Oleh: Syamsul Kurniawan
ADA kemewahan yang tak selalu
membutuhkan gemerlap lampu kristal, hamparan taplak putih, atau pelayanan yang
serba teratur. Pada 22 Oktober 2026, saya menemukannya di sebuah warung sate
kambing di Solo. Di antara meja-meja kayu yang panjang, piring-piring
sederhana, dan percakapan pengunjung yang saling bersahutan, saya merasakan
kehangatan yang barangkali sulit ditemukan di ruang makan yang terlalu sibuk
mempertontonkan kemewahan. Aroma daging kambing yang dibakar di atas bara arang
menyusup ke seluruh ruangan, bercampur dengan suara orang memesan makanan dan
kesibukan para pelayan mengantarkan hidangan. Saya memilih duduk, menunggu
beberapa tusuk sate tiba di meja, sembari menikmati suasana yang begitu
bersahaja. Di tempat ini, orang tampaknya tidak terlalu peduli siapa yang duduk
di sebelahnya, apa jabatannya, atau seberapa tebal isi dompetnya. Mereka datang
untuk menikmati rasa. Dan di tengah kesibukan warung itulah saya menemukan
sebuah ironi kecil dalam kehidupan: sesuatu yang sederhana ternyata dapat menghadirkan
kemewahan yang tidak selalu sanggup diberikan oleh segala yang mahal.
Solo, atau Surakarta, memang
memiliki cara tersendiri dalam memperlakukan makanan. Kota ini tidak sekadar
menawarkan rasa, tetapi juga ingatan. Sate kambing, sate buntel, tengkleng,
tongseng, dan gulai tumbuh menjadi bagian dari perbendaharaan kuliner yang
mempertemukan sejarah, keterampilan, dan kehidupan sehari-hari. Di balik setiap
racikan, ada pengetahuan yang diwariskan melalui pekerjaan tangan. Bahkan sate
buntel, yang dagingnya dicincang kemudian dibalut lemak sebelum dibakar,
tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Surakarta. Sebuah
pengakuan bahwa makanan rakyat pun dapat menyimpan pengetahuan budaya yang
berharga.
Saya memperhatikan sepiring sate
yang akhirnya tiba. Tusukan bambu menyangga potongan daging kecokelatan,
permukaannya sedikit mengilap oleh bumbu dan panas arang. Kecap manis, bawang
merah, dan cabai rawit menjadi pelengkap yang tidak berlebihan. Tidak ada upaya
untuk membuat hidangan itu tampak lebih mahal daripada dirinya sendiri.
Barangkali justru di situlah daya tariknya. Sate tidak membutuhkan bahasa
pemasaran yang rumit untuk menjelaskan kelezatannya. Orang cukup mencium
aromanya, mengambil satu tusuk, lalu membiarkan lidah menyelesaikan penilaian
yang tidak selalu sanggup dilakukan oleh akal.
Namun, ketika memandang sate itu
lebih lama, saya teringat Roland Barthes (1964), pemikir Prancis yang
mengajarkan bahwa benda-benda keseharian dapat berbicara melampaui fungsi
lahiriahnya. Dalam semiotikanya, sesuatu pertama-tama hadir sebagai tanda yang
mempunyai makna langsung, atau denotasi. Sate adalah daging yang ditusuk,
dibumbui, dibakar, lalu dimakan. Tetapi pada lapisan berikutnya, konotasi, sate
dapat membawa arti yang lain: kebersamaan, keramahan, kenangan masa kecil,
keterampilan rakyat, bahkan kesetaraan yang sesaat muncul ketika orang-orang
berbeda kedudukan duduk menikmati makanan yang sama. Daging kambing itu tidak
berubah, tetapi pengalaman sosial memberinya makna yang terus bertambah.
Barthes juga memperkenalkan
gagasan tentang mitos: bagaimana suatu makna budaya akhirnya diterima sebagai
sesuatu yang lumrah, seolah-olah memang demikian kodratnya. Kita, misalnya,
terbiasa membayangkan kemewahan melalui bangunan megah, makanan mahal, dan
pelayanan eksklusif. Gambaran itu terus diproduksi oleh iklan, media sosial,
serta kebiasaan mempertontonkan keberhasilan. Lama-kelamaan, harga yang tinggi
dianggap sebagai bukti kenikmatan yang tinggi pula. Padahal, itu bukan hukum
alam. Itu hanyalah salah satu cerita yang diciptakan masyarakat tentang arti
hidup yang berhasil. Sepiring sate kambing di warung sederhana dapat mengusik
cerita tersebut.
