Iklan

Laut, Ingatan, dan Mereka yang Hilang

syamsul kurniawan
Saturday, October 31, 2026
Last Updated 2026-10-31T14:41:08Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates


 

 

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

PAGI ini, setelah mengantar putri dan putra saya, Nindy dan Hussein, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler basket di sekolah mereka masing-masing, saya melanjutkan perjalanan dengan Supra kesayangan yang berwarna abu-abu. Nindy di SD Bina Mulia, sementara Hussein di SD Tunas Bangsa. Cuaca sedikit gerimis. Tidak cukup deras untuk membuat pakaian basah, tetapi cukup untuk meninggalkan aroma jalanan yang lembap. Entah mengapa, perjalanan pagi itu terasa lebih panjang dari biasanya. Saya sedikit melamun di atas motor.

 

Banyak orang bertanya, mengapa saya lebih suka mengantar sendiri anak-anak ke sekolah. Bukankah setiap hari saya sudah menggaji seseorang untuk mengantar dan menjemput mereka? Sesekali, ketika orang yang biasa menjalankan tugas itu berhalangan, saya memang mengambil alih. Tetapi, sering kali, saya sengaja melakukannya meskipun tidak ada alasan yang mengharuskan saya turun tangan.

 

Jawaban sederhana yang biasanya saya berikan adalah macet. Padahal, bukan itu alasannya. Ada sesuatu yang lebih personal, bahkan mungkin sedikit sentimental. Saya mengingat masa ketika Nindy dan Hussein masih kecil, belum mengenal seragam sekolah, dan begitu senang dibonceng ayahnya naik motor. Mereka menikmati perjalanan, menunjuk sesuatu di pinggir jalan, sesekali bertanya tentang hal-hal yang tidak selalu bisa saya jawab. Saya kira, mengantar mereka hari ini adalah cara sederhana untuk memperpanjang kenangan itu. Anak-anak tumbuh, dan saya tidak ingin kehilangan seluruh kesempatan untuk menyaksikan pertumbuhan mereka.

 

Dari sekolah anak-anak, saya menuju SMA Negeri 1 Pontianak. Sebuah sekolah yang cukup dikenal sebagai salah satu sekolah favorit di kota ini. Ada undangan untuk memberikan pelatihan penulisan karya tulis ilmiah. Seusai kegiatan, saya melanjutkan perjalanan ke kampus, IAIN Pontianak, tempat saya bekerja dan mengajar mahasiswa program doktoral. Hari itu cukup padat. Dari satu ruang ke ruang lain, dari satu percakapan ke percakapan berikutnya, waktu seperti tidak menyediakan banyak jeda.

 

Di tengah kesibukan itu, telepon saya berdering. Nindy menelepon. Ia rupanya ingin menonton bioskop. Saya bertanya, film apa yang ingin ditonton. Saya menjawab sendiri bahwa sepertinya tidak ada film yang cukup menarik. Kecuali, tentu saja, jika ia dan Hussein bersedia menemani ayahnya menonton sebuah film berjudul Laut Bercerita.

 

Sejujurnya, saya belum tahu persis film seperti apa Laut Bercerita itu. Dari judulnya, saya membayangkan sebuah film petualangan tentang kehidupan laut, barangkali tentang perjalanan, ombak, atau kisah beberapa tokoh yang terdampar di suatu tempat. Apalagi, film ini diperankan sejumlah aktor dan aktris kenamaan. Tetapi dugaan saya keliru. Ini bukan film tentang petualangan di laut sebagaimana yang saya bayangkan. Ini adalah cerita tentang seorang mahasiswa, seorang jurnalis cum aktivis kampus, dan sebuah zaman ketika menyuarakan kebenaran bisa membuat seseorang kehilangan kebebasannya, bahkan nyawanya.


 

Ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya setelah mengetahui cerita film itu. Pagi tadi, saya mengantar dua anak saya ke sekolah. Saya tahu mereka akan pergi ke mana, dengan siapa mereka beraktivitas, dan kira-kira pukul berapa mereka akan kembali. Ada kepastian yang sering kali tidak kita sadari nilainya karena setiap hari kita menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan keluarga, dan rumah menjadi tempat yang selalu bisa dituju untuk pulang.

