ADA sesuatu yang tidak dapat dibeli di pusat
perbelanjaan modern: perasaan bahwa kita sedang menjadi bagian dari kehidupan
orang lain. Perasaan itu saya temukan ketika berdiri di depan Pasar Gede, Solo.
Matahari telah meninggi. Di depan bangunan tua itu, payung-payung pedagang
mengembang, sepeda motor berhimpitan, dan orang-orang berlalu-lalang dengan keperluannya
masing-masing. Tidak ada yang tampak luar biasa. Namun, barangkali, justru
dalam hal-hal yang biasa itulah sebuah kota menyimpan keistimewaannya.
Saya memandang bangunan Pasar Gede Hardjonagoro.
Jendela-jendelanya tinggi, sebagian terbuka, dengan lengkungan yang
mengingatkan pada selera arsitektur masa kolonial. Di bawahnya, kehidupan
berlangsung tanpa terlalu memedulikan keagungan sejarah. Orang datang bukan
untuk mengagumi Thomas Karsten, arsitek Belanda yang merancang pasar tersebut, melainkan
untuk membeli sesuatu, menjajakan dagangan, mencari sarapan, atau sekadar
melewati hari. Pasar yang diresmikan pada Januari 1930 itu seperti sedang
mempertemukan dua zaman: masa lalu yang membentuk bangunannya dan masa kini
yang terus menghidupkan ruangnya.
Di Antara Bau Rempah dan Riuh Manusia
Barangkali, di sinilah letak keindahan pasar
tradisional. Ia tidak memerlukan kemewahan untuk menjadi estetik. Keindahannya
bukan hanya pada bangunan, melainkan pada ketidakteraturan yang memiliki
iramanya sendiri. Ada warna buah-buahan, susunan sayuran, bunyi tawar-menawar,
dan percakapan yang tidak pernah direncanakan. Semua hadir sebagai komposisi
kehidupan. Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern yang menata pengalaman
manusia melalui etalase dan pencahayaan, pasar tradisional membiarkan kehidupan
tampil dengan segala kekurangannya. Sesuatu yang dalam dunia modern sering
dianggap gangguan, di sini justru menjadi tanda bahwa kehidupan masih
berlangsung.
Ingatan saya kemudian berkelana ke Pontianak, kampung
halaman yang selalu memiliki cara tersendiri untuk memanggil saya pulang. Jauh
dari Solo, di kawasan Jalan Gajah Mada, berdiri Pasar Flamboyan, sebuah ruang
kehidupan yang barangkali tidak menawarkan kemegahan arsitektur seperti Pasar
Gede, tetapi menyimpan denyut sosial yang tak kalah kuat. Jika Pasar Gede
mengisahkan perjalanan sebuah kota melalui bangunan dan jejak sejarahnya, Pasar
Flamboyan menuturkan kisah Pontianak melalui kesibukan para pedagang, aroma
ikan sungai, hamparan sayuran, dan percakapan yang silih berganti di antara
lapak-lapak. Setiap barang yang diperjualbelikan seolah membawa riwayatnya
sendiri: dari tanah yang diolah petani, sungai yang menghidupi nelayan,
tangan-tangan yang mengangkutnya sejak dini hari, hingga akhirnya tiba di dapur
sebuah keluarga.
Di sana, perdagangan bukan semata-mata peristiwa ekonomi. Ia
adalah rangkaian hubungan antarmanusia yang saling bergantung. Pasar Gede dan
Pasar Flamboyan boleh jadi berbeda rupa dan sejarah, tetapi keduanya
memperlihatkan satu kenyataan yang sama: sebuah pasar tidak pernah hanya
menjadi tempat bertemunya barang dan uang, melainkan juga tempat sebuah kota
merawat kehidupan sosialnya.
Pontianak dan Solo tentu memiliki sejarah urban yang
berbeda. Solo tumbuh dengan warisan kerajaan, tradisi Jawa, dan perjumpaan
kebudayaan yang panjang. Pontianak berkembang sebagai kota perdagangan di
kawasan pertemuan sungai, dengan masyarakat yang dibentuk oleh mobilitas
manusia dan barang. Tetapi pasar memperlihatkan bahwa kedua kota ini memiliki
bahasa sosial yang hampir sama. Bahasa itu adalah perjumpaan. Di tengah dunia
yang semakin terbiasa memindahkan hubungan manusia ke layar telepon, pasar
masih mempertahankan kemungkinan untuk bertatap muka, bertanya, berselisih
pendapat, tertawa, dan akhirnya saling memahami.
