Iklan

Sudahkah Kurikulum Kita Tanggap Bencana?

syamsul kurniawan
Saturday, September 12, 2026
Last Updated 2026-09-13T03:07:09Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates

Oleh: Syamsul Kurniawan

 

“Jika manusia telah mampu memprediksi badai, menciptakan teknologi canggih, dan membangun peradaban yang besar, mengapa kita masih sering gagal mempersiapkan manusia menghadapi kehancuran? Apakah yang kurang bukanlah pengetahuan tentang bencana, tetapi pendidikan yang membentuk manusia tangguh ketika bencana datang?”

 

Kurikulum, seperti halnya zaman, tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Ia berubah mengikuti arus sejarah, menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat, dan mencoba menjawab tantangan yang terus berkembang. Dalam tubuh pendidikan, kurikulum bukan sekadar kumpulan mata pelajaran, tetapi sebuah cetak biru tentang manusia seperti apa yang ingin dilahirkan oleh sebuah bangsa.

 

Indonesia telah mengalami perjalanan panjang dalam membangun kurikulumnya. Dari masa awal kemerdekaan melalui berbagai kebijakan pendidikan seperti SKB Dua Menteri tahun 1946, SKB Tiga Menteri tahun 1975, kemudian berkembang melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), KTSP (2006), Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka yang memberikan ruang lebih besar bagi fleksibilitas pembelajaran dan pengembangan kompetensi peserta didik. Dalam perkembangan terbaru, hadir pula gagasan Kurikulum Berbasis Cinta yang mencoba mengembalikan dimensi moral, kasih sayang, dan kemanusiaan dalam pendidikan.

 

Semua perubahan tersebut menunjukkan satu hal: pendidikan selalu berusaha mengejar zaman. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah, apakah kurikulum kita hanya mengejar perubahan zaman, atau juga mempersiapkan manusia menghadapi konsekuensi dari perubahan tersebut?

 

Sebab zaman hari ini bukan hanya menghadirkan kemajuan, tetapi juga menghadirkan ketidakpastian. Dunia yang semakin modern justru memperlihatkan semakin banyak krisis. Perubahan iklim, bencana alam, konflik sosial, krisis kepemimpinan, disinformasi, dan berbagai bentuk kegelisahan manusia menjadi tanda bahwa kemajuan peradaban tidak selalu berjalan beriringan dengan kedewasaan manusia.

Di sinilah kita perlu mengajukan pertanyaan yang mungkin tidak nyaman: sudahkah kurikulum Indonesia tanggap terhadap bencana?

 

Pertanyaan ini bukan hanya berkaitan dengan apakah peserta didik pernah mempelajari gempa bumi, banjir, atau mitigasi bencana dalam buku pelajaran. Persoalan yang lebih besar adalah apakah pendidikan telah membentuk manusia yang memiliki kesadaran risiko, kemampuan beradaptasi, solidaritas sosial, dan ketangguhan mental ketika menghadapi keadaan yang tidak terduga.

 

Karena sesungguhnya bencana memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah bencana yang datang dari alam. Wajah kedua adalah bencana yang lahir dari manusia sendiri.

 

Bencana alam mengingatkan manusia bahwa mereka bukan penguasa mutlak atas bumi. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, longsor, kekeringan, hingga perubahan iklim menunjukkan bahwa manusia hidup dalam hubungan yang rapuh dengan alam. Kita dapat membangun gedung tinggi dan teknologi canggih, tetapi tetap tidak mampu sepenuhnya mengendalikan kekuatan alam.

 

Namun persoalannya bukan hanya ketika alam bergerak. Banyak bencana menjadi semakin besar karena manusia tidak memiliki kesiapan. Kerusakan lingkungan, pembangunan tanpa perhitungan, lemahnya budaya mitigasi, dan rendahnya kesadaran masyarakat menunjukkan bahwa bencana alam sering kali bertemu dengan kelemahan manusia dalam mengelola risiko.

 

Dalam konteks inilah pendidikan seharusnya mengambil peran yang lebih besar. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan bahwa banjir terjadi karena curah hujan tinggi atau gempa terjadi karena pergerakan lempeng bumi. Pendidikan harus membawa peserta didik memahami bagaimana manusia memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan bagaimana sebuah komunitas dapat bertahan melalui kerja sama.

 

Namun, ada jenis bencana lain yang sering kali lebih sulit dilihat: bencana sosial. Jika bencana alam menguji kemampuan manusia menghadapi kekuatan di luar dirinya, maka bencana sosial menguji kemampuan manusia mengendalikan dirinya sendiri.