 

Tetapi, bagaimana jika suatu hari seorang anak pergi dan tidak pernah kembali? Bagaimana jika orang tuanya tidak mengetahui di mana ia berada, siapa yang membawanya, apakah ia masih hidup, atau apakah masih ada kemungkinan pintu rumah diketuk pada suatu malam? Bagaimana jika keluarga harus menjalani tahun demi tahun tanpa memperoleh jawaban atas pertanyaan yang paling sederhana: di mana anak kami?

 

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya pada ingatan tentang sebuah zaman. Sebuah zaman yang tidak saya alami sepenuhnya sebagai aktivis, tetapi sejarahnya pernah begitu dekat dengan kehidupan saya. Ketika saya masih mengenakan seragam putih abu-abu, negeri ini sedang berada dalam pergolakan politik yang besar. Mahasiswa bergerak, demonstrasi terjadi, dan kekuasaan Orde Baru mulai menghadapi gelombang perlawanan yang tidak lagi mudah dibendung. Ada anak-anak muda yang memilih tidak diam, meskipun mereka tahu bahwa keberanian itu bisa dibayar dengan sesuatu yang sangat mahal.

 


Tahun 2001, saya masuk IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebuah perguruan tinggi yang kemudian berubah menjadi UIN Sunan Kalijaga. Reformasi telah berlangsung. Saya memasuki dunia kampus ketika pintu kebebasan politik mulai terbuka. Namun, memasuki sebuah zaman setelah perubahan tidak berarti kita memahami seluruh harga yang telah dibayar untuk menghadirkannya. Ada cerita yang baru kita pahami setelah dewasa. Ada nama yang baru kita cari setelah bertahun-tahun berlalu. Dan ada kehilangan yang ternyata tidak pernah benar-benar selesai.

 

Di kampus, saya bukan mahasiswa yang hanya sibuk dengan buku-buku kuliah dan urusan akademik. Saya menjadi seorang jurnalis, atau kalau boleh menyebutnya dengan istilah yang agak romantis, seorang kuli tinta. Saya menulis, meliput, mengamati, dan berusaha merekam berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kampus. Saya juga cukup akrab dengan demonstrasi. Dalam bahasa yang lebih santai, saya termasuk mahasiswa yang doyan demo. Jalanan, mimbar bebas, diskusi, dan perdebatan politik adalah bagian dari pengalaman yang ikut membentuk cara saya melihat dunia.

 

Barangkali, masa itu mengajarkan sesuatu yang tidak selalu ditemukan dalam ruang kuliah: bahwa pengetahuan tidak seharusnya membuat seseorang semakin jauh dari kenyataan sosial. Bahwa menjadi mahasiswa bukan semata-mata urusan memperoleh indeks prestasi, menyelesaikan skripsi, lalu mendapatkan pekerjaan. Ada tanggung jawab moral untuk memperhatikan apa yang terjadi di luar pagar kampus. Ada suara-suara yang tidak terdengar, ada ketidakadilan yang sengaja disembunyikan, dan ada kelompok masyarakat yang membutuhkan orang-orang yang bersedia berdiri bersama mereka.

 

Saya kira, sebagian dari idealisme itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia terbawa hingga saya menjadi dosen. Sesekali, mungkin terlalu sering, saya masih merasa perlu mempertanyakan sesuatu yang dianggap biasa oleh orang lain. Saya masih merasa tidak nyaman ketika kampus terlalu sibuk mengurus dirinya sendiri, ketika pendidikan direduksi menjadi urusan administratif, atau ketika ilmu pengetahuan kehilangan keberaniannya untuk berhadapan dengan persoalan masyarakat. Barangkali, bagi sebagian orang, sikap semacam ini adalah kekurangan. Terlalu idealis, kurang pragmatis, atau tidak cukup pandai menyesuaikan diri dengan keadaan. Tidak apa-apa. Saya bisa menerima penilaian itu.

