Oleh: Syamsul Kurniawan
ADA satu masa dalam hidup ketika seseorang merasa langkahnya
terus maju, tetapi dirinya tertinggal jauh di belakang. Kesibukan, tuntutan,
dan perubahan yang serba cepat membuat seseorang berjalan tanpa lagi menoleh.
Dalam kondisi seperti itu, ruang sunyi bernama me time menjadi tempat
pulang yang tak pernah benar-benar disadari kebutuhannya.
Rutinitas yang menuntut disiplin sering kali membuat
seseorang kehilangan kemampuan sederhana: mendengarkan dirinya sendiri. Setiap
hari menjadi daftar panjang hal-hal yang harus diselesaikan, bukan hal-hal yang
harus dipahami. Lama-lama, kebosanan muncul bukan karena pekerjaan itu
membosankan, tetapi karena diri kehilangan percakapan dengan dirinya.
Kebosanan seperti itu merayap halus. Ia tidak meledak,
tetapi mengikis. Ia bukan gejolak, melainkan kabut yang membuat dunia tampak
datar dan hidup terasa tak bernyawa. Di tengah kabut itu, seseorang mulai
bertanya dalam diam: “Apa sebenarnya yang sedang saya jalani?”
Dunia bergerak cepat, dan perubahan kadang datang seperti
tamu tak diundang. Seseorang harus mempelajari kebiasaan baru, cara kerja baru,
pola hidup baru. Semua tampak menjanjikan, modern, dan seakan menjadi bukti
bahwa ia masih relevan. Tapi jauh di dalam diri, ada pertanyaan yang jarang
terjawab: apakah perubahan ini benar-benar milik saya?
Sering kali, kebiasaan baru justru menciptakan jarak antara
seseorang dan identitas lamanya. Banyak yang merasa dirinya berubah, tetapi
bukan menjadi lebih baik—melainkan hanya semakin jauh dari siapa dirinya dulu.
Ia mulai ragu, apakah ia masih dirinya, atau hanya sekadar mengikuti arus agar
tidak tampak ketinggalan.
Ketika jarak itu membesar, insecure muncul. Rasa tidak
cukup, tidak mampu, atau tidak layak menjadi lebih sering mengunjungi pikiran.
Semua terjadi bukan karena ia kurang berkompeten, tetapi karena ia kehilangan
pusatnya sendiri.
Me time hadir sebagai ruang untuk kembali menemukan
apa yang hilang. Ia bukan sekadar waktu istirahat, melainkan momen untuk
melihat diri dengan jujur: siapa saya sekarang, apa yang berubah, dan bagian
mana yang perlu dipulihkan.
Dalam jeda itu, seseorang bisa berhenti berpura-pura kuat.
Ia bisa menanggalkan peran-peran, topeng sosial, dan citra diri yang
melelahkan. Ia bisa kembali menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar fungsi
dalam struktur yang menuntut performa tanpa akhir.
Banyak orang lihai mengatur pekerjaan, tim, bahkan
uang—namun gagal mengatur dirinya sendiri. Padahal, kemampuan managing
yourself adalah fondasi dari semua bentuk kepemimpinan. Tanpa itu,
seseorang hanya bergerak berdasarkan reaksi, bukan keputusan.
Me time memberi jarak yang dibutuhkan untuk menilai kembali
hidup. Jarak ini membuat seseorang dapat melihat pola-pola yang sebelumnya tak
terlihat: apa yang menguras energi, apa yang memberi tenaga, dan apa yang
sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Ketika seseorang mampu mengatur dirinya, ia lebih jernih
melihat posisinya dalam tim dan lingkaran sosial. Ia tahu perannya bukan
sekadar “melengkapi” kelompok, melainkan menyumbangkan energi dan kualitas
tertentu yang membentuk dinamika bersama.
Banyak konflik internal dalam tim sebenarnya lahir dari
individu yang belum selesai dengan dirinya. Me time mengurangi potensi
kekacauan seperti itu dengan mengembalikan keseimbangan pribadi.
Pada titik tertentu, seseorang butuh bertanya: sejauh apa
saya berjalan, dan apakah arah ini masih masuk akal? Pertanyaan seperti ini
hanya muncul ketika kepala tidak penuh oleh distraksi dan hati cukup tenang
untuk berani jujur.
Apa Manfaatnya?
Me time memberi kesempatan untuk mengurai beban pikiran yang
menumpuk. Ketika otak diberi jeda, ia kembali bekerja dengan lebih akurat.
Banyak keputusan buruk terjadi bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi
karena kepala penuh tanpa ruang kosong.
