Iklan

Sate Kambing di Solo dan Kesederhanaan yang Mewah

syamsul kurniawan
Thursday, October 22, 2026
Last Updated 2026-10-24T07:12:12Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 















Oleh: Syamsul Kurniawan

 

ADA kemewahan yang tak selalu membutuhkan gemerlap lampu kristal, hamparan taplak putih, atau pelayanan yang serba teratur. Pada 22 Oktober 2026, saya menemukannya di sebuah warung sate kambing di Solo. Di antara meja-meja kayu yang panjang, piring-piring sederhana, dan percakapan pengunjung yang saling bersahutan, saya merasakan kehangatan yang barangkali sulit ditemukan di ruang makan yang terlalu sibuk mempertontonkan kemewahan. Aroma daging kambing yang dibakar di atas bara arang menyusup ke seluruh ruangan, bercampur dengan suara orang memesan makanan dan kesibukan para pelayan mengantarkan hidangan. Saya memilih duduk, menunggu beberapa tusuk sate tiba di meja, sembari menikmati suasana yang begitu bersahaja. Di tempat ini, orang tampaknya tidak terlalu peduli siapa yang duduk di sebelahnya, apa jabatannya, atau seberapa tebal isi dompetnya. Mereka datang untuk menikmati rasa. Dan di tengah kesibukan warung itulah saya menemukan sebuah ironi kecil dalam kehidupan: sesuatu yang sederhana ternyata dapat menghadirkan kemewahan yang tidak selalu sanggup diberikan oleh segala yang mahal.

 

 

Solo, atau Surakarta, memang memiliki cara tersendiri dalam memperlakukan makanan. Kota ini tidak sekadar menawarkan rasa, tetapi juga ingatan. Sate kambing, sate buntel, tengkleng, tongseng, dan gulai tumbuh menjadi bagian dari perbendaharaan kuliner yang mempertemukan sejarah, keterampilan, dan kehidupan sehari-hari. Di balik setiap racikan, ada pengetahuan yang diwariskan melalui pekerjaan tangan. Bahkan sate buntel, yang dagingnya dicincang kemudian dibalut lemak sebelum dibakar, tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Surakarta. Sebuah pengakuan bahwa makanan rakyat pun dapat menyimpan pengetahuan budaya yang berharga.


Saya memperhatikan sepiring sate yang akhirnya tiba. Tusukan bambu menyangga potongan daging kecokelatan, permukaannya sedikit mengilap oleh bumbu dan panas arang. Kecap manis, bawang merah, dan cabai rawit menjadi pelengkap yang tidak berlebihan. Tidak ada upaya untuk membuat hidangan itu tampak lebih mahal daripada dirinya sendiri. Barangkali justru di situlah daya tariknya. Sate tidak membutuhkan bahasa pemasaran yang rumit untuk menjelaskan kelezatannya. Orang cukup mencium aromanya, mengambil satu tusuk, lalu membiarkan lidah menyelesaikan penilaian yang tidak selalu sanggup dilakukan oleh akal.

 

Namun, ketika memandang sate itu lebih lama, saya teringat Roland Barthes (1964), pemikir Prancis yang mengajarkan bahwa benda-benda keseharian dapat berbicara melampaui fungsi lahiriahnya. Dalam semiotikanya, sesuatu pertama-tama hadir sebagai tanda yang mempunyai makna langsung, atau denotasi. Sate adalah daging yang ditusuk, dibumbui, dibakar, lalu dimakan. Tetapi pada lapisan berikutnya, konotasi, sate dapat membawa arti yang lain: kebersamaan, keramahan, kenangan masa kecil, keterampilan rakyat, bahkan kesetaraan yang sesaat muncul ketika orang-orang berbeda kedudukan duduk menikmati makanan yang sama. Daging kambing itu tidak berubah, tetapi pengalaman sosial memberinya makna yang terus bertambah.

 

Barthes juga memperkenalkan gagasan tentang mitos: bagaimana suatu makna budaya akhirnya diterima sebagai sesuatu yang lumrah, seolah-olah memang demikian kodratnya. Kita, misalnya, terbiasa membayangkan kemewahan melalui bangunan megah, makanan mahal, dan pelayanan eksklusif. Gambaran itu terus diproduksi oleh iklan, media sosial, serta kebiasaan mempertontonkan keberhasilan. Lama-kelamaan, harga yang tinggi dianggap sebagai bukti kenikmatan yang tinggi pula. Padahal, itu bukan hukum alam. Itu hanyalah salah satu cerita yang diciptakan masyarakat tentang arti hidup yang berhasil. Sepiring sate kambing di warung sederhana dapat mengusik cerita tersebut.

