Oleh: Syamsul Kurniawan
Kita hidup di zaman ketika bicara
menjadi aktivitas paling murah. Ia tak lagi menuntut kesiapan batin, apalagi
kedalaman pikir. Jari bergerak lebih cepat daripada kesadaran, dan kata-kata
meluncur tanpa sempat diuji.
Di layar ponsel, jutaan suara
bersahutan setiap detik. Semua ingin terdengar, sedikit yang sungguh ingin
memahami. Yang tercipta bukan dialog, melainkan gema—pantulan dari ruang kosong
yang saling beradu.
Ruang publik digital pada mulanya
dibayangkan sebagai medan rasional. Tempat gagasan diuji, pendapat
disandingkan, dan kebenaran dicari secara kolektif. Namun yang kini tampak
justru kebisingan yang kehilangan orientasi.
Dalam situasi seperti itu,
literasi kritis menjadi taruhan. Ia bukan sekadar kemampuan membaca atau
mengakses informasi. Ia adalah keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya:
apa makna dari semua ini?
Jürgen Habermas (1991)
membayangkan ruang publik sebagai wilayah dialog berbasis nalar. Warga
berdiskusi bukan dengan amarah, melainkan dengan argumen. Namun idealisme itu
mulai retak ketika ruang publik dikuasai oleh mekanisme yang tak netral.
Algoritma tidak bekerja dengan
logika kebenaran. Ia bekerja dengan logika perhatian dan keterlibatan.
Akibatnya, yang cepat mengalahkan yang tepat, dan yang sensasional
menyingkirkan yang rasional.
Dalam dunia digital, nalar sering
kalah cepat dari keinginan. Gambar lebih berpengaruh daripada argumen. Kalimat
pendek lebih disukai ketimbang penjelasan yang memerlukan kesabaran.
Jean Baudrillard (1994) menyebut
kondisi ini sebagai zaman simulacra. Tanda lebih dipercaya daripada makna.
Representasi dianggap lebih nyata daripada realitas itu sendiri.
Dalam simulacra, kebenaran
menjadi tiruan yang terus direproduksi. Realitas tampil sebagai sandiwara yang
meyakinkan. Kita tak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar, melainkan apakah
ia terlihat meyakinkan.
Paradoks pun lahir di tengah
masyarakat digital. Banyak yang melek teknologi, tetapi belum tentu melek
literasi. Mengetik cepat tidak identik dengan berpikir matang.
Mengutip banyak sumber sering
disalahartikan sebagai memahami secara mendalam. Padahal kutipan tanpa refleksi
hanyalah penumpukan tanda. Ia tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.
Literasi digital sejatinya bukan
soal kecakapan teknis. Ia adalah kemampuan berpikir kritis, menimbang nilai,
dan menyadari konsekuensi. Tanpa kesadaran etis, literasi berubah menjadi
sekadar kepiawaian kosong.
Yang sering terjadi justru banjir
informasi tanpa kejernihan refleksi. Netizen mudah bereaksi, tetapi enggan
merenung. Emosi mendahului pemahaman, dan komentar mendahului nalar.
Media sosial menjanjikan
demokratisasi suara. Setiap orang bisa berbicara, kapan saja, tentang apa saja.
Namun kebebasan itu kerap melahirkan banalitas: suara ramai tanpa tanggung
jawab.
Karena itu, “saring sebelum
bicara” bukan sekadar slogan etika digital. Ia adalah ajakan untuk kembali
berpikir sebelum menambah kebisingan. Sebab satu kalimat di ruang maya dapat
mengubah persepsi publik secara luas.
Kita lama mengagumi pencapaian
Barat dalam sains dan teknologi. Keunggulan kognitif dijadikan tolok ukur
kemajuan. Namun jarang kita bertanya apa yang tertinggal di balik pencapaian
itu.
Model pencapaian modern lebih
menekankan penguasaan pengetahuan. Ia melahirkan manusia cerdas, tetapi belum
tentu manusia arif. Kepintaran tidak otomatis beriringan dengan kebijaksanaan.
