Cerpen: Syamsul Kurniawan
PERANG selalu datang terlambat dalam
ingatan manusia. Mula-mula ia hanya suara radio yang dipelankan. Orang-orang
mulai berbicara dengan nada lebih hati-hati. Antrean roti bertambah panjang.
Kereta malam menuju barat menjadi semakin penuh.
Lalu suatu pagi di Februari 2022, ledakan pertama terdengar di
pinggiran Kyiv.1) Dan setelah itu, dunia berubah terlalu cepat untuk
dipahami anak kecil.
Namaku Mila. Dan sebelum perang mengambil banyak hal dari hidupku,
aku hanya mengingat satu tempat paling indah di dunia: ladang bunga matahari
Ukraina.
Musim panas di Ukraina selalu dipenuhi warna kuning. Dari Kharkov
hingga wilayah-wilayah tengah, jutaan hektar ladang bunga matahari membentang
sejauh mata memandang. Orang-orang menyebut bunga itu soniashnyk. Simbol
kekuatan. Simbol harapan. Simbol perdamaian.
Bagi negara kami, bunga matahari bukan sekadar tanaman. Ia adalah
napas. Minyaknya menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Ladangnya
menjadi wajah musim panas Ukraina. Dan bagi banyak orang, bunga matahari adalah
bukti bahwa tanah yang terlalu sering diinjak perang masih mau menumbuhkan
kehidupan.
Ayah sangat memahami itu. Namanya Symon Volkov. Pemilik toko bunga
kecil dekat rel trem tua di pinggiran Kyiv.
Tangannya kasar karena tanah dan akar tanaman. Rambutnya mulai
memutih. Dan ia memiliki kebiasaan aneh: setiap hujan turun, ia akan keluar
membawa satu bunga matahari lalu memberikannya kepada orang asing. Kadang
tentara. Kadang perempuan tua di halte. Kadang anak-anak pengungsi yang duduk
diam di stasiun.
“Kenapa harus bunga matahari?” tanyaku suatu malam.
Ayah sedang mengikat pita merah pada batang bunga.
“Karena manusia paling mudah kehilangan harapan saat hujan.”
Jawaban ayah selalu seperti itu. Pendek. Aneh. Tetapi terasa lebih
berat daripada yang sebenarnya ia ucapkan. Aku mengingat ulang tahunku yang
kedelapan dengan sangat jelas.
Hari itu ayah membawaku ke ladang bunga matahari dekat Kharkov.
Langit sangat biru. Angin musim panas bergerak pelan di antara ribuan bunga
kuning yang menghadap matahari.
Aku berlari kecil di lorong-lorong tanaman sambil tertawa.
“Ayah! Cepat!”
Ayah berjalan di belakang sambil membawa kamera tua.
“Mila! Jangan terlalu jauh!”
Tetapi anak kecil selalu percaya dunia aman selama suara ayah masih
terdengar dari belakang. Lalu aku melihat sesuatu di tengah ladang. Sebuah
teddy bear cokelat tergantung di papan kayu kecil. Boneka itu tampak baru.
Bulunya lembut. Kedua matanya berupa kancing hitam mengilap. Pita merah terang
melingkar rapi di lehernya.
“Ayah!”
Aku menunjuk excited.
Ayah mendekat perlahan. Dan untuk sesaat, wajahnya berubah aneh.
Seperti seseorang yang mendadak melihat kenangan lama muncul kembali di tempat
yang salah.
“Kau suka?”
Aku mengangguk cepat. Ayah mengambil boneka itu lalu menyerahkannya
padaku.
“Kalau begitu, ini hadiah ulang tahunmu.”
Aku memeluk teddy bear itu erat-erat. Saat itu aku percaya hidup
akan tetap seperti musim panas: hangat, terang, dan baik-baik saja.
Tetapi hidup tidak pernah tinggal terlalu lama di tempat yang sama.
Empat tahun kemudian, perang datang. Ledakan. Sirene. Asap hitam. Orang-orang
berlari membawa koper seadanya.
Ibuku berhenti pulang sejak suatu malam keluar membeli obat. Ayah
tidak pernah bilang ibu meninggal. Tidak juga bilang ibu pergi. Ia hanya
berhenti membicarakannya. Seolah nama ibu menjadi sesuatu yang terlalu rapuh
untuk disentuh.
Toko bunga kami tetap buka di tengah perang. Ayah tetap menyiram
bunga matahari setiap pagi. Tetapi sejak perang dimulai, hujan terasa berbeda. Setiap
hujan turun, ayah tampak seperti sedang menunggu sesuatu. Kadang berdiri lama
di depan jendela. Kadang memandangi jalan kosong berjam-jam. Kadang berbicara
sendiri di kebun belakang.
