HUJAN pertama
bulan November turun tepat ketika Ranti menginjakkan kaki di Yogyakarta.
Bandara
terasa pengap. Orang-orang berjalan cepat sambil menunduk pada layar ponsel
masing-masing. Seorang mahasiswa berseragam almamater putih sempat menabraknya
tanpa meminta maaf. Hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk mengetik sesuatu.
Ranti
menarik koper pelan.
Ia
baru pulang dari Mesir dua bulan lalu. Tujuh tahun belajar di Universitas
Al-Azhar membuatnya terbiasa dengan ritme yang berbeda. Di Kairo, bahkan
percakapan tentang Tuhan bisa berlangsung berjam-jam tanpa seseorang melihat
jam. Orang-orang masih percaya bahwa berpikir adalah ibadah yang membutuhkan
kesabaran.
Ia
masih ingat salah satu kuliah umum Grand Syekh Al-Azhar, Ahmed Al-Tayyeb, yang
pernah membuat aula Fakultas Ushuluddin mendadak hening.
“Masalah
terbesar manusia modern,” kata Syekh itu pelan waktu itu, “bukan
kekurangan ilmu. Tetapi kehilangan kedalaman makna.”
Kalimat
itu terus tinggal di kepala Ranti.
Terutama ketika ia mulai mengajar di Kampus Putih, Yogyakarta.
“Selamat
datang di dunia nyata.”
Fajar
tertawa kecil saat mengantar Ranti melihat ruang dosen.
“Dunia
nyata?”
“Iya.
Dunia administrasi, akreditasi, jurnal Scopus, seminar internasional, dan
mahasiswa yang lebih takut sinyal Wi-Fi hilang dibanding kehilangan arah hidup.”
Fajar
mengatakannya sambil bercanda. Tetapi Ranti menangkap kelelahan di matanya.
Lorong
fakultas ramai. Orang-orang berjalan cepat. Dosen-dosen bicara tentang hibah
penelitian. Mahasiswa sibuk membuat konten TikTok untuk tugas kuliah. Dan di
tengah semua itu, Ranti merasa seperti seseorang yang terlambat turun dari
kereta.
Hari-hari
pertama mengajar membuat kegelisahannya semakin besar. Mahasiswa-mahasiswanya
pintar. Cepat. Terlalu cepat.
Mereka
bisa merangkum teori filsafat Islam hanya dari video tiga menit. Bisa membuat
makalah dalam semalam dengan bantuan AI. Bisa menjawab pertanyaan kelas sambil
membuka ChatGPT diam-diam di bawah meja.
Tetapi
ketika Ranti bertanya:
“Apa
yang paling kalian takutkan dalam hidup?”
Kelas
mendadak sunyi. Tak ada yang benar-benar mampu menjawab.
Mahasiswa-mahasiswa itu saling pandang. Ada yang tertawa kecil untuk menutupi gugup. Ada yang pura-pura sibuk dengan layar laptop. Dan saat itulah Ranti merasa sesuatu sedang retak perlahan di dunia pendidikan. Orang-orang tahu terlalu banyak. Tetapi memahami terlalu sedikit.
Suatu
sore, Ranti duduk di kantin kampus. Mahasiswa-mahasiswa di meja sebelah sedang
membicarakan karier.
“Yang
penting cepat lulus.”
“Cepat
dapat kerja.”
“Cepat
mapan.”
“Cepat
viral.”
Semua
serba cepat. Dan tiba-tiba Ranti teringat lagi pada kuliah di Kairo dulu.
Tentang bagaimana Ahmed Al-Tayyeb pernah menjelaskan bahwa modernitas tanpa
kebijaksanaan akan melahirkan manusia yang kehilangan pusat dirinya sendiri.
Waktu
itu Ranti mengira kalimat itu terlalu filosofis. Kini ia mulai memahaminya.
Malam-malam
Ranti mulai sering berjalan sendiri di area belakang kampus. Di sanalah ia
menemukan perpustakaan lama itu.
Gedung
kecil berarsitektur kolonial yang nyaris tersembunyi di balik pohon beringin
besar. Cat temboknya mengelupas. Jendelanya berdebu.
Tetapi
entah kenapa, tempat itu terasa hidup. Berbeda dari gedung kampus lain yang
terlalu terang dan terlalu sibuk. Ia masuk perlahan.
Bau
buku tua langsung menyergap. Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke
Yogyakarta, Ranti merasa tenang.
Perpustakaan
itu hampir kosong. Tak ada mahasiswa. Tak ada pustakawan. Hanya rak-rak kayu
dan suara kipas tua berdecit pelan.
Ranti
mulai sering datang ke sana sepulang mengajar. Membaca buku-buku lama. Menulis
catatan. Berpikir.
Semakin
lama, perpustakaan itu terasa seperti tempat persembunyian. Dari kampus. Dari
manusia. Dari zaman.
Tetapi
perlahan sesuatu mulai berubah dalam dirinya. Ia menjadi mudah marah.