 

Toh, saya tidak sedang mengatakan bahwa idealisme membuat seseorang lebih suci daripada orang lain. Saya juga tidak sedang menganggap bahwa mereka yang memilih jalan berbeda telah kehilangan keberpihakan. Tetapi, saya kira, ada kepuasan tersendiri ketika seseorang masih bisa mengajar dengan keyakinan bahwa pendidikan bukan sekadar pekerjaan, dan menjadi dosen bukan hanya perkara menerima gaji setiap bulan. Idealisme memang tidak membuat saya kaya. Setidaknya, tidak dalam pengertian kekayaan yang lazim diukur dengan angka-angka. Tetapi ada kepuasan yang sulit ditukar dengan sesuatu yang lain ketika saya masih bisa mengatakan apa yang saya anggap benar, mengajak mahasiswa berpikir kritis, dan sesekali mengambil posisi ketika ketidakadilan berlangsung di hadapan mata.

 

Mungkin inilah salah satu warisan paling berharga dari masa mahasiswa: kebiasaan untuk tidak terlalu cepat berdamai dengan keadaan. Sebab, ketika seseorang terlalu mudah menerima segala sesuatu sebagai kewajaran, ia berisiko kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang memang wajar dan mana yang sengaja dibuat tampak wajar. Saya tidak tahu apakah sikap itu akan selalu menguntungkan. Tetapi, setidaknya, saya tidak ingin menjadi dosen yang mengajarkan keberanian berpikir kritis di ruang kelas, sementara di luar kelas justru memilih diam ketika keberanian itu dibutuhkan.

 

Mungkin itupulalah yang membuat Laut Bercerita terasa lebih dekat daripada yang semula saya bayangkan. Saya datang ke bioskop karena ingin menonton sebuah film bersama anak-anak. Tetapi film itu justru mengajak saya berhadapan dengan sejarah, dengan generasi yang lebih dahulu memperjuangkan kebebasan, dan terutama dengan keluarga-keluarga yang sampai hari ini masih menunggu seseorang yang tidak pernah pulang.

 

Film yang disutradarai Yosep Anggi Noen dan diadaptasi dari novel Leila S. Chudori ini membawa kita ke penghujung 1990-an, ketika sekelompok mahasiswa dan aktivis berusaha membangun ruang kebebasan di tengah kekuasaan yang menghendaki keseragaman. Biru Laut Wibisono, diperankan Reza Rahadian, bukan sekadar tokoh dalam sebuah cerita. Ia mewakili generasi muda yang percaya bahwa negara seharusnya dapat dikritik, bahwa ketidakadilan harus disuarakan, dan bahwa keberpihakan kepada mereka yang tertindas bukanlah kejahatan.

 

Dalam film itu, kelompok Winatra menjadi ruang tempat gagasan-gagasan bertemu. Mereka membaca, berdiskusi, menyusun pikiran, mendampingi petani, menyebarkan buku-buku yang dilarang, dan membangun kesadaran bahwa persoalan rakyat bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan menyerahkan nasib kepada penguasa. Ada Kasih Kinanti, Daniel Tumbuan, Alex Perazon, Sunu Dyantoro, Nagra, dan sejumlah anak muda lain yang percaya bahwa perubahan membutuhkan keberanian untuk keluar dari kenyamanan.

 

Barangkali, bagi sebagian orang sekarang, kegiatan semacam itu tampak biasa. Diskusi buku, membicarakan politik, menyusun pernyataan sikap, mendampingi masyarakat, atau mengorganisasi gerakan mahasiswa adalah aktivitas yang bisa dilakukan hampir setiap hari. Tetapi, kita harus mengingat bahwa pada masa itu, ruang-ruang semacam ini tidak selalu aman. Sebuah buku bisa dianggap berbahaya. Sebuah pertemuan bisa dicurigai. Sebuah percakapan dapat menjadi alasan seseorang diawasi. Bahkan, sebuah pikiran bisa membuat pemiliknya dianggap sebagai ancaman.