Ruang Lebih dari Sekadar Bangunan
Henri Lefebvre, filsuf dan teoritikus sosial Prancis,
mungkin akan melihat Pasar Gede dan Pasar Flamboyan dengan cara yang lebih
menarik. Dalam The Production of Space (1991), ia mengajukan gagasan
bahwa ruang tidak semata-mata hadir sebagai bangunan atau lokasi geografis.
Ruang diproduksi oleh hubungan sosial. Artinya, pasar tidak menjadi pasar hanya
karena pemerintah mendirikan bangunannya, menyediakan kios, atau menentukan
jalur keluar-masuk pengunjung. Pasar menjadi hidup karena ada manusia yang
terus-menerus menciptakan hubungan di dalamnya.
Dalam pengertian itu, ada tiga wajah ruang yang saling
berkelindan. Pertama, ruang yang dijalani melalui praktik keseharian:
pedagang membuka lapak, pembeli memilih barang, pekerja mengangkut dagangan.
Kedua, ruang yang dirancang dalam pikiran perencana: pemerintah mengatur
zonasi, arsitek membentuk bangunan, pengelola menetapkan tata tertib. Ketiga,
ruang yang sungguh-sungguh dihidupi manusia melalui pengalaman, ingatan,
simbol, dan perasaan. Ketiganya bertemu di pasar. Tetapi sering kali, wajah
ketiga itulah yang terlupakan ketika modernisasi hanya sibuk menghitung jumlah
kios, kapasitas parkir, dan besaran retribusi.
Ambillah Pasar Gede. Pemerintah dan arsitek dapat
merawat bangunannya. Pengelola dapat memperbaiki saluran air atau menata tempat
berjualan. Namun, tidak mudah menciptakan kembali keakraban seorang pelanggan
dengan penjual yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun. Tidak sederhana
pula menggantikan ingatan seorang anak yang dahulu diajak ibunya berbelanja dan
kini kembali sebagai orang dewasa. Ada ruang yang dibangun dari semen dan batu.
Ada pula ruang yang dibangun oleh kenangan. Yang kedua tidak selalu terlihat,
tetapi kerap menjadi alasan mengapa sebuah tempat dicintai.
Hal yang sama berlaku bagi Pasar Flamboyan. Sebagai
salah satu pusat perdagangan bahan pangan terbesar di Pontianak, pasar ini
memiliki arti ekonomi yang penting. Dokumen pemerintah daerah mencatat sejarah
penataan serta pembangunan kembali fasilitasnya, menegaskan bahwa pasar rakyat
juga terus berubah mengikuti kebutuhan kota.
Namun, ukuran keberhasilan pasar semestinya tidak
berhenti pada kelayakan bangunan. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah
pedagang kecil tetap memiliki tempat, apakah pembeli masih dapat menjangkau
harga kebutuhan sehari-hari, dan apakah kehidupan sosial yang tumbuh di
dalamnya tetap mempunyai ruang untuk bertahan.
Modernisasi, tentu saja, bukan sesuatu yang patut
dicurigai begitu saja. Tidak ada keharusan mempertahankan lantai yang becek,
sanitasi yang buruk, atau ruang berjualan yang tidak aman demi menyelamatkan
apa yang kita sebut keaslian. Romantisme terhadap pasar tradisional dapat
menjadi tidak adil apabila kita menikmati estetikanya sebagai pengunjung,
sementara pedagang harus menanggung ketidaknyamanannya setiap hari. Pasar yang
baik justru harus dapat memadukan kebersihan, keamanan, aksesibilitas, dan
kenyamanan dengan watak sosial yang membuatnya hidup.
Tetapi modernisasi juga dapat membawa paradoks. Demi
menciptakan keteraturan, kota kadang menghapus spontanitas. Demi menghadirkan
estetika, kota dapat menyingkirkan orang-orang yang selama ini membentuk
keindahannya. Sebuah pasar mungkin menjadi sangat bersih, tertata, dan menarik
untuk difoto, tetapi kehilangan sebagian pedagang lamanya karena biaya sewa
atau aturan pengelolaan yang tidak lagi terjangkau. Pada titik demikian, pasar
tetap berdiri sebagai bangunan, tetapi perlahan kehilangan dirinya sebagai
ruang sosial.