Mahasiswa yang bertanya soal nilai membuatnya kesal. Dosen yang bicara soal branding akademik membuatnya muak. Ia mulai merasa dirinya hidup di tengah orang-orang dangkal. Dan tanpa sadar, ia mulai menikmati perasaan itu. Menikmati keyakinan bahwa hanya dirinya yang masih benar-benar berpikir.
“Bu
Ranti sekarang beda.”
Suatu
siang Fajar berkata hati-hati.
“Maksudnya?”
“Entahlah.”
Fajar
mengaduk kopi pelan.
“Ibu
seperti menjauh dari semua orang.”
Ranti
tersenyum tipis.
“Mungkin
saya cuma capek.”
Tetapi
bahkan ia sendiri tahu itu bohong. Ia bukan lelah. Ia mulai terasing. Dan lebih
buruk lagi: ia mulai nyaman dengan keterasingannya sendiri.
Di
kelas, Ranti semakin keras.
“Jangan
cuma mengutip. Berpikirlah.”
“Jangan
terlalu cepat menyimpulkan.”
“Ilmu
bukan konten.”
Mahasiswa
mulai takut berbicara. Kelasnya berubah sunyi. Tetapi Ranti justru merasa puas.
Setidaknya, pikirnya, mereka mulai serius.
Suatu
sore seorang mahasiswa bernama Adit mendatanginya.
“Bu…
saya mau berhenti kuliah.”
Ranti
terdiam.
“Kenapa?”
Adit
tertawa hambar.
“Saya
capek merasa bodoh.”
Kalimat
itu menghantam pelan.
“Saya
cuma mau belajar, Bu. Tapi setiap masuk kelas Ibu… saya merasa seperti manusia
gagal.”
Ranti
tercekat.
“Ibu
selalu bilang kami terlalu cepat.”
Adit
menunduk.
“Tapi
mungkin kami cepat karena takut tertinggal.”
Sunyi.
“Dan
sekarang…” suara Adit mengecil, “…Ibu juga terlihat sedang berlari.”
Mahasiswa
itu pergi setelah mengatakan itu. Dan anehnya, kalimat sederhana itu jauh lebih
mengganggu dibanding apa pun yang pernah ia baca.
Malam
itu hujan turun sangat deras. Ranti kembali ke perpustakaan tua.
Lampu
redup. Angin membuat jendela kayu bergetar pelan. Dan ketika itulah ia
menemukan map cokelat itu. Terselip di laci meja tua dekat rak belakang.
Di
sudut map tertulis:
“Catatan
yang Tidak Perlu Diterbitkan.”
Tanpa
nama penulis.
Ranti
membukanya perlahan. Halaman pertama langsung membuat napasnya tertahan.
“Kampus
ini suatu hari akan dipenuhi orang-orang pandai yang kehilangan kemampuan untuk
diam.”
Ranti
membaca lebih lambat.
“Mereka
menghasilkan ribuan tulisan, tetapi sedikit sekali pemikiran.”
Hujan
terdengar semakin keras.
“Mereka
berbicara tentang moral, tetapi lupa bagaimana cara mencintai manusia.”
Tubuh
Ranti mendadak dingin. Karena kalimat-kalimat itu terasa terlalu dekat dengan
kenyataan.
Ia
membaca sampai larut malam. Naskah itu seperti diary panjang tentang
pendidikan, agama, dan manusia modern.
Tentang
kampus yang perlahan berubah menjadi mesin. Tentang dosen-dosen yang kehilangan
jiwa. Tentang mahasiswa yang hidup terlalu cepat.
Tetapi
di tengah halaman-halaman itu, Ranti menemukan sesuatu yang membuat dadanya
sesak.
“Kelak
akan lahir orang-orang yang membenci kecepatan zaman. Mereka tampak seperti
penyelamat. Tetapi diam-diam mereka jatuh pada penyakit yang sama: merasa diri
paling sadar.”
Ranti
membeku.
Ia
melanjutkan membaca.
“Kesombongan
intelektual selalu menyamar sebagai idealisme.”
Hening.
Suara
hujan tiba-tiba terasa jauh. Entah kenapa, kalimat itu seperti sedang berbicara
langsung padanya.
Sejak
malam itu Ranti menjadi terobsesi. Ia terus membaca naskah itu berulang-ulang. Bahkan
membawa fotokopinya pulang ke kos.
Semakin
dibaca, semakin ia merasa penulisnya memahami isi kepalanya. Seolah seseorang
sedang mengamati pikirannya diam-diam. Dan perlahan-lahan, Ranti mulai semakin
jauh dari dunia luar.
Ia
jarang membalas pesan ibunya. Jarang berbicara dengan dosen lain. Jarang
tertawa. Hidupnya hanya kelas, kamar kos, dan perpustakaan tua. Ia mulai
menikmati kesunyian seperti candu.
Suatu
malam ia membaca satu bagian yang membuat tubuhnya membeku.
“Aku
mulai tidak tahan dengan manusia-manusia yang terlalu cepat.”
Ranti
tercekat. Kalimat itu familiar. Sangat familiar.
Karena
tiga hari lalu ia menulis kalimat yang hampir sama di notebook pribadinya. Ia
buru-buru membuka tas. Mengambil notebook hitam kecil miliknya. Membandingkan
tulisan tangan.
