Iklan

Kursi Nomor Tujuh

syamsul kurniawan
Saturday, July 11, 2026
Last Updated 2026-07-12T05:48:08Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 

 

Syamsul Kurniawan

 

TIDAK semua hari datang membawa kabar. Ada hari yang sekadar lewat, meninggalkan debu di jalan pulang. Ada hari yang membawa tawa. Ada pula hari yang diam-diam mengubah hidup seseorang tanpa pernah dikenang.

 

Lalu ada Hari.

 

Setiap senja, Hari selalu duduk di kursi nomor tujuh di sebuah taman kota.

 

Tak ada yang istimewa dari kursi itu. Cat hijaunya mengelupas, salah satu kakinya sedikit miring, dan di atasnya berdiri pohon flamboyan tua yang hampir setiap sore menjatuhkan bunga-bunga merah.

 

Orang-orang mengira Hari sedang menunggu seseorang. Padahal tidak. Ia hanya sedang memenuhi pesan seorang perempuan tua yang pernah ditemuinya bertahun-tahun silam.

 

Kala itu, perempuan itu berkata,

 

"Jika dunia terasa terlalu riuh, datanglah ke kursi ini. Akan selalu ada seseorang yang membutuhkan Hari."

 

Hari mengira perempuan itu sedang menyebut namanya.

 

Ia tidak pernah bertanya siapa perempuan itu.

 

Tidak pernah pula melihatnya lagi.

 

***

 

Hari berganti hari. Musim berganti musim. Namun Hari tetap datang. Anehnya, hampir setiap kali ia duduk, selalu ada seseorang yang menghampiri. Seorang mahasiswa yang takut gagal. Seorang ayah yang kehilangan pekerjaan. Anak kecil yang tersesat. Perempuan yang menangis tanpa suara. Tak ada petuah panjang. Tak ada nasihat yang terdengar bijaksana. Hari hanya mendengarkan. Sesekali tersenyum.

 

Sesekali berkata,

 

"Besok mungkin belum menjadi jawaban. Tapi jangan berhenti sampai besok datang."

 

Orang-orang itu selalu pergi dengan langkah yang lebih ringan. Sedangkan Hari pulang dengan perasaan biasa saja.

 

***

 

Suatu sore, langit menggantung mendung. Seorang anak laki-laki menghampiri sambil membawa pesawat kertas.

 

"Om, boleh duduk?"

 

"Tentu."

 

Anak itu duduk sambil memainkan pesawatnya. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Lalu ia bertanya,

 

"Om namanya siapa?"

 

"Hari."

 

Anak itu tertawa kecil.

 

"Lucu."

 

"Kenapa?"

 

"Namaku Minggu."

 

Hari ikut tertawa. Nama yang aneh. Sekaligus indah.

 

Mereka kembali diam. Hingga Minggu berkata,

 

"Ibu bilang, kalau suatu saat aku kehilangan harapan, aku harus mencari Hari."

 

Hari tersenyum.

 

"Ibumu kenal aku?"

 

Minggu menggeleng.

 

"Tidak."

 

"Lalu kenapa harus mencariku?"

 

"Ibu bilang, setiap orang pasti akan bertemu Hari. Cepat atau lambat."

 

Hari menganggap itu hanya cara seorang ibu menghibur anaknya. Tak lama kemudian terdengar suara seorang perempuan memanggil.

 

"Minggu!"

 

Anak itu berdiri. Melambaikan tangan. Lalu berlari meninggalkan taman. Hari bahkan tidak sempat melihat wajah ibunya.

 

***

 

Senja mulai turun. Hari hendak pulang ketika melihat sebuah pelat kuningan kecil di bawah kursi. Ia membersihkan lumut yang menutupinya.

 

Terukir sebuah kalimat.

 

"Terima kasih karena telah menjadi hari bagi seseorang."

 

Hari tersenyum. Namun senyumnya perlahan menghilang ketika membaca baris berikutnya. Nama perempuan tua itu. Tanggal lahirnya. Dan tanggal wafatnya. Perempuan itu meninggal... empat belas tahun sebelum Hari pertama kali bertemu dengannya.

 

Tubuh Hari mendadak dingin. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa pelat itu mungkin salah. Bahwa ingatannya keliru. Bahwa semua itu hanya kebetulan.

 

Saat itulah ia mendengar suara anak kecil.

 

"Om..."

 

Hari menoleh cepat.

 

Minggu berdiri beberapa meter di belakangnya. Sendirian.

 

"Bukannya kamu sudah pulang?"

 

Minggu tersenyum.

 

"Aku belum pergi."

 

"Lalu... ibumu?"

 

Anak itu menunjuk ke kursi nomor tujuh.

 

"Bukannya sejak tadi Om ngobrol sama Ibu?"

 

Hari perlahan menoleh. Kursi itu kosong. Tak ada siapa-siapa.

 

Ketika ia kembali melihat Minggu... anak itu pun telah menghilang. Yang tertinggal hanya sebuah pesawat kertas. Hari mengambilnya.

 

Di bagian dalam lipatannya ada tulisan tangan yang mulai pudar.

 

"Suatu hari nanti, seseorang akan duduk di kursi ini dan mengira ia datang untuk menolong orang lain."

 

Hari membuka lipatan terakhir. Di sana hanya ada satu kalimat.

 

"Padahal sejak awal... yang sedang ditolong adalah Hari."

 

Hari mengangkat wajah. Taman itu mendadak sunyi. Tak ada langkah kaki. Tak ada suara burung. Tak ada angin.

 

Hanya kursi nomor tujuh yang tetap menghadap jalan setapak... seolah masih menunggu seseorang berikutnya.

 

Atau mungkin... sedang menunggu Hari yang lain.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now