Oleh: Syamsul Kurniawan
“Jika
manusia telah mampu memprediksi badai, menciptakan teknologi canggih, dan
membangun peradaban yang besar, mengapa kita masih sering gagal mempersiapkan
manusia menghadapi kehancuran? Apakah yang kurang bukanlah pengetahuan tentang
bencana, tetapi pendidikan yang membentuk manusia tangguh ketika bencana
datang?”
Kurikulum,
seperti halnya zaman, tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Ia berubah
mengikuti arus sejarah, menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat, dan
mencoba menjawab tantangan yang terus berkembang. Dalam tubuh pendidikan,
kurikulum bukan sekadar kumpulan mata pelajaran, tetapi sebuah cetak biru
tentang manusia seperti apa yang ingin dilahirkan oleh sebuah bangsa.
Indonesia
telah mengalami perjalanan panjang dalam membangun kurikulumnya. Dari masa awal
kemerdekaan melalui berbagai kebijakan pendidikan seperti SKB Dua Menteri tahun
1946, SKB Tiga Menteri tahun 1975, kemudian berkembang melalui Kurikulum
Berbasis Kompetensi (2004), KTSP (2006), Kurikulum 2013, hingga Kurikulum
Merdeka yang memberikan ruang lebih besar bagi fleksibilitas pembelajaran dan
pengembangan kompetensi peserta didik. Dalam perkembangan terbaru, hadir pula
gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang mencoba mengembalikan dimensi moral,
kasih sayang, dan kemanusiaan dalam pendidikan.
Semua
perubahan tersebut menunjukkan satu hal: pendidikan selalu berusaha mengejar
zaman. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah, apakah kurikulum kita
hanya mengejar perubahan zaman, atau juga mempersiapkan manusia menghadapi
konsekuensi dari perubahan tersebut?
Sebab zaman
hari ini bukan hanya menghadirkan kemajuan, tetapi juga menghadirkan
ketidakpastian. Dunia yang semakin modern justru memperlihatkan semakin banyak
krisis. Perubahan iklim, bencana alam, konflik sosial, krisis kepemimpinan,
disinformasi, dan berbagai bentuk kegelisahan manusia menjadi tanda bahwa
kemajuan peradaban tidak selalu berjalan beriringan dengan kedewasaan manusia.
Di sinilah
kita perlu mengajukan pertanyaan yang mungkin tidak nyaman: sudahkah kurikulum
Indonesia tanggap terhadap bencana?
Pertanyaan
ini bukan hanya berkaitan dengan apakah peserta didik pernah mempelajari gempa
bumi, banjir, atau mitigasi bencana dalam buku pelajaran. Persoalan yang lebih
besar adalah apakah pendidikan telah membentuk manusia yang memiliki kesadaran
risiko, kemampuan beradaptasi, solidaritas sosial, dan ketangguhan mental
ketika menghadapi keadaan yang tidak terduga.
Karena
sesungguhnya bencana memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah bencana yang
datang dari alam. Wajah kedua adalah bencana yang lahir dari manusia sendiri.
Bencana alam
mengingatkan manusia bahwa mereka bukan penguasa mutlak atas bumi. Gempa bumi,
tsunami, letusan gunung api, banjir, longsor, kekeringan, hingga perubahan
iklim menunjukkan bahwa manusia hidup dalam hubungan yang rapuh dengan alam.
Kita dapat membangun gedung tinggi dan teknologi canggih, tetapi tetap tidak
mampu sepenuhnya mengendalikan kekuatan alam.
Namun
persoalannya bukan hanya ketika alam bergerak. Banyak bencana menjadi semakin
besar karena manusia tidak memiliki kesiapan. Kerusakan lingkungan, pembangunan
tanpa perhitungan, lemahnya budaya mitigasi, dan rendahnya kesadaran masyarakat
menunjukkan bahwa bencana alam sering kali bertemu dengan kelemahan manusia
dalam mengelola risiko.
Dalam
konteks inilah pendidikan seharusnya mengambil peran yang lebih besar. Sekolah
tidak cukup hanya mengajarkan bahwa banjir terjadi karena curah hujan tinggi
atau gempa terjadi karena pergerakan lempeng bumi. Pendidikan harus membawa
peserta didik memahami bagaimana manusia memiliki tanggung jawab terhadap
lingkungan dan bagaimana sebuah komunitas dapat bertahan melalui kerja sama.
Namun, ada
jenis bencana lain yang sering kali lebih sulit dilihat: bencana sosial. Jika
bencana alam menguji kemampuan manusia menghadapi kekuatan di luar dirinya,
maka bencana sosial menguji kemampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri.
