Iklan

Pasar yang Menolak Menjadi Masa Lalu

syamsul kurniawan
Thursday, October 22, 2026
Last Updated 2026-10-24T06:18:38Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

Syamsul Kurniawan

 

ADA sesuatu yang tidak dapat dibeli di pusat perbelanjaan modern: perasaan bahwa kita sedang menjadi bagian dari kehidupan orang lain. Perasaan itu saya temukan ketika berdiri di depan Pasar Gede, Solo. Matahari telah meninggi. Di depan bangunan tua itu, payung-payung pedagang mengembang, sepeda motor berhimpitan, dan orang-orang berlalu-lalang dengan keperluannya masing-masing. Tidak ada yang tampak luar biasa. Namun, barangkali, justru dalam hal-hal yang biasa itulah sebuah kota menyimpan keistimewaannya.

 

Saya memandang bangunan Pasar Gede Hardjonagoro. Jendela-jendelanya tinggi, sebagian terbuka, dengan lengkungan yang mengingatkan pada selera arsitektur masa kolonial. Di bawahnya, kehidupan berlangsung tanpa terlalu memedulikan keagungan sejarah. Orang datang bukan untuk mengagumi Thomas Karsten, arsitek Belanda yang merancang pasar tersebut, melainkan untuk membeli sesuatu, menjajakan dagangan, mencari sarapan, atau sekadar melewati hari. Pasar yang diresmikan pada Januari 1930 itu seperti sedang mempertemukan dua zaman: masa lalu yang membentuk bangunannya dan masa kini yang terus menghidupkan ruangnya.

 


Di Antara Bau Rempah dan Riuh Manusia

 

Barangkali, di sinilah letak keindahan pasar tradisional. Ia tidak memerlukan kemewahan untuk menjadi estetik. Keindahannya bukan hanya pada bangunan, melainkan pada ketidakteraturan yang memiliki iramanya sendiri. Ada warna buah-buahan, susunan sayuran, bunyi tawar-menawar, dan percakapan yang tidak pernah direncanakan. Semua hadir sebagai komposisi kehidupan. Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern yang menata pengalaman manusia melalui etalase dan pencahayaan, pasar tradisional membiarkan kehidupan tampil dengan segala kekurangannya. Sesuatu yang dalam dunia modern sering dianggap gangguan, di sini justru menjadi tanda bahwa kehidupan masih berlangsung.

 


Ingatan saya kemudian berkelana ke Pontianak, kampung halaman yang selalu memiliki cara tersendiri untuk memanggil saya pulang. Jauh dari Solo, di kawasan Jalan Gajah Mada, berdiri Pasar Flamboyan, sebuah ruang kehidupan yang barangkali tidak menawarkan kemegahan arsitektur seperti Pasar Gede, tetapi menyimpan denyut sosial yang tak kalah kuat. Jika Pasar Gede mengisahkan perjalanan sebuah kota melalui bangunan dan jejak sejarahnya, Pasar Flamboyan menuturkan kisah Pontianak melalui kesibukan para pedagang, aroma ikan sungai, hamparan sayuran, dan percakapan yang silih berganti di antara lapak-lapak. Setiap barang yang diperjualbelikan seolah membawa riwayatnya sendiri: dari tanah yang diolah petani, sungai yang menghidupi nelayan, tangan-tangan yang mengangkutnya sejak dini hari, hingga akhirnya tiba di dapur sebuah keluarga. 


Di sana, perdagangan bukan semata-mata peristiwa ekonomi. Ia adalah rangkaian hubungan antarmanusia yang saling bergantung. Pasar Gede dan Pasar Flamboyan boleh jadi berbeda rupa dan sejarah, tetapi keduanya memperlihatkan satu kenyataan yang sama: sebuah pasar tidak pernah hanya menjadi tempat bertemunya barang dan uang, melainkan juga tempat sebuah kota merawat kehidupan sosialnya.

