Iklan

Ruang Digital dan Sunyi Nurani

syamsul kurniawan
Friday, December 26, 2025
Last Updated 2025-12-27T01:03:19Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

 

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

Kita hidup di zaman ketika bicara menjadi aktivitas paling murah. Ia tak lagi menuntut kesiapan batin, apalagi kedalaman pikir. Jari bergerak lebih cepat daripada kesadaran, dan kata-kata meluncur tanpa sempat diuji.

 

Di layar ponsel, jutaan suara bersahutan setiap detik. Semua ingin terdengar, sedikit yang sungguh ingin memahami. Yang tercipta bukan dialog, melainkan gema—pantulan dari ruang kosong yang saling beradu.

 

Ruang publik digital pada mulanya dibayangkan sebagai medan rasional. Tempat gagasan diuji, pendapat disandingkan, dan kebenaran dicari secara kolektif. Namun yang kini tampak justru kebisingan yang kehilangan orientasi.

 

Dalam situasi seperti itu, literasi kritis menjadi taruhan. Ia bukan sekadar kemampuan membaca atau mengakses informasi. Ia adalah keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya: apa makna dari semua ini?

 

Jürgen Habermas (1991) membayangkan ruang publik sebagai wilayah dialog berbasis nalar. Warga berdiskusi bukan dengan amarah, melainkan dengan argumen. Namun idealisme itu mulai retak ketika ruang publik dikuasai oleh mekanisme yang tak netral.

 

Algoritma tidak bekerja dengan logika kebenaran. Ia bekerja dengan logika perhatian dan keterlibatan. Akibatnya, yang cepat mengalahkan yang tepat, dan yang sensasional menyingkirkan yang rasional.

 

Dalam dunia digital, nalar sering kalah cepat dari keinginan. Gambar lebih berpengaruh daripada argumen. Kalimat pendek lebih disukai ketimbang penjelasan yang memerlukan kesabaran.

 

Jean Baudrillard (1994) menyebut kondisi ini sebagai zaman simulacra. Tanda lebih dipercaya daripada makna. Representasi dianggap lebih nyata daripada realitas itu sendiri.

 

Dalam simulacra, kebenaran menjadi tiruan yang terus direproduksi. Realitas tampil sebagai sandiwara yang meyakinkan. Kita tak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar, melainkan apakah ia terlihat meyakinkan.

 

Paradoks pun lahir di tengah masyarakat digital. Banyak yang melek teknologi, tetapi belum tentu melek literasi. Mengetik cepat tidak identik dengan berpikir matang.

 

Mengutip banyak sumber sering disalahartikan sebagai memahami secara mendalam. Padahal kutipan tanpa refleksi hanyalah penumpukan tanda. Ia tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

 

Literasi digital sejatinya bukan soal kecakapan teknis. Ia adalah kemampuan berpikir kritis, menimbang nilai, dan menyadari konsekuensi. Tanpa kesadaran etis, literasi berubah menjadi sekadar kepiawaian kosong.

 

Yang sering terjadi justru banjir informasi tanpa kejernihan refleksi. Netizen mudah bereaksi, tetapi enggan merenung. Emosi mendahului pemahaman, dan komentar mendahului nalar.

 

Media sosial menjanjikan demokratisasi suara. Setiap orang bisa berbicara, kapan saja, tentang apa saja. Namun kebebasan itu kerap melahirkan banalitas: suara ramai tanpa tanggung jawab.

 

Karena itu, “saring sebelum bicara” bukan sekadar slogan etika digital. Ia adalah ajakan untuk kembali berpikir sebelum menambah kebisingan. Sebab satu kalimat di ruang maya dapat mengubah persepsi publik secara luas.

 

Kita lama mengagumi pencapaian Barat dalam sains dan teknologi. Keunggulan kognitif dijadikan tolok ukur kemajuan. Namun jarang kita bertanya apa yang tertinggal di balik pencapaian itu.

 

Model pencapaian modern lebih menekankan penguasaan pengetahuan. Ia melahirkan manusia cerdas, tetapi belum tentu manusia arif. Kepintaran tidak otomatis beriringan dengan kebijaksanaan.

