja bersama DPD RI.
Peristiwa
tersebut kemudian memunculkan berbagai pembacaan mengenai koordinasi internal,
kebijakan, gaya komunikasi, dan dinamika organisasi. Purbaya sendiri kemudian
menyebut perombakan pejabat di Kementerian Keuangan sebagai salah satu faktor
yang berkaitan dengan pencopotannya. Namun, berbagai penjelasan yang beredar
tetap perlu dibedakan antara fakta pergantian jabatan dan interpretasi mengenai
motif atau penyebabnya.
Bagi saya,
pelajaran yang lebih luas dari peristiwa semacam itu bukanlah siapa yang benar
atau siapa yang salah. Pelajarannya adalah bahwa dunia profesional tidak hanya
mengenal kerja keras. Ada performa, relevansi, kemampuan berkomunikasi,
hubungan kerja, dan kesesuaian dengan arah organisasi. Seseorang bisa sangat
kompeten, tetapi lingkungan kerja selalu merupakan ruang bersama, bukan
panggung perseorangan.
Di sinilah
muncul godaan quiet quitting: kalau kerja keras tidak menjamin posisi
aman, mengapa harus bekerja terlalu keras? Pertanyaan itu manusiawi. Tetapi
menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk menurunkan kualitas diri juga dapat
menjadi jebakan baru. Ketika sistem berubah, jangan sampai yang ikut berubah
justru standar diri kita menjadi lebih rendah.
Kerja yang
baik pada akhirnya tidak hanya dilakukan untuk mendapatkan tepuk tangan
organisasi. Ia juga merupakan cara membangun modal diri. Pengetahuan yang
bertambah, keterampilan yang terasah, reputasi yang terjaga, kemampuan
berkomunikasi, dan pengalaman menghadapi masalah tetap menjadi bagian dari diri
kita bahkan ketika jabatan, tempat kerja, atau struktur organisasi berubah.
Emas
tetaplah emas, meskipun suatu ketika ia tertimbun lumpur. Tempat ia ditemukan
tidak mengubah nilai dasarnya. Yang berubah hanyalah apakah orang lain mampu
melihatnya atau tidak. Begitu pula manusia. Ada masa ketika kemampuan kita
tidak terlihat, ada masa ketika kerja kita tidak mendapatkan penghargaan yang
kita harapkan, dan ada masa ketika kita ditempatkan jauh dari ruang yang kita kira
layak bagi diri kita. Tetapi keadaan eksternal tidak seharusnya menjadi alasan
untuk berhenti mengasah kualitas internal.
Persoalan
serupa tampak dalam polemik mengenai Maudy Ayunda dan video Mindfulness in
the Age of Bad News. Video yang diunggah pada Agustus 2026 itu memicu
kritik sebagian warganet karena pembahasan mengenai menjaga kesehatan mental
dan membatasi asupan berita dianggap tidak cukup sensitif terhadap orang-orang
yang hidup langsung di tengah persoalan sosial dan ekologis.
Menariknya,
respons Maudy kemudian bergerak ke arah refleksi. Ia mengakui bahwa kemampuan
seseorang untuk menjauh dari pemberitaan buruk merupakan sebuah privilese yang
tidak dimiliki semua orang, sekaligus menjelaskan bahwa maksud membatasi
informasi bukanlah mengabaikan realitas, melainkan menjaga kapasitas mental
agar seseorang tetap memiliki energi untuk peduli dan bertindak.
Di sini kita
menemukan satu pelajaran penting tentang kebiasaan baru: kebiasaan baru tidak
boleh hanya membuat kita lebih nyaman; ia harus membuat kita lebih sadar. Mindfulness
yang sehat bukanlah memejamkan mata terhadap kenyataan. Ia justru kemampuan
untuk hadir sepenuhnya di dalam kenyataan tanpa membiarkan kenyataan menguasai
seluruh kesadaran kita.
Bukankah ini
yang sering kita lupakan di zaman digital? Kita menggulir layar bukan karena
selalu membutuhkan informasi, melainkan karena tangan kita telah menghafal
gerakannya. Kita membuka media sosial sebelum menyadari bahwa kita sedang
mencari sesuatu. Kita membaca komentar orang lain sebelum sempat mendengar
suara hati sendiri. Dunia digital akhirnya bukan hanya menyediakan informasi,
tetapi juga membentuk kebiasaan baru tentang bagaimana kita merasa, bereaksi,
marah, dan mempersepsikan dunia.
Karena itu,
mungkin kebiasaan paling penting yang perlu kita bangun hari ini adalah
kebiasaan berhenti. Berhenti sebentar sebelum menjawab. Berhenti sebelum
membagikan informasi. Berhenti sebelum ikut marah. Berhenti sebelum mengambil
keputusan. Dalam dunia yang menganggap kecepatan sebagai keunggulan, kemampuan
untuk berhenti justru dapat menjadi bentuk kecerdasan.
James Clear,
melalui Atomic Habits (2018), menawarkan pendekatan yang lebih praktis:
perubahan besar dapat dibangun dari perbaikan kecil yang dilakukan secara
konsisten. Gagasan itu penting, tetapi kehidupan manusia kadang tidak berjalan
serapi daftar kebiasaan. Ada kehilangan, kegagalan, perubahan pekerjaan,
konflik, dan kejutan yang memaksa kita keluar dari rencana. Di situlah
pendekatan tentang kebiasaan yang patah melengkapi pendekatan tentang kebiasaan
yang dibangun.