 

Di sinilah saya kira kekuatan film ini. Ia tidak hanya memperlihatkan kekerasan negara terhadap aktivis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah rezim bekerja dengan cara mengatur ruang kehidupan masyarakat. Kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk senjata, seragam, atau orang-orang yang datang membawa paksa seseorang pada tengah malam. Ia juga hadir dalam bentuk larangan, pengawasan, ketakutan, pembatasan informasi, dan penciptaan batas-batas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dibicarakan.

 


Bila kita membaca pengalaman para aktivis itu melalui pemikiran Henri Lefebvre dalam The Production of Space (1991), kita akan menemukan sesuatu yang menarik. Lefebvre mengingatkan bahwa ruang bukanlah wadah kosong tempat manusia sekadar menjalani kehidupannya. Ruang diproduksi oleh hubungan sosial, sejarah, kepentingan ekonomi, dan relasi kekuasaan. Dengan kata lain, ruang selalu mengandung politik. Ia tidak pernah benar-benar netral.

 

Bagi para aktivis dalam Laut Bercerita, kampus, rumah kontrakan, ruang diskusi, jalanan, desa tempat petani berjuang, hingga tempat persembunyian bukan sekadar lokasi geografis. Semuanya adalah ruang yang memiliki makna politik. Kampus, misalnya, bukan hanya tempat mahasiswa memperoleh gelar akademik. Ia bisa menjadi tempat tumbuhnya kesadaran kritis, tempat orang-orang muda belajar mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai kebenaran tunggal.

 

Ruang diskusi menjadi penting karena di sanalah pengetahuan dipertukarkan. Buku-buku yang dilarang menjadi penting karena di dalamnya tersimpan kemungkinan untuk membayangkan dunia yang berbeda. Sementara jalanan menjadi penting karena di sanalah gagasan yang semula hanya beredar dalam percakapan berubah menjadi tuntutan publik. Ruang-ruang tersebut diproduksi melalui praktik kehidupan sehari-hari, tetapi juga diperebutkan oleh kekuasaan.

 

Lefebvre (1991) menyebut salah satu dimensi itu sebagai spatial practice, yakni praktik spasial yang berkaitan dengan bagaimana manusia menggunakan dan menjalani ruang dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks film ini, kita melihat bagaimana aktivitas membaca, berdiskusi, berkumpul, mengorganisasi gerakan, dan mendampingi masyarakat membentuk praktik spasial perlawanan. Aktivisme bukan semata-mata gagasan yang bersemayam di kepala. Ia membutuhkan tempat, perjumpaan, mobilitas, dan keberanian untuk hadir secara fisik di tengah masyarakat.

 

Namun, negara juga memiliki cara sendiri dalam memproduksi ruang. Inilah yang dalam pemikiran Lefebvre disebut representations of space, atau ruang yang dikonsepsikan oleh mereka yang memiliki otoritas untuk mengatur, merancang, dan menentukan bagaimana ruang harus digunakan. Dalam sebuah rezim otoriter, ruang publik dapat dikonstruksi sedemikian rupa agar hanya mengakomodasi kepentingan kekuasaan. Kampus diharapkan menjadi tempat belajar tanpa banyak bertanya. Jalanan diharapkan menjadi jalur lalu lintas, bukan tempat menyampaikan protes. Masyarakat diharapkan menjadi warga negara yang patuh, bukan warga negara yang kritis.

 

Ketika aktivis membangun ruang diskusi, menyebarkan buku terlarang, atau mengorganisasi gerakan petani, mereka sesungguhnya sedang menantang konstruksi ruang yang dibuat oleh kekuasaan. Mereka menghadirkan kemungkinan lain tentang bagaimana ruang publik seharusnya digunakan. Mereka menolak anggapan bahwa politik hanya milik mereka yang duduk di kursi pemerintahan. Politik juga milik petani yang tanahnya dirampas, mahasiswa yang menolak ketidakadilan, dan warga biasa yang ingin kehidupannya dihargai.

