Cerpen: Syamsul Kurniawan
Ada bangunan yang dibangun untuk ditinggali. Ada bangunan yang dibangun untuk dikenang. Dan ada bangunan yang diam-diam dibangun untuk menyimpan seseorang yang tidak pernah berhasil pulang.
Aku tidak tahu ke dalam golongan yang mana villa itu berada. Yang kutahu, sejak pertama kali melihat fotonya di sebuah buku tua, ada sesuatu yang terus memanggilku. Bukan bentuk bangunannya. Bukan sejarahnya. Bahkan bukan nama besar orang-orang yang pernah singgah di sana. Melainkan kesunyiannya.
Kesunyian memiliki suara yang hanya bisa didengar oleh orang-orang tertentu. Barangkali karena itulah seorang penulis selalu jatuh cinta pada tempat-tempat tua. Kami tidak datang untuk melihat dinding atau jendela. Kami datang untuk mendengarkan apa yang sudah terlalu lama tidak diceritakan.
Pagi itu Bandung baru saja diguyur hujan. Jalan menuju villa masih basah. Pepohonan di sepanjang jalan mengembuskan aroma tanah yang mengingatkanku pada halaman rumah masa kecil. Anehnya, aku tidak benar-benar mampu mengingat rumah itu. Setiap kali mencoba membayangkannya, yang muncul hanya sebuah beranda, kursi rotan, dan secangkir teh yang mengepulkan uap.
Wajah ibuku selalu kabur. Wajah ayahku lebih kabur lagi. Aku menganggapnya sebagai akibat terlalu banyak bekerja.
Sudah hampir setahun aku tidak berhasil menyelesaikan satu novel pun.
Penerbit mulai menanyakan naskah. Pembaca mulai bertanya kapan buku berikutnya terbit. Aku hanya bisa tersenyum. Mereka tidak tahu bahwa seorang penulis terkadang kehilangan bukan kata-kata, melainkan dirinya sendiri.
Barangkali itulah alasan aku datang ke villa ini. Mencari cerita. Atau mungkin mencari siapa yang selama ini menuliskan hidupku.
Aku berhenti di depan pagar besi yang mengelilingi halaman. Embun masih menggantung pada ujung dedaunan. Bangunan itu berdiri anggun, seolah waktu memilih berjalan lebih lambat di sekitarnya.
Beberapa mahasiswa melintas sambil bercanda. Seorang petugas keamanan mengangguk ramah. Aku membalas anggukannya, lalu menaiki anak tangga batu menuju bangunan utama.
Saat telapak tanganku menyentuh pegangan tangga yang dingin, dadaku mendadak sesak. Sangat sesak. Seolah seseorang baru saja menarik seluruh udara dari paru-paruku.
Aku memejamkan mata. Hanya satu detik. Ketika kubuka kembali... semuanya berubah.
Suara kendaraan menghilang. Gelak tawa mahasiswa lenyap. Udara menjadi lebih sunyi. Lebih berat. Aku menoleh ke belakang. Halaman yang tadi ramai kini kosong. Bahkan pohon-pohon tampak berbeda. Batangnya lebih kecil. Daunnya lebih lebat. Seolah usianya puluhan tahun lebih muda.
Aku menoleh ke arah bangunan. Jendelanya terbuka. Tirai putih bergoyang pelan. Di dalam terdengar denting piano.
Aku melangkah masuk. Lantai marmer memantulkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi. Aroma kayu tua memenuhi udara. Tidak ada debu. Tidak ada tanda-tanda bangunan yang telah berusia puluhan tahun. Semuanya tampak hidup.
Di ujung lorong, seorang perempuan berpakaian putih berjalan perlahan. Ia membawa setumpuk buku. Ketika melewatiku, ia tidak menoleh. Seolah aku tidak ada.
Aku mencoba menyapanya.
"Permisi."
Tidak ada jawaban. Ia terus berjalan. Menghilang di balik tikungan. Aku berlari mengejarnya. Lorong itu kosong. Tak ada siapa-siapa. Yang tersisa hanya sebuah buku di lantai. Sampulnya berwarna hitam. Tanpa judul. Aku memungutnya.