Jadi,
menyusun ulang diri bukan hanya tentang menjadi lebih produktif. Ia tentang
menjadi lebih otentik. Kita perlu bertanya: kebiasaan mana yang sungguh-sungguh
mencerminkan nilai hidup saya? Mana yang hanya warisan dari lingkungan? Mana
yang tumbuh dari ketakutan? Mana yang muncul karena kebutuhan untuk mendapatkan
pengakuan?
Pertanyaan
itu membawa kita pada satu kesadaran lain: diri manusia tidak pernah
benar-benar selesai. Kita bukan patung yang sekali dibentuk lalu berhenti
menjadi sesuatu. Kita lebih menyerupai tulisan yang terus diedit. Ada kalimat
yang perlu dipertahankan, ada bagian yang harus dicoret, ada paragraf yang
perlu ditulis ulang. Kesalahan masa lalu tidak selalu harus dibuang; sebagian
justru perlu dibaca kembali agar kita memahami bagaimana kita sampai di titik
sekarang.
Mungkin
inilah makna sebenarnya dari kebiasaan baru. Ia bukan sekadar bangun lebih
pagi, membaca lebih banyak buku, berolahraga, mengurangi media sosial, atau
bekerja lebih teratur. Semua itu baik, tetapi belum cukup. Kebiasaan baru harus
membawa kita pada cara pandang baru. Kalau tidak, kita hanya mengganti
rutinitas tanpa mengganti manusia yang menjalankannya.
Maka ketika
hidup memaksa kita berubah, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kehilangan.
Bisa jadi ia sedang membuka ruang yang selama ini terlalu penuh oleh kebiasaan
lama. Ketika satu pintu tertutup, kita memang kehilangan jalan yang biasa kita
tempuh. Tetapi di saat yang sama, kita mungkin dipaksa menemukan jalan yang
selama ini tidak pernah kita lihat.
Kita boleh
mengalir seperti air, tetapi jangan kehilangan dasar sungai yang menjadi arah.
Kita boleh lentur menghadapi perubahan, tetapi jangan kehilangan nilai yang
membuat kita tetap mengenali diri sendiri. Kita boleh menyesuaikan diri dengan
lingkungan, tetapi jangan sampai penyesuaian itu membuat kita menjadi orang
lain hanya demi diterima.
Pada
akhirnya, kehidupan bukan tentang mempertahankan segala sesuatu agar tetap
sama. Kehidupan justru menuntut kemampuan untuk menyusun ulang. Hari ini
mungkin kita berada di tempat yang tidak pernah kita rencanakan. Besok mungkin
pekerjaan berubah. Orang-orang datang dan pergi. Kebiasaan patah. Rencana
berantakan. Bahkan keyakinan tertentu yang dulu kita anggap kokoh bisa
membutuhkan pemeriksaan ulang.
Tetapi di
antara semua perubahan itu, masih ada satu hal yang dapat kita kerjakan:
memilih bagaimana kita membentuk diri setelah perubahan tersebut terjadi. Kita
tidak selalu dapat menentukan apa yang datang kepada kita, tetapi kita masih
memiliki ruang untuk menentukan apa yang akan kita lakukan terhadap pengalaman
itu. Di situlah kebebasan manusia menemukan bentuknya.
Matahari
Pontianak mungkin kembali menyengat. Kabut mungkin datang lagi ketika kita
mengira langit telah bersih. Tetapi mungkin persoalannya bukan sekadar
bagaimana membuat kabut pergi untuk selamanya. Kita juga perlu belajar mengapa
ia selalu kembali. Begitu pula dengan diri kita: jangan hanya bertanya mengapa
kita kembali lelah, marah, takut, kecewa, atau kehilangan arah. Tanyakan pula
kebiasaan apa yang terus membawa kita ke tempat yang sama.
Sebab
perubahan yang paling penting kadang tidak terdengar seperti ledakan besar. Ia
hanya berupa keputusan kecil yang dibuat dengan kesadaran: hari ini saya akan
merespons dengan cara yang berbeda; hari ini saya akan bekerja bukan hanya
untuk dipuji; hari ini saya akan membaca tanpa tergesa-gesa; hari ini saya akan
mendengarkan sebelum menghakimi; hari ini saya akan memberi ruang bagi diri
sendiri untuk tumbuh.
Dan mungkin,
pada akhirnya, menyusun ulang diri bukanlah usaha untuk menjadi seseorang yang
sama sekali baru. Ia adalah usaha untuk kembali menemukan diri yang paling
jujur di antara begitu banyak kebiasaan, tuntutan, ekspektasi, dan kebisingan.
Seperti emas yang tetap emas meskipun lama tersembunyi di tempat yang kotor,
nilai manusia tidak selalu hilang hanya karena sedang berada di tempat yang
salah. Kadang ia hanya membutuhkan keberanian untuk ditemukan kembali.
Barangkali
itulah pekerjaan seumur hidup manusia: bukan menjadi sempurna, melainkan terus
bersedia diperbarui. Kebiasaan lama boleh patah. Jalan boleh berubah. Air boleh
berbelok. Tetapi selama kita masih memiliki kesadaran untuk memilih arah, selalu
ada kemungkinan untuk menyusun ulang diri. Dan dari sana, mungkin kita tidak
sekadar menemukan kebiasaan baru, tetapi menemukan kembali alasan mengapa kita
ingin hidup dengan cara yang baru.***