Dan
darahnya seperti berhenti mengalir. Tulisan itu sama. Persis. Lengkungan
hurufnya. Tekanan tintanya. Cara menulis huruf “g”. Sama.
“Tidak
mungkin…”
Tangannya
mulai dingin. Ia membalik halaman terakhir.
Dan
di pojok kanan bawah tertulis satu nama kecil:
Ranti.
Hujan
di luar semakin deras. Kepala Ranti mendadak nyeri. Potongan-potongan bayangan
aneh mulai bermunculan. Lorong kampus yang lebih sepi. Dirinya sendiri duduk di
perpustakaan menulis sendirian. Fajar yang tampak lebih pendiam. Dan suasana
kampus yang terasa jauh lebih sunyi.
Dengan
tangan gemetar, Ranti membuka lembar terakhir yang terselip di map. Itu bukan
tulisan tangan. Melainkan hasil print komputer.
Tanggalnya
membuat tubuhnya langsung lemas. 17 November 2028. Dua tahun dari sekarang.
Isi
tulisannya pendek.
“Perpustakaan
lama akhirnya ditutup total hari ini. Tidak ada lagi yang datang kecuali aku.”
Napas
Ranti memburu.
“Kampus
ini semakin penuh orang-orang cepat.”
Matanya
panas.
“Dan
aku mulai tidak tahu apakah aku masih mencintai manusia, atau hanya mencintai
gagasan tentang manusia.”
Air
mata Ranti jatuh tanpa suara. Karena ia mulai mengerti sesuatu yang jauh lebih
menakutkan dibanding cerita hantu apa pun. Naskah itu ditulis oleh dirinya
sendiri. Di masa depan.
Ia
terduduk lemas di lantai perpustakaan. Pikirannya kacau. Selama ini ia mengira
sedang melawan alienasi kampus.
Padahal
perlahan-lahan…
ia
sedang bergerak menuju alienasi yang lebih sunyi.
Alienasi
seorang manusia yang terlalu lama hidup di dalam pikirannya sendiri. Sampai
lupa bagaimana mencintai manusia nyata.
Ranti
membaca halaman terakhir. Tulisan di bagian bawah tampak lebih bergetar. Lebih
lelah.
“Jika
kau membaca ini sebelum semuanya terlambat, tolong… jangan menjadi aku.”
Ranti menutup wajahnya. Dadanya sesak. Untuk pertama kalinya ia benar-benar takut. Bukan pada kampus. Bukan pada zaman. Tetapi pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba
laptop di meja menyala sendiri. Satu file video muncul. Durasi empat puluh
tujuh detik.
Ranti
mengkliknya perlahan. Video itu buram. Menampilkan perpustakaan tua yang sama. Kosong.
Sunyi.
Lalu
kamera bergerak pelan ke sudut ruangan.
Dan
di sana…
seorang
perempuan duduk sendirian menulis.
Itu
Ranti.
Tidak
jauh berbeda. Wajahnya masih sama. Rambutnya masih sebahu. Bahkan cardigan
abu-abu yang dipakainya terlihat seperti miliknya sekarang.
Tetapi
ada sesuatu yang membuat dada Ranti perlahan mendingin. Tatapan perempuan itu. Kosong.
Bukan kosong seperti orang sedih. Melainkan kosong seperti seseorang yang
terlalu lama hidup bersama pikirannya sendiri.
Di
meja sekelilingnya bertumpuk buku-buku, catatan, dan lembar revisi jurnal. Tidak
ada foto keluarga. Tidak ada cangkir kopi yang masih hangat. Tidak ada tanda
kehidupan lain selain tulisan-tulisan.
Perempuan
dalam video itu berhenti menulis. Lalu menatap kamera. Tatapannya tenang. Terlalu
tenang.
“Aku
dulu juga berpikir aku sedang menyelamatkan kampus.”
Suara
itu pelan. Nyaris seperti bisikan.
Video
mendadak bergetar. Sebelum layar mati, perempuan itu seperti ingin mengatakan
sesuatu lagi.
Bibirnya
bergerak perlahan.
“…tolong.”
Gelap.
Ranti terpaku. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada masa depan yang buruk: bahwa manusia bisa berubah menjadi asing bagi dirinya sendiri tanpa menyadarinya sedikit pun.
Hujan
di luar belum berhenti. Ranti perlahan menoleh ke meja kayu tua di depannya. Map
cokelat itu masih terbuka. Dan di sampingnya… terdapat sebuah pena hitam. Pena
yang sama seperti miliknya.
Dadanya
mendadak sesak. Karena di lembar kosong paling belakang, samar-samar sudah
tertulis satu kalimat dengan tinta basah:
“Malam
ini hujan turun deras ketika aku kembali membaca semuanya untuk kesekian kali.”
Tulisan tangannya.
Ranti mundur perlahan. Tangannya gemetar.
Tetapi matanya tidak bisa
lepas dari halaman itu. Dan entah sejak kapan, ia mulai tidak yakin, apakah ia sedang mencoba menghentikan masa
depan itu, atau justru perlahan sedang menuliskannya.***
Desa
Kapur, 28 Mei 2026