 

Pontianak dan Solo tentu memiliki sejarah urban yang berbeda. Solo tumbuh dengan warisan kerajaan, tradisi Jawa, dan perjumpaan kebudayaan yang panjang. Pontianak berkembang sebagai kota perdagangan di kawasan pertemuan sungai, dengan masyarakat yang dibentuk oleh mobilitas manusia dan barang. Tetapi pasar memperlihatkan bahwa kedua kota ini memiliki bahasa sosial yang hampir sama. Bahasa itu adalah perjumpaan. Di tengah dunia yang semakin terbiasa memindahkan hubungan manusia ke layar telepon, pasar masih mempertahankan kemungkinan untuk bertatap muka, bertanya, berselisih pendapat, tertawa, dan akhirnya saling memahami.

 

Ruang Lebih dari Sekadar Bangunan

 

Henri Lefebvre, filsuf dan teoritikus sosial Prancis, mungkin akan melihat Pasar Gede dan Pasar Flamboyan dengan cara yang lebih menarik. Dalam The Production of Space (1991), ia mengajukan gagasan bahwa ruang tidak semata-mata hadir sebagai bangunan atau lokasi geografis. Ruang diproduksi oleh hubungan sosial. Artinya, pasar tidak menjadi pasar hanya karena pemerintah mendirikan bangunannya, menyediakan kios, atau menentukan jalur keluar-masuk pengunjung. Pasar menjadi hidup karena ada manusia yang terus-menerus menciptakan hubungan di dalamnya.

 

Dalam pengertian itu, ada tiga wajah ruang yang saling berkelindan. Pertama, ruang yang dijalani melalui praktik keseharian: pedagang membuka lapak, pembeli memilih barang, pekerja mengangkut dagangan. Kedua, ruang yang dirancang dalam pikiran perencana: pemerintah mengatur zonasi, arsitek membentuk bangunan, pengelola menetapkan tata tertib. Ketiga, ruang yang sungguh-sungguh dihidupi manusia melalui pengalaman, ingatan, simbol, dan perasaan. Ketiganya bertemu di pasar. Tetapi sering kali, wajah ketiga itulah yang terlupakan ketika modernisasi hanya sibuk menghitung jumlah kios, kapasitas parkir, dan besaran retribusi.

 

Ambillah Pasar Gede. Pemerintah dan arsitek dapat merawat bangunannya. Pengelola dapat memperbaiki saluran air atau menata tempat berjualan. Namun, tidak mudah menciptakan kembali keakraban seorang pelanggan dengan penjual yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun. Tidak sederhana pula menggantikan ingatan seorang anak yang dahulu diajak ibunya berbelanja dan kini kembali sebagai orang dewasa. Ada ruang yang dibangun dari semen dan batu. Ada pula ruang yang dibangun oleh kenangan. Yang kedua tidak selalu terlihat, tetapi kerap menjadi alasan mengapa sebuah tempat dicintai.

 

Hal yang sama berlaku bagi Pasar Flamboyan. Sebagai salah satu pusat perdagangan bahan pangan terbesar di Pontianak, pasar ini memiliki arti ekonomi yang penting. Dokumen pemerintah daerah mencatat sejarah penataan serta pembangunan kembali fasilitasnya, menegaskan bahwa pasar rakyat juga terus berubah mengikuti kebutuhan kota.

 

Namun, ukuran keberhasilan pasar semestinya tidak berhenti pada kelayakan bangunan. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah pedagang kecil tetap memiliki tempat, apakah pembeli masih dapat menjangkau harga kebutuhan sehari-hari, dan apakah kehidupan sosial yang tumbuh di dalamnya tetap mempunyai ruang untuk bertahan.

 

Modernisasi, tentu saja, bukan sesuatu yang patut dicurigai begitu saja. Tidak ada keharusan mempertahankan lantai yang becek, sanitasi yang buruk, atau ruang berjualan yang tidak aman demi menyelamatkan apa yang kita sebut keaslian. Romantisme terhadap pasar tradisional dapat menjadi tidak adil apabila kita menikmati estetikanya sebagai pengunjung, sementara pedagang harus menanggung ketidaknyamanannya setiap hari. Pasar yang baik justru harus dapat memadukan kebersihan, keamanan, aksesibilitas, dan kenyamanan dengan watak sosial yang membuatnya hidup.