Halaman pertama kosong. Halaman kedua juga kosong. Begitu pula halaman ketiga.
Saat hendak menutupnya, tiba-tiba sebuah kalimat muncul perlahan, seperti tinta yang meresap dari balik kertas.
"Setiap manusia memakai topeng agar bertahan hidup."
Aku mengernyit.
Kalimat berikutnya muncul.
"Semakin lama dipakai, topeng itu mulai percaya bahwa dialah wajah yang sebenarnya."
Jantungku berdegup lebih cepat. Aku menoleh ke belakang. Lorong masih kosong. Tetapi kini terdengar suara langkah kaki. Pelan. Teratur. Tok... Tok... Tok...
Seorang pria tua muncul dari ujung lorong. Rambutnya memutih. Jasnya rapi. Tongkat kayunya beradu pelan dengan lantai marmer. Ia berhenti tepat di depanku.
"Sudah lama sekali," katanya.
Aku mengernyit.
"Maaf?"
"Aku menunggumu."
"Kita saling mengenal?"
Ia tersenyum.
"Belum."
"Lalu kenapa Anda menunggu saya?"
Karena suatu hari nanti kau akan memakai wajahku."
Aku tertawa kecil.
"Bapak salah orang."
"Begitukah?"
Ia mengangkat tangan. Menunjuk ke arah cermin besar yang tergantung di dinding. Aku menoleh. Bayanganku masih ada.
Tetapi...
jas yang kukenakan bukan lagi jaket yang kupakai pagi tadi. Melainkan jas putih tua. Persis seperti milik pria itu. Aku buru-buru menyentuh wajahku. Kulitku masih sama. Rambutku masih sama. Namun di dalam cermin, pria tua itu melakukan gerakan yang sama. Bukan aku. Dia.
Aku mundur dua langkah. Dadaku mulai dipenuhi sesuatu yang tidak mampu kujelaskan.
"Apa ini?"
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya berkata pelan,
"Jangan terlalu lama bercermin."
"Kenapa?"
"Karena manusia selalu jatuh cinta pada topeng yang paling sering ia lihat."
Aku hendak bertanya lagi. Tetapi pria itu sudah berjalan meninggalkanku. Anehnya, langkahnya tidak menghasilkan bayangan. Aku mengejarnya hingga sebuah ruang kerja. Ruangan itu kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah meja. Mesin tik tua. Dan sebuah naskah yang baru diketik setengah halaman. Di bagian atas tertulis satu kata.
PERSONA
Aku duduk.
Kertas itu masih hangat. Seolah baru saja ditinggalkan oleh seseorang. Tanpa sadar aku membaca paragraf pertamanya.
"Surya datang ke villa karena percaya ia sedang mencari inspirasi. Ia tidak tahu, sesungguhnya inspirasilah yang sedang mencari wajah baru untuk dikenakan."
Tanganku membeku. Itu namaku. Aku belum pernah menulis kalimat itu. Belum pernah melihat naskah ini. Namun setiap kata di dalamnya terasa seperti... ingatanku sendiri. Dan saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mulai meragukan satu hal yang selama ini kuanggap paling pasti.
Barangkali nama Surya bukanlah milikku.
Barangkali... itu hanya topeng pertama.
***
Aku tidak tahu berapa lama duduk di depan mesin tik itu.
Ruangan tetap sunyi. Cahaya matahari yang masuk dari jendela tidak bergeser sedikit pun, seolah waktu sengaja ditahan di dalam bangunan ini. Di luar terdengar desir angin yang sesekali menggoyangkan daun-daun tua, tetapi suara itu terasa datang dari tempat yang sangat jauh.
Aku menatap kembali kertas yang berada di mesin tik.
Kalimat yang baru saja kubaca masih ada.
"Surya datang ke villa karena percaya ia sedang mencari inspirasi. Ia tidak tahu, sesungguhnya inspirasilah yang sedang mencari wajah baru untuk dikenakan."