 

Islam sejak awal menawarkan konsep pencapaian yang holistik. Akal, moral, dan jiwa dipandang sebagai satu kesatuan. Ibnu Khaldun, Al-Ghazali, dan Ibn Sina memaknai kemajuan sebagai proses memanusiakan manusia.

 

Seberapa Pantas?

 

Dalam konteks digital hari ini, pertanyaan “seberapa pantas?” menjadi penting. Bukan semua yang bisa dikatakan perlu dikatakan. Bukan semua yang viral layak dibenarkan.

 

Abraham Maslow (1943) berbicara tentang aktualisasi diri sebagai puncak kebutuhan manusia. Namun di atas aktualisasi, ada lapisan yang lebih sunyi: kesadaran spiritual. Dalam Islam, kesempurnaan manusia justru terletak pada pengenalan terhadap Tuhannya.

 

Pencapaian holistik ingin menuntun manusia sampai ke sana. Ia menghubungkan kecerdasan intelektual dengan kedalaman spiritual. Tanpa orientasi ini, manusia mudah tersesat oleh ilusi digital.

 

Kehilangan orientasi spiritual berarti kehilangan kompas moral. Maka lahirlah komentar tanpa empati dan tuduhan tanpa dasar. Perdebatan berlangsung tanpa tujuan selain melampiaskan ego.

 

Dalam kerangka Baudrillard (1994), manusia digital hidup dalam hiperrealitas. Dalam kerangka Habermas (1991), dialog berubah menjadi monolog kolektif. Semua bicara, tetapi nyaris tak ada yang mendengar.

 

Karena itu, pencapaian netizen seharusnya tidak diukur dari visibilitas. Ia mesti diukur dari kesadaran dan tanggung jawab. Setiap kata di layar adalah cerminan diri.

 

Habermas (1991) memimpikan ruang publik bebas dari dominasi kekuasaan. Kini ruang itu dikuasai algoritma, korporasi, dan ilusi popularitas. Rasionalitas publik digantikan oleh logika keterlibatan.

 

Dalam dunia semacam ini, literasi kritis menjadi tameng terakhir. Ia mengajarkan untuk menunda reaksi dan memeriksa makna. Ia melatih keberanian untuk tidak segera percaya.

 

Like, share, dan comment sering disalahpahami sebagai partisipasi. Padahal keterlibatan publik yang sejati menuntut pemahaman. Kebisingan bukanlah tanda kepedulian.

 

Kesadaran holistik menjaga manusia agar tidak tercerabut dari nilai. Ia menuntun tindakan digital agar tetap berpijak pada akal sehat dan hati nurani. Spiritualitas di sini bukan simbol, melainkan orientasi hidup.

 

Teknologi memang mempermudah hidup. Namun ia juga memperumit jiwa. Nomophobia menjadi gejala bahwa kendali mulai berpindah dari manusia ke layar.

 

Kita hidup dalam budaya notifikasi yang terus-menerus. Perhatian manusia diperdagangkan. Waktu hening menjadi sesuatu yang langka.

 

Krisis yang muncul bukan hanya disinformasi. Ia adalah disorientasi makna. Manusia tahu banyak hal, tetapi tak tahu untuk apa.

 

Karena itu, literasi digital harus melahirkan kebijaksanaan. Bukan sekadar kecakapan berdebat. Kebijaksanaan berarti kemampuan menahan diri.

 

Menahan diri untuk tidak menambah gaduh yang tak perlu. Menahan diri untuk berpikir sebelum bereaksi. Di situlah kedewasaan digital diuji.

 

Diskusi sejati, sebagaimana dibayangkan Habermas (1991), bukan adu kata. Ia adalah pencarian bersama akan kebenaran. Ia menuntut kerendahan hati untuk mendengar.

 

Pada akhirnya, “saring sebelum bicara” adalah jalan spiritual manusia modern. Ia mengingatkan bahwa setiap kata memiliki ruh. Dan setiap suara, di dunia nyata maupun maya, adalah cermin dari kesadaran kita sendiri.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now