Lefebvre (1991) menyebut kecenderungan kapitalisme
menghasilkan ruang yang semakin abstrak: ruang yang dipahami terutama melalui
ukuran, nilai tukar, kepemilikan, dan efisiensi. Di sini, sebuah tempat
berisiko kehilangan kekayaan pengalaman manusianya karena hanya dihitung
berdasarkan produktivitas ekonomi. Pemikiran ini mengingatkan kita bahwa pasar
bukan sekadar aset perkotaan. Ia merupakan bagian dari hak warga atas kota,
yakni hak untuk ikut menentukan, menggunakan, dan menikmati ruang tempat mereka
membangun kehidupan.
Namun, ada pelajaran lain yang dapat kita peroleh dari
pasar. Pelajaran tentang uang. Di depan lapak-lapak sederhana, kita
sesungguhnya sedang menyaksikan bentuk pendidikan ekonomi yang jarang diajarkan
melalui buku pelajaran. Seorang pedagang mengetahui kapan harus membeli
persediaan, berapa banyak barang yang mungkin terjual, dan bagaimana
menyisihkan penghasilan untuk keperluan esok hari. Mereka menghadapi risiko
setiap hari, tanpa selalu memiliki kemewahan untuk membuat kesalahan besar.
Pasar, dalam pengertian ini, adalah sekolah kehidupan yang tidak memiliki papan
nama.
Saya teringat gagasan Morgan Housel dalam The
Psychology of Money (2020). Ia menjelaskan bahwa keberhasilan mengelola
uang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan menghitung, tetapi juga oleh
perilaku, kesabaran, pengendalian diri, dan kemampuan menerima ketidakpastian.
Buku itu bahkan mengajak pembacanya memahami bahwa kekayaan sering kali justru
merupakan sesuatu yang tidak terlihat: uang yang tidak dihabiskan, kesempatan
yang tetap tersedia, serta kebebasan yang dapat dipertahankan.
Di Pasar Gede maupun Pasar Flamboyan, gagasan tersebut
memperoleh konteks yang sangat manusiawi. Seorang pedagang yang menyisihkan
sebagian keuntungan untuk modal besok sedang mempraktikkan disiplin keuangan.
Seorang ibu yang membandingkan harga beberapa kebutuhan sedang mempelajari
prioritas. Seorang anak yang ikut berbelanja dapat mulai memahami bahwa uang
bukan sesuatu yang muncul begitu saja dari dompet orang tuanya. Ia berasal dari
pekerjaan, waktu, tenaga, dan keputusan-keputusan yang kadang tidak mudah.
Tentu, kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan
bahwa setiap pedagang kecil dapat mencapai kesejahteraan hanya melalui
pengendalian diri. Ada struktur yang turut menentukan: harga bahan pokok, akses
permodalan, biaya distribusi, daya beli masyarakat, dan ketimpangan kesempatan.
Di sinilah Housel dan Lefebvre dapat saling melengkapi. Housel membantu kita
memahami bagaimana manusia mengambil keputusan mengenai uang. Lefebvre
mengingatkan bahwa keputusan tersebut tidak pernah berlangsung dalam ruang
sosial yang sepenuhnya netral. Ada kekuatan ekonomi dan politik yang membatasi,
sekaligus membuka, kemungkinan hidup seseorang.
Maka, pasar sesungguhnya dapat menjadi ruang belajar
yang luar biasa. Bayangkan apabila sekolah-sekolah di Solo dan Pontianak
menjadikan pasar tradisional sebagai bagian dari proses pendidikan. Anak-anak
tidak hanya diminta menghafal definisi produksi, distribusi, dan konsumsi.
Mereka diajak mengikuti perjalanan beras dari petani hingga pembeli, memahami
mengapa harga ikan berubah, menghitung keuntungan secara sederhana, dan
bertanya bagaimana seorang pedagang bertahan ketika dagangannya tidak habis.
Matematika tidak lagi berhenti pada angka di papan tulis. Ilmu ekonomi tidak
lagi hanya berupa rumus. Semua memperoleh wajah manusianya.