 

Tetapi modernisasi juga dapat membawa paradoks. Demi menciptakan keteraturan, kota kadang menghapus spontanitas. Demi menghadirkan estetika, kota dapat menyingkirkan orang-orang yang selama ini membentuk keindahannya. Sebuah pasar mungkin menjadi sangat bersih, tertata, dan menarik untuk difoto, tetapi kehilangan sebagian pedagang lamanya karena biaya sewa atau aturan pengelolaan yang tidak lagi terjangkau. Pada titik demikian, pasar tetap berdiri sebagai bangunan, tetapi perlahan kehilangan dirinya sebagai ruang sosial.

 

Lefebvre (1991) menyebut kecenderungan kapitalisme menghasilkan ruang yang semakin abstrak: ruang yang dipahami terutama melalui ukuran, nilai tukar, kepemilikan, dan efisiensi. Di sini, sebuah tempat berisiko kehilangan kekayaan pengalaman manusianya karena hanya dihitung berdasarkan produktivitas ekonomi. Pemikiran ini mengingatkan kita bahwa pasar bukan sekadar aset perkotaan. Ia merupakan bagian dari hak warga atas kota, yakni hak untuk ikut menentukan, menggunakan, dan menikmati ruang tempat mereka membangun kehidupan.

 

Namun, ada pelajaran lain yang dapat kita peroleh dari pasar. Pelajaran tentang uang. Di depan lapak-lapak sederhana, kita sesungguhnya sedang menyaksikan bentuk pendidikan ekonomi yang jarang diajarkan melalui buku pelajaran. Seorang pedagang mengetahui kapan harus membeli persediaan, berapa banyak barang yang mungkin terjual, dan bagaimana menyisihkan penghasilan untuk keperluan esok hari. Mereka menghadapi risiko setiap hari, tanpa selalu memiliki kemewahan untuk membuat kesalahan besar. Pasar, dalam pengertian ini, adalah sekolah kehidupan yang tidak memiliki papan nama.

 

Saya teringat gagasan Morgan Housel dalam The Psychology of Money (2020). Ia menjelaskan bahwa keberhasilan mengelola uang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan menghitung, tetapi juga oleh perilaku, kesabaran, pengendalian diri, dan kemampuan menerima ketidakpastian. Buku itu bahkan mengajak pembacanya memahami bahwa kekayaan sering kali justru merupakan sesuatu yang tidak terlihat: uang yang tidak dihabiskan, kesempatan yang tetap tersedia, serta kebebasan yang dapat dipertahankan.

 

Di Pasar Gede maupun Pasar Flamboyan, gagasan tersebut memperoleh konteks yang sangat manusiawi. Seorang pedagang yang menyisihkan sebagian keuntungan untuk modal besok sedang mempraktikkan disiplin keuangan. Seorang ibu yang membandingkan harga beberapa kebutuhan sedang mempelajari prioritas. Seorang anak yang ikut berbelanja dapat mulai memahami bahwa uang bukan sesuatu yang muncul begitu saja dari dompet orang tuanya. Ia berasal dari pekerjaan, waktu, tenaga, dan keputusan-keputusan yang kadang tidak mudah.

 

Tentu, kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa setiap pedagang kecil dapat mencapai kesejahteraan hanya melalui pengendalian diri. Ada struktur yang turut menentukan: harga bahan pokok, akses permodalan, biaya distribusi, daya beli masyarakat, dan ketimpangan kesempatan. Di sinilah Housel dan Lefebvre dapat saling melengkapi. Housel membantu kita memahami bagaimana manusia mengambil keputusan mengenai uang. Lefebvre mengingatkan bahwa keputusan tersebut tidak pernah berlangsung dalam ruang sosial yang sepenuhnya netral. Ada kekuatan ekonomi dan politik yang membatasi, sekaligus membuka, kemungkinan hidup seseorang.

 

Maka, pasar sesungguhnya dapat menjadi ruang belajar yang luar biasa. Bayangkan apabila sekolah-sekolah di Solo dan Pontianak menjadikan pasar tradisional sebagai bagian dari proses pendidikan. Anak-anak tidak hanya diminta menghafal definisi produksi, distribusi, dan konsumsi. Mereka diajak mengikuti perjalanan beras dari petani hingga pembeli, memahami mengapa harga ikan berubah, menghitung keuntungan secara sederhana, dan bertanya bagaimana seorang pedagang bertahan ketika dagangannya tidak habis. Matematika tidak lagi berhenti pada angka di papan tulis. Ilmu ekonomi tidak lagi hanya berupa rumus. Semua memperoleh wajah manusianya.