Aku menarik napas panjang. Dengan gemetar aku membalik kertas itu. Kosong. Tidak ada halaman berikutnya. Tidak ada penjelasan siapa penulisnya. Tidak ada nama pemilik mesin tik itu.
Aku berdiri. Naluriku mengatakan satu hal yang sederhana: keluar. Namun lorong yang kulewati beberapa menit lalu kini tidak lagi sama. Pintu-pintu yang semula terbuka berubah tertutup rapat. Lukisan-lukisan di dinding bertambah banyak. Bahkan aroma ruangan pun berubah. Kini tercium wangi tembakau yang samar bercampur kopi hitam yang baru diseduh. Seolah bangunan ini terus mengubah dirinya ketika aku lengah.
Langkahku terhenti di depan sebuah ruang makan. Di sana duduk seorang perempuan muda. Rambutnya disanggul rapi. Jemarinya memegang cangkir teh, tetapi ia tidak meminumnya. Tatapannya lurus ke arah taman, seperti sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
Aku berdeham pelan.
"Permisi."
Perempuan itu menoleh. Matanya bening. Anehnya, tatapan itu tidak terasa asing.
"Akhirnya kau datang," katanya lirih.
Kalimat yang sama. Aku pernah mendengarnya. Entah di mana.
"Kita saling mengenal?"
Ia tersenyum tipis.
"Semua orang yang datang ke rumah ini selalu bertanya seperti itu."
"Aku benar-benar tidak mengenalmu."
"Bukan."
Ia menggeleng pelan.
"Yang tidak kau kenal adalah dirimu sendiri."
Dadaku kembali terasa sesak. Aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi perempuan itu berdiri.
"Ayo."
"Mau ke mana?"
"Ke tempat yang selama ini kau hindari."
Ia melangkah keluar menuju taman belakang. Aku mengikutinya tanpa benar-benar tahu mengapa.
Di halaman belakang terdapat sebuah kolam bundar. Permukaan airnya tenang, nyaris tanpa riak. Pepohonan mengelilinginya rapat sehingga cahaya matahari hanya jatuh dalam potongan-potongan kecil.
Perempuan itu berhenti di tepi kolam.
"Lihat."
Aku menunduk. Pantulan wajahku muncul di permukaan air.
Tetapi hanya sesaat. Beberapa detik kemudian wajah itu berubah. Bukan lagi wajahku. Seorang anak laki-laki menatapku dari dalam air. Usianya sekitar delapan tahun. Ia duduk memeluk lutut. Matanya sembap, seperti habis menangis.
Aku terlonjak mundur. Riak air menghilang. Pantulan itu lenyap.
"Apa kau melihatnya?" tanyaku.
Perempuan itu hanya mengangguk.
"Siapa dia?"
"Anak yang tidak pernah sempat tumbuh."
"Omong kosong."
"Kalau begitu, kenapa kau ketakutan?"
Aku tidak menjawab. Entah mengapa, dada kiriku mendadak terasa nyeri. Ada rasa kehilangan yang tidak memiliki nama.
Aku mencoba mengingat masa kecilku.
Seperti sebelumnya, ingatan itu selalu berhenti pada sebuah beranda, kursi rotan, dan secangkir teh yang mengepulkan uap. Selain itu... kosong.
"Aku pernah punya adik?" tanyaku pelan, lebih kepada diriku sendiri.
Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya memandangku dengan sorot mata yang dipenuhi belas kasihan. Aku membenci tatapan itu. Karena aku tidak tahu mengapa ia mengasihaniku.
Ketika matahari mulai turun, aku kembali memasuki bangunan. Lorong-lorongnya semakin asing. Kini terdengar suara orang berbicara dari sebuah ruangan. Aku mengintip.
Seorang pria sedang mengetik dengan tergesa-gesa. Tangannya bergerak cepat di atas mesin tik. Tak satu pun kalimat yang selesai. Kertas-kertas berserakan memenuhi lantai.