 

Tetapi, ada satu dimensi lain yang tidak kalah penting, yaitu spaces of representation, ruang yang dihayati manusia melalui pengalaman, simbol, ingatan, dan makna. Ruang ini tidak selalu bisa dibaca melalui peta atau dokumen resmi. Ia hidup dalam pengalaman orang-orang yang menggunakannya. Sebuah rumah kontrakan, misalnya, mungkin hanya terlihat sebagai bangunan sederhana bagi orang yang melintas. Tetapi bagi para aktivis, rumah itu bisa menjadi tempat menyusun strategi, menyimpan buku, membangun persahabatan, dan merawat harapan. Sebuah ruang yang sederhana dapat memiliki arti yang jauh lebih besar daripada bangunan-bangunan megah yang berdiri atas nama kekuasaan.

 

Saya membayangkan, bagi para aktivis pada masa itu, setiap ruang memiliki dua kemungkinan. Ia dapat menjadi tempat tumbuhnya kebebasan, tetapi sekaligus menjadi tempat yang mengancam keselamatan. Tempat berkumpul bisa menjadi tempat pengawasan. Rumah yang semula memberikan perlindungan dapat berubah menjadi lokasi penyergapan. Jalan yang biasa dilewati dapat menjadi jalan terakhir sebelum seseorang menghilang. Di sinilah ruang tidak lagi sekadar persoalan fisik. Ia menjadi pengalaman yang dibentuk oleh rasa aman dan rasa takut. Dan mungkin, di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

 

Ketidaktahuan dan Ketidakpastian yang Membunuh

 

Bagian paling menyakitkan dari Laut Bercerita bukan hanya ketika kita menyaksikan bagaimana Biru Laut dan kawan-kawannya mengalami penyiksaan. Bukan pula semata-mata ketika mereka dibawa ke sebuah tempat rahasia, dipukul, digantung, dan disetrum untuk dipaksa memberikan informasi. Kekerasan itu tentu saja mengerikan. Tetapi ada jenis kekerasan lain yang justru berlangsung jauh lebih panjang: ketidakpastian.

 

Bayangkan sebuah keluarga yang tidak mengetahui di mana anaknya berada. Mereka tidak tahu apakah anak itu masih hidup, apakah sedang disiksa, apakah akan pulang, atau apakah tubuhnya telah dibuang ke suatu tempat yang tidak pernah mereka ketahui. Tidak ada kepastian untuk berduka, tetapi juga tidak ada alasan untuk berhenti berharap. Waktu berjalan, tetapi kehidupan mereka seperti tertahan di sebuah pintu yang tidak pernah benar-benar terbuka.

 


Di sinilah film ini membawa kita memasuki ruang yang berbeda. Jika pada bagian pertama kita menyaksikan ruang perjuangan para aktivis, pada bagian berikutnya kita diajak memasuki ruang penantian keluarga yang ditinggalkan. Keluarga Biru Laut, terutama orang tua dan adiknya, Asmara Jati, harus menjalani kehidupan dengan satu pertanyaan yang tidak pernah selesai: di mana Laut?

 

Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan penderitaan yang tidak sederhana. Orang tua bisa kehilangan anak, tetapi tidak pernah benar-benar memperoleh kesempatan untuk menguburkan kehilangan itu. Kekasih kehilangan seseorang yang dicintainya, tetapi tidak memiliki kepastian apakah hubungan itu telah berakhir. Seorang adik kehilangan kakaknya, tetapi tidak pernah memperoleh jawaban yang dapat menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi.

 

Ketidaktahuan dalam keadaan seperti ini bukanlah sekadar kekurangan informasi. Ia merupakan bentuk penderitaan yang dipaksakan kepada orang lain. Ketika negara tidak memberikan penjelasan tentang orang-orang yang diculik dan dihilangkan, keluarga korban dipaksa hidup di antara kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah selesai. Mereka tidak diberi kebenaran, tidak diberi keadilan, bahkan tidak diberi kepastian untuk mengakhiri penantian.

 

Saya kira, inilah salah satu pesan terpenting film ini. Kekerasan politik tidak berhenti ketika seseorang dibawa secara paksa. Ia dapat terus berlangsung melalui kesunyian, pengingkaran, dan penolakan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tubuh seseorang mungkin telah lama menghilang, tetapi kekerasan terhadap keluarganya terus diperpanjang oleh ketidakpastian.