 

Bencana sosial hadir dalam bentuk konflik, intoleransi, korupsi, hilangnya empati, penyalahgunaan kekuasaan, polarisasi masyarakat, hingga krisis kepemimpinan. Ia tidak menghancurkan bangunan secara langsung, tetapi perlahan merusak fondasi kehidupan bersama.

 

Di sinilah pemikiran Yuval Noah Harari dalam Sapiens: A Brief History of Humankind (2014) menjadi penting untuk direnungkan. Harari menjelaskan bahwa keunggulan Homo sapiens bukan hanya karena kecerdasan individual, tetapi karena kemampuan manusia membangun kerja sama melalui gagasan bersama. Manusia mampu membangun negara, hukum, institusi, dan peradaban karena mereka memiliki kepercayaan terhadap nilai yang sama.

 

Namun kemampuan tersebut juga memiliki sisi gelap. Ketika manusia kehilangan nilai moral dalam cerita bersama yang mereka bangun, kecerdasan manusia dapat berubah menjadi alat kehancuran. Teknologi dapat digunakan untuk membantu, tetapi juga dapat digunakan untuk memanipulasi. Kekuasaan dapat digunakan untuk melayani, tetapi juga dapat digunakan untuk mengeksploitasi.

 

Karena itu, persoalan pendidikan bukan hanya bagaimana membuat manusia lebih pintar, tetapi bagaimana memastikan kecerdasan itu digunakan untuk tujuan yang benar. Pendidikan yang gagal membangun karakter dapat melahirkan manusia yang memiliki kemampuan besar, tetapi tidak memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya.

 

Hutang yang harus dilunasi

 

Mungkin inilah hutang terbesar pendidikan Indonesia: belum sepenuhnya mendidik manusia yang siap menghadapi dua jenis bencana sekaligus. Kita telah banyak berbicara tentang prestasi akademik, kompetensi, dan daya saing global, tetapi belum cukup serius membangun manusia yang tangguh menghadapi ketidakpastian.

 

Hutang ini bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi tanggung jawab seluruh ekosistem pendidikan. Pemerintah perlu melihat kurikulum bukan hanya sebagai dokumen kebijakan, tetapi sebagai strategi membangun ketahanan bangsa. Sekolah perlu diberikan ruang untuk mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan realitas lokal. Masyarakat perlu dilibatkan karena pendidikan tidak pernah berhenti di dalam ruang kelas.

 

Kurikulum masa depan harus berani memasukkan persoalan kehidupan nyata sebagai bagian utama pembelajaran. Anak-anak perlu belajar bukan hanya tentang teori, tetapi juga tentang bagaimana menjaga lingkungan, memahami risiko, membantu sesama, menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan ketika menghadapi situasi sulit.

 

Sebab manusia masa depan tidak hanya akan menghadapi dunia yang semakin pintar, tetapi juga dunia yang semakin tidak pasti. Mereka akan hidup di tengah perubahan iklim, perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan berbagai krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

Maka ukuran keberhasilan pendidikan tidak boleh berhenti pada berapa banyak siswa yang mendapatkan nilai tinggi atau berapa banyak lulusan yang memperoleh pekerjaan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pendidikan mampu melahirkan manusia yang tetap memiliki kemanusiaan ketika menghadapi tekanan.

 

Harari (2014) mengingatkan bahwa sejarah Homo sapiens adalah sejarah kemampuan manusia beradaptasi. Peradaban bertahan bukan karena manusia selalu berada dalam kondisi aman, tetapi karena manusia mampu belajar, bekerja sama, dan menciptakan solusi menghadapi perubahan.


 

Maka kurikulum Indonesia harus menjadi ruang untuk melatih kemampuan tersebut. Kita membutuhkan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan manusia kompetitif, tetapi manusia yang peduli. Tidak hanya manusia yang mampu menguasai dunia, tetapi manusia yang mampu menjaga dunia.

 

Pada akhirnya, pertanyaan tentang kurikulum dan bencana bukan sekadar pertanyaan tentang isi pelajaran. Ia adalah pertanyaan tentang masa depan manusia Indonesia. Sebab bencana terbesar bukan ketika alam menghancurkan tempat tinggal kita, tetapi ketika manusia kehilangan kemampuan untuk saling menjaga.

 

Dan mungkin, tugas terbesar pendidikan hari ini bukan hanya mencetak generasi yang siap menghadapi masa depan, tetapi generasi yang mampu memastikan bahwa masa depan masih layak untuk dihuni.***

 

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Trending Now