Aku mengetuk pintu. Pria itu mendongak. Wajahnya...
adalah wajahku. Lebih tua beberapa tahun. Lingkar matanya hitam. Janggut tipis tumbuh tidak teratur. Tatapannya lelah.
"Akhirnya datang juga," katanya tanpa menghentikan ketikannya. Aku membeku.
"Siapa kau?"
Ia tertawa pelan.
"Aku pernah bertanya seperti itu."
"Aku serius."
"Aku juga."
Ia menyobek satu lembar kertas, meremasnya, lalu melemparkannya ke lantai.
"Masih gagal."
"Gagal apa?"
"Mengingat."
"Apa yang harus kauingat?"
Ia berhenti mengetik. Lalu menatapku begitu lama hingga aku merasa sedang melihat diriku sendiri di masa yang belum pernah terjadi.
"Aku lupa wajahku."
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi entah mengapa membuat tengkukku meremang.
"Apa maksudmu?"
"Aku bisa mengingat semua nama orang yang pernah kutemui."
Ia menunjuk kepalanya.
"Aku bisa mengingat setiap tempat yang pernah kukunjungi."
Kemudian ia menyentuh dadanya.
"Tetapi setiap kali mencoba mengingat wajahku sendiri..."
Ia menatap cermin kecil di atas meja.
"...yang muncul selalu wajah orang lain."
Aku mengikuti arah pandangnya.
Cermin itu kosong. Tidak memantulkan siapa pun. Padahal kami berdiri tepat di depannya. Aku menoleh cepat. Pria itu telah menghilang.
Mesin tik masih berdetak pelan. Seolah seseorang yang tak terlihat masih terus mengetik. Tak... tak... tak...
Aku mendekati meja. Di atas kertas yang baru saja selesai diketik hanya ada satu kalimat.
"Topeng yang paling berbahaya adalah topeng yang lupa pernah dipakai."
Aku meremas kertas itu. Untuk pertama kalinya sejak datang ke villa, aku merasa ingin lari. Bukan keluar dari bangunan.
Melainkan keluar dari diriku sendiri. Namun ketika aku berbalik menuju pintu... seseorang berdiri di ambang lorong. Petugas keamanan yang tadi kulihat di halaman. Ia tersenyum ramah. Senyum yang terlalu ramah.
"Pak Surya," katanya pelan.
"Sudah bertemu semuanya?"
Aku mengerutkan kening.
"Semuanya?"
Ia mengangguk.
"Lalu... wajah yang mana yang ingin Bapak bawa pulang?"
***
Aku tidak menjawab pertanyaan petugas keamanan itu.
Bukan karena tidak ingin. Melainkan karena aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan.
"Wajah yang mana yang ingin Bapak bawa pulang?"
Kalimat itu terus bergema di kepalaku. Aku melangkah mundur. Tanganku meraih gagang pintu terdekat. Dingin. Nyata. Aku memutarnya sekuat tenaga. Pintu terbuka. Cahaya matahari menerobos masuk. Refleks aku memejamkan mata.
Sesaat kemudian terdengar suara kendaraan, percakapan mahasiswa, dan derit dedaunan yang tertiup angin. Aku kembali berada di halaman villa. Orang-orang berlalu-lalang seperti biasa. Seorang mahasiswi berjalan sambil membawa tumpukan buku. Dua orang mahasiswa duduk di bawah pohon sambil tertawa. Seorang dosen melangkah tergesa menuju gedung sebelah. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Aku menoleh ke belakang. Pintu bangunan tetap terbuka.
Sunyi. Kosong. Tidak ada lorong panjang. Tidak ada mesin tik. Tidak ada perempuan yang menungguku di ruang makan. Tidak ada pria tua. Tidak ada lelaki yang memiliki wajahku. Yang tersisa hanyalah bangunan tua yang berdiri tenang di bawah langit Bandung.
Aku mengembuskan napas panjang.
"Mungkin aku terlalu lelah."
Kalimat itu terdengar seperti upaya terakhirku untuk tetap waras.