 

Di Solo, pengusikan itu berlangsung tanpa pidato. Orang tidak perlu berdebat mengenai kelas sosial ketika sedang mengunyah sate. Seorang pengusaha mungkin duduk tidak jauh dari pekerja harian. Seorang pejabat dapat menyantap makanan yang juga menjadi kesukaan mahasiswa atau pengemudi becak. Tentu saja, kesamaan menu tidak otomatis menghapus ketimpangan ekonomi. Harga makanan yang terasa murah bagi seseorang mungkin tetap menjadi pengeluaran besar bagi orang lain. Namun, di meja makan, setidaknya terdapat kemungkinan yang menarik: manusia dapat menikmati rasa yang sama tanpa harus membeli kedudukan sosial yang sama.

 

Saya kemudian berpikir bahwa kemewahan mungkin telah terlalu lama didefinisikan oleh sesuatu yang tampak. Kita mengukur keberhasilan dari apa yang dapat dipotret: kendaraan, rumah, pakaian, perjalanan, dan tempat makan. Foto menjadi semacam bukti bahwa seseorang telah mencapai sesuatu. Barangkali karena itulah manusia modern sering merasa harus menaikkan standar konsumsinya mengikuti kenaikan pendapatan. Padahal, kemampuan membeli sesuatu tidak selalu menjadi alasan yang cukup untuk membelinya. Di warung sate ini, sebuah pertanyaan sederhana muncul: mungkinkah seseorang justru lebih merdeka ketika ia tidak merasa perlu membuktikan kemampuannya melalui pengeluaran?

 

Pertanyaan itu membawa saya kepada Morgan Housel dan bukunya, The Psychology of Money (2020). Housel mengemukakan gagasan yang tampak sederhana, tetapi mempunyai konsekuensi mendalam: kekayaan tidak selalu berupa sesuatu yang kita lihat. Mobil mahal memperlihatkan pembelian, bukan seluruh keadaan keuangan pemiliknya. Rumah megah memperlihatkan bangunan, bukan ketenangan batin penghuninya. Bahkan penghasilan yang besar belum tentu menghasilkan kebebasan apabila seluruhnya habis untuk mempertahankan penampilan. Housel membedakan antara memiliki pendapatan besar dan memiliki kekayaan yang tersimpan, yang kelak memberikan pilihan hidup.

 

Di hadapan sepiring sate, pemikiran itu memperoleh bentuk yang sangat manusiawi. Saya dapat saja memilih restoran yang lebih mahal, ruangan berpendingin udara yang lebih mewah, atau sajian yang diberi nama asing agar terdengar istimewa. Tetapi apakah pilihan itu dengan sendirinya akan membuat pengalaman makan lebih berharga? Belum tentu. Sesekali membayar mahal untuk pengalaman yang bermakna tentu bukan sebuah kesalahan. Yang patut dipertanyakan adalah kebiasaan menganggap bahwa kenikmatan harus selalu dibuktikan melalui harga. Sate kambing Solo seakan mengingatkan bahwa kepuasan tidak mempunyai hubungan yang selalu lurus dengan biaya yang dikeluarkan.

 

Kesederhanaan dengan demikian bukanlah keadaan ketika seseorang tidak mampu memiliki lebih banyak. Kesederhanaan juga dapat menjadi keputusan sadar untuk tidak memerlukan lebih banyak. Perbedaannya penting. Kemiskinan adalah keterbatasan pilihan, sedangkan hidup sederhana, ketika seseorang memiliki kemampuan memilih, dapat menjadi pernyataan tentang prioritas. Kita tidak seharusnya meromantisasi kekurangan seakan-akan semua orang yang hidup pas-pasan otomatis lebih bahagia. Tetapi kita juga tidak perlu menganggap bahwa orang yang memilih warung kecil, pakaian biasa, atau kendaraan sederhana sedang mengalami kegagalan. Barangkali ia justru telah menemukan ukuran kecukupannya sendiri.

