Iklan

Orang-Orang Cepat

syamsul kurniawan
Thursday, May 28, 2026
Last Updated 2026-05-28T12:01:03Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

 


 Syamsul Kurniawan

 

HUJAN pertama bulan November turun tepat ketika Ranti menginjakkan kaki di Yogyakarta.

Bandara terasa pengap. Orang-orang berjalan cepat sambil menunduk pada layar ponsel masing-masing. Seorang mahasiswa berseragam almamater putih sempat menabraknya tanpa meminta maaf. Hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk mengetik sesuatu.

Ranti menarik koper pelan.

Ia baru pulang dari Mesir dua bulan lalu. Tujuh tahun belajar di Universitas Al-Azhar membuatnya terbiasa dengan ritme yang berbeda. Di Kairo, bahkan percakapan tentang Tuhan bisa berlangsung berjam-jam tanpa seseorang melihat jam. Orang-orang masih percaya bahwa berpikir adalah ibadah yang membutuhkan kesabaran.

Ia masih ingat salah satu kuliah umum Grand Syekh Al-Azhar, Ahmed Al-Tayyeb, yang pernah membuat aula Fakultas Ushuluddin mendadak hening.

Masalah terbesar manusia modern,” kata Syekh itu pelan waktu itu, “bukan kekurangan ilmu. Tetapi kehilangan kedalaman makna.”

Kalimat itu terus tinggal di kepala Ranti.

Terutama ketika ia mulai mengajar di Kampus Putih, Yogyakarta.

Selamat datang di dunia nyata.

Fajar tertawa kecil saat mengantar Ranti melihat ruang dosen.

Dunia nyata?

Iya. Dunia administrasi, akreditasi, jurnal Scopus, seminar internasional, dan mahasiswa yang lebih takut sinyal Wi-Fi hilang dibanding kehilangan arah hidup.

Fajar mengatakannya sambil bercanda. Tetapi Ranti menangkap kelelahan di matanya.

Lorong fakultas ramai. Orang-orang berjalan cepat. Dosen-dosen bicara tentang hibah penelitian. Mahasiswa sibuk membuat konten TikTok untuk tugas kuliah. Dan di tengah semua itu, Ranti merasa seperti seseorang yang terlambat turun dari kereta.


Hari-hari pertama mengajar membuat kegelisahannya semakin besar. Mahasiswa-mahasiswanya pintar. Cepat. Terlalu cepat.

Mereka bisa merangkum teori filsafat Islam hanya dari video tiga menit. Bisa membuat makalah dalam semalam dengan bantuan AI. Bisa menjawab pertanyaan kelas sambil membuka ChatGPT diam-diam di bawah meja.

Tetapi ketika Ranti bertanya:

Apa yang paling kalian takutkan dalam hidup?

Kelas mendadak sunyi. Tak ada yang benar-benar mampu menjawab.

Mahasiswa-mahasiswa itu saling pandang. Ada yang tertawa kecil untuk menutupi gugup. Ada yang pura-pura sibuk dengan layar laptop. Dan saat itulah Ranti merasa sesuatu sedang retak perlahan di dunia pendidikan. Orang-orang tahu terlalu banyak. Tetapi memahami terlalu sedikit.

Suatu sore, Ranti duduk di kantin kampus. Mahasiswa-mahasiswa di meja sebelah sedang membicarakan karier.

Yang penting cepat lulus.”

Cepat dapat kerja.

Cepat mapan.

Cepat viral.

Semua serba cepat. Dan tiba-tiba Ranti teringat lagi pada kuliah di Kairo dulu. Tentang bagaimana Ahmed Al-Tayyeb pernah menjelaskan bahwa modernitas tanpa kebijaksanaan akan melahirkan manusia yang kehilangan pusat dirinya sendiri.

Waktu itu Ranti mengira kalimat itu terlalu filosofis. Kini ia mulai memahaminya.


Malam-malam Ranti mulai sering berjalan sendiri di area belakang kampus. Di sanalah ia menemukan perpustakaan lama itu.

Gedung kecil berarsitektur kolonial yang nyaris tersembunyi di balik pohon beringin besar. Cat temboknya mengelupas. Jendelanya berdebu.

Tetapi entah kenapa, tempat itu terasa hidup. Berbeda dari gedung kampus lain yang terlalu terang dan terlalu sibuk. Ia masuk perlahan.

Bau buku tua langsung menyergap. Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke Yogyakarta, Ranti merasa tenang.

Perpustakaan itu hampir kosong. Tak ada mahasiswa. Tak ada pustakawan. Hanya rak-rak kayu dan suara kipas tua berdecit pelan.

Ranti mulai sering datang ke sana sepulang mengajar. Membaca buku-buku lama. Menulis catatan. Berpikir.

Semakin lama, perpustakaan itu terasa seperti tempat persembunyian. Dari kampus. Dari manusia. Dari zaman.

Tetapi perlahan sesuatu mulai berubah dalam dirinya. Ia menjadi mudah marah.