Selama perjalanan pulang, aku tidak berbicara kepada siapa pun. Sesampainya di rumah, aku langsung membuka laptop.
Aku takut jika menunda, semua yang kulihat akan menguap seperti mimpi. Jari-jariku mulai mengetik. Satu paragraf.
Lalu paragraf berikutnya. Cerita itu mengalir begitu saja.
Tentang seorang penulis yang datang ke sebuah villa tua.
Tentang lorong yang berubah. Tentang perempuan yang menunggu seseorang yang tak pernah datang. Tentang pria tua yang memperingatkan agar tidak terlalu lama bercermin.
Tentang seorang lelaki yang lupa wajahnya sendiri. Aku menulis hingga fajar.
Untuk pertama kalinya dalam hampir setahun, aku tidak merasa kesulitan mencari kata. Seolah cerita itu memang telah lama menunggu untuk dituliskan.
Seminggu kemudian naskah selesai. Kuberi judul sederhana.
PERSONA.
Penerbit menerimanya tanpa banyak revisi.
Beberapa bulan setelah terbit, buku itu mendapat sambutan yang tidak pernah kubayangkan. Banyak pembaca menghubungiku. Mereka bertanya apakah cerita itu berdasarkan kisah nyata.
Aku selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
"Aku hanya menulis apa yang kuingat."
Padahal diam-diam aku tidak lagi yakin bahwa aku benar-benar mengingatnya. Musim berganti. Suatu sore seorang wartawan datang untuk mewawancaraiku.
Di akhir percakapan ia tersenyum.
"Pak Surya, saya punya pertanyaan terakhir."
"Silakan."
"Kenapa tokoh-tokoh di dalam novel itu tidak memiliki nama?"
Aku mengernyit.
"Apa maksud Anda?"
"Wanita di ruang makan."
"Pria tua."
"Petugas keamanan."
"Semuanya tidak memiliki nama."
Aku tersenyum.
"Mungkin memang tidak perlu."
Wartawan itu membuka novelku.
"Maksud saya..."
Ia menunjukkan halaman yang telah diberi penanda.
"...bahkan tokoh utama pun tidak memiliki nama."
Aku tertawa kecil.
"Tokoh utamanya Surya."
Wartawan itu terlihat bingung.
"Di mana?"
Aku mengambil buku itu dari tangannya. Kubuka halaman pertama. Kubaca perlahan. Dadaku mendadak terasa kosong. Di sana tidak tertulis nama Surya.
Kalimat pembuka novel itu berbunyi:
"Seorang penulis datang ke sebuah villa tua karena merasa ada sesuatu yang tertinggal di sana."
Tidak ada nama. Aku membuka halaman-halaman berikutnya. Tidak ada. Seluruh cerita berlangsung tanpa pernah menyebut siapa tokoh utamanya.
Padahal aku yakin... sangat yakin... aku telah berkali-kali menulis nama itu.
Tanganku mulai gemetar. Aku membuka naskah asli di laptop. Sama. Nama itu tidak pernah ada.
Aku mencoba mengingat. Aku benar-benar mencoba. Tetapi setiap kali hendak mengucapkannya, kepalaku terasa dipenuhi kabut. Aku tahu nama itu pernah ada. Aku hanya tidak mampu mengingatnya.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berjalan menuju ruang kerja. Di atas meja masih tergeletak buku catatan yang kubawa dari villa. Aku belum pernah membukanya lagi.
Kubuka perlahan. Halaman pertama masih kosong. Halaman kedua... tidak lagi kosong.
Ada sebuah tulisan tangan yang bukan milikku. Atau mungkin... pernah menjadi milikku.
"Selamat."
"Kini kau berhasil memakai satu wajah dengan sangat baik."
Aku menelan ludah.
Di bawah kalimat itu terdapat sebuah cermin kecil yang ditempelkan pada halaman. Aku menatap pantulanku. Lelaki di dalam cermin ikut menatapku. Beberapa detik. Tidak ada yang aneh. Lalu perlahan... ia tersenyum. Aku tidak.