 

Kekayaan yang Tak Terlihat

 

Ada bagian menarik dari pemikiran Housel yang terus terbayang ketika saya memandangi tusuk-tusuk sate di atas piring. Kekayaan sejati, dalam pengertian finansial yang ia uraikan, antara lain berada pada uang yang belum dibelanjakan, tabungan yang tetap tersimpan, dan kemampuan menolak pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan. Semuanya nyaris tidak terlihat. Kita dapat memotret seseorang bersama mobil mewahnya, tetapi tidak dapat memotret keputusan bijaknya untuk menunda konsumsi. Kita dapat mengagumi jam tangan mahal, tetapi tidak mengetahui berapa besar kebebasan yang mungkin dikorbankan demi memilikinya. Yang tampak sering mendapatkan tepuk tangan; yang tersembunyi justru memberi daya tahan.

 

Housel, dalam pembahasannya tentang rasa cukup, mengingatkan bahwa persoalan manusia bukan hanya bagaimana memperoleh uang, tetapi juga bagaimana mengendalikan keinginan. Ada orang yang penghasilannya terus meningkat, tetapi rasa kurangnya tumbuh lebih cepat. Setiap pencapaian menjadi anak tangga menuju keinginan berikutnya. Setiap pembelian menuntut pembelian lain untuk mempertahankan citra diri. Pada titik tertentu, uang tidak lagi bekerja untuk membebaskan manusia. Manusia justru bekerja untuk mempertahankan tuntutan yang diciptakan oleh uangnya sendiri. Di sinilah sate kambing di Solo memberikan metafora yang sederhana: selera dapat dipuaskan, tetapi hasrat untuk dianggap lebih tinggi daripada orang lain mungkin tidak pernah selesai.

 

Barthes membantu kita memahami mengapa keadaan itu terjadi. Barang-barang konsumsi tidak hanya dipasarkan berdasarkan kegunaannya, melainkan juga berdasarkan citra yang dilekatkan kepadanya. Sebuah jam tangan tidak lagi sekadar menunjukkan waktu. Ia dapat menjadi tanda keberhasilan. Sebuah restoran tidak lagi sekadar menyediakan makanan. Ia dapat menjadi penanda prestise. Bahkan perjalanan wisata terkadang berubah dari kegiatan menemukan dunia menjadi kegiatan memperlihatkan kepada dunia bahwa kita sanggup bepergian. Itulah kekuatan mitos dalam kehidupan modern: ia membuat hubungan antara benda dan status sosial tampak alamiah, padahal hubungan itu dibentuk oleh kebudayaan.

 

Sate kambing Solo menawarkan kemungkinan pembacaan yang berbeda. Pada tingkat denotasi, ia tetaplah makanan yang mengenyangkan. Pada tingkat konotasi, ia dapat menjadi simbol keakraban dan kepuasan yang tidak membutuhkan kemegahan. Namun, saya tidak ingin terburu-buru menjadikannya mitos baru bahwa semua yang sederhana pasti lebih autentik atau bermoral. Warung kecil pun dapat menjadi komoditas gaya hidup, sebagaimana makanan rakyat dapat berubah menjadi barang mahal ketika popularitasnya meningkat. Justru di sinilah pelajaran Barthes terasa penting: kita harus terus mencurigai makna yang dianggap terlalu wajar, termasuk ketika kesederhanaan mulai dipertontonkan sebagai bentuk prestise baru.

 

Saya teringat bahwa dalam tradisi kuliner Solo, tengkleng juga mempunyai sejarah menarik sebagai makanan yang memanfaatkan bagian-bagian kambing yang tidak selalu memperoleh tempat utama dalam hidangan bergengsi. Tulang, sedikit daging yang melekat, serta jeroan diolah dengan keterampilan dan bumbu menjadi sesuatu yang memiliki nilai rasa tersendiri. Sejarah kuliner semacam ini memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam menghadapi keterbatasan. Bahan yang kurang dihargai tidak selalu harus berakhir sebagai sesuatu yang kurang bernilai. Melalui pengetahuan, waktu, dan kecermatan, ia dapat menjadi sajian yang dicari banyak orang. Bahkan dalam catatan sejarah sate buntel, kreativitas mengolah bagian daging yang keras menjadi hidangan lembut merupakan bagian penting dari cerita kelahirannya.