Di Solo, pengusikan itu
berlangsung tanpa pidato. Orang tidak perlu berdebat mengenai kelas sosial
ketika sedang mengunyah sate. Seorang pengusaha mungkin duduk tidak jauh dari
pekerja harian. Seorang pejabat dapat menyantap makanan yang juga menjadi kesukaan
mahasiswa atau pengemudi becak. Tentu saja, kesamaan menu tidak otomatis
menghapus ketimpangan ekonomi. Harga makanan yang terasa murah bagi seseorang
mungkin tetap menjadi pengeluaran besar bagi orang lain. Namun, di meja makan,
setidaknya terdapat kemungkinan yang menarik: manusia dapat menikmati rasa yang
sama tanpa harus membeli kedudukan sosial yang sama.
Saya kemudian berpikir bahwa
kemewahan mungkin telah terlalu lama didefinisikan oleh sesuatu yang tampak.
Kita mengukur keberhasilan dari apa yang dapat dipotret: kendaraan, rumah,
pakaian, perjalanan, dan tempat makan. Foto menjadi semacam bukti bahwa seseorang
telah mencapai sesuatu. Barangkali karena itulah manusia modern sering merasa
harus menaikkan standar konsumsinya mengikuti kenaikan pendapatan. Padahal,
kemampuan membeli sesuatu tidak selalu menjadi alasan yang cukup untuk
membelinya. Di warung sate ini, sebuah pertanyaan sederhana muncul: mungkinkah
seseorang justru lebih merdeka ketika ia tidak merasa perlu membuktikan
kemampuannya melalui pengeluaran?
Pertanyaan itu membawa saya
kepada Morgan Housel dan bukunya, The Psychology of Money (2020). Housel
mengemukakan gagasan yang tampak sederhana, tetapi mempunyai konsekuensi
mendalam: kekayaan tidak selalu berupa sesuatu yang kita lihat. Mobil mahal
memperlihatkan pembelian, bukan seluruh keadaan keuangan pemiliknya. Rumah
megah memperlihatkan bangunan, bukan ketenangan batin penghuninya. Bahkan
penghasilan yang besar belum tentu menghasilkan kebebasan apabila seluruhnya
habis untuk mempertahankan penampilan. Housel membedakan antara memiliki
pendapatan besar dan memiliki kekayaan yang tersimpan, yang kelak memberikan
pilihan hidup.
Di hadapan sepiring sate,
pemikiran itu memperoleh bentuk yang sangat manusiawi. Saya dapat saja memilih
restoran yang lebih mahal, ruangan berpendingin udara yang lebih mewah, atau
sajian yang diberi nama asing agar terdengar istimewa. Tetapi apakah pilihan
itu dengan sendirinya akan membuat pengalaman makan lebih berharga? Belum
tentu. Sesekali membayar mahal untuk pengalaman yang bermakna tentu bukan
sebuah kesalahan. Yang patut dipertanyakan adalah kebiasaan menganggap bahwa
kenikmatan harus selalu dibuktikan melalui harga. Sate kambing Solo seakan
mengingatkan bahwa kepuasan tidak mempunyai hubungan yang selalu lurus dengan
biaya yang dikeluarkan.
Kesederhanaan dengan demikian bukanlah keadaan ketika seseorang tidak mampu memiliki lebih banyak. Kesederhanaan juga dapat menjadi keputusan sadar untuk tidak memerlukan lebih banyak. Perbedaannya penting. Kemiskinan adalah keterbatasan pilihan, sedangkan hidup sederhana, ketika seseorang memiliki kemampuan memilih, dapat menjadi pernyataan tentang prioritas. Kita tidak seharusnya meromantisasi kekurangan seakan-akan semua orang yang hidup pas-pasan otomatis lebih bahagia. Tetapi kita juga tidak perlu menganggap bahwa orang yang memilih warung kecil, pakaian biasa, atau kendaraan sederhana sedang mengalami kegagalan. Barangkali ia justru telah menemukan ukuran kecukupannya sendiri.