Bahkan, pasar dapat menjadi laboratorium pendidikan
karakter dan kebudayaan. Di Pasar Gede, anak-anak dapat mempelajari sejarah
perjumpaan budaya Jawa dan Tionghoa, yang antara lain tampak dalam kehidupan
kawasan Sudiroprajan serta perayaan Grebeg Sudiro. Di Pasar Flamboyan, mereka
dapat mengamati keberagaman komoditas, tradisi pangan, dan jaringan perdagangan
masyarakat Kalimantan Barat. Dari situ, pelajaran tentang toleransi tidak lagi
sebatas nasihat agar menghormati perbedaan. Anak-anak dapat melihat bahwa
kehidupan sehari-hari justru dibangun melalui kerja sama di tengah perbedaan
tersebut.
Pendidikan lingkungan pun menemukan tempatnya. Dari
mana sayuran datang? Seberapa jauh ikan harus diangkut sebelum sampai ke pasar?
Apa yang terjadi pada sisa bahan pangan yang tidak terjual? Bagaimana sampah
organik dikelola? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat menghubungkan pasar
dengan persoalan ekologi, ketahanan pangan, dan keberlanjutan kota. Anak-anak
akan memahami bahwa apa yang tersaji di meja makan sesungguhnya berkaitan
dengan tanah, sungai, cuaca, transportasi, dan kehidupan banyak orang.
Yang diperlukan bukan sekadar kegiatan wisata sekolah,
ketika murid datang, berfoto, lalu pulang. Pasar semestinya diperlakukan
sebagai ruang pembelajaran yang memungkinkan percakapan antara pengetahuan
akademik dan pengalaman masyarakat. Pedagang bukan hanya objek pengamatan,
melainkan narasumber yang memiliki pengetahuan praktis. Pengetahuan mereka
mungkin tidak disusun dalam istilah ilmiah, tetapi lahir dari pengalaman
panjang menghadapi perubahan harga, musim, kebutuhan pelanggan, dan
ketidakpastian ekonomi. Di tangan guru yang peka, pengalaman semacam itu dapat
menjadi sumber belajar yang bernilai.
Kita mungkin perlu meninjau kembali cara memahami
estetika kota. Selama ini, keindahan perkotaan sering dilekatkan pada taman
yang tertata, trotoar yang seragam, gedung dengan fasad baru, atau kawasan
komersial yang bercahaya pada malam hari. Padahal, estetika bukan semata-mata
persoalan benda yang terlihat indah. Ada pula estetika hubungan sosial: cara
orang saling menyapa, mempercayai, membantu, dan membentuk kebiasaan bersama.
Pasar tradisional mengajarkan bahwa keindahan dapat muncul dari kehidupan yang
tidak sepenuhnya dapat direncanakan.
Barangkali itulah yang membedakan pasar dengan banyak
ruang konsumsi modern. Di pusat perbelanjaan, pengalaman sering dirancang agar
pengunjung bertahan lebih lama dan membeli lebih banyak. Di pasar tradisional,
hubungan sosial dapat berkembang melampaui tujuan transaksi. Seorang pembeli
mungkin datang hanya untuk mendapatkan cabai, tetapi pulang membawa kabar
tentang tetangganya. Seorang pedagang mungkin memperoleh keuntungan yang kecil,
tetapi mempertahankan jaringan kepercayaan yang nilainya tidak mudah dihitung.
Tentu saja pasar juga mengenal persaingan, konflik, dan ketidakadilan. Namun
justru di tengah kenyataan yang tidak ideal itu, kita dapat melihat masyarakat
bekerja secara nyata.
Ketika Dunia Mengubah Cara Berbelanja
Kini dunia semakin cepat mengubah cara manusia berbelanja. Melalui telepon genggam, barang dapat dipesan tanpa percakapan panjang, pembayaran dilakukan tanpa uang tunai, dan kebutuhan dikirim tanpa pembeli harus mengetahui siapa penjualnya. Semua itu memudahkan kehidupan. Tetapi kemudahan mempunyai konsekuensi sosial apabila perjumpaan manusia semakin dianggap tidak diperlukan. Kita memperoleh efisiensi waktu, sementara kesempatan untuk mengenal kehidupan orang lain dapat semakin berkurang.