Mahasiswa yang bertanya soal nilai membuatnya kesal. Dosen yang bicara soal branding akademik membuatnya muak. Ia mulai merasa dirinya hidup di tengah orang-orang dangkal. Dan tanpa sadar, ia mulai menikmati perasaan itu. Menikmati keyakinan bahwa hanya dirinya yang masih benar-benar berpikir.

Bu Ranti sekarang beda.

Suatu siang Fajar berkata hati-hati.

Maksudnya?

Entahlah.

Fajar mengaduk kopi pelan.

Ibu seperti menjauh dari semua orang.

Ranti tersenyum tipis.

Mungkin saya cuma capek.

Tetapi bahkan ia sendiri tahu itu bohong. Ia bukan lelah. Ia mulai terasing. Dan lebih buruk lagi: ia mulai nyaman dengan keterasingannya sendiri.

Di kelas, Ranti semakin keras.

Jangan cuma mengutip. Berpikirlah.

Jangan terlalu cepat menyimpulkan.

Ilmu bukan konten.

Mahasiswa mulai takut berbicara. Kelasnya berubah sunyi. Tetapi Ranti justru merasa puas. Setidaknya, pikirnya, mereka mulai serius.


Suatu sore seorang mahasiswa bernama Adit mendatanginya.

Bu… saya mau berhenti kuliah.

Ranti terdiam.

Kenapa?

Adit tertawa hambar.

Saya capek merasa bodoh.

Kalimat itu menghantam pelan.

Saya cuma mau belajar, Bu. Tapi setiap masuk kelas Ibu… saya merasa seperti manusia gagal.”

Ranti tercekat.

Ibu selalu bilang kami terlalu cepat.

Adit menunduk.

Tapi mungkin kami cepat karena takut tertinggal.”

Sunyi.

Dan sekarang…” suara Adit mengecil, “…Ibu juga terlihat sedang berlari.”

Mahasiswa itu pergi setelah mengatakan itu. Dan anehnya, kalimat sederhana itu jauh lebih mengganggu dibanding apa pun yang pernah ia baca.


Malam itu hujan turun sangat deras. Ranti kembali ke perpustakaan tua.

Lampu redup. Angin membuat jendela kayu bergetar pelan. Dan ketika itulah ia menemukan map cokelat itu. Terselip di laci meja tua dekat rak belakang.

Di sudut map tertulis:

“Catatan yang Tidak Perlu Diterbitkan.”

Tanpa nama penulis.

Ranti membukanya perlahan. Halaman pertama langsung membuat napasnya tertahan.

“Kampus ini suatu hari akan dipenuhi orang-orang pandai yang kehilangan kemampuan untuk diam.”

Ranti membaca lebih lambat.

“Mereka menghasilkan ribuan tulisan, tetapi sedikit sekali pemikiran.”

Hujan terdengar semakin keras.

“Mereka berbicara tentang moral, tetapi lupa bagaimana cara mencintai manusia.”

Tubuh Ranti mendadak dingin. Karena kalimat-kalimat itu terasa terlalu dekat dengan kenyataan.

Ia membaca sampai larut malam. Naskah itu seperti diary panjang tentang pendidikan, agama, dan manusia modern.

Tentang kampus yang perlahan berubah menjadi mesin. Tentang dosen-dosen yang kehilangan jiwa. Tentang mahasiswa yang hidup terlalu cepat.

Tetapi di tengah halaman-halaman itu, Ranti menemukan sesuatu yang membuat dadanya sesak.

“Kelak akan lahir orang-orang yang membenci kecepatan zaman. Mereka tampak seperti penyelamat. Tetapi diam-diam mereka jatuh pada penyakit yang sama: merasa diri paling sadar.”

Ranti membeku.

Ia melanjutkan membaca.

Kesombongan intelektual selalu menyamar sebagai idealisme.

Hening.

Suara hujan tiba-tiba terasa jauh. Entah kenapa, kalimat itu seperti sedang berbicara langsung padanya.


Sejak malam itu Ranti menjadi terobsesi. Ia terus membaca naskah itu berulang-ulang. Bahkan membawa fotokopinya pulang ke kos.

Semakin dibaca, semakin ia merasa penulisnya memahami isi kepalanya. Seolah seseorang sedang mengamati pikirannya diam-diam. Dan perlahan-lahan, Ranti mulai semakin jauh dari dunia luar.

Ia jarang membalas pesan ibunya. Jarang berbicara dengan dosen lain. Jarang tertawa. Hidupnya hanya kelas, kamar kos, dan perpustakaan tua. Ia mulai menikmati kesunyian seperti candu.

Suatu malam ia membaca satu bagian yang membuat tubuhnya membeku.

Aku mulai tidak tahan dengan manusia-manusia yang terlalu cepat.

Ranti tercekat. Kalimat itu familiar. Sangat familiar.

Karena tiga hari lalu ia menulis kalimat yang hampir sama di notebook pribadinya. Ia buru-buru membuka tas. Mengambil notebook hitam kecil miliknya. Membandingkan tulisan tangan.