Suatu malam aku terbangun karena mendengar suaranya. Aku mengintip
dari jendela kamar. Ayah berdiri di tengah kebun bunga matahari sambil memegang
teddy bear milikku.
“Aku sudah mencoba menjaganya,” suaranya pelan.
Hujan turun tipis membasahi bahunya.
“Tapi ingatan selalu menemukan jalannya sendiri.”
Dadaku langsung terasa dingin. Besok paginya aku bertanya tentang
itu. Ayah hanya tersenyum kecil.
“Kadang manusia menciptakan cerita agar tidak hancur.”
“Ayah bicara apa sih sebenarnya?”
Ia tidak menjawab. Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil. Kadang
aku menemukan dua cangkir teh di meja padahal aku tidak melihat ayah
membuatnya. Kadang pintu toko terbuka sendiri saat hujan turun. Kadang aku
merasa mendengar suara anak kecil tertawa di kebun bunga matahari. Dan setiap
kali aku mencoba mengingat masa kecilku lebih jauh, kepalaku selalu terasa
sakit.
Lalu aku menemukan foto hitam putih itu. Hari itu hujan turun
sangat deras. Listrik mati sejak siang. Aku mencari lilin di gudang belakang
toko ketika menemukan sebuah kotak kayu tua. Di dalamnya ada foto seorang anak
perempuan berdiri di tengah ladang bunga matahari. Memeluk teddy bear. Boneka
yang sama.
Tanganku langsung gemetar. Karena gadis kecil di foto itu, mirip
sekali denganku. Aku membawa foto itu ke ruang depan.
“Ayah.”
Ayah sedang membersihkan pot bunga. Ketika melihat foto tersebut,
wajahnya langsung pucat.
“Dari mana kau dapat?”
“Gudang.”
Ia mengambil foto itu perlahan seperti seseorang sedang memegang
pecahan hidupnya sendiri.
“Siapa dia?”
Ayah diam cukup lama. Lalu berkata pelan:
“Anak perempuan yang takut hujan.”
“Aku?”
Ayah malah bertanya balik.
“Apa kau takut hujan?”
Aku terdiam.
Karena memang sejak kecil aku selalu takut suara hujan deras.
Setiap mendengar denting air terlalu keras, dadaku sesak seperti ada sesuatu
yang ingin keluar dari kepalaku.
“Ayah jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan.”
Ayah tersenyum tipis.
“Karena jawaban sering berubah tergantung siapa yang
mengingatnya.”
Aku mulai kesal. Semua terasa seperti teka-teki.
Malam berikutnya aku membongkar seluruh gudang. Aku menemukan
laporan rumah sakit. Dokumen evakuasi. Dan satu berkas yang membuat tubuhku
membeku.
ANAK PEREMPUAN TANPA IDENTITAS
Ditemukan dekat reruntuhan stasiun Kharkov sambil memeluk teddy
bear cokelat.
Tanggalnya empat tahun lalu. Usianya sekitar delapan tahun. Sama
seperti usiaku saat perang dimulai.
Tanganku gemetar membuka halaman berikutnya. Anak mengalami trauma
berat dan kehilangan sebagian besar ingatan autobiografis.
Di bagian bawah dokumen terdapat tulisan tangan ayah: Ia terus
menyebut nama “Mila”. Mungkin itu namanya. Atau nama seseorang yang sedang ia
cari.
Dunia seperti runtuh perlahan. Tidak. Tidak mungkin.
Aku langsung mencari ayah. Ia sedang duduk di kebun bunga matahari
belakang toko.
Hujan turun pelan.
“Ayah.”
Ia menoleh perlahan.
“Aku siapa?”
Ayah diam cukup lama. Lalu berkata:
“Kau Mila.”
“Itu namaku atau nama orang lain?”
Ayah menunduk.
“Ayah tidak tahu lagi.”
Aku mundur perlahan.
“Jangan bercanda.”
“Ayah tidak bercanda.”
“Tapi aku ingat ulang tahunku di ladang bunga matahari!”
Ayah tersenyum kecil.
“Ingatan manusia bukan lemari rapi.”
“Apa maksudnya?”
“Kadang ia mengambil serpihan dari banyak tempat lalu
menjahitnya menjadi cerita baru.”
Aku mulai menangis.
“Jadi semua itu bohong?”
Ayah menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu apa?”
“Itu nyata bagimu.”
Jawaban itu justru lebih menyakitkan.