Islam sejak awal menawarkan
konsep pencapaian yang holistik. Akal, moral, dan jiwa dipandang sebagai satu
kesatuan. Ibnu Khaldun, Al-Ghazali, dan Ibn Sina memaknai kemajuan sebagai
proses memanusiakan manusia.
Seberapa Pantas?
Dalam konteks digital hari ini,
pertanyaan “seberapa pantas?” menjadi penting. Bukan semua yang bisa dikatakan
perlu dikatakan. Bukan semua yang viral layak dibenarkan.
Abraham Maslow (1943) berbicara
tentang aktualisasi diri sebagai puncak kebutuhan manusia. Namun di atas
aktualisasi, ada lapisan yang lebih sunyi: kesadaran spiritual. Dalam Islam,
kesempurnaan manusia justru terletak pada pengenalan terhadap Tuhannya.
Pencapaian holistik ingin
menuntun manusia sampai ke sana. Ia menghubungkan kecerdasan intelektual dengan
kedalaman spiritual. Tanpa orientasi ini, manusia mudah tersesat oleh ilusi
digital.
Kehilangan orientasi spiritual
berarti kehilangan kompas moral. Maka lahirlah komentar tanpa empati dan
tuduhan tanpa dasar. Perdebatan berlangsung tanpa tujuan selain melampiaskan
ego.
Dalam kerangka Baudrillard
(1994), manusia digital hidup dalam hiperrealitas. Dalam kerangka Habermas
(1991), dialog berubah menjadi monolog kolektif. Semua bicara, tetapi nyaris
tak ada yang mendengar.
Karena itu, pencapaian netizen
seharusnya tidak diukur dari visibilitas. Ia mesti diukur dari kesadaran dan
tanggung jawab. Setiap kata di layar adalah cerminan diri.
Habermas (1991) memimpikan ruang
publik bebas dari dominasi kekuasaan. Kini ruang itu dikuasai algoritma,
korporasi, dan ilusi popularitas. Rasionalitas publik digantikan oleh logika
keterlibatan.
Dalam dunia semacam ini, literasi
kritis menjadi tameng terakhir. Ia mengajarkan untuk menunda reaksi dan
memeriksa makna. Ia melatih keberanian untuk tidak segera percaya.
Like, share, dan comment sering
disalahpahami sebagai partisipasi. Padahal keterlibatan publik yang sejati
menuntut pemahaman. Kebisingan bukanlah tanda kepedulian.
Kesadaran holistik menjaga
manusia agar tidak tercerabut dari nilai. Ia menuntun tindakan digital agar
tetap berpijak pada akal sehat dan hati nurani. Spiritualitas di sini bukan
simbol, melainkan orientasi hidup.
Teknologi memang mempermudah
hidup. Namun ia juga memperumit jiwa. Nomophobia menjadi gejala bahwa kendali
mulai berpindah dari manusia ke layar.
Kita hidup dalam budaya
notifikasi yang terus-menerus. Perhatian manusia diperdagangkan. Waktu hening
menjadi sesuatu yang langka.
Krisis yang muncul bukan hanya
disinformasi. Ia adalah disorientasi makna. Manusia tahu banyak hal, tetapi tak
tahu untuk apa.
Karena itu, literasi digital
harus melahirkan kebijaksanaan. Bukan sekadar kecakapan berdebat. Kebijaksanaan
berarti kemampuan menahan diri.
Menahan diri untuk tidak menambah
gaduh yang tak perlu. Menahan diri untuk berpikir sebelum bereaksi. Di situlah
kedewasaan digital diuji.
Diskusi sejati, sebagaimana
dibayangkan Habermas (1991), bukan adu kata. Ia adalah pencarian bersama akan
kebenaran. Ia menuntut kerendahan hati untuk mendengar.
Pada akhirnya, “saring sebelum
bicara” adalah jalan spiritual manusia modern. Ia mengingatkan bahwa setiap
kata memiliki ruh. Dan setiap suara, di dunia nyata maupun maya, adalah cermin
dari kesadaran kita sendiri.***