Kekayaan yang Tak Terlihat
Ada bagian menarik dari pemikiran
Housel yang terus terbayang ketika saya memandangi tusuk-tusuk sate di atas
piring. Kekayaan sejati, dalam pengertian finansial yang ia uraikan, antara
lain berada pada uang yang belum dibelanjakan, tabungan yang tetap tersimpan, dan
kemampuan menolak pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan. Semuanya nyaris
tidak terlihat. Kita dapat memotret seseorang bersama mobil mewahnya, tetapi
tidak dapat memotret keputusan bijaknya untuk menunda konsumsi. Kita dapat
mengagumi jam tangan mahal, tetapi tidak mengetahui berapa besar kebebasan yang
mungkin dikorbankan demi memilikinya. Yang tampak sering mendapatkan tepuk
tangan; yang tersembunyi justru memberi daya tahan.
Housel, dalam pembahasannya
tentang rasa cukup, mengingatkan bahwa persoalan manusia bukan hanya bagaimana
memperoleh uang, tetapi juga bagaimana mengendalikan keinginan. Ada orang yang
penghasilannya terus meningkat, tetapi rasa kurangnya tumbuh lebih cepat.
Setiap pencapaian menjadi anak tangga menuju keinginan berikutnya. Setiap
pembelian menuntut pembelian lain untuk mempertahankan citra diri. Pada titik
tertentu, uang tidak lagi bekerja untuk membebaskan manusia. Manusia justru
bekerja untuk mempertahankan tuntutan yang diciptakan oleh uangnya sendiri. Di
sinilah sate kambing di Solo memberikan metafora yang sederhana: selera dapat
dipuaskan, tetapi hasrat untuk dianggap lebih tinggi daripada orang lain
mungkin tidak pernah selesai.
Barthes membantu kita memahami
mengapa keadaan itu terjadi. Barang-barang konsumsi tidak hanya dipasarkan
berdasarkan kegunaannya, melainkan juga berdasarkan citra yang dilekatkan
kepadanya. Sebuah jam tangan tidak lagi sekadar menunjukkan waktu. Ia dapat
menjadi tanda keberhasilan. Sebuah restoran tidak lagi sekadar menyediakan
makanan. Ia dapat menjadi penanda prestise. Bahkan perjalanan wisata terkadang
berubah dari kegiatan menemukan dunia menjadi kegiatan memperlihatkan kepada
dunia bahwa kita sanggup bepergian. Itulah kekuatan mitos dalam kehidupan
modern: ia membuat hubungan antara benda dan status sosial tampak alamiah,
padahal hubungan itu dibentuk oleh kebudayaan.
Sate kambing Solo menawarkan
kemungkinan pembacaan yang berbeda. Pada tingkat denotasi, ia tetaplah makanan
yang mengenyangkan. Pada tingkat konotasi, ia dapat menjadi simbol keakraban
dan kepuasan yang tidak membutuhkan kemegahan. Namun, saya tidak ingin
terburu-buru menjadikannya mitos baru bahwa semua yang sederhana pasti lebih
autentik atau bermoral. Warung kecil pun dapat menjadi komoditas gaya hidup,
sebagaimana makanan rakyat dapat berubah menjadi barang mahal ketika
popularitasnya meningkat. Justru di sinilah pelajaran Barthes terasa penting:
kita harus terus mencurigai makna yang dianggap terlalu wajar, termasuk ketika
kesederhanaan mulai dipertontonkan sebagai bentuk prestise baru.
Saya teringat bahwa dalam tradisi
kuliner Solo, tengkleng juga mempunyai sejarah menarik sebagai makanan yang
memanfaatkan bagian-bagian kambing yang tidak selalu memperoleh tempat utama
dalam hidangan bergengsi. Tulang, sedikit daging yang melekat, serta jeroan
diolah dengan keterampilan dan bumbu menjadi sesuatu yang memiliki nilai rasa
tersendiri. Sejarah kuliner semacam ini memperlihatkan kreativitas masyarakat
dalam menghadapi keterbatasan. Bahan yang kurang dihargai tidak selalu harus
berakhir sebagai sesuatu yang kurang bernilai. Melalui pengetahuan, waktu, dan
kecermatan, ia dapat menjadi sajian yang dicari banyak orang. Bahkan dalam
catatan sejarah sate buntel, kreativitas mengolah bagian daging yang keras
menjadi hidangan lembut merupakan bagian penting dari cerita kelahirannya.