Karena itu, masa depan Pasar Gede dan Pasar Flamboyan seharusnya tidak dibayangkan sebagai pertarungan antara tradisi dan teknologi. Keduanya dapat hidup berdampingan. Pedagang boleh menggunakan pembayaran digital, promosi daring, dan sistem distribusi yang lebih baik. Pemerintah dapat memperbaiki fasilitas pasar tanpa menghapus karakter sosialnya. Wisatawan dapat menikmati bangunan bersejarah dan kuliner khas tanpa menjadikan pasar sekadar latar foto. Yang perlu dijaga bukan ketertinggalannya, melainkan kemampuannya mempertahankan hubungan antarmanusia dalam dunia yang terus berubah.
Akan tetapi, ada satu syarat yang sering dilupakan:
suara pedagang harus menjadi bagian dari keputusan mengenai masa depan pasar.
Mereka bukan sekadar penghuni kios yang dapat dipindahkan mengikuti gambar
perencanaan. Mereka adalah pihak yang turut memproduksi ruang melalui pekerjaan
dan relasi sosialnya. Hak atas kota, sebagaimana dibayangkan Lefebvre,
memperoleh arti yang konkret ketika orang-orang yang menghidupkan sebuah tempat
memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana tempat itu berkembang.
Saya kembali memandang foto depan Pasar Gede. Bangunan
tua itu berdiri seperti menyimpan kesabaran yang panjang. Di bawahnya, para
pedagang terus bekerja, orang-orang melintas, dan kehidupan tidak berhenti
hanya karena seseorang sedang mencoba memahami maknanya. Pasar Gede tidak membutuhkan
saya untuk menjelaskan sejarahnya. Pasar Flamboyan juga tidak menunggu seorang
penulis untuk menafsirkan keberadaannya. Keduanya telah lama mengajarkan
sesuatu melalui cara yang paling sederhana: mempertemukan manusia dengan
kebutuhan dan keterbatasannya.
Mungkin pada akhirnya kita perlu belajar dari pasar,
bukan hanya tentang bagaimana memperoleh sesuatu, melainkan juga tentang
bagaimana hidup bersama. Di sana kita menemukan bahwa kesejahteraan tidak
selalu identik dengan kemewahan, bahwa kemajuan tidak selalu berarti
meninggalkan yang lama, dan bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari ruang
kelas atau perguruan tinggi. Kadang-kadang, ia tumbuh di antara timbangan,
keranjang sayur, tumpukan ikan, dan percakapan yang berlangsung sebentar
sebelum seseorang kembali bekerja.
Solo dan Pontianak dipisahkan oleh laut, pulau,
sejarah, dan watak kebudayaan. Tetapi Pasar Gede dan Pasar Flamboyan
mempertemukan keduanya dalam sebuah pertanyaan yang sama: ketika kota bergerak
menuju masa depan, ruang seperti apa yang masih kita sediakan bagi kehidupan
bersama?
Pertanyaan itu terasa penting karena pembangunan kota
sering lebih mudah mengukur apa yang bertambah daripada apa yang hilang. Kita
dapat menghitung bangunan baru, kenaikan investasi, dan pertumbuhan transaksi.
Tetapi bagaimana menghitung hilangnya keakraban? Bagaimana mengukur sebuah
ingatan kolektif yang perlahan lenyap ketika pasar digantikan oleh ruang
komersial yang serba seragam?
Saya meninggalkan pertanyaan itu tanpa jawaban yang
selesai. Sebab perjalanan, seperti halnya pasar, tidak selalu memberikan
kesimpulan yang pasti. Ia hanya membuka kemungkinan untuk melihat sesuatu
secara berbeda. Dan barangkali, itulah sumbangan terbesar pasar tradisional
bagi dunia modern: mengingatkan bahwa sebuah kota tidak menjadi beradab hanya
karena bangunannya semakin tinggi, jalannya semakin lebar, atau transaksinya
semakin cepat. Kota menjadi beradab ketika orang-orang yang hidup di dalamnya
tetap memiliki ruang untuk bertemu, bekerja, belajar, dan saling mengakui
keberadaan.
Pasar Gede dan Pasar Flamboyan, dengan demikian,
bukanlah sisa masa lalu yang menunggu digantikan oleh masa depan. Keduanya
justru mengajarkan bahwa masa depan yang baik adalah masa depan yang tidak
kehilangan manusianya.***