 

Bahkan, pasar dapat menjadi laboratorium pendidikan karakter dan kebudayaan. Di Pasar Gede, anak-anak dapat mempelajari sejarah perjumpaan budaya Jawa dan Tionghoa, yang antara lain tampak dalam kehidupan kawasan Sudiroprajan serta perayaan Grebeg Sudiro. Di Pasar Flamboyan, mereka dapat mengamati keberagaman komoditas, tradisi pangan, dan jaringan perdagangan masyarakat Kalimantan Barat. Dari situ, pelajaran tentang toleransi tidak lagi sebatas nasihat agar menghormati perbedaan. Anak-anak dapat melihat bahwa kehidupan sehari-hari justru dibangun melalui kerja sama di tengah perbedaan tersebut.

 

Pendidikan lingkungan pun menemukan tempatnya. Dari mana sayuran datang? Seberapa jauh ikan harus diangkut sebelum sampai ke pasar? Apa yang terjadi pada sisa bahan pangan yang tidak terjual? Bagaimana sampah organik dikelola? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat menghubungkan pasar dengan persoalan ekologi, ketahanan pangan, dan keberlanjutan kota. Anak-anak akan memahami bahwa apa yang tersaji di meja makan sesungguhnya berkaitan dengan tanah, sungai, cuaca, transportasi, dan kehidupan banyak orang.

 

Yang diperlukan bukan sekadar kegiatan wisata sekolah, ketika murid datang, berfoto, lalu pulang. Pasar semestinya diperlakukan sebagai ruang pembelajaran yang memungkinkan percakapan antara pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat. Pedagang bukan hanya objek pengamatan, melainkan narasumber yang memiliki pengetahuan praktis. Pengetahuan mereka mungkin tidak disusun dalam istilah ilmiah, tetapi lahir dari pengalaman panjang menghadapi perubahan harga, musim, kebutuhan pelanggan, dan ketidakpastian ekonomi. Di tangan guru yang peka, pengalaman semacam itu dapat menjadi sumber belajar yang bernilai.

 

Kita mungkin perlu meninjau kembali cara memahami estetika kota. Selama ini, keindahan perkotaan sering dilekatkan pada taman yang tertata, trotoar yang seragam, gedung dengan fasad baru, atau kawasan komersial yang bercahaya pada malam hari. Padahal, estetika bukan semata-mata persoalan benda yang terlihat indah. Ada pula estetika hubungan sosial: cara orang saling menyapa, mempercayai, membantu, dan membentuk kebiasaan bersama. Pasar tradisional mengajarkan bahwa keindahan dapat muncul dari kehidupan yang tidak sepenuhnya dapat direncanakan.

 

Barangkali itulah yang membedakan pasar dengan banyak ruang konsumsi modern. Di pusat perbelanjaan, pengalaman sering dirancang agar pengunjung bertahan lebih lama dan membeli lebih banyak. Di pasar tradisional, hubungan sosial dapat berkembang melampaui tujuan transaksi. Seorang pembeli mungkin datang hanya untuk mendapatkan cabai, tetapi pulang membawa kabar tentang tetangganya. Seorang pedagang mungkin memperoleh keuntungan yang kecil, tetapi mempertahankan jaringan kepercayaan yang nilainya tidak mudah dihitung. Tentu saja pasar juga mengenal persaingan, konflik, dan ketidakadilan. Namun justru di tengah kenyataan yang tidak ideal itu, kita dapat melihat masyarakat bekerja secara nyata.

 


Ketika Dunia Mengubah Cara Berbelanja

 

Kini dunia semakin cepat mengubah cara manusia berbelanja. Melalui telepon genggam, barang dapat dipesan tanpa percakapan panjang, pembayaran dilakukan tanpa uang tunai, dan kebutuhan dikirim tanpa pembeli harus mengetahui siapa penjualnya. Semua itu memudahkan kehidupan. Tetapi kemudahan mempunyai konsekuensi sosial apabila perjumpaan manusia semakin dianggap tidak diperlukan. Kita memperoleh efisiensi waktu, sementara kesempatan untuk mengenal kehidupan orang lain dapat semakin berkurang.