 

Melalui Asmara Jati, Ratih Anjani, dan keluarga korban lainnya, kita melihat bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung di jalanan. Ada perjuangan yang berlangsung di ruang keluarga, di meja makan, di hadapan foto seseorang yang tidak pernah kembali. Ada perjuangan yang dilakukan dengan mengumpulkan kesaksian, menyimpan dokumen, mendatangi lembaga negara, dan terus menanyakan nasib orang-orang yang hilang. Mereka mungkin tidak lagi membawa spanduk besar atau berhadapan langsung dengan aparat, tetapi sesungguhnya mereka sedang melakukan perlawanan yang sama pentingnya: menolak membiarkan ingatan dikuburkan bersama orang-orang yang dihilangkan.

 

Ruang keluarga dalam cerita ini pun berubah makna. Ia bukan lagi sekadar tempat untuk pulang, makan bersama, atau berbagi cerita. Ia menjadi ruang penantian. Setiap telepon yang berdering mungkin membawa kabar. Setiap suara kendaraan yang berhenti di depan rumah mungkin menghadirkan harapan. Bahkan makanan kesukaan seorang anak yang tidak kunjung pulang dapat berubah menjadi pengingat tentang seseorang yang keberadaannya tidak pernah dipastikan. Kasih sayang, dalam situasi seperti itu, tidak lagi hanya berwujud kehangatan. Ia juga menjadi kesetiaan untuk terus mengingat.

 

Ketika kita membaca pengalaman tersebut melalui Lefebvre (1991), kita dapat memahami bahwa ruang tidak hanya diproduksi oleh kekuasaan, tetapi juga terus dihidupkan melalui pengalaman dan perlawanan masyarakat. Negara mungkin dapat menguasai gedung, jalan, kantor, dan institusi. Tetapi ia tidak sepenuhnya dapat menguasai ingatan orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya. Ingatan menjadi ruang perlawanan yang tidak mudah ditertibkan. Selama keluarga masih bertanya, selama kesaksian masih disampaikan, dan selama nama-nama orang yang hilang masih disebut, ruang perlawanan itu tetap hidup.

 

Di sinilah saya melihat relevansi film ini dengan kehidupan demokrasi kita hari ini. Reformasi telah berlangsung lebih dari dua dekade. Kita memiliki kebebasan pers, pemilihan umum, partai politik, perguruan tinggi yang relatif lebih terbuka, dan ruang digital yang memungkinkan siapa pun menyampaikan pendapat. Namun, apakah semua itu otomatis menjadikan kita masyarakat yang bebas? Apakah kebebasan hanya berarti kita boleh berbicara, sementara persoalan tentang siapa yang didengar, siapa yang dibungkam, dan siapa yang harus mempertanggungjawabkan kekuasaan masih belum selesai?

 

Jangan-jangan, kita terlalu cepat menganggap bahwa perubahan rezim telah menyelesaikan seluruh persoalan. Padahal, demokrasi bukan sekadar pergantian pemerintahan atau penyelenggaraan pemilihan umum secara berkala. Demokrasi juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat memiliki hak untuk menggunakan ruang publik, menyampaikan keberatan, mengorganisasi diri, dan ikut menentukan arah kehidupan bersama. Dalam bahasa Lefebvre, ini berdekatan dengan gagasan right to the city, hak warga untuk turut membentuk ruang kehidupannya, bukan sekadar menjadi penghuni yang harus menerima segala sesuatu yang telah ditentukan oleh pihak lain.

 

Tentu, gagasan tersebut tidak hanya relevan untuk kota dalam pengertian geografis. Ia juga dapat membantu kita memahami hak masyarakat atas ruang-ruang sosial dan politik. Mahasiswa berhak menjadikan kampus sebagai tempat berpikir kritis. Petani berhak menyampaikan keberatan ketika tanah dan kehidupannya terancam. Warga berhak menggunakan jalanan untuk menyuarakan tuntutan secara damai. Keluarga korban berhak mendapatkan informasi tentang nasib orang-orang yang dihilangkan. Semua itu merupakan bagian dari hak warga negara untuk hadir secara bermakna dalam kehidupan publik.