Aku spontan mundur hingga kursi di belakangku terjatuh. Ketika kembali melihat ke arah cermin... pantulan itu sudah kembali sama.
Aku menutup buku secepat mungkin. Malam terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Aku memutuskan membuang buku itu.
Keesokan paginya aku membawanya kembali ke villa. Bangunan itu tampak seperti pertama kali aku datang. Tenang. Anggun.
Seorang petugas keamanan sedang menyapu halaman. Aku menghampirinya.
"Pak."
Ia menoleh.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya pernah datang ke sini beberapa bulan lalu."
"Benarkah?"
"Iya."
"Saya rasa Bapak keliru."
"Saya yang bertugas di sini setiap hari."
"Saya belum pernah melihat Bapak."
Aku terdiam.
"Mungkin Bapak baru bekerja."
Petugas itu tersenyum sopan.
"Saya sudah bekerja di sini dua puluh tiga tahun."
Aku tidak melanjutkan percakapan. Kubawa buku itu ke depan pintu utama. Kutaruh perlahan di anak tangga. Lalu aku berbalik. Baru tiga langkah berjalan, terdengar suara seseorang memanggil dari belakang.
"Pak."
Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya buku itu.
Terbuka sendiri. Halamannya bergerak tertiup angin.
Aku ragu-ragu mendekat. Pada halaman terakhir kini tertulis satu kalimat yang semalam belum ada. Tulisan tangannya sama. Tenang. Rapi. Seolah seseorang baru saja selesai menulisnya.
"Jika suatu hari kau kembali dan tidak lagi mengenali wajahmu sendiri..."
Aku membaca hingga baris terakhir. Napas terasa tercekat.
"Jangan masuk."
"Karena mungkin..."
"orang yang keluar dari villa hari itu bukan lagi dirimu."
Aku berdiri lama. Sangat lama. Sampai angin menutup buku itu dengan sendirinya. Aku ingin pergi. Sungguh. Tetapi entah mengapa, kakiku justru melangkah menuju pintu utama. Dan tepat sebelum tanganku menyentuh gagang pintu... aku mendengar seseorang memanggil dari dalam bangunan. Dengan suara yang sangat pelan. Sangat akrab. Menggunakan namaku. Atau... nama yang selama ini kupakai.***
Ditulis di antara sunyi lorong-lorong Villa Isola, Cagar Budaya Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, pada 17 Juli 2026; lalu diselesaikan di ruang tunggu Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada 18 Juli 2026.
Beberapa bulan setelah terbit, buku itu mendapat sambutan yang tidak pernah kubayangkan. Banyak pembaca menghubungiku. Mereka bertanya apakah cerita itu berdasarkan kisah nyata.
Aku selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
"Aku hanya menulis apa yang kuingat."
Padahal diam-diam aku tidak lagi yakin bahwa aku benar-benar mengingatnya. Musim berganti. Suatu sore seorang wartawan datang untuk mewawancaraiku.
Di akhir percakapan ia tersenyum.
"Pak Surya, saya punya pertanyaan terakhir."
"Silakan."
"Kenapa tokoh-tokoh di dalam novel itu tidak memiliki nama?"
Aku mengernyit.
"Apa maksud Anda?"
"Wanita di ruang makan."
"Pria tua."
"Petugas keamanan."
"Semuanya tidak memiliki nama."
Aku tersenyum.
"Mungkin memang tidak perlu."
Wartawan itu membuka novelku.
"Maksud saya..."
Ia menunjukkan halaman yang telah diberi penanda.
"...bahkan tokoh utama pun tidak memiliki nama."
Aku tertawa kecil.
"Tokoh utamanya Surya."
Wartawan itu terlihat bingung.
"Di mana?"
Aku mengambil buku itu dari tangannya. Kubuka halaman pertama. Kubaca perlahan. Dadaku mendadak terasa kosong. Di sana tidak tertulis nama Surya.