Dari sini, saya melihat hubungan
yang lebih luas antara kebudayaan makan dan psikologi uang. Keduanya berbicara
tentang kemampuan memberi nilai kepada sesuatu. Dalam memasak, nilai diciptakan
bukan semata-mata oleh mahalnya bahan, melainkan oleh pengetahuan mengolahnya.
Dalam mengelola uang, kesejahteraan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya
pendapatan, tetapi juga oleh keputusan-keputusan yang menyertainya. Seorang
juru masak memahami kapan api perlu diperbesar dan kapan harus dikecilkan.
Demikian pula seseorang yang bijak secara finansial perlu mengetahui kapan
pantas membelanjakan uang dan kapan lebih baik menyimpannya. Keduanya
membutuhkan kecermatan, kesabaran, dan pengendalian diri.
Saya membayangkan betapa banyak
orang sesungguhnya kehilangan kesempatan menikmati hidup karena terlalu sibuk
membuktikan bahwa hidupnya patut dikagumi. Mereka berkunjung ke tempat-tempat
indah, tetapi pikiran mereka tersita oleh bagaimana perjalanan itu akan
terlihat di layar telepon. Mereka membeli makanan yang mahal, tetapi
kenikmatannya terganggu oleh kebutuhan memamerkan pengalaman. Mereka
mengumpulkan benda-benda yang seharusnya memberi kebahagiaan, tetapi justru
menambah kecemasan untuk terus mempertahankan taraf hidup. Di sisi lain,
seorang pengunjung warung sate yang makan dengan tenang, bercakap dengan
sahabat, dan pulang tanpa beban pengeluaran berlebihan mungkin memiliki sesuatu
yang lebih sukar dinilai: keleluasaan.
Keleluasaan itulah salah satu
bentuk kekayaan yang sering luput dari perhitungan. Bukan sekadar banyaknya
uang, melainkan kesempatan mengatur waktu, mengambil keputusan tanpa tekanan
yang berlebihan, dan menikmati sesuatu tanpa harus memperoleh persetujuan orang
lain. Tentu kebebasan itu tetap membutuhkan dasar material yang memadai; rasa
cukup tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kebutuhan hidup yang
layak. Namun, setelah kebutuhan mendasar terpenuhi, pertanyaan mengenai hidup
yang baik tidak dapat dijawab hanya dengan menambahkan angka. Ada ketenangan
yang tumbuh bukan karena seluruh keinginan dipenuhi, melainkan karena sebagian
keinginan tidak lagi dianggap penting.
Ketika piring mulai kosong dan
tusuk-tusuk sate tersisa di atas meja, saya merasa perjalanan ke Solo ini telah
memberikan lebih daripada pengalaman kuliner. Kota ini mengajarkan sesuatu
melalui cara yang tidak menggurui. Dari asap arang, saya belajar bahwa sesuatu
yang sederhana dapat menyimpan sejarah panjang. Dari sate buntel, saya melihat
bagaimana keterampilan mampu mengubah bahan yang biasa menjadi sajian istimewa.
Dari sebuah warung yang riuh, saya menemukan ruang untuk mempertanyakan kembali
tanda-tanda kemewahan yang selama ini kita terima. Dan dari Morgan Housel, saya
memperoleh bahasa untuk memahami bahwa keberhasilan finansial kadang justru
terletak pada hal-hal yang tidak pernah diperlihatkan.
Akhirnya, saya meninggalkan meja
makan dengan sebuah kesimpulan yang barangkali tidak sepenuhnya baru, tetapi
terasa lebih dekat setelah mengalami sendiri suasana warung sate di Solo.
Kemewahan tidak selalu terletak pada kemampuan membeli yang paling mahal,
sebagaimana kesederhanaan tidak selalu berarti ketidakmampuan untuk membeli. Di
antara keduanya terdapat sesuatu yang lebih penting: kebebasan menentukan apa
yang sungguh bernilai bagi diri sendiri. Sepiring sate kambing mungkin tidak
menjadikan siapa pun lebih kaya secara materi. Tetapi ia dapat mengingatkan
kita agar tidak menghabiskan kekayaan hanya untuk terlihat kaya. Sebab,
kadang-kadang, kemewahan yang paling berharga bukanlah sesuatu yang membuat
orang lain terpesona, melainkan sesuatu yang membuat kita merasa cukup; tanpa
harus menjelaskannya kepada siapa pun.***