“Ayah siapa sebenarnya?”
Ia memandang bunga matahari yang bergoyang diterpa hujan.
“Ayah mungkin hanya seseorang yang terlalu takut melihatmu
sendirian.”
Aku tidak mengerti. Atau mungkin aku mulai mengerti tetapi tidak
mau menerimanya.
Malam itu aku tidak tidur. Aku memandangi teddy bear di dekat
jendela. Dan tiba-tiba aku sadar sesuatu yang aneh: aku tidak pernah
benar-benar mengingat kapan tepatnya ayah mulai tinggal bersamaku.
Ia selalu terasa seperti sudah ada begitu saja. Seperti hujan. Seperti
bunga matahari. Seperti toko ini.
Keesokan harinya aku pergi ke rumah sakit tua yang namanya tertulis
di dokumen. Bangunannya setengah rusak akibat ledakan.
Seorang dokter tua akhirnya menemukan arsip lamaku. Ia membaca
berkas cukup lama sebelum memandangku dengan wajah iba.
“Kau akhirnya kembali.”
Dadaku langsung dingin.
“Ayahku mana?”
Dokter itu tampak bingung.
“Kau datang sendirian waktu itu.”
“Tidak mungkin.”
“Kau ditemukan di stasiun bersama teddy bear. Tidak ada
keluarga.”
Aku menggeleng keras.
“Tidak. Ayahku Symon Volkov.”
Dokter tua itu terdiam. Lalu membuka arsip lain. Tangannya berhenti
di satu halaman. Wajahnya berubah perlahan.
“Astaga...”
“Apa?”
“Symon Volkov adalah relawan evakuasi.”
Jantungku berdetak keras.
“Di mana dia?”
Dokter itu menatapku lama sekali sebelum menjawab pelan:
“Ia meninggal dua tahun lalu saat membantu pengungsi keluar dari
Kharkov.”
Tubuhku langsung terasa kosong. Tidak. Tidak mungkin. Aku baru
bicara dengannya tadi pagi.
Aku pulang berlari di tengah hujan. Sepanjang jalan aku terus
memanggil ayah.
Ketika sampai di toko bunga, tempat itu kosong. Tidak ada
siapa-siapa. Hanya bunga matahari basah diterpa hujan. Dan teddy bear duduk
sendirian di dekat jendela.
Tanganku gemetar saat mengambil boneka itu. Pita merahnya mulai
memudar sekarang. Salah satu matanya hilang.
Seolah waktu mendadak bergerak terlalu cepat. Di bagian dalam
boneka terdapat secarik kertas kecil. Tulisan tangan ayah.
“Untuk
Mila. Jika suatu hari kau mulai lupa mana ingatan dan mana cerita, pilihlah
cerita yang membuatmu tetap hidup.”
Aku terduduk di lantai toko. Menangis tanpa suara. Lalu perlahan
semuanya mulai masuk akal.
Ayah. Ladang bunga matahari. Hadiah ulang tahun. Foto hitam putih. Hujan.
Semuanya bukan kebohongan. Tetapi juga bukan kebenaran utuh. Mereka
hanyalah simbol-simbol yang kupungut dari serpihan trauma dan kesepian, lalu
kususun agar hidup tetap memiliki bentuk.
Karena manusia tidak selalu bertahan hidup dengan fakta. Kadang
kita bertahan hidup lewat cerita yang kita ciptakan sendiri.
Di luar, hujan turun semakin deras di atas ladang soniashnyk
Ukraina. Dan untuk sesaat, aku masih bisa melihat ayah berdiri di tengah bunga
matahari. Tersenyum kecil. Sebelum perlahan menghilang bersama hujan.***
Sebuah
café di Pontianak, 24 Mei 2026
Catatan:
(1) Perang
Rusia–Ukraina yang berlangsung sejak 24 Februari 2022 telah memicu krisis
kemanusiaan besar dengan korban mencapai ratusan ribu jiwa. Lebih dari 15.000
warga sipil Ukraina dilaporkan tewas dan lebih dari 41.000 lainnya luka-luka
akibat pertempuran dan pemboman. Sementara itu, korban militer Ukraina,
mencakup personel yang gugur, hilang, atau luka berat, diperkirakan mencapai
400.000 hingga 600.000 orang. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga pernah
menyatakan bahwa sekitar 31.000 hingga 55.000 tentara Ukraina gugur di medan
perang. Konflik ini turut menyebabkan jutaan warga kehilangan tempat tinggal
dan mengungsi ke berbagai wilayah di dalam maupun luar negeri.