Me time memulihkan stamina mental yang hilang akibat
tuntutan yang bertubi-tubi. Tanpa pemulihan, seseorang akan mudah marah, mudah
tersinggung, dan mudah merasa kelelahan meski tidak melakukan banyak hal. Ruang
sunyi bekerja seperti charger yang memperlambat kerusakan dalam jangka panjang.
Me time juga menata ulang identitas. Seseorang bisa melihat
apakah kebiasaannya selama ini terbentuk karena pilihan sadar atau hanya hasil
mengikuti tren. Ini penting agar ia tidak hidup sebagai orang lain, tetapi
sebagai dirinya sendiri.
Dan tentu, manfaat jangka panjangnya adalah kapasitas
memimpin—setidaknya memimpin dirinya, sebelum mempengaruhi orang lain. Pemimpin
yang mampu membaca dirinya jauh lebih stabil dibanding pemimpin yang hanya
sibuk membaca keadaan luar.
Melanjutkan ke refleksi mendalam
Setelah memahami manfaatnya, seseorang baru bisa masuk ke
tahap berikutnya: refleksi mendalam. Refleksi bukan melamun, melainkan menata
ulang hidup dengan kejujuran radikal. Ini fase untuk bertanya: apa yang saya
cari, sebenarnya? Keamanan? Pengakuan? Kedamaian? Atau hanya ingin merasa hidup
kembali?
Pertanyaan seperti itu hanya muncul dalam kesunyian. Di luar
kesunyian, seseorang terlalu sibuk menjawab pertanyaan orang lain. Di dalam
kesunyian, ia akhirnya bertemu pertanyaan yang seharusnya dijawab sejak lama.
Kedewasaan tidak diukur dari usia, tetapi dari sejauh apa
seseorang mengenali dirinya sendiri. Banyak yang bertambah umur tanpa pernah
benar-benar tumbuh. Me time memaksa seseorang untuk jujur melihat
kedewasaannya.
Melihat ke belakang bukan tanda kelemahan; justru itulah
cara membangun pijakan untuk melangkah lebih kuat. Dalam refleksi usia,
seseorang dapat memahami pola keputusan, luka, keberhasilan, dan hal-hal yang
membentuk dirinya hari ini.
Pada saat itulah gagasan Atomic Habits dari James
Clear menjadi relevan. Hidup tidak berubah karena langkah besar, melainkan
karena perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus. Me time memberi ruang
untuk melihat kebiasaan mana yang perlu diperbaiki dan mana yang perlu
dipertahankan.
Clear (2018) mengajarkan bahwa perubahan 1% setiap hari
membentuk hasil luar biasa dalam jangka panjang. Me time adalah momen untuk
menemukan 1% itu—sedikit, tetapi menentukan. Momen inilah yang mengubah arah.
Fokus pada sistem, bukan tujuan, juga menemukan konteksnya
di sini. Banyak orang mengejar target besar tetapi tidak pernah menata sistem
yang mendukungnya. Me time membantu seseorang mengevaluasi sistem hidupnya
dengan jernih.
Dari sana, identitas baru mulai terbentuk. Identitas yang
tidak dipaksakan oleh lingkungan, tetapi tumbuh dari kebiasaan kecil yang
dilakukan secara konsisten. Identitas yang mengakar, bukan yang hanya
ditampilkan.
Seseorang juga bisa memanfaatkan empat hukum perilaku untuk
membangun kebiasaan baik: membuatnya terlihat, menarik, mudah, dan memuaskan.
Me time menjadi ruang eksperimen yang ideal untuk memulai perubahan kecil ini.
Untuk kebiasaan buruk, keempat hukum itu bisa dibalik. Me
time memberi jarak dari impuls reaktif sehingga seseorang bisa lebih sadar
kapan ia melakukan kebiasaan buruk, kapan ia harus berhenti, dan bagaimana
mencegahnya.
Proses ini kemudian memperkuat kemampuan kepemimpinan diri.
Seseorang yang mampu membaca dirinya tidak mudah terbawa situasi dan tidak
rentan manipulasi sosial. Ia berjalan dengan keyakinan yang tidak tergesa-gesa.
Pada akhirnya, me time menjadi ruang pulang. Tempat
seseorang kembali merapikan benang kusut dalam dirinya, sebelum benang itu
menjadi simpul yang menyakiti banyak hal di sekelilingnya. Ruang sunyi ini
bukan pelarian, tetapi strategi untuk hidup lebih sehat dan lebih dewasa.
Dalam kesunyian itu, seseorang akhirnya menemukan dirinya
yang tertinggal. Ia memanggilnya kembali, merangkulnya, dan berjalan bersama
lagi. Dan mungkin, dari situlah hidup kembali menemukan bentuk yang utuh—bukan
karena sempurna, tetapi karena hadir sepenuhnya.***