Dan darahnya seperti berhenti mengalir. Tulisan itu sama. Persis. Lengkungan hurufnya. Tekanan tintanya. Cara menulis huruf “g”. Sama.

Tidak mungkin…

Tangannya mulai dingin. Ia membalik halaman terakhir.

Dan di pojok kanan bawah tertulis satu nama kecil:

Ranti.

Hujan di luar semakin deras. Kepala Ranti mendadak nyeri. Potongan-potongan bayangan aneh mulai bermunculan. Lorong kampus yang lebih sepi. Dirinya sendiri duduk di perpustakaan menulis sendirian. Fajar yang tampak lebih pendiam. Dan suasana kampus yang terasa jauh lebih sunyi.

Dengan tangan gemetar, Ranti membuka lembar terakhir yang terselip di map. Itu bukan tulisan tangan. Melainkan hasil print komputer.

Tanggalnya membuat tubuhnya langsung lemas. 17 November 2028. Dua tahun dari sekarang.

Isi tulisannya pendek.

“Perpustakaan lama akhirnya ditutup total hari ini. Tidak ada lagi yang datang kecuali aku.”

Napas Ranti memburu.

“Kampus ini semakin penuh orang-orang cepat.”

Matanya panas.

“Dan aku mulai tidak tahu apakah aku masih mencintai manusia, atau hanya mencintai gagasan tentang manusia.”

Air mata Ranti jatuh tanpa suara. Karena ia mulai mengerti sesuatu yang jauh lebih menakutkan dibanding cerita hantu apa pun. Naskah itu ditulis oleh dirinya sendiri. Di masa depan.

Ia terduduk lemas di lantai perpustakaan. Pikirannya kacau. Selama ini ia mengira sedang melawan alienasi kampus.

Padahal perlahan-lahan…

ia sedang bergerak menuju alienasi yang lebih sunyi.

Alienasi seorang manusia yang terlalu lama hidup di dalam pikirannya sendiri. Sampai lupa bagaimana mencintai manusia nyata.

Ranti membaca halaman terakhir. Tulisan di bagian bawah tampak lebih bergetar. Lebih lelah.

Jika kau membaca ini sebelum semuanya terlambat, tolong… jangan menjadi aku.

Ranti menutup wajahnya. Dadanya sesak. Untuk pertama kalinya ia benar-benar takut. Bukan pada kampus. Bukan pada zaman. Tetapi pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba laptop di meja menyala sendiri. Satu file video muncul. Durasi empat puluh tujuh detik.

Ranti mengkliknya perlahan. Video itu buram. Menampilkan perpustakaan tua yang sama. Kosong. Sunyi.

Lalu kamera bergerak pelan ke sudut ruangan.

Dan di sana…

seorang perempuan duduk sendirian menulis.

Itu Ranti.

Tidak jauh berbeda. Wajahnya masih sama. Rambutnya masih sebahu. Bahkan cardigan abu-abu yang dipakainya terlihat seperti miliknya sekarang.

Tetapi ada sesuatu yang membuat dada Ranti perlahan mendingin. Tatapan perempuan itu. Kosong. Bukan kosong seperti orang sedih. Melainkan kosong seperti seseorang yang terlalu lama hidup bersama pikirannya sendiri.

Di meja sekelilingnya bertumpuk buku-buku, catatan, dan lembar revisi jurnal. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada cangkir kopi yang masih hangat. Tidak ada tanda kehidupan lain selain tulisan-tulisan.

Perempuan dalam video itu berhenti menulis. Lalu menatap kamera. Tatapannya tenang. Terlalu tenang.

“Aku dulu juga berpikir aku sedang menyelamatkan kampus.

Suara itu pelan. Nyaris seperti bisikan.

Video mendadak bergetar. Sebelum layar mati, perempuan itu seperti ingin mengatakan sesuatu lagi.

Bibirnya bergerak perlahan.

…tolong.

Gelap.

Ranti terpaku. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada masa depan yang buruk: bahwa manusia bisa berubah menjadi asing bagi dirinya sendiri tanpa menyadarinya sedikit pun.

Hujan di luar belum berhenti. Ranti perlahan menoleh ke meja kayu tua di depannya. Map cokelat itu masih terbuka. Dan di sampingnya… terdapat sebuah pena hitam. Pena yang sama seperti miliknya.

Dadanya mendadak sesak. Karena di lembar kosong paling belakang, samar-samar sudah tertulis satu kalimat dengan tinta basah:

“Malam ini hujan turun deras ketika aku kembali membaca semuanya untuk kesekian kali.”

Tulisan tangannya. 

Ranti mundur perlahan. Tangannya gemetar. 

Tetapi matanya tidak bisa lepas dari halaman itu. Dan entah sejak kapan, ia mulai tidak yakin,  apakah ia sedang mencoba menghentikan masa depan itu, atau justru perlahan sedang menuliskannya.***

 

Desa Kapur, 28 Mei 2026

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now