Bencana
sosial hadir dalam bentuk konflik, intoleransi, korupsi, hilangnya empati,
penyalahgunaan kekuasaan, polarisasi masyarakat, hingga krisis kepemimpinan. Ia
tidak menghancurkan bangunan secara langsung, tetapi perlahan merusak fondasi
kehidupan bersama.
Di sinilah
pemikiran Yuval Noah Harari dalam Sapiens: A Brief History of Humankind
(2014) menjadi penting untuk direnungkan. Harari menjelaskan bahwa keunggulan
Homo sapiens bukan hanya karena kecerdasan individual, tetapi karena kemampuan
manusia membangun kerja sama melalui gagasan bersama. Manusia mampu membangun
negara, hukum, institusi, dan peradaban karena mereka memiliki kepercayaan
terhadap nilai yang sama.
Namun
kemampuan tersebut juga memiliki sisi gelap. Ketika manusia kehilangan nilai
moral dalam cerita bersama yang mereka bangun, kecerdasan manusia dapat berubah
menjadi alat kehancuran. Teknologi dapat digunakan untuk membantu, tetapi juga
dapat digunakan untuk memanipulasi. Kekuasaan dapat digunakan untuk melayani,
tetapi juga dapat digunakan untuk mengeksploitasi.
Karena itu,
persoalan pendidikan bukan hanya bagaimana membuat manusia lebih pintar, tetapi
bagaimana memastikan kecerdasan itu digunakan untuk tujuan yang benar.
Pendidikan yang gagal membangun karakter dapat melahirkan manusia yang memiliki
kemampuan besar, tetapi tidak memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya.
Hutang yang harus dilunasi
Mungkin inilah hutang terbesar pendidikan Indonesia: belum sepenuhnya mendidik manusia yang siap menghadapi dua jenis bencana sekaligus. Kita telah banyak berbicara tentang prestasi akademik, kompetensi, dan daya saing global, tetapi belum cukup serius membangun manusia yang tangguh menghadapi ketidakpastian.
Hutang ini
bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi tanggung jawab seluruh ekosistem
pendidikan. Pemerintah perlu melihat kurikulum bukan hanya sebagai dokumen
kebijakan, tetapi sebagai strategi membangun ketahanan bangsa. Sekolah perlu
diberikan ruang untuk mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan realitas
lokal. Masyarakat perlu dilibatkan karena pendidikan tidak pernah berhenti di
dalam ruang kelas.
Kurikulum
masa depan harus berani memasukkan persoalan kehidupan nyata sebagai bagian
utama pembelajaran. Anak-anak perlu belajar bukan hanya tentang teori, tetapi
juga tentang bagaimana menjaga lingkungan, memahami risiko, membantu sesama,
menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan ketika menghadapi situasi sulit.
Sebab
manusia masa depan tidak hanya akan menghadapi dunia yang semakin pintar,
tetapi juga dunia yang semakin tidak pasti. Mereka akan hidup di tengah
perubahan iklim, perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan berbagai krisis
yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Maka ukuran
keberhasilan pendidikan tidak boleh berhenti pada berapa banyak siswa yang
mendapatkan nilai tinggi atau berapa banyak lulusan yang memperoleh pekerjaan.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah pendidikan mampu melahirkan manusia
yang tetap memiliki kemanusiaan ketika menghadapi tekanan.
Harari
(2014) mengingatkan bahwa sejarah Homo sapiens adalah sejarah kemampuan manusia
beradaptasi. Peradaban bertahan bukan karena manusia selalu berada dalam
kondisi aman, tetapi karena manusia mampu belajar, bekerja sama, dan
menciptakan solusi menghadapi perubahan.
Maka
kurikulum Indonesia harus menjadi ruang untuk melatih kemampuan tersebut. Kita
membutuhkan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan manusia kompetitif, tetapi
manusia yang peduli. Tidak hanya manusia yang mampu menguasai dunia, tetapi
manusia yang mampu menjaga dunia.
Pada
akhirnya, pertanyaan tentang kurikulum dan bencana bukan sekadar pertanyaan
tentang isi pelajaran. Ia adalah pertanyaan tentang masa depan manusia
Indonesia. Sebab bencana terbesar bukan ketika alam menghancurkan tempat
tinggal kita, tetapi ketika manusia kehilangan kemampuan untuk saling menjaga.
Dan mungkin,
tugas terbesar pendidikan hari ini bukan hanya mencetak generasi yang siap
menghadapi masa depan, tetapi generasi yang mampu memastikan bahwa masa depan
masih layak untuk dihuni.***