Karena itu, masa depan Pasar Gede dan Pasar Flamboyan seharusnya tidak dibayangkan sebagai pertarungan antara tradisi dan teknologi. Keduanya dapat hidup berdampingan. Pedagang boleh menggunakan pembayaran digital, promosi daring, dan sistem distribusi yang lebih baik. Pemerintah dapat memperbaiki fasilitas pasar tanpa menghapus karakter sosialnya. Wisatawan dapat menikmati bangunan bersejarah dan kuliner khas tanpa menjadikan pasar sekadar latar foto. Yang perlu dijaga bukan ketertinggalannya, melainkan kemampuannya mempertahankan hubungan antarmanusia dalam dunia yang terus berubah.

 

Akan tetapi, ada satu syarat yang sering dilupakan: suara pedagang harus menjadi bagian dari keputusan mengenai masa depan pasar. Mereka bukan sekadar penghuni kios yang dapat dipindahkan mengikuti gambar perencanaan. Mereka adalah pihak yang turut memproduksi ruang melalui pekerjaan dan relasi sosialnya. Hak atas kota, sebagaimana dibayangkan Lefebvre, memperoleh arti yang konkret ketika orang-orang yang menghidupkan sebuah tempat memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana tempat itu berkembang.

 

Saya kembali memandang foto depan Pasar Gede. Bangunan tua itu berdiri seperti menyimpan kesabaran yang panjang. Di bawahnya, para pedagang terus bekerja, orang-orang melintas, dan kehidupan tidak berhenti hanya karena seseorang sedang mencoba memahami maknanya. Pasar Gede tidak membutuhkan saya untuk menjelaskan sejarahnya. Pasar Flamboyan juga tidak menunggu seorang penulis untuk menafsirkan keberadaannya. Keduanya telah lama mengajarkan sesuatu melalui cara yang paling sederhana: mempertemukan manusia dengan kebutuhan dan keterbatasannya.

 

Mungkin pada akhirnya kita perlu belajar dari pasar, bukan hanya tentang bagaimana memperoleh sesuatu, melainkan juga tentang bagaimana hidup bersama. Di sana kita menemukan bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan kemewahan, bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan yang lama, dan bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari ruang kelas atau perguruan tinggi. Kadang-kadang, ia tumbuh di antara timbangan, keranjang sayur, tumpukan ikan, dan percakapan yang berlangsung sebentar sebelum seseorang kembali bekerja.

 

Solo dan Pontianak dipisahkan oleh laut, pulau, sejarah, dan watak kebudayaan. Tetapi Pasar Gede dan Pasar Flamboyan mempertemukan keduanya dalam sebuah pertanyaan yang sama: ketika kota bergerak menuju masa depan, ruang seperti apa yang masih kita sediakan bagi kehidupan bersama?

 

Pertanyaan itu terasa penting karena pembangunan kota sering lebih mudah mengukur apa yang bertambah daripada apa yang hilang. Kita dapat menghitung bangunan baru, kenaikan investasi, dan pertumbuhan transaksi. Tetapi bagaimana menghitung hilangnya keakraban? Bagaimana mengukur sebuah ingatan kolektif yang perlahan lenyap ketika pasar digantikan oleh ruang komersial yang serba seragam?


Saya meninggalkan pertanyaan itu tanpa jawaban yang selesai. Sebab perjalanan, seperti halnya pasar, tidak selalu memberikan kesimpulan yang pasti. Ia hanya membuka kemungkinan untuk melihat sesuatu secara berbeda. Dan barangkali, itulah sumbangan terbesar pasar tradisional bagi dunia modern: mengingatkan bahwa sebuah kota tidak menjadi beradab hanya karena bangunannya semakin tinggi, jalannya semakin lebar, atau transaksinya semakin cepat. Kota menjadi beradab ketika orang-orang yang hidup di dalamnya tetap memiliki ruang untuk bertemu, bekerja, belajar, dan saling mengakui keberadaan.

 

Pasar Gede dan Pasar Flamboyan, dengan demikian, bukanlah sisa masa lalu yang menunggu digantikan oleh masa depan. Keduanya justru mengajarkan bahwa masa depan yang baik adalah masa depan yang tidak kehilangan manusianya.***

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now