Dari sini, saya melihat hubungan yang lebih luas antara kebudayaan makan dan psikologi uang. Keduanya berbicara tentang kemampuan memberi nilai kepada sesuatu. Dalam memasak, nilai diciptakan bukan semata-mata oleh mahalnya bahan, melainkan oleh pengetahuan mengolahnya. Dalam mengelola uang, kesejahteraan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh keputusan-keputusan yang menyertainya. Seorang juru masak memahami kapan api perlu diperbesar dan kapan harus dikecilkan. Demikian pula seseorang yang bijak secara finansial perlu mengetahui kapan pantas membelanjakan uang dan kapan lebih baik menyimpannya. Keduanya membutuhkan kecermatan, kesabaran, dan pengendalian diri.

 

Saya membayangkan betapa banyak orang sesungguhnya kehilangan kesempatan menikmati hidup karena terlalu sibuk membuktikan bahwa hidupnya patut dikagumi. Mereka berkunjung ke tempat-tempat indah, tetapi pikiran mereka tersita oleh bagaimana perjalanan itu akan terlihat di layar telepon. Mereka membeli makanan yang mahal, tetapi kenikmatannya terganggu oleh kebutuhan memamerkan pengalaman. Mereka mengumpulkan benda-benda yang seharusnya memberi kebahagiaan, tetapi justru menambah kecemasan untuk terus mempertahankan taraf hidup. Di sisi lain, seorang pengunjung warung sate yang makan dengan tenang, bercakap dengan sahabat, dan pulang tanpa beban pengeluaran berlebihan mungkin memiliki sesuatu yang lebih sukar dinilai: keleluasaan.

 

Keleluasaan itulah salah satu bentuk kekayaan yang sering luput dari perhitungan. Bukan sekadar banyaknya uang, melainkan kesempatan mengatur waktu, mengambil keputusan tanpa tekanan yang berlebihan, dan menikmati sesuatu tanpa harus memperoleh persetujuan orang lain. Tentu kebebasan itu tetap membutuhkan dasar material yang memadai; rasa cukup tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kebutuhan hidup yang layak. Namun, setelah kebutuhan mendasar terpenuhi, pertanyaan mengenai hidup yang baik tidak dapat dijawab hanya dengan menambahkan angka. Ada ketenangan yang tumbuh bukan karena seluruh keinginan dipenuhi, melainkan karena sebagian keinginan tidak lagi dianggap penting.

 

Ketika piring mulai kosong dan tusuk-tusuk sate tersisa di atas meja, saya merasa perjalanan ke Solo ini telah memberikan lebih daripada pengalaman kuliner. Kota ini mengajarkan sesuatu melalui cara yang tidak menggurui. Dari asap arang, saya belajar bahwa sesuatu yang sederhana dapat menyimpan sejarah panjang. Dari sate buntel, saya melihat bagaimana keterampilan mampu mengubah bahan yang biasa menjadi sajian istimewa. Dari sebuah warung yang riuh, saya menemukan ruang untuk mempertanyakan kembali tanda-tanda kemewahan yang selama ini kita terima. Dan dari Morgan Housel, saya memperoleh bahasa untuk memahami bahwa keberhasilan finansial kadang justru terletak pada hal-hal yang tidak pernah diperlihatkan.

 

Akhirnya, saya meninggalkan meja makan dengan sebuah kesimpulan yang barangkali tidak sepenuhnya baru, tetapi terasa lebih dekat setelah mengalami sendiri suasana warung sate di Solo. Kemewahan tidak selalu terletak pada kemampuan membeli yang paling mahal, sebagaimana kesederhanaan tidak selalu berarti ketidakmampuan untuk membeli. Di antara keduanya terdapat sesuatu yang lebih penting: kebebasan menentukan apa yang sungguh bernilai bagi diri sendiri. Sepiring sate kambing mungkin tidak menjadikan siapa pun lebih kaya secara materi. Tetapi ia dapat mengingatkan kita agar tidak menghabiskan kekayaan hanya untuk terlihat kaya. Sebab, kadang-kadang, kemewahan yang paling berharga bukanlah sesuatu yang membuat orang lain terpesona, melainkan sesuatu yang membuat kita merasa cukup; tanpa harus menjelaskannya kepada siapa pun.***

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now