 

Ada satu hal yang membuat saya semakin memikirkan film ini. Saya masuk IAIN Sunan Kalijaga pada 2001, ketika Reformasi sudah menjadi kenyataan politik, tetapi ingatan tentang kekerasan Orde Baru masih sangat dekat. Kami mungkin tidak mengalami seluruh ketakutan yang dialami para aktivis dalam film itu. Kami tidak hidup dalam situasi yang persis sama. Namun, kami mewarisi sebuah ruang akademik yang sebagian kebebasannya diperoleh melalui pengorbanan generasi sebelum kami. Karena itu, kebebasan yang kami nikmati seharusnya tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang datang dengan sendirinya.

 

Kini, saya mengajar mahasiswa, bahkan di ruang pendidikan doktoral. Saya bertemu generasi yang lahir ketika Reformasi sudah menjadi bagian dari sejarah. Bagi sebagian dari mereka, penculikan aktivis mungkin hanya sebuah bab dalam buku sejarah, sebuah peristiwa yang muncul dalam soal ujian atau bahan diskusi. Mereka mungkin mengenal nama-nama korban, tetapi belum tentu memahami bahwa di balik setiap nama terdapat seseorang yang pernah memiliki keluarga, cita-cita, kegemaran, kekasih, dan masa depan yang ingin dijalaninya.

 

Mungkin karena itulah saya ingin Nindy dan Hussein menemani saya menonton film ini. Bukan karena saya ingin membebani mereka dengan sejarah yang belum tentu mereka pahami sepenuhnya. Saya hanya ingin suatu saat mereka mengerti bahwa kebebasan yang mereka nikmati hari ini memiliki sejarah. Bahwa hak untuk bertanya, berbeda pendapat, membaca buku, dan menyampaikan pikiran bukanlah hadiah yang turun dari langit. Ada orang-orang yang pernah mempertaruhkan hidupnya agar ruang kebebasan itu tidak sepenuhnya dirampas.

 

Pada akhirnya, Laut Bercerita mengingatkan saya bahwa sejarah tidak selalu selesai ketika sebuah rezim tumbang. Ada sejarah yang terus hidup dalam penantian keluarga, dalam kesaksian yang belum memperoleh keadilan, dan dalam pertanyaan yang belum dijawab. Laut mungkin merupakan tokoh fiktif, tetapi pengalaman orang-orang yang diculik dan dihilangkan pada masa itu bukanlah fiksi. Mereka adalah bagian dari kenyataan sejarah yang menuntut kita untuk tidak berpura-pura lupa.

 

Saya kembali teringat perjalanan pagi tadi. Supra abu-abu, gerimis yang tidak sampai membasahi, dua anak yang masih senang dibonceng ayahnya, dan percakapan sederhana tentang sekolah. Betapa biasa kehidupan itu. Betapa berharganya kesempatan untuk mengetahui bahwa anak-anak kita sedang berada di mana, dengan siapa mereka, dan kapan mereka akan pulang. Kita sering menganggap kepastian semacam itu sebagai sesuatu yang lumrah, sampai sebuah film mengingatkan bahwa ada keluarga yang bahkan tidak memperoleh hak sesederhana itu.

 

Barangkali, itulah alasan mengapa laut dalam cerita ini tidak pernah benar-benar selesai bercerita. Sebab, yang hilang bukan hanya seseorang, melainkan juga kepastian yang seharusnya menjadi hak setiap manusia. Dan selama pertanyaan tentang mereka yang dihilangkan belum memperoleh jawaban, selama keluarga masih harus menunggu tanpa kepastian, sejarah belum selesai menuntut pertanggungjawaban.

 

Sebab, pada akhirnya, yang membunuh seseorang mungkin adalah kekerasan yang dilakukan terhadap tubuhnya. Tetapi yang terus membunuh keluarga dan ingatan sebuah bangsa adalah ketidaktahuan yang sengaja dipelihara dan ketidakpastian yang tidak pernah diselesaikan. Demokrasi seharusnya tidak membiarkan keduanya menjadi warisan.***

 

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now