Kalimat pembuka novel itu berbunyi:
"Seorang penulis datang ke sebuah villa tua karena merasa ada sesuatu yang tertinggal di sana."
Tidak ada nama. Aku membuka halaman-halaman berikutnya. Tidak ada. Seluruh cerita berlangsung tanpa pernah menyebut siapa tokoh utamanya.
Padahal aku yakin... sangat yakin... aku telah berkali-kali menulis nama itu.
Tanganku mulai gemetar. Aku membuka naskah asli di laptop. Sama. Nama itu tidak pernah ada.
Aku mencoba mengingat. Aku benar-benar mencoba. Tetapi setiap kali hendak mengucapkannya, kepalaku terasa dipenuhi kabut. Aku tahu nama itu pernah ada. Aku hanya tidak mampu mengingatnya.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berjalan menuju ruang kerja. Di atas meja masih tergeletak buku catatan yang kubawa dari villa. Aku belum pernah membukanya lagi.
Kubuka perlahan. Halaman pertama masih kosong. Halaman kedua... tidak lagi kosong.
Ada sebuah tulisan tangan yang bukan milikku. Atau mungkin... pernah menjadi milikku.
"Selamat."
"Kini kau berhasil memakai satu wajah dengan sangat baik."
Aku menelan ludah.
Di bawah kalimat itu terdapat sebuah cermin kecil yang ditempelkan pada halaman. Aku menatap pantulanku. Lelaki di dalam cermin ikut menatapku. Beberapa detik. Tidak ada yang aneh. Lalu perlahan... ia tersenyum. Aku tidak.
Aku spontan mundur hingga kursi di belakangku terjatuh. Ketika kembali melihat ke arah cermin... pantulan itu sudah kembali sama.
Aku menutup buku secepat mungkin. Malam terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Aku memutuskan membuang buku itu.
Keesokan paginya aku membawanya kembali ke villa. Bangunan itu tampak seperti pertama kali aku datang. Tenang. Anggun.
Seorang petugas keamanan sedang menyapu halaman. Aku menghampirinya.
"Pak."
Ia menoleh.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya pernah datang ke sini beberapa bulan lalu."
"Benarkah?"
"Iya."
"Saya rasa Bapak keliru."
"Saya yang bertugas di sini setiap hari."
"Saya belum pernah melihat Bapak."
Aku terdiam.
"Mungkin Bapak baru bekerja."
Petugas itu tersenyum sopan.
"Saya sudah bekerja di sini dua puluh tiga tahun."
Aku tidak melanjutkan percakapan. Kubawa buku itu ke depan pintu utama. Kutaruh perlahan di anak tangga. Lalu aku berbalik. Baru tiga langkah berjalan, terdengar suara seseorang memanggil dari belakang.
"Pak."
Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya buku itu.
Terbuka sendiri. Halamannya bergerak tertiup angin.
Aku ragu-ragu mendekat. Pada halaman terakhir kini tertulis satu kalimat yang semalam belum ada. Tulisan tangannya sama. Tenang. Rapi. Seolah seseorang baru saja selesai menulisnya.
"Jika suatu hari kau kembali dan tidak lagi mengenali wajahmu sendiri..."
Aku membaca hingga baris terakhir. Napas terasa tercekat.
"Jangan masuk."
"Karena mungkin..."
"orang yang keluar dari villa hari itu bukan lagi dirimu."
Aku berdiri lama. Sangat lama. Sampai angin menutup buku itu dengan sendirinya. Aku ingin pergi. Sungguh. Tetapi entah mengapa, kakiku justru melangkah menuju pintu utama. Dan tepat sebelum tanganku menyentuh gagang pintu... aku mendengar seseorang memanggil dari dalam bangunan. Dengan suara yang sangat pelan. Sangat akrab. Menggunakan namaku. Atau... nama yang selama ini kupakai.***
Ditulis di antara sunyi lorong-lorong Villa Isola, Cagar Budaya Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, pada 17 Juli 2026; lalu diselesaikan di ruang tunggu Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada 18 Juli 2026.


