Iklan

Pantun, Tradisi Lisan yang Kian Terpinggirkan

syamsul kurniawan
Friday, January 2, 2026
Last Updated 2026-01-03T03:50:47Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Seorang teman saya di Pontianak pernah berkata, “Di kampung kami dulu, anak muda bisa berbalas pantun lebih cepat daripada mengetik pesan di telepon.” Ia tersenyum getir. Kini, katanya, orang lebih piawai merangkai caption ketimbang menyusun sampiran. Pantun perlahan menjauh dari kehidupan sehari-hari—bahasa yang dulu hidup di lidah, kini hanya bergema samar di ruang ingatan.

 

Pantun pernah menjadi nadi masyarakat Melayu. Ia lahir dari mulut, bukan dari pena; tumbuh dari pergaulan, bukan dari kurikulum. Pantun bukan sekadar empat baris bersajak A-B-A-B, melainkan cara berpikir yang berlapik—cara menyampaikan maksud tanpa melukai, menasihati tanpa menggurui, dan bercanda tanpa kehilangan hormat.

 

Hari ini, penutur pantun kian langka. Tradisi lisan yang dulu mengalir di pasar, di pelaminan, dan di beranda rumah, kini nyaris tak terdengar. Generasi muda mengenal pantun sebagai teks pelajaran, bukan sebagai laku hidup. Ia berubah menjadi hafalan tanpa konteks—teks tanpa tubuh, kata tanpa peristiwa.

 

Pada Desember 2020, UNESCO menetapkan pantun sebagai warisan budaya tak benda dunia. Dunia mengakui keindahan logika dan etika Melayu yang terkandung di dalamnya. Namun, pengakuan semacam itu kerap berhenti sebagai monumen simbolik—mengabadikan sesuatu yang justru kian ditinggalkan dalam praktik keseharian.

 

Hemat saya, melestarikan pantun bukan sekadar urusan kebudayaan, melainkan tanggung jawab kewargaan. Pantun perlu dikembangkan, dimaknai ulang, dan dimanfaatkan untuk pendidikan, rekreasi, hingga inovasi. Tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama: siapa yang masih menuturkannya? Pengakuan tanpa penutur hanya akan menjelma prasasti.

 

Pantun yang Sunyi di Negeri Sendiri

 

Pierre Bourdieu (1977) memperkenalkan konsep habitus—sistem kebiasaan sosial yang tertanam melalui pengulangan dan praktik sehari-hari. Dulu, berpantun adalah bagian dari habitus orang Melayu. Ia hadir dalam nasihat, senda gurau, hingga pergaulan antargenerasi. Kini, habitus itu tergeser oleh pesan singkat, video pendek, dan simbol-simbol instan.

 

Hilangnya penutur pantun berarti terputusnya reproduksi habitus kultural. Anak-anak tidak lagi tumbuh dalam lingkungan yang kaya metafora dan irama. Mereka tidak mendengar pantun dari orang tua atau kakek-nenek, tidak belajar menimbang kata dari pengalaman hidup. Yang tersisa hanyalah bentuk, tanpa kebiasaan yang menghidupinya.

 

Bourdieu (1977) juga berbicara tentang modal sosial—jaringan kepercayaan dan relasi yang menjadi sumber daya masyarakat. Pantun dahulu berfungsi sebagai modal sosial yang efektif. Ia mempererat hubungan, mencairkan suasana, dan menjaga harmoni komunitas. Ketika ruang komunal menyusut, jaringan itu ikut rapuh. Pantun kehilangan medan sosialnya, dan modal budaya pun berhenti bekerja.

 

Dalam kerangka Talcott Parsons (1951), suatu sistem sosial bertahan jika empat fungsi berjalan: adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan pola laten (AGIL). Tradisi pantun hari ini tampak gagal memenuhi keempatnya.

 

Dalam fungsi adaptasi, pantun belum sepenuhnya menemukan bentuk baru yang relevan di dunia digital. Dalam pencapaian tujuan, pendidikan belum menempatkannya sebagai sarana pembentukan karakter. Dalam integrasi, ruang sosial yang menopangnya terfragmentasi. Dan dalam pemeliharaan pola laten, pantun tidak lagi diulang dan diwariskan sebagai kebiasaan.

 

Dari Balas Pantun ke Balas Notifikasi

 

Peralihan dari balas pantun ke balas notifikasi menandai perubahan mendasar dalam cara kita berkomunikasi. Percakapan yang dulu penuh jeda dan pertimbangan kini dipercepat oleh notifikasi yang menuntut respons instan. Pantun, yang mengajarkan kehati-hatian dan kehalusan, kalah oleh budaya reaktif yang serba cepat.

 

Padahal, dunia digital tidak harus menjadi kuburan tradisi lisan. Ia justru bisa menjadi panggung baru. Pantun dapat hidup di ruang-ruang kreatif: kelas, komunitas, media sosial, hingga panggung open mic. Nilainya tetap sama—sopan, jenaka, mendidik—yang berubah hanyalah mediumnya.

 

Dalam bahasa Bourdieu (1977), pelestarian pantun menuntut penguatan kembali modal sosialnya: sanggar, komunitas, jejaring penutur. Di sini, negara dan institusi pendidikan dapat berperan sebagai linking capital—penghubung antara komunitas budaya dan struktur formal.

 

Pendidikan, karenanya, harus menjadi agen utama. Sekolah tidak cukup mengajarkan pantun sebagai materi, tetapi perlu menumbuhkannya sebagai praktik. Bayangkan bila pelajaran dibuka dengan pantun, guru menjawab dengan balasan. Ruang kelas akan berubah menjadi arena keindahan bahasa, tempat kesantunan dan kreativitas tumbuh bersamaan.

 

Pantun sejati memang punya aturan bentuk. Namun yang lebih penting adalah kebiasaan menuturkannya. Dari situlah lahir kecerdasan sosial—kemampuan menimbang kata, membaca situasi, dan menjaga rasa.

 

Tradisi bertahan bukan karena ia tua, melainkan karena ia berguna. Pantun hidup karena mampu menjembatani nilai moral dengan kehidupan nyata. Jika ia berhenti dipakai, ia berhenti hidup. Karena itu, melestarikan pantun bukan menyimpannya di arsip, melainkan menghidupkannya dalam suara.

 

Pantun adalah pendidikan batin. Ia mengajarkan jeda di tengah dunia yang serba tergesa. Jika habitus berpantun dapat ditanamkan kembali, kita mungkin melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga beradab—tahu kapan bicara, kapan diam, dan bagaimana berkata dengan hormat.

 

UNESCO boleh saja mengabadikan pantun dalam arsip dunia. Namun tanpa penutur, ia tetap mati. Tradisi tidak hidup di dokumen; ia hidup di manusia. Kita tidak kekurangan pantun, kita kekurangan penuturnya. Dan yang hilang bukan hanya bentuk, melainkan jiwa: kehalusan, kesantunan, dan keindahan berpikir.

 

Mungkin, bila suatu hari anak-anak kembali berbalas pantun—di halaman sekolah atau di layar ponsel—kita bisa berkata: tradisi ini belum sepenuhnya terpinggirkan. Sebab pantun bukan sekadar warisan, melainkan cermin cara kita berbicara dengan hati.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now